Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 36


__ADS_3

"Masalah hotel tenang aja, udah saya booking dua kamar. Kamu bersama dengan Deli, sedangkan saya dengan Felix. Nanti sampai di hotel kita istirahat terlebih dahulu, baru setelah makan malam kita akan diskusikan masalah meeting besok.." ujar Jero memberitahukan pembagian kamar kepada ketiga temannya itu dan juga rencana mereka untuk malam ini.


Mereka kemudian naik ke atas mobil yang dikirim oleh pihak hotel untuk menjemput Jero dan yang lainnya ke bandara. Mereka akan menuju hotel untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh.


Sopir melajukan mobil menuju hotel tempat mereka akan menginap sesuai dengan yang diarahkan oleh Jero. Sopir melajukan mobil dalam kecepatan tinggi saat berada di tol bandara. Mereka akan menuju hotel yang letaknya di tepi pantai negara J. Pantai yang terkenal sangat indah dan eksotik. Pantai yang selalu dikunjungi oleh wisatawan asing saat berkunjung ke negara J.


"Jadi Jer, meeting besok bagaimana? Apa semua sudah oke" tanya Felix yang ingat dengan masalah tujuan utama mereka ke negara J. Bukan tujuan untuk jalan jalan tetapi untuk bekerja.


"Loe baru nyampe udah membahas masalah meeting. Capek Felix. Bahas meeting nanti saja siap makan malam. Loe nggak denger apa yang gue bilang saat kita mau naik mobil tadi. Sejak kapan Felix telinga loe jadi budek nggak jelas gini. Sekarang yang paling gue pikirin adalah kasur empuk hotel." ujar Jero yang memang sepanjang perjalanan tidak bisa tidur sama sekali gara gara memikirkan kondisi Deli yang memiliki fhobia naik pesawat terbang.


"Hah tumben loe mikirin kasur, apa apa gerangan dengan penerbangan? Atau loe sekarang udah bisa menikmati penerbangan sambil nengok awan gitu?" ujar Felix yang tau kebiasaan Jero akan selalu tidur dalam penerbangan.


"Gimana gue mau tidur coba. Ada orang di sebelah gue kayak mayat hidup saat di atas pesawa. Kalau gue tidur, dia kenapa kenapa gimana cobak? apa yang harus gue katakan ke orang tuanya?." ujar Jero sengaja menyindir Deli yang berada tepat di depannya. Memang gara gara Delilah Jero tidak bisa tidur saat di pesawat tadi. Padahal penerbangan yang mereka lakukan cukuplah lama. Bisa membuat Jero puas tertidur.


Deli yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jero memutar kepala melihat ke arah Jero. Jero memasang wajah datarnya saat dilihat oleh Deli.


"Apa lihat lihat? Emang benerkan kamu panik kayak mayat hidup." ujar Jero mengejek Deli.


"Huft. Nyesel gue pergi." ujar Deli dengan nada pelan yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


" Jadi loe ngeronda?" tanya Felix mulai mengusili Deli.

__ADS_1


"Ya. Gue ngeronda. Untung aja gue nggak perlu memanggil ambulance saat pesawat mendarat. Kalau nggak waduah loe bayangin malunya gimana. Masak pesawat edwardo grub saat mendarat harus ditunggui ambulance. Apa kata lawan bisnis kita Felix. Bisa jadinmereka berpikir kalau kita bawa nenek nenek kita pergi perjalanan bisnis." ujar Jero berkata sambil nenggidikan bahunya. Dia sengaja melakukan semua itu untuk membuat Deli berusaha memiliki tekad untuk sembuh. Sayangnya Deli sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Jero.


"Hahahahahah. Sekali sekali tak apalah pesawat kita ditunggui ambulance. Apalagi kalau kita masuk televisi dan surat kabar, kita kan jadi terkenal. Terkenal dengan cara keren." ujar Felix mulai juga mengusili Deli. Felix tipe yang tidak setegang Jero.


"Sayang jangan mulai usil. Kasian sahabat aku sayang." ujar Dina mencegah Felix melanjutkan candaannya. Dina kasihan melihat Deli yang diusilin oleh Jero sehabis habisnya.


" Hus diem, jangan mulai lagi. Ibu Negara loe marah." ujar Jero beralih ke Felix.


"Kayak loe yang nggak takut aja tu nenek lampir marahin elo." ujar Felix mulai berbalik melawan Jero dengan senjata pamungkasnya itu.


"Gue tidur dulu." ujar Jero langsung mengambil posisi tidur. Jero tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Felix.


"Hahahahaha." Felix menertawakan Jero yang menghindar dari bulliannya.


"Sepasang kekasih yang klop." ujar Jero dengan sinis menatap Dina dan Felix bergantian.


Jero akhirnya memilih untuk menutup matanya. Dia tidak mau menjadi bahan bullyan sepasang kekasih yang kompak itu.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit, mereka sampai juga di hotel tempat mereka akan menginap. Sebuah hotel.yang terletak di tepi pantai dengan laut lepas sebagai viewnya.


Mereka semua turun dari dalam mobil. Jero, Felix, Deli dan Dina masuk ke dalam hotel. Jero kemudian melakukan pengurusan chek in kamar ke resepsionist. Sedangkan Felix dan yang lainnya menunggu di sofa lobby hotel.

__ADS_1


Jero yang telah menyesaikan semua administrasi berjalan menuju tempat Felux dan yang lainnya menunggu. Jeri memberikan kunci kamar kepada Deli.


"Lantai berapa Jer?" tanya Felix yang sangat hobby tidur di hotel yang memiliki lantai yang tinggi.


"Kamar biasa kita tempati." jawab Jero.


Mereka berempat masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka menuju lantai dua puluh kamar Jero dan yang lainnya.


Mereka akhirnya sampai di lantai dua puluh. Kamar mereka berdua bersebelahan. Jero sengaja mengambil yang bersebelahan agar mereka bisa dengan mudah berkomunikasi.


Mereka kemudian masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat.


"Din, kok loe bisa ke sini juga?" tanya Deli sambil mengambil peralatan cuci mukanya.


"Oooo. Jero menginginkan Felix memberikan contoh ke elo bagaimana caranya presentasi di negara luar. Makanya Jero bersikeras untuk meminta Felix datang ke sini mengikuti meeting." ujar Dina memberitahukan alasan kenapa dia bisa datang ke negara J.


"Alhamdulillah banget Din." ujar Deli dengan nada luar biasa bahagia.


"Loh kok?" tanya Dina yang nggak mengerti kenapa Deli mengucapkan syukur atas apa yang terjadi.


"Iyalah. Gue kan jadi bisa belajar dulu. Bayangin aja gue harus presentasi tanpa gue tau bagaimana cara presentasi di luar." ujar Deli sambil menatap ke arah Dina.

__ADS_1


Deli sangat bersyukur karena dirinya bisa belajar terlebih dahulu sebelum dia melakukan presentasi. Dia sangat senang karena bisa belajar dari Felix, seorang asisten yang sangat luar biasa kinerjanya. Siapa pengusaha yang tidak kenak dut maut Jero Edwardo dan Felix Edwardo di dunia bisnis.


__ADS_2