Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 76


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi oleh Dian dan dikemudikan oleh Hendri bergerak menuju bandara. Mereka akan menjemput Papi dan Mami yang baru pulang dari perjalanan bisnis luar negerinya. Papi melihat perkembangan cabang perusahaan Sanjaya di negara tetangga.


"Sayang, kita ke perusahaan setelah menjemput Papi atau gimana?" tanya Hendri yang sebenarnya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya di perusahaan.


"Masih ada pekerjaan di perusahaan sayang?" tanya Dian kepada Hendri sebelum Dian menjawab langsung ke mansion dan tidak kembali lagi ke perusahaan.


"Masih ada, tetapi tidak banyak lagi. Cuma aku mau memastikan kalau saat serah terima antara kamu dan aku, sudah tidak ada lagi orang yang tidak berkompeten di perusahaan" ujar Hendri yang memang ingin menyingkirkan orang orang yang telah berkhianat kepada perusahaan Sanjaya Grub.


"Oke sayang, kalau masih ada, nanti setelah kita mengantarkan Papi dan Mami ke mansion. Kita akan kembali ke perusahaan lagi. Kita akan selesaikan semua muanya baru melaporkan kepada Papi" ujar Dian yang setuju untuk kembali ke perusahaan setelah menjemput kedua orang tuanya ke bandara.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju bandara. Mereka masih memiliki waktu satu jam lagi untuk sampai di bandara. Papi dan Mami akan mendarat pukul sembilan pagi. Sedangkan sekarang baru pukul delapan pagi.


"Sayang, menurut kamu, apa kedua manager dan tiga orang dewan direksi itu akan mengakui perbuatan yang telah mereka lakukan?" tanya Dian kepada Hendri. Dian tidak tau caranya untuk membuat mereka berlima mengakui kesalahan mereka yang telah merugikan perusahaan dan konsumen.


"Kita akan buat dia mengaku sayang. Kamu tenang saja. Serahkan ke aku ya" ujar Hendri sambil tersenyum kepada Dian. Hendri sudah menyusun rencana rencana untuk membuka kedok merwka berlima.


Hendri tidak mau Dian memikirkan semuanya. Tiga dewan direksi dan dua manager itu sekarang menjadi urusan dirinya. Hendri sudah mencari bukti bukti untuk mengantarkan mereka ke hotel terindah di dunia.


"Aku juga akan pastikan mereka jatuh miskin sayang" ujar Hendri dengan nada dingin dan membuat siapa saja merinding mendengarnya.


"Aku percayakan semuanya kepada kamu sayang. Aku tidak sanggup memikirkan hal hal seperti itu. Otak aku hanya mampu mengurusi bisnis kecil. Papi memberikan yang wow." ujar Dian yang memang tidak berminat untuk mengurus bisnis yang membutuhkan tenaganya itu.


"Kamu bukan tidak mampu sayang. Tapi kamu tidak mau. Beda loh sayang tidak mampu dengan tidak mau." ujar Hendri menjawab pernyataan Dian tadi.


"Bukti kamu mampu, tuh bisnis kecantikan kamu berkembang pesat. Siapa bilang kamu tidak mampu, itu tandanya kamu mampu sayang" ujar Hendri memberikan bukti kepada Dian kalau dia mampu menjalankan bisnis apapun.


"Kesimpulannya, kamu lebih memilih mengurusi bisnis yang memang di situ passion kamu. Sedangkan kalau yang bukan passion kamu, kamu tidak akan melakukannya dengan sungguh sungguh. " ujar Hendri memberikan contoh Dian yang mampu mengerjakan sesuatu yang memang di situ bidang kemampuan Dian.


Mereka berdua terus berbincang bincang selama dalam perjalanan menuju bandara. Tak terasa mereka telah masuk tol bandara. Hendri melakukan pembayaran memakai e tol. Setelah itu mereka parkir di parkiran khusus untuk yang menjemput kedatangan luar negeri.


"Masih lima belas menit lagi sayang. Kita ngapain lagi ya?" tanya Dian saat melihat jam yang ada di ponselnya.


"Cari kopi yuk sayang, aku tiba tiba ingin minum coffe" ujar Hendri yang agak merasakan kantuk di matanya.


"Ayuk" ujar Dian yang setuju untuk membeli coffe.


Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju gerai coffe yang cabangnya suda menyebar di seluruh negara yang ada di dunia. Coffe yang memiliki beraneka rasa itu.


Hendri dan Dian memesan satu cangkir cappucino dan coffe Mocca latte. Dian tidak lupa memesan dua cupcake untuk dirinya dan Hendri menemani minum coffe.


"Kita makan di sini atau dimana sayang?" tanya Dian sambil menatap ke arah Hendri yang berada di belakangnya.


"Bungkus aja. Kita makan sambil menunggu Papi dan Mami di terminal kedatangan luar negeri" ujar Hendri menyebutkan dimana akan mereka nikmati coffe dan cupcake yang telah dipesan oleh Dian.


Dian meminta pelayan untuk membungkus saja coffe dan cupcake yang di pesannya tadi. Dian akan mencoba sensasi berbeda minum coffe dan makan cupcake sambil berdiri menunggu kedatangan Papi dan Mami.


Setelah mendapatkan pesanan mereka. Hendri dan Dian kembali berjalan ke luar dari kafe tersebut. Mereka kemudian menuju terminal kedatangan luar negeri untuk menunggu Papi dan Mami.


"Sayang, kayaknya pesawat Papi dan Mami sudah akan mendarat. Itu sudah ada di pengumuman" ujar Dian sambil menunjuk sebuah televisi besar yang menampilkan pesawat yang akan mendarat di landasan pacu.


"Yupi. Berarti bentar lagi Papi dan Mami sampai" ujar Hendri yang menggigit cup milik Dian.


"Hah?" ujar Dian saat melihat cupcakenya hanya tinggal separo.


"Kamu main makan aja sayang. Ini punya aku tinggal separo. Emang punya kamu udah habis?" tanya Dian melihat Hendri sudah tidak ada memegang cupcake lagi.


"Dikit nya bagian atas doang" ujar Hendri menjawab perkataan dari Dian tadi.

__ADS_1


"Hem yalah" jawab Dian sambil melongos menatap wajah innocent Hendri.


Mereka berdua kembali menikmati minum coffe masing masing sambil berdiri menunggu kdatangan Papi dan Mami. Beberapa orang yang menjemput sanak saudaranya dan ada yang menjemput tamu mereka, mulai berdatangan dan berdiri di dekat Hendri dan Dian.


Hendri yang melihat keadaan sekitarnya mulai ramai, dia memegang tangan Dian dan memindahkan Dian untuk berdiri di depan dirinya. Hendri tidak mau sesuatu terjadi kepada Dian, kalau Dian berada di sampingnya.


Satu persatu penumpang pesawat keluar dari dalam terminal kedatangan luar negeri. Dian melihat setiap wajah penumpang. Dian masih belum melihat Papi dan Mami yang keluar dari dalam terminal.


"Kok Papi dan Mami belum keluar keluar juga ya sayang?" tanya Dian yang mulai cemas dengan keadaan kedua orang tuanya itu.


"Sabar sayang. Itu masih ada pesawat yang mau mendarat" ujar Hendri menunjuk pesawat yang akan mendarat satu lagi.


"Benerkan Papi dan Mami baru mau mendarat. Kamu nggak nengok negara asal pesawat sayang. Main tengok jamnya aja" ujar Hendri yang melihat kalau pesawat yang ditumpangi Papi da Mami baru akan mendarat.


"He he he he, saking bahagianya aku sayang, untuk bertemu Papi dan Mami, makanya aku sampai tidak melihat asal pesawatnya" ujar Dian mengakui kesalahannya yang lalai saat membaca informasi dari televisi yang menampilkan kedatangan pesawat.


Setelah menunggu beberapa saat, para penumpang pesawat itu satu persatu mulai keluar dari terminal kedatangan luar negeri. Dian kembali menatap satu persatu penumpang itu.


"Sayang itu Mami" ujar Dian saat melihat Mami dan Papinya datang sambil bergandengan tangan. Papi terlihat menenteng sebuah tas tambahan di tangan sebelah kirinya.


"Papi bawa apa ya sayang?" tanya Dian saat melihat Papi menenteng sebuah tas.


"Mana aku tau sayang. Kamu tanya aja nanti kalau kamu penasaran apa yang dibawa Papi" ujar Hendri sambil tetap memegang tangan Dian.


"Mami, sepertinya kita tidak salah mengiyakan pilihan Dian. Lihat aja itu. Orang ramai, Hendri meletakkan Dian di depannya. Hendri benar benar menjaga Dian" ujar Papi kepada Mami saat melihat apa yang dilakukan oleh Hendri kepada anak mereka.


"Yalah sayang kita tidak salah. Lagian kita sudah lama kenal dengan Hendri. Kita sudah tau dia gimana, lagian sahabat kita tidak akan mungkin salah mengajarkan anak anak mereka" jawab Mami.


Keluarga Sanjaya dan keluarga Bramantya sudah lama saling mengenal. Bahkan keluarga Sanjaya bisa seperti sekarang ini berkat bantuan keluarga Bramantya. Sayangnya saat keluarga Bramantya meredup, keluarga Sanjaya mau membantu keluarga Bramantya menolak dengan halus.


"Papi, Mami" ujar Dian yang langsung memeluk Mami nya dengan pelukan kehangatan seorang anak yang merindui ibunya itu.


"Papi Hendri. Kamu sudah memilih Dian sebagai kekasih kamu, maka kamu harus memanggil kami berdua dengan sebutan Papi dan Mami" ujar Papi mengoreksi panggilan Hendri kepada dirinya.


"Makasi Papi. Bukan kekasih tapi calon istri" ujar Hendri yang mengoreksi Papi.


Dian bagi Hendri bukanlah kekasih lagi, tetapi calon istri yang akan disayanginya selama lamanya. Seorang wanita yang akan menemani sisa hidup Hendri di dunia ini.


Mereka berempat kemudia berjalan menuju parkiran mobil. Papi berjalan bersisian dengan Hendri di bagian belakang. Sedangkan Mami dan Dian di bagian depan Papi dan Hendri.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Hendri mengendarai mobil menuju mansion keluarga Sanjaya.


"Kalian berdua mau kembali ke perusahaan?" tanya Mami memastikan kedua anak mereka ini akan kemana setelah mengantarkan Papi dan Mami ke mansion.


"Iya Mi. Masih ada pekerjaan yang harus kami berdua lakukan kembali. Ada apa Mi?" tanya Dian sambil memandang Mami nya.


"Papi, kita ke kafe Nyonya Bramantya saja ya. Aku kangen dengan masakannya. Lagian ngapain juga kita berdua di mansion itu. Lebih baik temu kangen dengan mereka" ujar Mami kepada Papi.


"Ikuti kata Mami kamu Hendri. Semua ucapannya adalah perintah bagi Papi dan harus Papi laksanakan" ujar Papi yang memang selalu melakukan apa yang dikehendaki oleh Mami selama ini.


"Ha ha ha ha. Kamu memang tidak berubah dari dulu sayang. Kamu tetap menomor satukan aku" ujar Mami memuji suaminya itu di depan kedua anak mereka.


"Sayang, kamu adalah ratu di hatimu. Jadi akan selalu aku nomor satukan." ujar Papi menjawab pernyataan Mami.


Dian hanya bisa menepuk jidatnya saja. Papi dan Mami tidak malu mengungkapkan hal itu di depan Hendri calon menantu mereka.


'Aku harus memperlakukan Dian, seperti Papi memperlakukan Mami.' ujar Hendri berkata dan berjanji dalam hatinya untuk meniru perbuatan Papi itu.

__ADS_1


Hendri keluar tol mengambil jalan menuju rumah dia sendiri. Papi dan Mami ingin bertemu dengan sahabat lama mereka itu.


Tidak berapa lama, akhirnya mobil berhenti tepat di depan kafe Bunda.


"Kalian langsung aja ke perusahaan. Nggak usah turun. Papi sama Mami bisa kok ke sana sendirian" ujar Papi meminta Hendri untuk langsung saja menuju perusahaan.


"Nanti pulangnya di jemput atau gimana Pi?" tanya Dian kepada Papi.


"Papi naik taksi online aja. Kita bertemu di mansion saja lagi" ujar Papi yang nggak mau anak dan calon menantunya kelelahan.


"oke Pi." jawab Dian.


Dian pindah duduk ke kursi sebelah Hendri. Hendri kemudian melajukan mobilnya menuju perusahaan Sanjaya. Mereka akan melakukan pengecekan terhadap dokumen dokumen yang diserahkan oleh Pak Hans.


"Sayang, masih banyak dokumen yang harus kamu baca?" tanya Dian kepada Hendri yang sedang fokus menyetir mobil.


"Nggak banyak juga, kenapa?" tanya Hendri sambil memandang sekilas ke wajah cantik Dian.


"Aku ingin kita, pergi makan siang bentar. Aku lapar banget, tadi sarapan sedikit karena melihat wajah tampan kekasih hati aku ini berlipat lipat seperti kain yang baru siap di peras" ujar Dian mengibaratkan wajah tampan Hendri pagi tadi sama dengan kain yang baru siap di peras.


"Wajah aku kayak kain siap di peras? Kriting dong sayang" ujar Hendri sambil tersenyum kepada Dian yang dari tadi kerjaannya hanya menggoda Hendri terus.


"Nggak kriting lagi sayang. Tapi mendekati kribo" ujar Dian menatap Hendri dengan tatapan usil.


"kamu mau makan dimana?" tanya Hendri yang juga laper. Dia melihat jam tangannya ternyata memang sudah waktunya mereka makan cemilan menjelang makan siang.


"Kita makan di kafe, atau restoran?" tanya Hendri kepada Dian.


"Restoran ajalah. Restoran A yang terkenal itu. Katanya yang punya seorang pria tampan yang memiliki kekasih seorang dokter cantik yang ternyata sudah memiliki suami" ujar Dian menyebutkan dengan detail kepada Hendri.


"Kamu, kalau gosip kenceng. Sama kayak Deli dan Dina. Pantesan kalian bertiga cocok marcocok" ujar Hendri melihat kemiripan kesukaan dan hobby antara Deli, Dian dan Dina.


"Jangan salah kamu sayang, yang paling terupdate dapat berita si Dina." ujar Dian memberitahukan kepada Hendri kalau yang paling sering mendapat berita tentang siapa yang paling update di antara mereka bertiga itu.


"Serius kamu sayang? Sesibuk itu dia, masih sempat juga dia untuk mengupdate gosip pengusaha?" tanya Hendri kurang percaya dengan berita yang disampaikan Dian.


Hendri sangat tahu bagaimana sibuknya perusahaan milik Dina pribadi dan KW Grub. Makanya, Hendri menjadi heran, kenapa bisa Dian update masalah gosip sedangkan dia sibuk dengan bisnisnya.


"Beneran sayang. Dina kalau pas dia sedang banyak kerjaan, maka dia akan meminta Juan untuk datang dari negara A ke sini." ujar Dian kepada Hendri.


"Emang bisa, Juan langsung terbang kemari?" tanya Hendri penasaran dengan Juan itu.


"Sayang, ya bisalah. Juan kan kakak tiribya Dina. Nama panjang Juan itu Juan Putra Kusuma Wijaya" ujar Dian memberitahukan kepada Hendri tentang siapa Juan.


"Oooo pantesan dia begitu menjaga Dina." ujar Hendri yang bisa menarik kesimpulan kenapa Juan bisa se protektif itu kepada Dina selama ini


"Sayang, kita langsung makan siang aja ya, nanti sampai perusahaan langsung kerja. Jadi, nggak ada jeda makan siangnya lagi. Gimana?" tanya Dian yang memang malas untuk keluar keluar lagi dari ruangnnya nanti.


"Oke sip. Kita langsung makan siang, setelah itu bekerja keras, jam empat pulang ke mansion" uajr Hendri mengatakan rencana kegiatan mereka hari ini kepada Dian.


"Setuju. Kita pulang jam empat ke mansion" kata Dian menyetujui rencana yang dikemukakan oleh Hendri tadi.


Hendri membelokkan mobilnya masuk ke sebuah restoran yang sangat mewah itu. Hendri dan Dian masuk ke dalam restoran sambil bergandengan tangan. Mereka kemudian diantarkan ke suatu ruangan VIP untuk menyantap makan siang


"Kami pesan menu spesial dari restoran ini" ujar Dian memesan menu makan siang mereka.


Sambil menunggu Hendri dan Dian mengobrol ringan seputar perusahaan. Tidak menunggu lama, pesanan Dian akhirnya datang juga. Dian dan Hendri menyantap makan siang mereka dengan sangat lahap Mereka hari ini akan menyiapkan bukti bukti untuk menjebloskan dua manager dan tiga dewan direksi ke dalam hotel ber jeruji dan ber kerangkeng itu.

__ADS_1


Setelah menikmati makan siang mereka, Hendri dan Dian kembali masuk ke dalam mobil. Mobil bergerak meninggalkan restoran dan kembali menuju perusahaan.


__ADS_2