Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 121


__ADS_3

Dina yang sudah selesai mengambilkan makanan untuk Felix, kemudian berjalan menuju tempat duduk Juan. Dina tidak mau Juan mendadak menjadi emosi dan bisa merusak suasana pernikahan antara Jero dengan Deli.


"Kak" ujar Dina memanggil Juan yang terlihat sedang mengobrol dengan Hendri.


Juan melihat ke arah Dina.


"Apa?" tanya Juan kepada Dina sambil tetap tidak melihat ke arah Dina.


"Bisa bicara sebentar?" tanya Dina kepada Juan.


"Ngomong aja, nggak ada yang larang juga" ujar Juan menjawab perkataan dari Dina.


"Kak jangan gini aku mohon. Ini adalah pernikahan sahabat aku kak. Setelah ini kakak boleh marah ke aku, tapi jangan banyak banyak marahnya ya" ujar Dina sambil menatap ke arah Juan.


"Din, kakak nggak marah sama kamu. Kakak nggak akan pernah bisa marah sama kamu. Kakak marah sama dia" ujar Juan menunjuk kepada Felix.


"Aku akan kasih tahu Felix kalau dia harus berbicara dengan kakak. Kakak jangan marah ya. Aku yang salah karena tadi tidak memperkenalkan kakak kepada keluarga Edwardo" ujar Dina yang tidak ingin Juan menyalahkan sepenuhnya kepada Felix.


"Baiklah sayang, kamu panggil Felix ke sini atau besok saja bawa dia ke rumah sebelah. Kakak akan berbicara panjang kali lebar dengan dia" ujar Juan membawa sedikit perubahan cara berbicara dengan Dina.


Juan tidak mau Dina memikirkan sesuatu yang akan membuat dia menjadi berpikiran negatif kepada Juan. Juan hanya ingin keluarganya dihargai oleh keluarga calon suami Dina.


"Dina" panggil Ayah yang sedang duduk bersama dengan Juan dan Hendri.


Dina berjalan menuju Ayah. Dina memilih untuk duduk di sebelah Ayah Deli.


"Sayang, maksud dari Juan berbuat seperti itu adalah supaya keluarga calon suami kamu menghargai keluarga kamu. Bukan yang lainnya." ujar Ayah memberitahukan kepada Dina apa yang terjadi sebenarnya.


"Apa kamu mau, kamu dianggap tidak punya keluarga, terus calon suami kamu melamar kamu dengan lamaran seadanya tanpa mengatakan atau meminta izin kepada Juan?" tanya Ayah membuka cakrawala dan pemikiran Dina.


"Nggak mau sama sekali" jawab Dina dengan pasti.


"Bagi aku kalau orang nggak menghargai Juan, maka aku juga nggak akan mau sama mereka" kata Dina dengan nada mantap.

__ADS_1


"Itu baru keluarga Wijaya Kusuma" ujar Juan sambil mengangkat tangannya untuk Hightfive dengan Dina.


Felix yang melihat keluarga Bramantya sedang duduk bersama langsung menyusul ke sana. Felix ingin bercerita dengan Juan tentang hal apapun. Bagi Felix yang tadi adalah sebuah kesalahan.


"Kak Juan" ujar Felix memanggil Juan.


Hendri kemudian mempersilahkan Felix untuk duduk di kursinya.


"Kak, bisa kita bicara sebentar?" ujar Felix dengan nada segan kepada Juan.


"Besok Felix. Sekarang bukan waktu yang tepat" ujar Juan menjawab pertanyaan dari Felix dengan nada yang sudah nggak bisa dibantah lagi.


"Baiklah. Besok pagi aku akan ke rumah sebelah untuk berbicara dengan Kak Juan" ujar Felix.


Mereka kemudian mengobrol tentang bisnis. Apalagi Jero sudah bergabung dengan mereka. Papi yang melihat semua pebisnis sudah duduk dalam satu meja, juga memilih untuk ikut duduk di sana. Mereka akan membahas tentang masalah masalah yang terjadi di dunia bisnis.


Sedangkan Deli sudah duduk dengan Mami, Bunda, Dian dan Dina.


"Sayang, mulai malam besok kamu tinggal di rumah Mami, atau masih mau di rumah Bunda?" tanya Mami kepada Deli yang terlihat duduk bergelayut ke tangan Bundanya itu.


"Deli tidak tuan Jero sayang. Kak Jero" ujar Mami.


"Atau kalau perlu sayang, ayank, beb atau yang lainnya" ujar Mami memberitahukan Deli panggilan yang cocok untuk Jero.


"Ditanya dulu aja Mami. Mau dipanggil apanya" ujar Deli menjawab pertanyaan dari Mami.


"Itu bagus idenya" ujar Bunda sambil menatap Deli.


"Sesuatu perubahan itu memang harus dibicarakan kedua belah pihak sayang. Apapun permasalahannya." ujar Bunda berkata sekaligus memberi nasehat kepada Deli.


"Iya Bunda, Deli akan ingat semua pesan ayah dan Bunda sebelum Deli menikah tadi pagi" ujar Deli kepada Bunda.


"Deli sangat berterimakasih kepada Ayah dan Bunda karena sudah mau memberi Deli wejangan untuk menikah." kata Deli dengan nada bersungguh sungguh.

__ADS_1


Mami melihat Deli dengan tatapan bahagia. Mami sangat bahagia sekali memiliki menantu seperti Deli.


"Deli, Mami sangat senang memiliki menantu seperti kamu sayang. Kamu harus bisa menganggap mami seperti Bunda ya. Jangan bedakan antara mami dan Bunda sayang" ujar mami sambil menatap ke arah Deli.


"Nggak akan mami. Mami akan Deli anggap sebagai bunda saja" ujar Deli kepada Mami


"Makasi sayang" jawab Mami sambil memeluk Deli dengan pelukan kehangatan.


"akhirnya Mami mendapatkan seorang anak perempuan. Sebentar lagi juga akan nambah dengan masuknya Dina ke dalam mansion kita" ujar Mami sambil memeluk Deli dengan sangat kuat dan erat.


"Dina, denger tu Mami sudah nggak sabar lagi ingin mengambil kamu jadi menantunya. Kamu udah siap belum untuk menjadi menantu dari seorang Nyonya Edwardo?" ujar Dian menyikut ke arah Dina.


"Kamu yang harus cepat masuk ke rumah Bunda Dian. Bunda udah nggak ada anak perempuan lagi. Bunda akan minta Hendri untuk cepat cepat melamar kamu" ujar Bunda sambil menatap ke arah Dian.


"Wah Bunda, aku sangat bahagia mendengarnya. Ayolah Bunda suruh Kak Hendri cepat cepat melamar aku biar aku bisa pindah ke rumah Bunda" ujar Dian dengan bersemangat.


"Sayang, emang kamu mau tinggal di rumah Bunda yang langsung jadi kafe itu?" ujar Bunda yang kaget mendengar ucapan Dian.


"maulah Bunda masak nggak. Kan selama ini aku juga udah selalu tinggal di rumah Bunda. Nggak di rumah aku juga" ujar Dian menjawab kekhawatiran dari Bunda nya itu.


"Baiklah Besok Bunda akan desak Kak Hendri untuk melamar kamu ke Orang tua kamu sayang" ujar Bunda dengan sangat semangat


Deli menatap ke arah Bunda nya.


"Bunda belum juga aku pindah ke rumah Mami. Bunda udah sangat ingin menikahkan Dian dengan Kak Hendri" ujar Deli dengan merajuk kepada Bunda nya itu.


"jangan merajuk saang. Bunda kan tetap sayang kamu. Bunda hanya ingin menghalalkan mereka, seperti kamu yang juga sudah dihalalkan oleh Jero" ujar Bunda sambil menatap ke arah Deli.


"kamu akan tetap menjadi putri pertama bunda" kata Bunda yang tahu bagaimana perasaan Deli sekarang ini.


"Terus aku putri keberapa Bunda?" tanya Dina sambil menatap ke arah Bunda.


"ketiga setelah Dian" jawab Bunda kepada Dina

__ADS_1


"Walaupun kalian ada yang pertama, kedua dan ketiga tetapi kasih sayang Bunda sama untuk kalian bertiga. Nggak ada yang Bunda bedakan." ujar Bunda menjawab keraguan dari Dina dan Dian karena mendengar mereka berdua ada yang nomor dua dan nomor tiga.


Mereka semua kemudia melanjutkan obrolan dengan tema perbincangan wanita. Mereka mengobrol dengan begitu hangatnya. Mereka bertiga sama sama memberikan komentar dan ide mereka masing masing.


__ADS_2