
Felix memberikan dokumen yang dicurigai nya itu. Jero membaca dokumen tersebut.
"keren.Makanan empuk besok." ujar Jero.
Jero kemudian kembali tidur. Dia benar benar butuh istirahat. Dia mengantuk berat. Apalagi pagi tadi saat akan sarapan, terjadi ketegangan antara dirinya dan Dina. Keributan yang membuat Jero harus menahan egonya agar tidak terjadi keributan antara dirinya dengan Dina.
Felix kembali melanjutkan membaca dokumen yang lainnya. Dia bekerja sekalian menunggu panggilan telpon dari Dina untuk minta dijemput ke mall.
Saat sedang serius membaca dokumen perusahaan, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Felix. Felix membuka pesan tersebut.
' Sayang, ini cocok tidak untuk aku? ' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Dina.
Felix mengamati pakaian yang dipilih Dina. Felix langsung menggubungi Dina. Dia ingin langsung berbicara dengan kekasihnya itu.
"Kamu mau itu sayang? " ujar Felix
"Iya sayang. Aku mau itu" Jawab Dina dengan pasti
"Baiklah. Kamu beli itu. Jangan lupa belikan Deli sayang. " kata Felix mengingatkan Dina untuk membelikan sahabatnya.
"Aman itu sayang. Nggak akan lupa." jawab Dina yang sangat senang kekasihnya ingat akan sahabatnya.
"Satu lagi. Dian jangan dilupakan. Kalian berdua mau dia marah nanti saat kalian pulang? " tanya Felix.
"Nggak sayang, aku akan membelikan untuk kedua sahabat aku itu." ujar Dina menjawab perkataan dari Felix.
"Sayang, satu jam lagi jemput ya." ujar Dina sebelum menutup panggilan telponnya.
"Oke sayang. Aku akan jemput satu jam lagi." ujar Felix menyetujui permintaan Dina.
Felix kemudian memutuskan panggilan telpon dirinya dengan Dina. Felix kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Dina kembali melanjutkan acaranya dengan Deli.
"Deli, kata Tuan Felix, loe harus beli pakaian. Perintahnya lagi gue yang akan bayar. Sekalian pakaian untuk Dian." kata Dina memakai nama Felix untuk membuat Deli tidak banyak tanya lagi.
"Ye pake pake nama Felix segala." ujar Deli protes.
__ADS_1
"Hahahahahaha. Kalau nggak gitu loe bakalan nolak" ujar Dina memberikan alasan kenapa memakai nama Felix sebagai alasan untuk membeli pakaian untuk Deli dan Dian.
"Yayayayaya. Gue takut dengan Felix," ujar Deli lagi sambil menggamit lengan Dina untuk memburu pakaian yang akan dibeli mereka.
"Din, kita beli pakaian yang sama bertiga yuk. Sekali sekali. Nanti kita pakai saat kita pergi jalan kemana gitu." ujar Deli memberikan ide untuk membeli pakaian bersama untuk mereka bertiga.
"Ide loe bagus juga. Ayuk kita cari. Kalu nggak ada yang sama, kita beli yang modelnya sama warna berbeda seperti kebiasaan kita selama ini." ujar Dina yang meragukan ada pakaian yang sama model dan warna untuk mereka bertiga.
"Oke sip. Lagian gue juga ragu ada yang sama untuk tiga orang." ujar Deli yang setuju dengan keraguan Dina tadi.
Mereka kemudian mencari pakaian yang sama untuk mereka bertiga. Tetapi sesuai dengan yang dipikirkan oleh Dina dan Deli, mereka akhirnya hanya bisa memilih tiga baju berbeda warna tetapi sama model.
"Kita cari yang lain." ujar Dina yang memang sangat hobby belanja.
Dina dan Dian dari dulu memang seperti itu, sangat luar biasa gila belanja. Sedangkan Deli sama sekali tidak gila belanja. Walaupun dulu Ayah masih mampu menyanggupi apa yang diinginkan Deli, Deli sama sekali tidak pernah melakukannya. Deli tetap belanja sesuai dengan yang dibutuhkannya. Bukan seperti Dina dan Dian.
"Deli, model yang ini gimana?" ujar Dina menunjukkan kepada Deli sebuah dress cantik keluaran terbaru dari merk terkenal.
"Boleh juga. Tapi gue nggak ikut ya. Jebol" ujar Deli kepada Dina.
"Enak aja. Udah gue bilang yang bayar semua Felix. Jadi, mari kita belanja." ujar Dina dengan semangat.
"Sekali sekali. Lagian kalau uang dia habis, uang gue loe tau sendirilah kan ya." ujar Dina sambil tersenyum.
"Iya tau. Dina Wijaya Kusuma. Siapa yang nggak tau sama elo." ujar Deli kemudian.
Akhirnya pilihan mereka jatuh kepada kemeja polos yang kelihatan sederhana tetapi harganya bisa beli dua motor keluaran terbaru.
Setelah puas berbelanja dengan tidak bisa dihitung lagi berapa buah paperback yang mereka jinjing.
"Minum dulu yok Del. Haus plus capek gue." ujar Dina yang merasa badannya pegal pegal karena sudah beberapa jam berkeliling mall.
"Gue juga haus Din. Mana capek lagi. Loe mending, sepatu loe nggak tinggi tinggi amat. Noh gue?" ujar Deli yang memang memakai sepatu berhak tinggi.
"Hahahahaha. Maaf lupa gue kalau loe pake sepatu tinggi banget." ujar Dina yang memang lupa segalanya kalau sudah belanja.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam sebuah kafe yang ada di dalam mall. Mereka memesan minuman dan juga cemilan.
Dina kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi Felix untuk menanyakan Felix udah sampai dimana sekarang.
Dina menunggu panggilannya diangkat oleh Felix.
"Hallo sayang, aku udah di parkiran. Kamu dimana? " tanya Felix yang ternyata sudah berada di parkiran mobil.
"Di kafe X sayang. Aku tunggu di sini." ujar Dina menyebutkan nama kafe tempat mereka duduk sekarang.
Felix kemudian menuju kafe yang dimaksud oleh Dina. Felix sampai di kafe tersebut, dia melihat Dina dan Deli duduk di dekat kaca besar yang dijadikan dinding oleh pemilik kafe. Felix kemudian menuju ke sana.
"Hay sayang." uajr Felix.
Felix duduk di depan Dina. Dina sudah memesankan minuman yang disukai oleh Felix. Mereke bertiga kemudian menikmati hidangan yang sudah dipesan tadi.
"Pulang yuk" ajak Dina yang memang udah capek.
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju mobil. Mobil meninggalkan parkiran dan bergerak menuju hotel tempat mereka menginap. Dina dan Deli berencana untuk beristirahat setelah lelah berkeliling mall.
"gimana acara belanjanya Del? asik tidak?" tanya Felix kepada Deli yang duduk di belakang sendirian.
"Asik lah Tuan. Apa lagi saya ditraktir. Jadi ya luar biasa enaknya Tuan" jawab Deli dengan jujur.
"Hahahahaha. Kamu jujur sekali Deli" kata Felix sambil tertawa ngakak.
"Tau nggak sayang, tadinya Deli nggak mau belanja, jadi ya terpaksa aku make nama kamu. Baru dia mau belanja. " kata Dina menceritakan bagaimana bisa membujuk Deli belanja walaupun di bawah ancaman dengan memakai nama Felix.
"Hah? Pakai nama aku aja Deli udah kayak gitu takutnya sayang. Gimana kalau nama Jero?" ujar Felix sambil melirik ke arah Deli yang sudah tidak tau harus berbuat apa apa lagi.
"Kalau udah Jero, pastinya Deli tidak akan bisa apa apa lagi sayang. Kamu bayangin aja, nama kamu aja dia udah gini. Gimana mau pake nama Jero. " ujar Dina juga ikut mulai membully Deli.
"Bully terus aja. Gue nggak denger juga" ujar Deli sambil menahan tawanya.
"Hahahahaha.Gaya loe" ujar Dina.
__ADS_1
"Hahahahaha. loe nya juga kali Din" ujar Deli
Akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Felix sampai di parkiran hotel. mereka bertiga kemudia masuk ke dalam kamar hotel masing masing untuk beristirahat.