
Dina, Dian, Hendri dan juga Juan menggunakan lift khusus pemilik Rumah Sakit untuk menuju ruangan VIP yang berada di lantai paling atas rumah sakit tersebut. Mereka berempat sudah tidak sabar lagi untuk melihat keadaan Deli.
Para pengawal yang selalu mendampingi Deli selama ini sudah berdiri di depan pintu masuk ruangan VIP. Dina dan Juan benar benar membuat ruangan itu seseteril mungkin. Setiap orang yang akan masuk ke dalam ruangan VIP harus melalui pemeriksaan para pengawal. Hal itu juga berlaku bagi dokter dan suster yang akan melakukan pemeriksaan terhadap Deli.
"Selamat malam tuan muda dan nona muda" sapa pengawal yang berjaga di depan pintu masuk ruangan VIP tersebut dengan ramah dan raut wajah yang datar.
"Selamat malam.Apa kalian sudah makan?" tanya Dina kepada para pengawal yang menyapa dirinya dan Juan tadi. Empat orang oengawal terlihat berdiri di depan ruang rawat Deli. Mereka memang diperintahkan oleh Dina untuk berjaga di sana.
"Siap sudah nona tadi diantarkan oleh Kepala pengawal kepada kami sekitar jam sepuluh malam" jawab Salah satu pengawal yang ada di sana. Mereka memang sudah makan malam, tadi sebelum Dina datang ke rumah sakit.
"Oke terima kasih. Kalau begitu kami semua masuk dulu ke dalam. Kalian berjaga-jaga dengan baik di sini ya, jangan sampai ada seseorang yang mencurigakan masuk ke dalam ruangan Deli" kata Dina memberikan pesan kepada keempat pengawal yang berada di depan pintu masuk ruangan VIP tersebut
Dina, Dian, Hendri dan Juan kemudian masuk ke dalam ruangan VIP, tempat di mana Deli dirawat. Ruangan VIP untuk keluarga besar Kusuma Wijaya hanya terdiri dari dua ruangan, satu ruangan untuk tempat merawat pasien, sedangkan satu ruangan lagi adalah tempat tidur bagi penunggu pasien.
Tok tok tok Dina mengetuk pintu kamar ruang perawatan Deli. Benda yang baru keluar dari kamar mandi langsung berjalan menuju pintu ruangan untuk membuka pintu tersebut.
Terlihat di depan pintu sudah berdiri Dina, Dian, Hendry dan Juan. Mereka berempat terlihat sangat lelah sekali, karena telah melakukan perjalanan kurang lebih selama satu setengah jam memakai mobil.
"Bagaimana keadaan Deli, Bunda menurut dokter?" ujar Dina yang sudah tidak sabar lagi mendengar berita tentang keadaan sahabatnya itu.
Bunda terlihat melongo mendengar pertanyaan Dina yang sangat sulit dimengerti oleh Bunda. Kosakata pilihan Dina sudah sangat tidak tepat sekali, hal ini dikarenakan Dina yang sangat memikirkan keadaan Deli sahabatnya. Dina benar-benar tidak tahu lagi bagaimana susunan dan pilihan dari setiap kata kata yang digunakan oleh dirinya.
Dian, Hendri, dan Juan yang mendengar apa yang ditanyakan oleh Dina hanya bisa tertawa saja karena kosakata Dina sudah sangat tidak bisa dimengerti lagi oleh Bunda.
"Din, lebih baik kita masuk dulu. Nanti baru tanya tanya di dalam" ujar Dian mengajak Dina untuk masuk ke dalam ruang rawat Deli.
Dina tertegun melihat Jero yang berada di dekat Deli. ingin rasanya Dina menjauhkan Deli dari pria itu. Tetapi sayangnya pria itu adalah suami sempurna Deli di depan Ayah dan Bunda serta Papi dan Mami.
__ADS_1
Mereka berempat kemudian duduk di sofa dekat Papi, Ayah dan Mami duduk. Sedangkan Felix sedang berada di dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang lengket lengket karena keringat.
"Bunda masud Dina itu seperti ini, menurut dokter yang memeriksa Deli, ada apa dengan Deli, kenapa Deli tadi bisa pingsan" kata Dian mengulang kembali pertanyaan yang diajukan Dina tadi dengan kosakata yang lebih tepat dan mudah dimengerti oleh Bunda.
"Hasil labornya belum keluar sayang, tetapi menurut dokter yang emmerikasa Deli tadi. Ada sesuatu yang terdapat di dalam alat pencernaan Deli, sepertinya tadi Deli sangat terlambat makan mungkin karena dia sakit. Jadi dia kurang selera makan, makanya dia menjadi pingsan" ujar Bunda menjelaskan kepada Dina dan yang lainnya apa yang menyebabkan Deli bisa pingsan seperti tadi.
"Bunda, Deli bukannya tidak ada penyakit perut ya, Kok bisa ya Deli pingsan karena tidak makan" ujar Dina yang mengingat dengan pasti kalau Deli sama sekali tidak ada riwayat penyakit perut atau penyakit maag. Tidak seperti dirinya yang memang tidak bisa terlambat maka sama sekali
"Itulah sayang bunda juga heran kenapa Deli bisa tiba-tiba pingsan karena terlambat makan ya?" kata Bunda yang setuju dengan pendapat yang dikatakan oleh Dina.
"Atau Deli selama ini ada menyimpan sesuatu dari kita ya Bun?" ujar Dina memberikan pendapatnya kepada Bunda. Dina sangat yakin kalau Deli menyimpan sesuatu dalam hidupnya.
"Bisa jadi sayang. Saat Deli udah baikan Bunda akan tanyakan hal itu kepada di" lanjut Bunda sambil menatap ke arah Deli yang masih tertidur nyenyak.
"Papi, Ayah, Mami, Bunda, kamar sebelah itu adalah kamar untuk beristirahat. Papi, Ayah, Mami dan Bunda, sama yang lainnya istirahat di sana aja dulu. Biar kami aja yang menunggu Deli di sini" ujar Dina meminta keempat orang tua mereka untuk beristirahat di kamar sebelah.
"Apa di kamar sebelah tidak ada orang yang sakit Din?" tanya Papi yang juga sudah lelah, untung saja tadi ke rumah sakit tidak naik mobil. Kalau sempat naik mobil bisa dipastikan pinggang papi akan langsung patah.
"Kalau begitu Papi, mami, ayah dan bunda ke sebelah dulu ya. Kami berempat tidak sanggup untuk begadang sampai malam bisa-bisa ambrol badan Kami nanti" ujar Papi pamit kepada Jero dan yang lainnya yang usia mereka lebih muda dari Papi, Ayah, Mami dan Bunda.
Dina dan Dian lebih memilih untuk duduk di depan televisi. Sedangkan Jero menemani Deli di dekat ranjang. Dia terlihat seperti seorang suami yang sangat cemas terhadap kesehatan istrinya.
Felix, Hendry, dan Juan terlibat obrolan serius membahas tentang bisnis yang berada di negara A tempat Juan selama ini berada dan mengelola bisnisnya di sana.
***********************
Pagi harinya Dina dan Dian yang sudah bangun lebih dahulu dari pada yang lain, berjalan keluar dari dalam kamar rawat Deli. Mereka berdua bermaksud untuk pergi mencari sarapan untuk semua orang yang ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Kita mau cari makan apa ya yan?" kata Dina yang tidak tahu mau membeli sarapan apa untuk pagi ini.
"Beli bubur ayam depan rumah sakit aja gimana? Sepertinya makanan di sana juga enak. Tengok aja tuh pengunjungnya luar biasa" kata Dian memberikan ide kepada Dina untuk membeli bubur ayam sebagai menu sarapan mereka pagi ini.
"Okelah siapa takut mari kita beli bubur ayam aja. Lagian dilihat dari begitu banyak pengunjung. Gue rasa bubur ayam itu juga enak untuk dijadikan menu sarapan." kata Dina yang setuju dengan pendapat yang diajukan oleh Dian kepada dirinya untuk membeli bubur ayam yang terletak di depan rumah sakit.
Kedua wanita cantik itu berjalan menuju tempat penjual bubur ayam. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang terlihat sangat kencang berjalan dari arah sebelah kanan Dina. Mobil itu seperti ingin menyerempet Dina dan Dian.
Dina dan Dian yang kaget langsung mundur kembali ke tepi jalan. Mereka berdua melihat mobil tersebut berhenti di dekat mereka. Seorang pria tampan turun dari dalam mobil dia berjalan dengan gagahnya menuju Dina Dan Dian.
"Demian!!!!!!!" kata Dina dan Dian secara kompak saat melihat siapa pria tampan yang berjalan ke arah mereka berdua.
"Hai maaf kiranya loe berdua gue kira siapa tadi" kata Demian yang kaget saat melihat siapa kiranya yang hampir ditabrak oleh Demian tadi, karena dia mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi.
"Oh ya, kenapa kalian berdua di rumah sakit? Siapa yang sakit?" kata Demian bertanya kepada Dina dan Dian yang terlihat berjalan keluar dari perkarangan rumah sakit.
Dina dan Dian Saling pandang pandangan mereka tidak mungkin mengatakan kalau Deli yang sakit. Kalau sempat hal itu dikatakan, sudah pasti Demian akan langsung masuk ke dalam rumah sakit dan akan memaksa untuk menemui Deli.
"Jadi, siapa yang sakit Dian?" kata Demian mengulang kembali pertanyaannya yang sama dengan yang ditanyakannya sebelum ini.
"Ya sakit kawan gue" kata Dian menjawab pertanyaan dari Demian.
"Oh teman dian" ujar Demian dengan nada santai, padahal tadi nada suara Demian menuntut dan sedikit terdengar cemas.
"kalau begitu saya pamit dulu. Hati hati menyebrang" ujar Demian berpamitan kepada Dina dan Dian.
Demian kemudian pergi meninggalkan Dina dan Dian.
__ADS_1
"Sesuatu akan terjadi lagi" ujar Dina berkata kepada Dian.
Dian mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dina tadi. Mereka berdua kemudian menyebrang untuk pergi membeli bubur Ayam sesuai dengan tujuan mereka pertama tadi sebelum bertemu dengan Demian.