Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 34


__ADS_3

"Kita terbang dengan pesawat milik perusahaan. Jadi, kamu bisa santai santai menikmati penerbangan." ujar Jero memberitahukan kepada Deli dengan pesawat apa mereka akan terbang menuju negara J tempat mereka akan melakukan meeting.


"Oke Tuan." jawab Deli.


Deli menjawab dengan sangat singkat saja pertanyaan Jero. Deli masih berusaha menentramkan perasaannya. Deli mulai memiliki rasa takut saat melihat burung besi besar sudah berada di landasan pacu.


'Semoga nggak mengerikan.' ujar Deli di dalam hatinya.


Jero dan Deli menunggu pesawat siap. Mereka menunggu di terminal khusus penumpang pesawat pribadi. Seseorang yang mengenal Deli menatap Deli dengan lama. Jero membalas tatapan orang itu dengan pandangan tidak suka. Pria yang menatap Deli tadi memalangkan wajahnya saat diberikan tatapan mematikan dari Jero.


"Tuan Jero, Nona Deli, pesawat sudah siap. Amda sudah bisa masuk ke dalam pesawat." ujar pramugari.


Jero dan Deli di antar pramugari menujunpesawat yang sudah berada di runway. Pilot dan copilot serta dua orang pramugari telah berdiri di tangga pesawat.


"Selamat Pagi Tuan dan Nona." sapa pilot.


"Pagi" jawab Jero.


Jero berjalan di depan Deli. Mereka masuk ke dalam pesawat. Jero duduk di kursi yang biasa di dudukinya kalau terbang dengan pesawat tersebut. Sedangkan Deli memilih duduk di belakang Jero. Dia akan melihat melalui kaca jendela pesawat, saat pesawat akan lepas landas.


"Kamu duduk di situ saja." ujar Jero menunjuk kursi yang tepat sejajar dengan dirinya yang juga berada di sebelah kaca jendela pesawat.


Deli beranjak pindah ke tempat yang diminta oleh Jero. Deli tidak mau ada masalah kalau dia tidak menuruti semua kehendak Jero. Deli duduk di tempat yang diminta oleh Jero. Deli melihat ke arah luar. Dia benar benar tidak ingin terlihat panik oleh Jero.


Setalah semua adminitrasi dan persiapan penerbangan sudah di cek. Suara pilot mulai terdengar memberitahukan akan keberangkatan pesawat, perkiraan cuaca selama mereka terbang serta berapa lama mereka akan terbang. Pilot melaporkan semuanya kepada penumpang.


Setelah melaporkan semuanya. Pilot mulai menerbangkan pesawatnya. Pilot menarik tuas kemudi pesawat. Pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan pacu.


Deli mulai mengeluarkan keringat dingin. Dia sama sekali tidak berhasil mengendalikan rasa takutnya lagi. Deli mencengkram kuat pegangan kursi pesawat. Jero melihat semua itu. Ingin rasanya Jero menenangkan sekretarisnya yang terlihat sangat takut. Tapi prosedur pesawat tidak mengizinkan Jero meninggalkan bangku pesawat.


Pesawat telah terbang tinggi dan sudah normal. Jero membuka seltbeltnya. Dia berjalan menuju Deli yang masih menutup matanya.

__ADS_1


"Hay buka mata kamu. Kita sudah di atas. Tidak akan ada lagi guncangan hebat." ujar Jero meminta Deli membuka matanya.


Deli masih tidak mau membuka matanya. Dia masih memejamkan mata indahnya itu. Jero kehabisan akal dengan tingkah Deli.


"Deli. Sadar. Kita sudah aman." ujar Jero mengguncang pundak Deli.


Deli membuka matanya dengan perlahan. Dia benar benar dalam keadaan takut. Deli melihat di depannya sudah berdiri Jero yang berdiri menjulang.


"Maaf Pak. Saya benar benar takut terbang." ujar Deli.


"Kenapa tidak ngomong dari sebelum kita berangkat?" ujar Jero menatap Deli.


"Nggak mungkin saya mengatakan hal itu Pak. Saya sudah terikat kontrak dengan perusahaan. Jadi, setakut apapun saya, saya harus bisa mengatasinya." ujar Deli.


"Tu buktinya, kamu sudah bisa mengatasi rasa takut kamu. Tinggal nanti saat mendarat." ujar Jero kembali ke kursinya.


"Satu hal yang harus kamu ingat Deli. Semua ketakutan akan hilang saat kamu melawannya." ujar Jero.


Pramugari kemudian datang sambil membawa makanan dan minuman untuk Jero dan Deli.


"Nona mau snack dan minuman apa?" tanya pramugari kepada Deli.


Pramugari sengaja datang ke Deli terlebih dahulu karena diminta oleh Jero untuk melayani Deli pertama sekali.


Deli melihat snack dan minuman yang ada di atas troli yang di dorong oleh pramugari.


"Chesscake coklat sama es teh aja." ujar Deli menyebutkan pesanannya.


Pramugari menghidangkan menu yang diminta oleh Deli. Setelah dari Deli, pramugari menuju Jero.


"Mau snack dan minuman apa Tuan?" tanya Pramugari.

__ADS_1


Jero melihat ke atas troly dia menunjuk sepirinf pai buah dan segelas ciffelatte. Pramugari meletakkan apa yang diikinkan oleh Jero.


Jero dan Deli kemudian memakan snack yang dimintanya tadi. Pesawat terbang dalam keadaan tenang, tidak ada getaran yang terlalu kuat dirasakan oleh Deli. Deli sudah bisa nyaman berada di dalam pesawat.


"Gimana? Terlihat kamu sudah nyaman?" ujar Jero bertanya kepada Deli.


Jero menyaksikan Deli sudah mulai nyaman dan sudah tidak takut lagi untuk melakukan sisa penerbangan menuju negara J tempat mereka akan meeting.


"Sudah lumayan Tuan" jawab Deli mengakui kenyamanannya dalam melakukan perjalanan bisnis yang mengharuskan dia naik pesawat terbang. Satu satunya kendaraan yang paling ditakuti oleh Deli selama ini.


"Kalau nanti ada goncangan, kamu pasang headset aja. Pilih aja lagu atau film yang kamu suka. Jangan lihat ke jendela, kalau lihat ke jendela otomatis kamu akan semakin takut." ujar Jero memberikan saran yang lain kepada Deli.


"Saya usahan Tuan. Tapi nggak janji." kata Deli menjawab saran yang diberikan oleh Jero.


Menurut Deli setiap orang bisa memberikan saran kepada dirinya. Tapi mereka tidak tau bagaimana dia melawan rasa takutnya selama ini. Deli benar benar sudah melakukan semua cara. Akhirnya cara terakhir adalah menolak untuk naik pesawat.


Deli yang sudah lelah, memilih untuk beristirahat. Penerbangan masih akan dilakukan tiga jam lagi. Deli mengambil posisi ternyaman untuk tidur. Dia menstel kursi yang didudukinya, sehingga dia bisa tidur dengan nyaman.


Belahan Bandara lain terlihat Felix dan Dina sudah menuju bandara dari KW Hotel. Mereka berdua diantar oleh mobil milik hotel.


"Sayang, apa mereka sudah sampai sekarang di Negara J?" ujar Dina bertanya kepada Felix saat mereka susah berada di dalam pesawat.


"Kata Jero mereka udah pergi dari pagi. Diperkirakan mereka sampai jam empat sore waktu negara J." ujar Felix memberitahukan kapan perkiraan Jero dan Deli akan sampai di negara J.


"Apa Deli aman ya sayang selama penerbangan. Delikan fhobia naik pesawat." ujar Dina yang ingat sahabat baiknya itu paling takut naik pesawat.


"Emang Deli fhobia naik pesawat?" tanya Felix yang kaget zaman sekarang masih ada aja orang yang fhobia naik pesawat.


"Iya, dia fhobia naik pesawat." jawab Dina meyakinkan Felix.


"Kita doakan aja sayang, Deli bisa membuat nyaman penerbangannya kali ini." ujar Felix.

__ADS_1


Pesawat pribadi yang ditumoangi Felix dan Deli lepas landas. Mereka akan lanjut ke negara J. Perjalan panjang yang terasa singkat oleh Dina yang dulunya sangat membenci perjalanan bisnis ke luar negeri. Tetapi semenjak menjalin hubungan dengan Felix, Dina mulai menyukai perjalanan dinas. Apalagi pergi dengan Felix.


__ADS_2