
Kirana sudah sampai di lokasi kecelakaan. Ia dan supirnya datang tepat waktu. Saat itu malam yelah tiba di tambah kondisi gerimis mengundang.
Mobil Fahad sedang di evakuasi. Mobil itu di angkat dari dalam jurang dalam keadaan yang mengenaskan sekali. Mobil itu sudah ringsek tak berbentuk jelas. Tapi, Kirana hapal betul plat mobil itu. Jelas mobil itu milik Fahad.
Korban juga sudah di temukan terlempar dati dalam mobil dan meninggal di tempat.
"Boleh tahu, siapa saja korban laka lantasnya? Kebetulan ini mobil teman saya, Fahad," ucap Kirana pelan.
"Betul. Ini memang mobil dokter Fahad. Untuk keterangan lebih lanjut. Silahkan cek di rumah sakit saja. Korban sudah di bawa ke sana," titah polisi yang bertugas di sana.
Tanpa pikir panjang dan gerak cepat. Kirana langsung menuju rumah sakit yang di informasikan tadi. Kirana menuju bagian administrasu dab menanyakan seputar korban atas anma Fahad.
Jantungnya terus berdegup keras dan tak bisa di kontrol lagi napas Kirana yang semakin memburu karena panik dan cemas.
Bagian administrasi hanya memberikan data singkat dan tak jelas. Kirana malah di suruh langsung mendatangi kamar jenasah karena data yang masuk belum valid.
"Umi Kiran ...." teriak Anna yang sudah berurai air mata. Kedua matanya merah dan bengkak. Sepertinya Anna sudah menangis lama sekali.
Kirana menoleh ke arah Anna dan menato lekat gadis itu lalu merentangkan kedua tangannya untuk memberikan pelukan hangat kepada gadis kecil itu.
"Anna sama siapa ke sini?" tanya Kirana pelan.
"Umi ... Papah Fahad ...." Anna tak menjawab sama sekali pertanyaan Kirana. Ia malah menangis kehilangan Papah Fahad.
Kirana langsung memeluk erat gadis itu dan menggendongnya. Lalu berjalan lelan menuju kamar jenasah.
Ia juga tak sanggup rasanya melihat wajah sedih Anna begiti tiba di rumah sakit seperti tadi.
Kirana terus berjalan menuju ruang jenasah sambil mengendong Anna. Perlahan ia berjalan masuk. Ruangan itu begitu sangat ramai.
Anna langsung beringsut turun dan berlari ke arah Papah Fahad yang sudah terbujur kaku di sana.
"Papah ... Jangan tinggalin Anna ... Papah ... Anna harus tinggal dengan siapa?" teriak Anna histeris.
__ADS_1
Kirana langsung memeluk Anna dari belakang dan berusaha menenangkan gadis itu.
"Anna ... Kamu harus sabar sayang. Ada Umi. Anna tinggal sama Umi ya?" ucap Kirana pelan dan mencium pipi Anna. Ia kembali menggendong Anna.
Anna syok dan ia tak sadarkan diri dalam pelukan Kirana.
Kirana langsung memanggil perawat untuk menolong Anna.
"Mbak Kiran?" panggil seorang pria dari ujung ruangan itu.
"Ya ... Anda siapa?" tanya Kirana yang mulai terlihat kacau.
"Saya asisten dokter Fahad yang bertugas untuk membantu Anna," ucap lelaki itu pelan menjelaskan siapa dirinya.
"Fahad dengan siapa?" tanya Kirana bingung.
"Zahra, calon istrinya. Pilihan Bu Wardah. Itu Zahra. Keduanya menjnggal dengan tragis. Mereka baru saja melakukan foto pre wedding yang akan di laksanakan bulan depan," ucap lelaki itu pelan menjelaskan.
"Bu Wardah? Kemana?" tanya Kirana kembali kemapad asisten itu. Satu tahun lamanya. Kirana benar benar tak menghubungi Fahad. Sempat beberapa kali Fahad mencoba menghubungi Kirana dan datang ke tempat tinggal Kurana dengan alasan Anna rindu dengan Kirana. Kirana tetap menolaknya tegas.
Kirana menatap ke arah tubuh perempuan yang juga sufmdah tak bernyawa dengan luka parah di sekitar kepala.
"Bu Wardah sudah meninggal beberaoa bulan yang lalu karena terpleset di kamar mandi. Ini ada surat untukmu Kirana dari Fahad. Beliau memang menuliskan wasiat ini untuk kamu," ucap asisten itu pelan sambil memberikan surat itu.
Kirana menerimanya dan memohon ijin untuk membaca dan menemani Anna di ruang IGD. Asisten itu hanya mengangguk kecil. Ia bukan sekedar asisten tapi juga pengacar Fahad yabg di percayakan mengambil alih semua hak atas kekayaannya untyk di berikan sesuai dengan orang yang di wariskan.
Kirana membuka surat itu dan mulai membaca tulisan tangan khas yang di tulis sendiri oleh Fahad.
Untuk wanita istimewa ... Kirana ...
Bagaimana keadaanmu? Baik?
Kirana ... Mungkin saat kamu membaca surat ku ini, jasad ku sudah ada di depan kedua matamu. Atau bahkan aku sudah masuk ke liang kubur untuk di kuburkan.
__ADS_1
Kamu wanita istimewa yang pernah aku temui. Aku selalu berharap untuk menjadi seseorang yang spesial untuk kamu dan di hati kamu. Ternyata sampai saat ini aku gak bisa. Aku gak swsempurna Syakir, suamimu.
Aku hanya bisa mencintai kamu dalam diam. Walaupun aku pernah terang terangan memintamu untuk menjadi istriku. Tapi kamu tetap teguh tidak mau.
Aku tahu ... Separuh jiwamu ada pada Syakir. Begitu juga dengan Syakir. Setengah jiwanya sudah kau pegang erat. Cinta kalian begitu sangat kuat sekali.
Aku hanya ingi mengucapkan terima kasih atas pertemuan kita dan perkenalan kita. Tetima kasih sudah pernah hadir di tengah kehidupan aku dan Anna. Anna selalu bwrmimpi bisa menjadikan kamu ratu dalam rumah besar kami.
Kirana ... Aku titip Anna. Aku percaya pada kamu, Kirana.
Semoga ... Suatu hari nanti kamu dan Syakir bisa bersatu kembali. Itu harapanku. Dan aku akan mewujudkan itu untuk kamu.
Terima kasih Kirana ... Kamu banyak mengajarkan hal baik tentang cinta dan kasih sayang. Tentang ketulusan dan kesabaran.
Aku akan selalu menyayangi kamu sampai maut menjemput aku.
Dari Fahad ...
Kirana menutup surat itu. Sesak sekali membacanya. Teyesan air matanya deras. Ia tak sanggup menatap jalan di depan yang terasa kabur dan jauh dari pandangannya.
Ia tak menyangka secepat ini Fahad meninggalkan dunianya. Meninggalkan Anna dan semua yang ia sayangi.
Satu tahun ini, Kirana pikir Fahad akan melupakannya. Ternyata tidak.
Kaki Kirana begitu lemas dan ia terus berpegangan pada dinding rumah sakit mirip seperti Syifa yang sedabg berlatih berjalan.
Kirana menguatkan dirinya untuk tetap bisa kuat sampai di ruang IGD untuk menemani Anna yang kini hanya hidup sebatang kara.
Kenapa harus aku? Mengurus tiga anak sekalugus bukan hal mudah. Kalau hanya sekedar memberi makan dan menyekolahkan mungkin bisa. Tapi, anak adalah titipan yang harus di rawat dengan baik, di didik dengan benar, di sayangi agar hatinya terus lembut.
"Apa aku mampu?" lirih Kirana berucap pada dirinya sendiri.
Sesekali ia menyeka air matanya dan memencet hidungnya agar cairan dari hidungnya tak lantas turun begitu saja.
__ADS_1
"Bu Kirana? Oeang tua Anna?" panggil salah seorang perawat saat melihat Kirana masuk ke dalam ruang IGD itu dengan bingung mencari Anna.