Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 38


__ADS_3

Setelah membahas semua yang dirasa perlu. Mereka berempat kemudian kembali menuju kamar masing masing. Mereka besok akan berangkat dari hotel pukul delapan pagi. Felix sudah mempersiapkan mobil untuk mereka gunakan besok.


Deli dan Dina masuk ke dalam kamar. Mereka kemudian menukar pakaiannya dengan pakaian rumahan untuk beristirahat. Setelah itu Deli dan Dina membersihkan wajah mereka dari makeup yang mereka pakai sebelum pergi makan malam. Setelah itu mereka naik ke atas ranjang.


"Din, gimana perjalanan bisnis loe kemaren?" ujar Deli memulai obrolan mereka di atas ranjang sebelum mereka tidur.


"Gue belum cerita ke elo kan ya?" ujar Dina yang memang belum bercerita apapun kepada Deli dan Dian tentang kejadian saat mereka melakukan perjalanan bisnis yang penuh drama dan membuat Felix menjadi sangat luar biasa marah serta membuat Felix harus memakai nama keluarganya untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.


"Belum, emang perjalanan bisnis itu gagal? Tumben bisa gagal?" tanya Deli kepada Dina yang terlihat menatap langit langit kamar.


"Yup memang gagal. Tapi ada sesuatu yang membuat gue makin yakin kalau Felix adalah pasangan terbaik untuk gue." ujar Dina menjawab dengan nada penuh bahagia.


"Apa itu? Loe bagi cerita dong ke gue. Masak main rahasia rahasiaan?" ujar Deli memiringkan badannya untuk menghadapkan badannya kepada Dina.


"Jadi saat sudah berada di tempat meeting ada kejadian yang membuat Felix menjadi sangat murka." ujar Dina memulai ceritanya.


Kemudian secara mengalir Dina menceritakan apa yang terjadi saat meeting di ballroom hotel tersebut. Deli menyimak dengan teliti apa yang dikatakan oleh Dina. Deli sama sekali tidak ada menyela sepanjang Dina bercerita.


Akhirnya Dina selesai bercerita dan dia kembali menatap ke langit langit kamar. Dina memandang jauh seperti menembus lantai lantai kamar hotel yang luar biasa tinggi dan berlantai lantai tersebut.


"Jadi, Felix membela loe mati matian di depan semua pebisnis yang hadir? Wah itu keren. Pangeran berkuda putih yang akhirnya datang juga ke kehidupan sahabat gue." ujar Deli dengan nada bahagia dan berucap syukur atas apa yang telah dilakukan oleh Felix di depan semua pebisnis dengan membela Dina mati matian di depan semua pebisnis.


Dina mengangguk meyakinkan Deli kalau Felix memang sangat membela dirinya di depan semua pebisnis yang hadir.


"Gue ikut bahagia untuk elo Din. Akhirnya elo mendapatkan seseorang yang akan membuat hidup loe menjadi lebih sempurna." ujar Deli meluapkan semua rasa bahagianya atas apa yang sekarang menimpa Dina.

__ADS_1


"Sama sama Deli. Tuhan sudah mengabulkan doa gue. Gue juga berdoa kepada Tuhan untuk memberikan hal yang sama kepada Loe dan Dian." ujar Dina mengungkapkan rasa bahagianya karena telah memiliki Felix. Seseorang yang ternyata sangat mencintai Dina. Suatu hal yang telah dibuktikan oleh Dina beberapa hari yang lalu.


"Kita menghubungi Dian lagi yuk, biar makin seru. Kita bisa kangen kangenan lagi dengan Dian." ujar Deli sambil mengambil ponsel miliknya.


Dia kemudian menghubungi Dian melalui video call. Deli dan Dina sangat berharap Dian mengangkat panggilan dari mereka. Sudah dua kali menghubungi tapi masih belum diangkat oleh Dian.


Dian yang sedang tertidur akhirnya merasakan getaran ponsel miliknya. Dian kemudian mengangkat panggilan video call tersebut,


"Apa? Kalian mau manas manasin gue?" ujar Dian yang langsung sewot saat baru mengangkat panggilan dari Deli.


"Ye loe main sewot aja. Kami kangen elo. Elo bisa terbang ke sini nggak? Biar kita liburan bareng." ujar Dina mengutarakan keinginannya.


"Gila loe, gue harus kerja. Mana ada bisa main pergi pergi aja. Gue ngurus perusahaan gue." ujar Dian sambil menunjukkan tinjunya kepada Deli dan Dina.


"Oke. Gue akan cari waktu untuk kita pergi. Tapi gimana dengan Deli?" tanya Dian yang ingat salah satu sahabatnya bekerja dengan orang lain.


"Gue akan ajukan cuti. Jadi, kita bisa pergi liburan." ujar Deli yang juga sangat ingin pergi dengan kedua sahabatnya yang sudah lama tidak mereka lakukan.


"Sip kita cari waktu yang tepat." ujar Dian.


"Udah gue mau istirahat besok gue ada kerjaan." ujar Dian yang memang besok harus meeting di perusahaan dengan para manager.


"Gue juga ada kerjaan besok Yan. Sedangkan Dina besok bisa liburan, dia bisa tidur seharian." ujar Deli.


"Oke oke kita tidur lagi. Gue besok akan menemani kekasih gue meeting, siapa bilang gue nggak kerja." ujar Dina memanas manasi kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Yayayayaya, yang sekarang sudah punya kekasih." ujar Deli menggoda Dina yang sekarang sangat jelas sedang kasmaran.


Setelah menggoda Dina, mereka bertiga kemudian mulai memejamkan matanya. Mereka bertiga kemudian tertidur dan masuk ke dalam alam mimpi masing masing.


Sedangkan di kamar sebelah Jero akan memulai membully Felix yang terlihat begitu kasmaran.


"Jadi, loe udah ngerasainkan bagaimana rasanya jatuh cinta?" ujar Jero memulai percakapan.


"Udah dan rasanya luar biasa kalau jatuh cinta kepada orang yang tepat dan disetujui keluarga." ujar Felix menskakmat Jero.


"Loe nggak asik. Gue rencana mau ngebully akhirnya gue yang loe bully." ujar Jero yang langsung menarik selimut untuk memulai ritual tidurnya.


"Hahahahaha. Makanya jangan punya niat buruk." ujar Felix sengaja membalikkan keadaan sebelum Jero membully dirinya.


"Felix, gue mau tanya serius ke elo. Kenapa Mami dan Papi tidak menyetujui hubungan gue dengan Frenya. Termasuk juga elo nggak setuju dengan hubungan gue ini." ujar Jero yang penasaran dengan apa yang menjadi dasar Felix tidak menyetujui hubungan Jero dengan Frenya.


"Jero, gue belum punya bukti kuat untuk membuat loe percaya. Makanya gue nggak mau memberitahukan. Tapi saran gue, loe mulailah melihat lihat dan meletakkan anak buah loe untuk mengintai Frenya." ujar Felix memberikan saran kepada Jero untuk melakukan hal itu.


"Gue bener bener nggak tau harus ngapain. Tapi gue cinta banget sama dia Felix. Dia mengajarkan kepada gue apa itu cinta dan bagaimana menikmati cinta." ujar Jero yang mulai akan membela dirinya.


"Loe itu gue malesnya. Loe selalu membela diri setiap gue, Papi dan Mami ngomong. Sekarang gue hanya ngomong dan pesan ke elo, berbuatlah sesuka hati elo, tetapi saat loe tau jangan menyesal dan marah." ujar Felix yang mulai terpancing emosinya.


"Kalau menurut loe Frenya baik dan pantas untuk dijadikan pendamping pewaris utama keluarga Edwardo, maka jadikan dia pendamping. Katakan kepada Papi dan Mami kalau dia memang layak." ujar Felix memberikan pandangan dan nasehat kepada Jero.


"Gue hanya berpesan itu Jero." ujar Felix yang langsung memejamkan matanya. Dia nggak mau heboh dengan Jero lagi

__ADS_1


__ADS_2