Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 135


__ADS_3

Setelah selesai makan malam semua anggota keluarga baik keluarga Eduardo maupun keluarga Bramantya berjalan ke lantai dua menuju kamar Deli. Mereka ingin melihat, apakah Deli sudah sehat atau masih dalam keadaan sakit seperti yang diceritakan oleh Jero tadi saat mereka mau makan malam bersama.


Dina yang tidak percaya kalau Deli dalam keadaan sakit berjalan beriringan berdua dengan Dian. Mereka terlihat sedang berdiskusi membahas tentang permasalahan itu.


Mereka berdua sama-sama tidak percaya kalau Deli sedang dalam keadaan sakit, mereka yakin Jero sedang berbuat sesuatu kepada Deli, sehingga bisa mengakibatkan Deli terkapar tidak berdaya di kamarnya saat ini.


" kalau sempat terjadi sesuatu terhadap Deli, Gue akan melakukan tindakan yang tidak pernah terbayangkan oleh Jero selama ini." ujar Dina dengan nada dingin.


Dian melihat ekspresi kemarahan dari dalam diri Dina. Dina memang berusaha untuk menutupi kemarahannya dari semua anggota keluarga yang lain, tetapi Dina tidak akan bisa menutupi itu dari Dian. Dian sangat mengenal Dina dan Deli.


Bagaimana Dina sedang marah besar, marah penuh dendam, itu bisa dikenali oleh Dian.


"Dina gue tau loe sedang marah sekarang. Tapi gue mohon, loe harus memikirkan tindakan yang akan loe lakuin. Kita berdua tidak mau kan kalau Deli menjadi sasaran berikutnya dari Jero" ujar Dian mengingatkan Dina untuk tidak melakukan tindakan gegabah yang akan semakin membuat posisi Deli menjadi sulit di depan Jero.


"Loe tenang aja. Sekarang yang akan bermain bukan gue. Tapi orang lain. Gue akan pastikan dulu, apakah Deli beneran sakit di atas, atau hanya akal akalan pria di depan kita itu." ujar Dina yang akan bermain rapi untuk membalikkan keadaan melawan Jero dengan meminta bantuan kepada salah satu sahabatnya yang paling pintar dalam masalah ini.


Mereka semua telah sampai di depan pintu kamar Deli. Jero membuka pintu kamarnya itu. Semua anggota keluarga masuk ke dalam kamar.


"Deli" teriak Bunda saat melihat anaknya sudah tidak sadarkan diri di karpet berbulu tebal itu.


Dina dan Dian yang tidak masuk ke dalam kamar, langsung berlari masuk saat mendengar teriakan Bunda. Betapa kagetnya kedua gadis sahabat Deli itu. Mereka melihat Deli yang terkapar tidak berdaya di atas karpet.


"Kak Juan telpon helikopter suruh dia cepat terbang ke sini. Rumah sakit hanya ada di kota tidak ada di sini" teriak Dina meminta Juan langsung menghubungi pilot Helicopters yang kemaren di pakainya untuk menuju rumah peristirahatan milik Dian.


Juan melakukan apa yang diminta oleh Dina. Dia langsung menghubungi pilot untuk menerbangkan Helicopters menuju rumah peristirahatan.


"Sudah Dina. Mari kita bawa Deli ke taman belakang. Di sana Helicopters lebih gampang untuk mendarat" ujar Juan mengatakan kemana mereka harus membawa Deli.


Jero menggendong istrinya itu. Dia harus melakukan itu supaya keluarganya tidak curiga.


'Kenapa dia tiba tiba bisa pingsan ya. Padahal saat gue tinggal tadi dia dalam keadaan sehat sehat saja' ujar Jero dalam hatinya.


Jero tidak mengerti dengan keadaan yang ada. Dia tidak paham kenapa Deli denhan tiba tiba bisa menjadi tidak sadar dan ditemukan dalam kondisi pingsan.


'Apa dia udah lama pingsannya ya?' lanjut Jero menebak nebak sudah berapa lama Deli pingsan sebelum mereka sempat menemukan Deli yang sudah terkapar di lantai kamar itu.

__ADS_1


Helicopters telah menunggu mereka di perkarangan rumah bagian belakang.


"Jero kamu temani Deli ke rumah sakit. Kami akan mengikuti dari belakang" ujar Papi memberikan perintah kepada Jero untuk menemani Deli menuju rumah sakit.


"Felix, loe iKut gue" kata Jero juga memerintahkan Felix untuk ikut dengan dirinya menuju rumah sakit.


Mereka kemudian naik ke atas Helicopters.


"Frans bawa ke rumah sakit KW Grub. Tadi saya sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk menghadirkan semua dokter terbaik kita di sana"" ujar Juan memerintahkan pilot untuk membawa Deli ke rumah sakit KW Grub.


"Siap Tuan Muda. Nanti setelah mengantarkan nona Deli, saya akan kembali ke sini menjemput nona muda dan yang lainnya" ujar Frans berkata kepada Juan sebelum dia menerbangkan Deli menuju rumah sakit KW Grub yang terletak di pusat kota.


"Oke" kata Juan.


Frans yang telah mendapat persetujuan dari Juan untuk terbang, langsung menghubungi menara penerbang untuk meminta izin melakukan penerbangan. Frans bercakap cakap dengan pengawas penerbangan, setelah mendapatkan izin untuk terbang Frans mulai menaikkan Helicopters nya. Frans kemudian menerbangkan Helicopters itu. Helicopters yang membawa Deli mulai mengudara.


Mereka yang tidak ikut dalam Helicopters masuk kembali ke dalam kamar. Mereka semua memutuskan untuk kembali malam ini juga ke pusat kota. Mereka tidak mau membiarkan Deli sendirian di rumah sakit. Jero tentu memiliki kesibukan, sehingga kalau Jero tidak bisa menemani Deli, maka Bunda atau Mami bisa menemani Deli di rumah sakit.


"Ayo kemari semua barang. Kita akan pulang sekarang juga" ujar Papi meminta semua orang untuk mengemasi pakaian mereka semua.


"Sip" jawab Papi yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mami kepada dirinya.


"Bunda, kemasi aja pakaian Jero dan Deli. Biar pakaian kita menjadi urusan ayah" ujar Ayah yang meminta Bunda untuk mengurus pakaian Jero dan Deli.


Bunda mengangguk setuju. Bunda semenjak menemukan Deli dalam kondisi tidak sadarkan diri seperti tadi, sama sekali tidak ada membuka mulutnya. Bunda seperti syok menyaksikan keadaan putrinya yang tidak sadarkan diri.


Dina dan Dian masuk ke dalam kamar mereka berdua. Dina menatap ke arah luar. Dia seperti tidak ada tenaga sama sekali untuk mengemasi semua pakaian dan barang barangnya yang lain.


Dian bisa menyaksikan hal itu. Sebenarnya Dian juga sedih melihat keadaan Deli. Tetapi Dian berusaha tetap menjaga pikirannya agar dalam keadaan normal. Dian tahu kalau sekarang Dina sama sekali tidak bisa diandalkan. Salah satu diantara mereka berdua harus ada yang masih dalam keadaan normal untuk mengendalikan keadaan.


Dian mengemasi pakaian dan semua barang barang miliknya. Setelah itu Dian mengemasi semua milik Dina. Dina sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Dian saat ini. Dina hanya sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Dian yang telah selesai mengemasi barang barang milik mereka, berpindah duduk ke sebelah Dina.


"Ada apa?" tanya Dian kepada Dina.

__ADS_1


Dina menatap ke arah Dian sebentar. Setelah itu Dina kembali menatap ke arah luar. Ke dalam kegelapan malam yang telah menelan sahabat terbaik mereka.


"Gue yakin dia tidak bahagia" ujar Dina menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Gue juga tahu itu. Tetapi apa yang bisa kita perbuat sekarang? Kita hanya bisa menunggu sampai dia meminta tolong kepada kita. Kita tidak bisa berbuat apa apa Din. Kamu dan aku hanya bisa bersabar, menunggu Deli meminta bantuan kepada kita" kata Dian sambil memegang pundak Dina.


"Semoga dia cepat meminta tolong kepada kita" ujar Dina yang sangat tidak bisa melihat kondisi Deli sekarang ini.


Dian mengangguk setuju.


"Ayuk turun. Barang barang loe udah di dalam koper" ujar Dian memberitahukan kepada Dina kalau dia sudah mengemasi barang barang milik Dina ke dalam kopernya.


"Makasi ya" ujar Dina mengucapkan terimakasih kepada Dian.


"Tak masalah" jawab Dian.


Mereka berdua kemudian ke luar dari dalam kamar. Mereka berdua menuju ruang tamu, dimana semua orang sudah berada kembali di sana. Dina melihat Frans juga sudah ada di ruang tamu.


"Gimana Deli, Frans?" tanya Dina saat dia baru duduk di salah satu sofa.


Papi, Mami, Ayah dan Bunda belum terlihat di sana.


"Sedang ditangani oleh dokter tadi Nona muda" jawab Frans mengatakan kepada semua orang kalau Deli sudah mendapatkan tindakan dari semua dokter yang ada di rumah sakit.


Papi, Mami dan Ayah serta Bunda sudah berada di tengah tengah mereka saat Frans mengatakan kalau Deli sudah mendapatkan tindakan dari para dokter.


"Bunda, Mami, sama Papi dan Ayah naik Helicopters aja ke rumah sakit. Biar kami yang naik mobil" kata Dina meminta kepada orang tua mereka untuk naik Helicopters menuju rumah sakit. Sedangkan mereka akan naik mobil.


"Makasi sayang. Harusnya kamu dan Juan yang naik Helicopters itu" kata Mami yang tidak menyangka kalau Dina akan meminta mereka berempat untuk menggunakan Helicopters menuju rumah sakit.


"Mami ngomong apa sih." ujar Dina menjawab perkataan maminya itu.


Papi, Ayah, Mami dan Bunda kemudian menuju Helikopter. Mereka akan terbang ke rumah sakit menggunakan itu. Sedangkan Dina, Dian, Hendri dan Juan akan naik mobil menuju rumah sakit. Diantar oleh para pengawal.


Sebelum mereka pergi, Dian sudah menitipkan rumah peristirahatan itu kembali kepada para maid yang ada di sana. Rumah peristirahatan mulai besok sudah bisa di sewakan kembali.

__ADS_1


Semua mobil bergerak meninggalkan rumah peristirahatan. Para pengawal terpaksa hanya satu satu di dalam mobil. Mobil yang ditinggal begitu banyak. Sehingga kalau pengawal berdua dalam mobil, maka akan ada mobil yang terpaksa di tinggal di rumah peristirahatan.


__ADS_2