
Mau atau tidak. Rela atau tidak. Terpaksa atau tidak. Kamu akan tetap aku nikahkan. Aku tidak sanggup menyakiti hati orang tua aku." lanjut Jero menatap Deli dengan tatapan sungguh sungguh.
"Aku benar tidak ingin mengecewakan orang tua aku. Ntah kamu yang biasa mengecewakan orang tua kamu. Tapi, melihat kelakuan kamu selama ini, aku yakin kalau kamu tidak akan pernah mengecewakan orang tua kamu" ujar Jero sambil menatap Deli.
Jero kemudian berjongkok di depan Deli. Dia akan memohon supaya Deli mau menikah dengan dirinya.
"Aku mohon menikahlah dengan aku. Minimal sampai Mami aku kembali sehat" ujar Jero dengan nada yang sangat serius dan memohon kepada Deli.
Deli menatap kepada Jero. Mereka berdua sama sama tahu kalau mereka tidak saling mencintai. Deli sangat takut untuk menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya itu.
"Deli, aku mohon. Jangan buat Mami aku meninggal Deli. Aku tidak mau mami meninggalkan aku dan Papi dengan cara seperti ini Deli" ujar Jero memohon sekali lagi kepada Deli.
Deli menatap ke arah Jero.
"Baiklah, aku akan menikah dengan kamu" jawab Deli yang akhirnya memutuskan hal itu dengan segala pertimbangan pertimbangan.
Hati Deli benar benar mulia. Demi permintaan seorang ibu, Deli rela kehilangan kebahagiaannya. Deli rela menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya dan juga tidak mencintainya. Deli benar benar dalam kondisi kacau saat ini. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Deli hanya bisa pasrah saja.
'Ya Tuhan, aku menyerahkan ini semua kepada Engkau pemilik kehidupan dan kebahagiaan kami. Aku mohon, berkatilah, ridhoilah keputusan yang telah aku buat inii' ujar Deli dalam hatinya sambil menatap ke arah Jero.
"Terimakasih." ucap Jero sambil menatap ke arah Deli.
"Sama sama" jawab Deli.
Deli yang sudah setuju untuk menikah dengan Jero Edwardo kembali menuju ruangan Nyonya besar. Dia benar benar tidak tahu apakah keputusannya ini adalah keputusan yang tepat, atau keputusan yang akan membuat dia menjadi sangat hancur di kemudian hari.
'Tuhan, semoga keputusan aku mau menikah dengan Jero Edwardo adalah keputusan yang sangat tepat bagi hidup aku dan juga keluarga aku" ujar Deli sambil berjalan menuju ruang rawat Nyonya Edwardo.
Deli berjalan lebih dahulu dari pada Jero. Jero yang baru tersadar dari lamunannya karena bahagia mendengar Deli mau menjadi istrinya, langsung berjalan mengikuti Deli dari belakang. Jero sudah bisa membayangkan apa yang terjadi kalau dia tidak masuk bersama Deli ke dalam ruang rawat Mami.
__ADS_1
"Hay, kita harus sama masuknya. Jangan terpisah kayak gini" ujar Jero kepada Deli.
Deli yang mendengar Jero memanggil dia dengan kata hay, menatap lama ke arah Jero. Deli sangat tidak suka di panggil seperti itu.
"Nama saya Deli bukan Hay" ujar Deli dengan ketusnya.
Jero tidak memperdulikan bantahan dari Deli. Dia tetap berjalan lurus ke depan. Jero kemudian menggenggam tangan Deli dengan tangannya. Jero membuka pintu kamar rawat Mami.
Saat itulah betapa kagetnya Deli saat mendapati Ayah dan Bundanya sudah ada di dalam ruang rawat Nyonya besar.
"Ayah, Bunda" sapa Jero yang sudah langsung menukar panggilannya kepada Ayah dan Bunda Deli.
Biasanya Jero memanggil mereka berdua dengan sebutan Tuan dan Nyonya Bramantya. Tapi keli ini sudah di tukar Jero menjadi Ayah dan Bunda seperti Deli memanggil mereka berdua.
Ayah dan Bunda tersenyum mendengar panggilan mereka yang sudah di tukar oleh Jero. Terlebih lagi Ayah dan Bunda melihat tangan Deli yang di gengam manja oleh Jer saat masuk ke dalam kamar rawat Mami.
"Kapan datang Ayah, Bunda?" tanya Jero dengan sangat ramah.
"Baru sebentar ini. Saat Tuan Edwardo memberitahukan kalau Nyonya Edwardo masih rumah sakit. Kami langsung ke sini" ujar Ayah menjawab pertanyaan dari Jero.
"Terus kafe bagaimana Ayah?" tanya Jero yang ingat kafe milik Bunda Deli.
Kafe yang menjadi tempat hidup bagi mereka selama ini.
"Kafe tetap buka. Ditungguin oleh karyawan yang bertugas di sana" jawab Ayah sambil melihat ke arah Jero sekilas.
"Ooo. Aku kira gara gara Ayah dan Bunda ke sini kafe jadi di tutup. Syukurlah kalau memang tidak Ayah" kata Jero dengan nada seriusnya.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan tentang berbagai hal. Deli menatap tidak. percaya kepada Jero yang bisa langsung mengubah sikapnya kepada Ayah dan Bunda.
__ADS_1
"Deli" panggil Mami masih dengan Aktingnya yang memukau itu.
"apakah kamu mau menikah dengan anak Mami itu nak?" tanya Mami sambil menunjuk ke arah Jero yang sedang mengobrol dengan Ayah dan juga Papi.
Ayah, Papi dan Jero menghentikan obrolannya. Mereka bertiga ingin mendengar jawaban dari Deli atas pertanyaan yang diajukan oleh Mami.
"Setuju Mami. Deli akan menikah dengan Jero" jawab Deli sambil melihat ke arah Bunda.
Bunda tersenyum mendengarnya. Bunda setuju dengan keputusan yang telah dibuat oleh Deli sendiri.
"Ayah, Bunda maafkan Deli yang tidak menduskusikannya terlebih dahulu kepada Ayah dan Bunda. Tapi Deli harap Ayah dan Bunda setuju depan keputusan yang telah Deli ambil ini" ujar Deli sambil tersenyum melihat ke arah Ayah dan Bundanya.
Deli mengharapkan mereka berdua tidak marah kepada dirinya. Bagi Deli ini adalah keputusan yang berat tetapi harus di ambil oleh Deli.
"Ayah dan Bunda tidak marah sayang. Keputusan yang kamu ambil pasti sudah kamu pikirkan baik buruknya. Ayah dan Bunda setuju saja dengan keputusan kamu" ujar Ayah menjawab keraguan yang dirasakan oleh putri tunggalnya itu.
"Terimakasih Ayah Bunda. doakan Deli selalu ya" ujar Deli sambil memeluk Bundanya yang paling disayangi oleh Deli selama ini.
"Jadi, berhubung mereka sudah saling menerima. Bagaimana kalau besok langsung tunangan" ujar Papi yang tertular semangat dari Mami.
"Nggak pake tunangan Papi. Langsung nikah aja besok" ujar Jero yang sudah tidak sabaran lagi.
"Main nikah aja. Syaratnya gimana? Emang nikah kerbau tanpa syarat" ujar Papi kepada Jero yang main pengen langsung menikah saja.
"Papi bisa nyuruh orang menyiapkannya segera. Aku mau besok menikah dengan Deli" ujar Jero yang sudah tidak bisa di tawar tawar lagi.
"Mami juga setuju Pi. Mana tau menunggu lagi sekian bulan, ya kalau Mami hidup. Kalau Mami udah meninggal gimana" ujar Mami mendukung perkataan dari Jero.
"Bagaimana Deli?" tanya Papi kepada Deli, Ayah dan juga Bunda.
__ADS_1
"Terserah saja Papi" jawab Deli yang tidak bisa menjawab lagi.
Dia tau Jero bagaimana. Jadi percuma saja membantah apa yang diinginkan oleh Jero.