
"Mana buktinya kalau ada? Sempat tidak ada, maka Anda berdua akan saya tuntut ke polisi" ujar pria tersebut menantang Jero dan Felix untuk menunjukkan bukti bukti atas semua kejahatan yang telah dilakukan oleh dirinya. Pria itu merasa apa yang telah dilakukannya tidak akan mungkin terbaca oleh Jero dan Felix. Dia sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang.
"Tenang Tuan. Sekarang ambil nafas Anda pelan pelan dari hidung, kemudian keluarkan pelan pelan dari mulut. Tuan harus sadar dengan siapa Tuan berhadapan kali ini. Kami bukan lagi anak kemaren sore yang bisa kamu tipu tipu. Anda kali ini sudah salah mencari lawan." ujar Felix sambil menatap mengejek ke pria tersebut. Felix teramat kesal luar biasa kepada pria itu saat ini. Dulu pria ini jugalah yang memaksa Papi untuk tidak memberikan perusahaan kepada Jero dan Felix.
"Anda kalau bukan manager yang sudah lama mengabdi untuk perusahaan ini, udah saya lempar Anda dari sini sejak tadi Tuan" ujar Felix dengan murka.
"Anda benar benar keterlaluan Tuan. Anda sudah melewati batas Anda" ujar Felix setengah berteriak kepada pria itu. Felix sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
"Sudah tahu Anda salah, tapi Anda tetap saja bertahan dengan keegoisan Anda. Anda manusia atau apa? Jangan pura pura bersih Anda" lanjut Felix mengata ngatai pria yang sudah berbuat salah itu.
"Semoga Anda tidak menyesal saat melihat apa yang saya tampilkan di layar besar itu. Saya berharap jantung Anda masih kuat menerima semuanya termasuk ejekan rekan rekan Anda sendiri." ujar Felix semakin murka saat melihat wajah pria itu tidak ada wajah merasa bersalahnya sedikitpun.
"Sudah Felix putar saja sekarang. Saya sudah muak melihat wajahnya itu. Mulutnya mengatakan dia akan bisa menuntut kita, dengan kasus pencemaran nama baik. Hari ini dia akan merasakan bagaimana rasanya di tuntut." ujar Jero yang tersinggung atas kalimat kalimat yang dikeluarkan oleh laki laki yang sudah bersalah tetapi masih merasa kalau dirinya benar.
"Siap Jer. Gue tampilkan sekarang, biar ini pria sadar dengan kesalahannya. Kesalahan fatal yang telah dilakukan oleh dirinya. Hanya untuk kepuasan si jaluk itu" ujar Felix yang masih belum puas mengata ngatai pria tersebut.
Felix kemudian menampilkan semua bukti bukti yang sudah dikumpulkan oleh dirinya. Pria tersebut langsung ternganga tidak percaya dengan apa yang disaksikan olehnya. Semua orang yang ada di ruangan itu menatap tidak percaya dengan angka angka yang tertera di sana.
"Anda yang di dalam ruangan meeting boleh kok berkomentar. Kami berdua tidak akan marah dengan semua komentar komentar yang akan diberikan kepada pria itu" ujar Felix menunjuk dengan telunjuk kiranya kepada pria yang telah terbukti bersalah itu.
"Nah itu bukannya nomor rekening yang biasanya membayarkan gaji kita. Kenapa bisa dia membayarkan gaji yang bukan karyawan perusahaan" ujar salah satu manager saat membaca satu bukti muncul atas penyalahgunaan jabatan yang dilakukan pria itu.
"Mana namanya juga bukan nama dari salah satu karyawan. Hebat bener itu, mana gede lagi. Gaji saya yang sudah sekian tahun jadi pimpinan anak cabang, nggak sebesar itu" ujar salah satu kepala cabang mengomentari bukti yang diperlihatkan oleh Felix.
"Enak bener kiranya jadi manager keuangan, seenaknya aja transfer transfer duit. Kalau saya bisa tau itu, saya juga mau jadi manajer keuangan. Pantesan kayakan ya, bisa dengan gampang jalan jalan keluar negeri. Kiranya jalan jalan dimodali perusahaan. Kami capek kerja, dia menikmati hasil." ujar salah satu manager yang memang dikenal sangat bertentangan dengan manager yang terlibat masalah itu.
"Pantesan dia bisa mengadakan pesta yang wow saat putri tunggalnya menikah, ternyata yang bayar uang perusahaan yang mencarikan uang ya kita kita ini. Kita kita yang selalu berusaha agar proyek deal. Eeee nikmatnya dia yang make. Kurang ajar banget sih jadi manusia" ujar salah satu manager.
"Pantesan aja mobil gue nggak tuker tuker. Kiranya karena gue bukan manager keuangan. Haduh besok gue juga mau lah nggak jujur jujur lagi ngasih data. Gue manipulasi aja semuanya. " ujar manager yang menangani segala proyek perusahaan.
"Jadi maksudnya Anda mau mencuri semen yang sekian sak itu. Terus Anda buat kekurangan bahan. Pinter ya Anda" Sambar seorang pimpinan cabang perusahaan.
"Iyalah Tuan. Masak nggak. Kita kan susah itu ngajuin dana kebagian keuangan. Eeee kiranya dana untuk kita dipakai pribadi. Bener benerlah orang tu" ujar salah satu manager yang lain.
Jero dan Felix senang semua manager dan pimpinan anak cabang, mengeluarkan semua kata kata pedasnya. Bagi Jero dan Felix mereka sengaja mengeluarkan bukti di depan semua manager dan pimpinan cabang perusahaan, agar mereka bisa menyampaikan berita ini ke karyawan masing masing.
"Ehm sudah. Saya akan lanjutkan bukti berikutnya. Kami tidak suka dikatakan sebagai tukang fitnah. Karena nggak ada gunanya memfitnah anda yang bukan siapa siapa" ujar Felix murka sambil menunjuk kiri pria malang itu.
Pria yang telah khilaf melakukan sebuah kecurangan. Kecurangan yang berakibat fatal ke diri dia sendiri dan juga keluarga besarnya.
Felix menampilkan sebuah rangkuman fhoto yang dibuat menjadi video. Dimana dalam potongan potongan itu, terlihat si pria sedang membawa belanjaan yang cukup banyak dari seorang wanita muda yang masih sibuk berbelanja. Felix sengaja menampilkan itu untuk memancing omongan peserta meeting.
"Hahahahahaha. Ini lebih gila lagi. Pak, Pak, Maafkan perkataan saya sekali ini ya Pak. Sudahlah Bapak yang belanjain, bapak juga yang bawain. Saya yakin pasti service yang diterima setelah itu double ya Pak. Kan kerjaan bapak juga double" ujar salah seorang manager yang memang pernah mengalami pengalaman pahit dengan manager yang sedang terlibat masalah itu.
"Bapak, Bapak, bolehlah jadi sugar daddy, tetapi jangan jadi jongos daddy juga dong Pak. Bikin malu aja sih Bapak" sambar satu orang manager lagi.
Semua peserta meeting benar benar menghajar pria itu dengan kata kata mereka. Mereka tidak melihat wajah pria itu sudah berubah menjadi merah padam, menahan serangan serangan dari berbagai arah.
Deli yang sudah tidak tahan pengen tertawa memilih untuk keluar ruangan meeting. Ruangan yang sudah mulai berubah fungsi menjadi ruang bullyan bagi seorang manager yang tidak tau diri itu.
Deli duduk di kursinya, dia mengambil air minum miliknya dan meneguk nya setengah botol sekali teguk. Dia benar benar haus saat ini.
"Nanti ajalah ke sana lagi. Suasana udah mulai aneh, sepertinya Tuan Jero dan Tuan Felix sengaja membolehkan para anggota meeting untuk membully manager keuangan itu, agar dia mendapatkan hukuman sosial." ujar Deli berkata sendirian.
"Mending nengok orderan dulu lah. Mana tau ada yang mau beli tas lagi" ujar Deli membuka sosial medianya yang preloved.
"Wow ada" teriak Deli yang tidak terlalu keras itu.
Deli membuka inbox dari orang tersebut. Dia membalas lewat pesan chat. Deli kemudian menyebutkan angkanya, ibu ibu calon pembeli itu langsung setuju dan menstransfer uangnya ke dalam rekening Deli.
Deli menghubungi Dian untuk mengantarkan tas tersebut ke alamat yang dikirimkan oleh Deli. Untung saja Dian mau menolong Deli.
Ternyata hari itu Deli berhasil menjual empat buah tas, keempat empat nya diantar oleh Dian dan Hendri ke rumah para pembeli.
__ADS_1
Deli yang telah menyelesaikan pekerjaannya di toko preloved, kembali melangkahkan kakinya dengan berat menuju ruangan meeting.
"Semoga udah keputusan akhir. Bukan masih membuka bukti bukti yang lain, yang akan semakin membuat manager itu menjadi sangat malu." ujar Deli sambil memandang ke arah pintu ruangan meeting.
Deli kembali membuka pintu ruangan, terlihat semua orang sudah diam dan duduk termenung di tempatnya sendiri. Deli menjadi heran sendiri. Saat Deli menuju kursinya, barulah Deli paham dengan apa yang terjadi.
Manager yang bersalah itu sedang bersujud di kaki Jero memohon ampunan.
"Maaf kesempatan Anda habis" ujar Jero.
Security yang dihubungi oleh Felix datang untuk menyeret mantan manager itu keluar dari gedung perusahaan.
"Seret dia keluar gedung perusahaan" ujar Jero murka dengan kelakuan pria tersebut.
Jero kemudian menatap ke orang orang yang masih ada di dalam ruangan meeting.
"Saya berharap kalian semua dapat mengambil hikmah dari kejadian ini. Saya tidak ingin ada lagi kejadian seperti ini kedepannya. Saya rasa apa yang kalian dapatkan dari sini, jauh lebih besar dari perusahaan lain" ujar Jero membuka kata katanya.
"Untuk yang laki laki, tolong jangan jadi sugar daddy kalau uang Anda pas pasan. Pas untuk makan hari ini, pas untuk bayar uang sekolah anak" ujar Jero sambil tersenyum.
"Saya permisi undur diri dulu" ujar Jero yang melangkahkan kakinya keluar dari ruangan meeting.
Deli yang melihat Jero keluar dari dalam ruangan, juga memilih untuk keluar menyusul Jero. Dia adalah sekretaris Jero, bukan sekretaris Felix.
"Tuan, Anda mau dipesankan apa?" tanya Deli kepada Jero.
"Nasi dari restoran Tuan Damian saja Deli. Beli sop lobster mereka dua porsi" ujar ajero menyebutkan apa keinginan dirinya untuk makan siang yang udah tertunda. Setengah jam itu.
"Oke Tuan, akan saya belikan ke sana" jawab Deli sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Jero.
"Ini uangnya" ujar Jero yang ingat belum memberikan uang untuk membeli makan siangnya kepada Deli.
Deli mengambil uang tersebut. Dia kemudian juga menyambar dompet, kunci mobil dan juga ponsel miliknya. Deli akan membeli menu makan siang kedua Tuannya itu yang cukup jauh dari perusahaan Edwardo. Tapi Deli tidak mungkin mengeluh. Dia sadar kalau dia bukan siapa siapa.
Deli menyetir mobil dengan kecepatan sedang, dia sama sekali tidak terlihat terburu buru. Setelah berkendara dua puluh menit, akhirnya Deli sampai juga di tempat makan yang diminta oleh Jero di sana Deli membeli makan siangnya kali ini. Deli memarkir mobilnya tepat di samping sebuah mobil yang terlihat mewah.
Deli menyempatkan diri berkaca di kaca mobil tersebut. Seseorang yang berada di dalam mobil menatap lama ke arah Deli.
"Cantik juga" ujar pria tersebut sambil tersenyum melihat wajah cantik Deli.
Deli beberapa kali terlihat memonyongkan bibirnya. Kadang dia membetulkan rambutnya yang bergelombang.
Setelah yakin dengan penampilannya, Deli kemudian masuk ke dalam warung makan untuk membeli makan siang Jero dan Felix.
Dina memesan tiga porsi menu makan siang. Dia menunggu sambil duduk di sebuah kursi yang menghadap ke pintu keluar rumah makan.
"Hay Nona cantik. Besok besok kalau berkaca lihat situasi Nona" ujar pria tampan itu menyapa Deli sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hah" ujar Deli dengan mulut membulat.
Pria kemudian menutup mulut Deli yang menganga itu dengan tangannya.
"Tahan Nona" ujar pria tampan itu.
Sang pria kemudian pergi dari hadapan Deli. Deli menatap punggung pria tampan tersebut.
"Siapa pria itu ya, kenapa dia ngomong seperti itu, seakan akan gue tadi ketangkep sedang berkaca di kaca mobilnya" ujar Deli berujar sendirian.
Saat Deli mencoba mengingat kejadian kejadian yang terjadi. Pelayan datang meletakkan tiga porsi menu makan siang yang dipesan oleh Deli.
"Nona, ini pesanan Nona." ujar pelayan memberikan pesanan Deli.
"Terimakasih" ujar Deli sambil tersenyum.
__ADS_1
Deli kemudian membayar pesanannya. Setelah itu dia berjalan menuju parkiran mobil. Saat melihat mobil tempat dia berkaca tadi, barulah Deli sadar apa yang telah terjadi.
"Oh tidak........ Jadi, gue manyun manyun tadi ada pria tampan itu di sana?" ujar Deli saat sudah berada di dalam mobilnya.
"Mampuslah gue. Ada ada aja" ujar Deli yang menyadari kebodohannya saat itu.
Deli kemudian mengemengemudikan mobilnya menuju perusahaan. Dia tidak ingin Jero ngamuk karena nasi pesanannya sudah menjadi dingin.
Sesampainya di perusahaan, Deli mengantarkan pesanan kedua Tuan Muda yang terlihat sedang membaca dokumen dokumen kerja sama.
"Heran gue, mereka nggak ada capek capeknya. Meeting, sekarang baca dokumen. Nggak ada istirahatnya" ujar Deli sambil menaruh makanan kedua Tuannya di meja tamu.
"Tuan makan siang sudah siap." ujar Deli memberitahukan kepada Jero dan Felix.
Mereka berdua meninggalkan berkas berkas yang dibaca. Mereka menuju sofa untuk makan siang.
"Ada yang dibutuhkan lagi Tuan?" tanya Deli yang sudah kelaperan.
"Tidak. Deli nanti kami ada meeting di luar. Kamu ikut dengan saya dan Felix. Mulai hari ini kamu harus belajar bagaimana caranya melakukan presentasi meeting, seperti yang dilakukan oleh Felix" ujar Jero memberitahukan agenda setelah makan siang.
"Baik Tuan. Saya akan bersiap siap" Deli kemudian keluar dari dalam ruangan Jero. Dia menuju meja kerjanya. Deli makan dengan cepat menu makan siang yang tadi di belinya.
Setelah makan menu makan siang itu, Deli menjalankan kewajibannya. Sesibuk apapun Deli, Deli tidak pernah melupakan kewajibannya itu.
"Berangkat sekarang Del" ujar Felix kepada Deli yang sudah menunggu kedua bosnya keluar dari dalam ruang kerja.
"Baik Tuan" ujar Deli.
"Bawa langsung tas kerja kamu, kita tidak balik ke kantor lagi. Nanti kamu akan kami antar ke rumah, kamu tidak bawa mobilkan?" tanya Felix kepada Deli.
"Tidak Tuan" jawab Deli.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobil. Felix yang mengemudikan mobil, Deli di sebelahnya sedangkan Jero duduk di belakang sopir.
Mobil bergerak meninggalkan parkiran perusahaan. Deli bersikap tenang di dalam mobil. Mereka sama sekali tidak ada yang berbicara antara satu dengan yang lainnya.
Mobil akhirnya sampai di parkiran sebuah cafe yang mewah. Felix memarkir mobil yang dikendarai nya tepat di sebelah mobil mewah. Mereka bertiga kemudian turun dari dalam mobil.
Deli terhenti sejenak saat melihat mobil yang dirasanya cukup kenal itu. Jero yang berada di belakang Deli melihat ke kagetan di wajah Deli.
"Kenapa kaget?" tanya Jero kepada Deli.
"Nggak ada apa apa Tuan" jawab Deli.
"Semoga aja bukan mobil pria tampan tadi" ujar Deli bergumam sendiri.
"Walaupun mobil pria itu, semoga saja dia bukan rekan bisnis yang akan ditemui Tuan Jero" lanjut Deli berkata sendirian.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam kafe. Pelayan kafe yang sudah tau Jero dan yang lainnya datang untuk menemui siapa, langsung menyapa Jero.
"Selamat datang Tuan Jero, silahkan ikuti saya" ujar pelayan dengan ramah menyapa Jero dan Felix.
Mereka bertiga kemudian mengikuti pelayan yang sudah berjalan duluan. Mereka akan masuk ke dalam meeting room yang ada di kafe itu. Meeting room yang letaknya di lantai tiga kafe.
"Silahkan masuk Tuan" ujar pelayan yang telah membukakan pintu ruangan meeting dengan lebar.
Deli tidak bisa melihat pria yang ada di dalam ruangan itu, karena membelakang ke arah pintu. Sedangkan pria yang satu lagi, Deli tidak kenal sama sekali.
"Aman" ujar Deli sambil mengurut dadanya.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam ruang meeting. Mereka akan melakukan meeting dengan salah satu perusahaan yang juga ternama di negara I.
...****************...
__ADS_1
**Nantikan kelanjutannya kakak. Pertemuan ini membuat Deli akan menemukan kebahagiaannya.
Stay cun kakak**