
Dewan direksi yang berdiri di depan merasa sedikit lega saat melihat Dina yang sudah tersenyum kepada Juan. Dewan direksi merasa kalau Juan dan Dina tidak mendengar apa yang terjadi sebelumnya. Hanya dibagian ujungnya saja. Terlebih lagi tadi Dina sempat menerima telpon. Dewan direksi menyangka kalau telpon itu adalah terlpon penyelamat dirinya dari kemarahan juan dan Dina.
"Tuan Juan dan Nona Dina, mari masuk, kita bicara di ruangan saya saja." ujar dewan direksi membawa Juan dan Dina untuk beranjak ke ruangannya yang berada di lantai paling atas gedung kaca itu.
"Ya saya memang sangat perlu ke sana" jawab Juan dengan suara dinginnya.
Suara yang memang dipakai oleh Juan saat dirinya sedang dalam keadaan marah yang sangat marah. Siapapun yang mendengar suara Juan dalam keadaan seperti ini akan langsung lari kalang kabut. Tetapi sayangnya dewan direksi ini sama sekali belum pernah berurusan dengan Juan, sehingga dia menyangka kalau suara Juan memang seperti itu.
Juan, Dina, salah satu dewan direksi yang tadi ketahuan dan tertangkap tangan oleh Juan dan Dina sedang melakukan kesalahan yang sangat fatal, mereka bertiga kemudian berjalan menuju ruang direksi. Juan dan Dina memang sengaja ingin menyelesaikan masalah tersebut di ruangan direksi. mereka akan mengumpulkan semua dewan direksi yang bertugas untuk menjalankan rumah sakit ini sesuai dengan apa yang diinginkan dan telah ditentukan oleh Dina dan Juan.
" Silakan masuk Tuan nona" ujar dewan direksi tersebut sambil membukakan pintu ruangan rapat untuk seluruh dewan direksi.
" Tolong panggil sama dewan direksi untuk berkumpul di sini sekarang juga. saya kasih waktu dalam tiga puluh menit tidak lebih." kata Juan boleh memberikan perintah kepada dewan direksi yang terdapat tangan tadi
" satu lagi Panggil semua kepala ruangan. semuanya harus hadir di sini sekarang juga" kata Dina menambah apa yang dikatakan kelajuan sebentar ini kepada dewan direksi tersebut.
" baik Tuhan Nona Saya akan memanggil seluruh dewan direksi dan juga seluruh kepala ruangan." kata dengan direksi yang tertangkap itu
dewan direksi tersebut kemudian berdiri dan hendak berjalan keluar ruangan di mana Dina dan Juan sedang duduk menunggu kedatangan seluruh tamu undangan yang telah disebutkannya tadi.
" Anda mau ke mana?" tanya Juan saat melihat dewan direksi tersebut berdiri dan hendak pergi meninggalkan ruangan rapat dewan direksi
" saya saya sa saya akan pergi memanggil seluruh dewan direksi dan juga semua kepala ruangan Tuan Juan" jawab dewan direksi yang tadinya ditanya hendak ke mana oleh Juan
" tidak usah kamu cukup duduk di sini" kata Johan memberikan perintah kepada dewan direksi tersebut
" tapi Tuan" wicar dewan direksi yang sebenarnya memiliki maksud dan tujuan lain makanya dia hendak pergi dari ruangan tersebut
" nggak ada tapi tapi. kamu punya HP bukan?" tanya Juan kepada dewan direksi tersebut
" ada Tuan" jawab dewan direksi sambil mengeluarkan Panca miliknya dari dalam saku dengan wajah yang biasa saja
" sekarang kamu buka ponsel kamu tersebut, kemudian di sana kan ada pesan chat grup seluruh dewan direksi dan juga kepala ruangan. kamu tinggal mengetik pesan di grup tersebut. tidak mungkin kan kamu saya ajarkan?" kata Juan yang sudah dapat membaca apa yang akan dilakukan oleh dewan direksi tersebut di luar ruangan
__ADS_1
Dina secara terpisah sudah membobol database Rumah Sakit sejak tadi. Dina sudah mendapatkan bukti-bukti yang kuat atas semua pelanggaran yang telah terjadi di rumah sakit miliknya itu. Rina Hanya tinggal menunggu momen untuk melemparkan semua bukti tersebut ke hadapan semua dewan direksi dan juga kepala ruangan
Dina juga sudah mengantongi nama-nama orang yang terlibat dalam konspirasi besar tersebut. pada hari ini Dina akan mengatakan siapa-siapa saja orang yang harus bertanggung jawab dalam aspirasi besar yang sedang terjadi di rumah sakit.
jangan direksi terlihat mengetik sesuatu atau berita atau perintah yang diberikan oleh Juan dan Dina kepada dirinya sebentar ini. Devan direksi itu mengetik dengan tangan yang gemetar menahan rasa takut dan juga rasa penasaran Apa yang akan terjadi kepada dirinya saat rapat dewan direksi yang langsung dipimpin oleh Juan dan Dina.
" Apa Anda sudah mengirimnya?" tanya juga kepada dewan direksi itu
" sudah tuan" jawab dewan direksi yang tertangkap tangan tadi sambil menatap ke arah Juan.
" Oke sekarang kita tinggal tunggu mereka saja lagi. Anda kalau mau minum silakan, dari pada nanti anda haus dan kepanasan melihat semua semuanya atau Anda harus mempersiapkan diri Anda dulu sekarang, Anda ambil nafas panjang-panjang kemudian keluarkan pelan-pelan" kata Dina yang tanpa sadar telah membuat takut dewan direksi yang sebenarnya juga sudah sangat dalam keadaan takut.
"Tapi saya biasa minum di ruangan saya Tuan, Nona" ujar dewan direksi yang tetap ingin ke luar dari ruangan rapat itu.
"Sama saja Tuan. Air yang Anda minum di sana, rasa dan aromanya sama juga dengan yang Anda minum di sini. Nggak ada bedanya Tuan" ujar Juan sambil melihat ke arah dewan direksi tersebut.
"Anda tidak akan pernah bisa keluar dari ruangan ini sampai permasalahan yang tadi itu selesai" kata Dina yang sudah tidak sabar lagi dan sudah sangat emosi melihat bagaimana tingkah dan keinginan dari dewan direksi tersebut yang tetap ingin keluar dari dalam ruangan yang sedang mereka tempati sekarang.
" tapi nona Izinkan saya sebentar untuk keluar dari sini, Saya ingin ke kamar kecil sebentar nona" kata dewan direksi itu mencari cara lain untuk bisa keluar dari ruangan tempat mereka berada sekarang ini
" kamu sudah ya jangan banyak alasan lagi. atau kamu ingin melihat saya marah dan emosi saat ini juga?" kata Dina yang sudah sangat bosan dengan perkataan-perkataan yang dikeluarkan oleh dewan direksi tersebut
dewan direksi terdiam saat mendengar apa yang dikatakan oleh Dina sebentar ini. dia sudah tidak ada lagi kesempatan untuk pergi ke luar sebentar dari ruangan itu untuk menghubungi rekan-rekan yang juga telah terlibat dalam permasalahan yang sudah diketahui oleh Juan dan Dina
tidak Berapa lama kemudian, pintu ruangan Meeting itu terbuka. beberapa orang dewan direksi yang tadi tidak ada di ruangan itu sekarang sudah berada di dalam ruangan tersebut.
" Selamat datang tuan-tuan dan nyonya dewan direksi rumah sakit yang terhormat, Silakan duduk di kursi Anda masing-masing" ujar Juan dengan nada yang mengandung kemarahan di dalamnya.
salah seorang dewan direksi yang merupakan sahabat baik dari Juan saat mereka berada di negara a bisa melihat kemarahan dari Juan saat ini.
" Hai Bro lu udah berapa lama nggak ke Rumah Sakit?" tanya Juan kepada sahabatnya itu
" Maaf bro gue udah lama nggak ke Rumah Sakit. nyokap gue dirawat Bro, jadi gue yang harus merawat nyokap gue di rumah, gue nggak mau nyerahin perawatan nyokap gue ke dokter lain" kata sahabat Juan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Juan kepada dirinya
__ADS_1
" sakit apa nyokap lo? Kenapa nggak ngasih tau gue?" ujar Juan dengan nada sedikit panik saat mendengar kalau nyokap sahabatnya itu sedang dalam keadaan sakit
" stroke bro" jawab sahabat Juan sambil duduk di kursi miliknya
" Udah lu pulang aja sekarang gue juga yakin lu nggak tahu masalah yang sedang terjadi saat ini di rumah sakit" kata Juan meminta sahabatnya itu untuk pulang saja ke rumahnya kembali Supaya bisa merawat nyokapnya yang sedang sakit
" nggak apa-apa Bro gue juga mau tahu apa yang terjadi di rumah sakit ini sehingga membuat lo dan Dina harus turun tangan langsung. maafin gue juga karena sama sekali nggak tahu kalau ada sesuatu permasalahan yang serius yang terjadi di rumah sakit" kata sahabat Juan sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya sebagai simbol meminta maaf kepada Juan atas ketidakhadirannya dan ketidaktahuannya terhadap keadaan rumah sakit
" Santai aja Bro, gue tahu bagaimana rasanya kalau nyokap sakit. gue juga nggak mau, lo nantinya menyesal karena tidak bisa menjaga nyokap lo saat dia sakit" kata Juan yang memang sangat Paham bagaimana rasanya saat nyokap sakit dan bagaimana rasanya saat kehilangan nyokap.
" gue di sini aja nggak apa-apa Bro. Nyokap udah gue titip dengan adik gue yang juga dokter di rumah sakit ini, dia juga barusan selesai memeriksa seorang pasien. jadi tadi gue minta dia untuk pulang dan menjaga nyokap selama gue berada di rumah sakit" kata kata sahabat Juan yang tidak mau meninggalkan ruangan meeting dewan direksi ini.
" Ya sudah kalau begitu, lo bisa ikut rapat dengan kita di sini" kata Juan yang mempersilahkan sahabatnya itu untuk ikut dalam rapat dewan direksi kali ini.
" Makasih Juan" jawab sahabat Juan sambil tersenyum melihat ke arah sahabatnya yang sedang emosional itu
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya semua dewan direksi dan semua kepala ruangan sudah berkumpul di dalam ruangan rapat tersebut
mereka semua ternganga saat melihat Siapa saja yang berdiri di hadapan mereka saat sekarang ini. ada dua orang pemilik Rumah Sakit tersebut yang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Hal ini terlihat dari raut wajah kedua orang yang berada di depan mereka Dalam posisi duduk dengan punggung yang berdiri tegak dan melihat dengan tatapan tajam ke arah semua orang yang berada di depan mereka berdua.
setiap anggota dewan direksi dan kepala ruangan saling berbicara antara satu dengan yang lainnya yang bangkunya bersebelahan.
yang paling nampak sekali saling bercakap-cakap adalah kelompok kepala ruangan. mereka sama sekali tidak tahu kenapa mereka harus dikumpulkan di tempat itu.
sedangkan beberapa orang dewan direksi terlihat sudah sedikit pucat karena mereka sudah mendapat bau-bau tentang semua kelakuan mereka sudah diketahui oleh pemilik Rumah Sakit tersebut
" wow kenapa tuan-tuan dan Nyonya ada yang terlihat pucat ya?" kata Dina sambil melihat ke arah beberapa orang dewan direksi yang terlihat sangat pucat saat ini
" apa Sedang dalam keadaan sakit? atau sedang banyak pikiran? atau sedang dalam keadaan bersalah?" kata Dina yang menambah setiap kemungkinan dari apa yang menyebabkan beberapa orang dewan direksi itu yang wajahnya terlihat pucat sekali.
setiap anggota dewan direksi saling memandang antara satu dengan yang lainnya, mereka dapat melihat beberapa orang dari rekan mereka sekarang berwajah pucat seperti orang sedang sakit. Begitu juga dengan seluruh kepala ruangan melihat ke arah beberapa orang dewan direksi yang memang berwajah pucat seperti sedang sakit
" Mereka kenapa?" tanya salah seorang kepala ruangan kepada temannya sesama kepala ruangan sambil berbisik supaya tidak terdengar oleh dewan direksi yang sedang mereka bicarakan berdua
__ADS_1
" Mana gue tahu, dia aja nggak pernah ke daerah sini" jawab teman mengobrol nya tersebut.