
Deli tidak bisa melihat pria yang ada di dalam ruangan itu, karena membelakang ke arah pintu. Sedangkan pria yang satu lagi yang mengahadap ke pintu masuk, sama sekali tidak di kenal oleh Deli.
"Aman, ternyata bukan dia. Selamat aku selamat. Kalau tidak betapa malunya aku" ujar Deli sambil mengurut dadanya.
'Hanya perasaan aku saja' lanjut Deli dalam hatinya.
"Aman" ujar Deli sekali lagi meyakinkan dirinya kalau bukan pria di warung nasi kalau tadi yang berada di sana. Walaupun mobil di luar seperti mobil pria tampan itu.
"Apa yang aman Del?" tanya Felix yang mendengar Deli mengatakan kata aman. Felix menatap ke arah Deli dengan tatapan bertanya dan penasaran dengan kata aman yang dikatakan oleh Deli barusahan.
"Nggak ada Saya ngomong aman Tuan" jawab Deli berbohong.
"Tuan salah dengar kali" ujar Deli meyakinkan Felix kalau Felix telah salah dengar apa yang dikatakan oleh Deli barusan.
"Oh. Berarti saya yang salah denger" jawab Felix yang sangat yakin kalau dia tidak salah dengar sama sekali. Cuma Felix tidak ingin memperpanjang lagi masalah pendengaran dirinya.
"Ada apa?" tanya Jero saat melihat Felix dan Deli masih berada di depan pintu ruangan meeting. Kedua orang itu terlihat sedikit berbincang.
"Nggak ada apa apa Jer" jawab Felix sambil melirik ke arah Deli. Dengan tatapan tidak percaya atas jawaban yang diberikan oleh Deli kepada Felix tentang kata aman.
"Saya tidak percaya" ujar Felix kepada Deli.
Deli hanya diam saja. Dia tidak menjawab pernyataan dari Felix. Dia juga tidak butuh Felix percaya atau tidak tentang apa yang dikatakannya tadi.
'Mau percaya atau tidak, itu bukan urusan gue. Urusan elo kok ya' ujar Deli dalam hatinya dan mencibir Felix sedikit dari belakang.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam ruang meeting. Mereka akan melakukan meeting dengan salah satu perusahaan yang juga ternama di negara I. Perusahaan yang dengar dengarnya dipimpin oleh seorang anak muda yang jenius. Anak muda yang bisa kembali membangkitkan perusahaan keluarganya yang sudah berada di jurang kebangkrutan.
"Selamat datang Tuan Jero" sapa pria yang tadi menyapa Deli di warung yang menjual nasi kapau tadi siang. Saat Deli menbelikan makan siang untuk Jero dan Felix.
"Hah!!!" ujar Deli kaget saat melihat wajah pria tersebut. Wajah Deli memerah, dia tidak menyangka pria itu akan menjadi rekan bisnis perusahaan tempat dia bekerja. Deli menatap tidak percaya ke arah wajah pria tampan yang sedang tersenyum geli melihat wajah Deli yang sudah memerah seperti kepiting rebus itu.
"Selamat bertemu kembali Tuan Demian" ujar Jero berjabat tangan dengan Tuan Demian.
"Perkenalkan ini asisten sekaligus adik saya, namanya Felix Edwardo." kata Jero memperkenalkan Felix kepada Demian.
"Felix" ujar Felix sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Demian.
'Benar benar sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pebisnis lainnya' ujar Felix dalam hatinya saat dia bersalaman dengan Demian.
"Demian" jawab Demian sambil menjabat tangan Felix yang sudah di julurkan oleh Felix.
"Ini asisten yang terkenal pintar itu kan Tuan Jero. Asisten yang namanya terdengar dimana mana setelah Asisten Hendri dari perusahaan Bramantya menghilang." ujar Demian memuji Felix.
"sayangnya saat itu perusahaan saya belum seperti sekarang, jadi Saya tidak sempat berkenalan dengan Tuan Hendri" ujar Demian yang sangat ingin berkenalan dengan Hendri. Asisten yang dulu terkenal pintar dan sukses menggolkan semua kerjasama.
"Semoga ke depannya Tuan Demian bisa bertemu dan melakukan kerjasama dengan Tuan Hendri" jawab Jero yang tidak ingin berlama lama dalam perkenalan. Jero ingin cepat masuk ke meeting penting saja.
"Nah wanita yang satu ini adalah sekretaris saya. Namanya Deli Bramantya" ujar Jero melanjutkan perkenalannya kepada Deli.
"Demian" ujar Demian memperkenalkan dirinya kepada Deli.
Demian juga menghulurkan tangannya kepada Deli. Kelakuan Demian ini membuat Jero dan Felix menjadi heran. Tidak pernah seorang Demian melakukan hal ini kepada setiap calon perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan Demian. Jero memandang Felix. Felix mengangkat bahunya.
"Deli" jawab Deli sambil menjabat tangan Demian yang telah lebih dahulu menghulurkan tangannya kepada Deli.
"Maaf Tuan Demian, apakah Tuan Demian kenal dengan Deli?" tanya Jero kepada Demian. Jero melihat semua sikap Demian kepada Deli.
Demian terlihat melirik Deli. Deli menggeleng sedikit memberikan kode kepada Demian. Demian juga menggeleng kepada Deli.
Deli yang melihat tanggapan dari Demian hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat. Deli tidak menyangka kalau Demian menolak untuk menolongnya.
"Maaf Tuan Jero lebih baik kita duduk dulu. Kasihan sekretaris Anda yang memakai high heels itu. Bisa bisa kakinya bengkak nanti kalau kita lama lama berdiri seperti ini" ujar Demian kembali menggoda Deli. Demian sengaja melakukan hal hal itu untuk membuat Deli kesal. Ntah apa maksud dan tujuan Demian membuat Deli kesal.
__ADS_1
Deli hanya pasrah saja. Dia memang salah telah sembarangan saja berkaca di mobil orang lain yang terparkir. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi Deli ke depannya untuk tidak sembarangan saja berkaca di mobil orang lain yang sedang terparkir.
Mereka berlima kembali duduk di sofa ruangan meeting itu. Deli duduk di sebelah Felix. Dia sudah tidak akan bisa berkonsentrasi untuk mengikuti jalannya meeting siang ini. Semua itu karena Deli memikirkan kalau Demian akan menceritakan kepada Jero kejadian memalukan tadi siang saat membeli makan siang.
Demian melihat ke arah Deli. Demian bisa melihat Deli mulai tidak nyaman dengan keadaan saat ini.
"Bisa kita mulai saja presentasinya Tuan Jero?" tanya Demian kepada Jero.
Demian tidak ingin Deli semakin tidak nyaman berada di ruangan meeting itu. Demian berusaha menahan dirinya untuk tidak melirik ke arah Deli lagi. Dia tidak ingin semakin membuat Deli tidak nyaman nantinya.
"Felix silahkan presentasi" ujar Jero meminta Felix untuk melakukan presentasi.
Deli mengeluarkan pena dan juga buku catatannya. Dia selalu mencatat setiap hal hal yang penting saat mereka melakukan meeting maupun briefing.
Felix mulai melakukan presentasi tentang project kerjasama yang akan dilakukan oleh perusahaan Edwardo dan perusahaan Perez itu. Project kerjasama pembangunan perumahan elite di ibu kota. Mega proyek yang akan menghasilkan cuan yang banyak untuk kedua perusahaan.
Felix telah selesai memaparkan bagaimana berjalannya proyek serta keuntungan keuntungan yang akan mereka raih dan juga keuntungan bagi masyarakat sekitar. Semua secara teknis sudah di bahas oleh Felix.
"Untuk rancangan rumah, akan dibahas oleh Nona Deli, Tuan Demian. Nona Deli selain seorang sekretaris, dia juga mendesain setiap project kami yang menjurus kepada perumahan dan mall." ujar Jero memberitahukan kepada Demian tentang Deli.
"Oh berarti Nona Deli rangkap jabatan? Selain sebagai sekretaris juga sebagai tim perancang" tanya Demian dan melihat ke arah Deli sebentar saja.
"Tidak Tuan Demian, saya hanya sekretaris saja. Saya hanya hobby mendesain, kalau Tuan Jero dan Tuan Felix suka, maka saya akan lanjut untuk presentasi di depan perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan kami. Tapi kalau tidak, maka yang akan presentasi bagian perencanaan" kali ini Deli yang menjawab pertanyaan dari Demian yang menyangkut pekerjaannya.
"Oh jadi begitu. Silahkan di presentasikan Nona Deli" ujar Demian.
'Saya tidak sabar ingin mendengar suara indah kamu saat mempresentasikan hasil karya yang kamu buat' lanjut Demian dalam hatinya.
Deli kemudian maju ke depan. Dia membuka file hasil rancangannya. Deli mulai mempresentasikan karyanya itu. Sebuah rancangan rumah dengan tema keakraban. Setelah lima belas menit Deli menyampaikan presentasi desain rumah yang telah dibuatnya, tibalah pada sesi tanya jawab.
'Wow dia bisa mengendalikan perasaan dan pikirannya. Pengendalian diri yang sangat bagus. Saya yakin dia bukan dari kalangan biasa saja' ujar Demian berucap di dalam pikiran nya saja.
"Silahkan kepada Tuan Demian dan Tuan Jero untuk bertanya tentang rancangan desain rumah yang saya buat ini" ujar Deli mempersilahkan Demian dan Jero untuk bertanya. Bertanya tentang desain rumah yang dibuat olehnya. Bukan tentang hal hal lain yang tidak perlu ditanyakan. Deli berharap Demian tidak banyak bertanya. Sekarang Deli sudah berusaha mati matian mengendalikan dirinya ini.
"Deli, kenapa ruang utama itu tanpa skat sama sekali. Apalagi untuk dapur bersih dan ruang makan juga tidak ada skatnya?" Demian yang bertanya pertama sekali. Demian sebenarnya sudah tau apa maksud dari Deli melakukan hal itu. Tetapi Demian ingin melihat bagaimana Deli menjawab pertanyaan dari dirinya.
"Ini adalah dapur bersih, dimana Nyonya atau maid memasak bisa dilihat langsung dari ruang keluarga. Nah kalau saat itu yang berada di dapur bersih adalah Mommy, maka Mommy bisa langsung memantau kegiatan anak anak yang sedang menonton televisi di sini" ujar Deli menjelaskan kepada Demian kenapa Deli sama sekali tidak memakai skat di lantai satu rumah.
"Selanjutnya Deli, kenapa kamu memakai jendela yang semuanya lebar lebar dan juga kaca untuk pintu ke kolam renang?" kali ini yang bertanya masih Demian. Demian sengaja melakukan hal itu.
"Kenapa saya memakai banyak jendela dan lebar lebar serta dari kaca. Jawabannya karena saya ingin pemilik rumah hemat dalam memakai listrik untuk lampu Tuan Demian serta saat siang hari mereka bisa mematikan AC, karena setiap jendela itu bisa dibuka, hal ini mengakibatkan sirkulasi udara sangat baik. Kita sama sama bisa melihat di mansion kita masing masing. Begitu banyak lampu yang hidup, serta AC yang full dua puluh empat jam aktifnya. Saya ingin mengurangi hal itu." jawab Deli menjelaskan kepada Demian tentang jendela yang banyak dan memakai kaca.
"Sedangkan untuk pertanyaan kenapa memakai pintu kaca menuju kolam renang? Hal itu saya pilih karena selain di sana ada kolam renang, juga ada taman. Pemilik rumah bisa meletakkan koleksi tanaman mereka di sana. Serta para tamu bisa menikmati taman di sana melalui pintu kaca besar itu" Deli menjelaskan kepada Demian semua pertanyaan yang diajukan oleh Demian.
"Oke Deli terimakasih. Tuan Jero silahkan bertanya. Dari saya sudah cukup dua saja. Dan saya sudah mengerti dengan konsep yang ditawarkan oleh Nona Deli" ujar Demian yang sudah tidak ada pertanyaan lagi yang akan diberikannya kepada Deli.
"Saya juga tidak ada pertanyaan lagi Deli. Kamu silahkan duduk kembali" ujar Jero kepada Deli. Jero sangat senang Deli berhasil melakukan presentasi dengan sangat baik dan membuat Demian menjadi tersanjungtersanjung dan suka dengan apa yang ditampilkan oleh Deli tadi.
Deli kembali duduk ke kursinya. Dia sangat senang akhirnya bisa mempresentasikan desain rumah tersebut tanpa rasa gugup sedikitpun. Walaupun beberapa kali Deli melirik ke arah Demian yang selalu melihat dan menatap serta mendengarkan dengan serius setiap kalimat kalimat yang dipresentasikan oleh Deli di depan.
"Jadi bagaimana Tuan Demian, apakah kerja sama ini bisa dilanjutkan?" tanya Jero kepada Demian.
"Saya cukup tertarik dengan apa yang dipresentasikan oleh Tuan Felix dan Nona Deli. Saya akan memikirkannya malam ini Tuan Jero.
"Saya bukan tipe pengusaha yang langsung mengambil keputusan saat meeting telah selesai. Saya akan berpikir semalam untuk mengambil tindakan" ujar Demian meyakinkan Jero untuk tidak mendesak Demian mengambil keputusan sekarang juga
" Baiklah Tuan Demian. Kami sangat tersanjung apabila bisa bekerja sama dengan perusahaan Perez" ujar Jero berusaha meyakinkan Demian dengan kata katanya agar Demian mau melakukan kerja sama dengan perusahaan Edwardo.
"Kami juga akan sangat tersanjung apabila bisa bekerjasama dengan perusahaan Edwardo, Tuan Jero" balas Demian sambil sedikit melirik ke arah Deli.
Jero da Felix memerhatikan semua itu. Demian selalu menatap dan mencuri curi pandang ke arah Deli.
"Tuan Demian, ini adalah kontrak kerjasama perusahaan kita. Silahkan anda baca baca terlebih dahulu." kata Jero memberikan dokumen dokumen kerjasama mereka
__ADS_1
Demian menerima dokumen kerjasama tersebut. Dia memberikan kepada asistennya yang dari tadi hanya diam saja. Asisten Demian akan memberikan masukan saat mereka sudah sampai di perusahaan kalau tidak di mansion keluarga Perez.
"Baiklah Tuan Jero, saya rasa meeting hari ini sudah selesai. Besok saya akan memberikan jawabannya. Saya minta, Nona Deli yang menjemput dokumen dokumen ini nantinya" ujar Demian.
Mereka berlima kemudian berjalan keluar dari ruangan meeting. Demian dan Asistennya masuk ke dalam mobil mereka. Begitu juga dengan Jero, Felix dan Deli, mereka juga masuk ke dalam mobil Jero.
Dua mobil mewah bergerak meninggalkan kafe tempat meeting tadi. Felix mengarahkan mobilnya menuju kafe Bunda.
"Kamu kenal dengan Tuan Demian, Del?" tanya Felix membuka obrolan dan rasa penasarannya. Sedangkan Jero hanya menyimak percakapan antara Felix dengan Deli.
"Tidak Tuan. Saya baru bertemu dan mengenal Tuan Demian tadi, saat kita akan memulai meeting dengan perusahaan Perez" jawab Deli menyimpan kebohongannya rapat rapat. Deli tidak ingin Jero dan Felix mengetahui kejadian memalukan yang terjadi tadi siang.
"Terus kenapa dia dari tadi memperhatikan kamu saja Deli?" tanya Felix selanjutnya. Felix masih tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Deli.
"Saya rasa Tuan Demian memperhatikan kita semuanya Tuan. Tidak saya saja" jawab Deli yang enggan melanjutkan membahas perihal Demian.
"Besok kamu ke perusahaan dulu. Setelah itu kamu jemput dokumen kerjasama kita ke perusahaan Perez." ujar Jero memberi perintah kepada Deli.
"Siap Tuan" jawab Deli yang sudah tau apa krja yang akan dilakukannya besok.
Mobil telah berhenti di tepi jalan depan kafe Bunda.
"Singgah dulu Tuan?" Deli menawarkan Jero dan Felix untuk turun dan masuk ke kafe.
"Tidak usah aja Deli. Kami harus ke bandara menjemput Papi dan Mommy" ujar Felix menolak tawaran Deli untuk singgah.
"Titip salam nggak Tuan Felix. Sepertinya Dina suda di rumah. Itu mobilnya" ujar Deli menunjuk mobil Dina yang sudah parkir di garasi rumah yang memang terlihat dari luar saat kafe di buka.
"Gue turun bentar Jer" ujar Felix.
Felix menyebrang dengan cepat. Dia ingin melihat wajah kekasihnya itu. Wajah yang selalu memenuhi pikiran da matanya.
Fekix berpamitan kepada Dina, karena dia harus ke bandara menjemput Papi dan Mommy. Dina kembali mengantarkan Felix ke mobil.
"Sore Tuan Jero" sapa Dina dengan ramah ke calon kakak iparnya itu.
"Sore Nona Dina" jawab Jero.
Felix kembali mengemudikan mobilnya menuju bandara. Sedangkan Deli dan Dina kembali ke rumah. Mereka akan membantu Bunda nanti setelah membersihkan badan.
"Dian belum pulang Din?" tanya Deli saat mereka sudah berada di kamar.
"Belum. Kak Hendri juga belum. Sepertinya ada masalah berat di perusahaan Sanjaya" ujar Dina mengira ngira kenapa Dian lama sekali di perusahaan.
"Semoga saja tidak Din" jawab Deli yang tidak ingin kakaknya bekerja terlalu keras di sana untuk menyelesaikan masalah yang ada.
"Aku juga berharap begitu Del." jawab Dina yang setuju dengan apa keinginan Deli.
"Aku mandi dulu" ujar Dina.
Dina membersihkan badannya di kamar mandi. Sedangkan Deli duduk sejenak di kamar mendinginkan badannya. Dia memikirkan sikap Demian tadi.
"Manusia aneh" ujar Deli.
Apa yang dikatakan oleh Deli terdengar oleh Dina.
'Siapa yang aneh ya? Aku tanya Felix aja nanti' kata Dian dalam pikirannya sendiri.
Setelah Dian selesai membersihkan badannya, sekarang giliran Deli. Sedangkan Dian masih di perusahaan bersama Hendri
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Nantikan kelanjutannya kakak.
__ADS_1
Ada apa dengan perusahaan milik Dian, sehingga membuat Dian dan Hendri harus bekerja ekstra...
Stay cun kakak**