
"Manusia aneh" ujar Deli dengan suara pelan menurut Deki tapi kenyataannya berbeda sekali.
Apa yang dikatakan oleh Deli ternyata terdengar jelas oleh Dina. Dina yang baru keluar dari kamar mandi mendengar dengan sangat jelas kata kata yang diucapkan oleh Deli itu.
'Siapa yang aneh ya? Aku tanya Felix aja nanti' kata Dian dalam pikirannya sendiri.
'Deki sangat jarang menyumpahi orang. Kali ini sepertinya dia serius memaki maki orang.' lanjut Dina berbicara sendiri di dalam hatinya.
"Sana mandi, gue udah siap" ujar Dina menyuruh Deli untuk mandi karena dia sudah selesai membersihkan badannya yang seharian tadi terus bergerak.
Deli mengambik handuk miliknya. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Deli akan membersihkan dirinya.
"Keramas ah. Syukur syukur bayangan pria menyebalkan itu keluar dari otak gue. Mana gue besok harus bertemu dia pula lagi, menjemput dokumen kerjasama" ujar Deli meluapkan kekesalannya di kamar mandi.
Dina mendengar semua yang ditumpahkan oleh Deli di dalam kamar mandi itu. Dina senyum senyum aja mendengar kelakuan Deli yang sampai sekarang tidak berubah.
"Ini semua kesalahan Jero manusia sok perfect itu, ntah kenapa nyuruh gue pergi membeli nasi kapau ke tempat yang jauh itu." ujar Deli kembali menumpahkan apa yang dirasanya membuat dirinya penuh.
'Apa hubungannya antara Jero meminta beli nasi kapau dengan manusia aneh?' ujar Dina bergelut dengan pemikirannya sendiri.
"Coba saja kalau mereka tidak meminta aku membeli makan siang kesana, pasti aku nggak akan melakukan hal konyol itu" lanjut Deli memuntahkan kembali isi pikirannya.
"Bayangin aja, gue berkaca di kaca mobil orang sambil memanyun manyun kan mulut gue, e e e e e e nggak taunya ada makhluk di dalam mobil" Deli masih memuntahkan isi otaknya itu.
"Mana yang lebih tragisnya gue ketemu orangnya di meeting. Haduh bayangin aja gimana malunya gue kalau Tuan Dengan Perez itu menceritakan apa yang gue lakuin di kaca mobilnya kepada Tuan Jero dan Tuan Felix" lanjut Deli masih melakukan hal yang sama yaitu mengotor ngotorin kamar mandi dengan kelakuan Deli memuntahkan isi perutnya itu.
"Untung aja tu makhluk aneh nggak nyeritain semuanya kepada Tuan Jero san Tuan Felix. Kalau lah sempat dia bercerita, uwow habislah gue diceramahi si manusia setengah kulkas itu" ujar Deli dengan kesal.
Deli kemudian melakukan kegiatan mandinya itu. Deli sudah puas memaki maki Dengan Perez, Jero dan Felix Edwardo. Dina yah mendengar Deli sudah mulai mandi, Dina memilih untuk kembali duduk di ranjang sambil memainkan ponsel miliknya.
Deli mandi tidak terlalu lama, saat ini. Tetapi yang membuat Deli terlihat mandi lama, karena dia menumpahkan semua isi perutnya di dalam kamar mandi itu.
"Dian belum pulang Din?" tanya Deli kepada Dina yang masih belum melihat Dian di dalam kamar.
"Sepertinya dia pulang malam lah Del. Kamu sudah siap?" tanya Dina kepada Deli.
"Sudah ayuk" ujar Deli mengajak Dina untuk keluar menuju kafe.
Mereka berdua berjalan keluar kamar, mereka menuju kafe. Kafe saat ini sangat ramai sekali pengunjung yang datang. Mana bunda hanya di bantu Ayah dan dua orang pelayan.
"Bunda apa yang bisa kami bantu?" tanya Deli kepada Bunda yang terlihat sibuk di dalam container yang sudah berubah fungsi menjadi dapur.
"Kamu bantuin Bunda nyiapin semua pesanan. Sedangkan Dina, tolong bantu memberikan garnis nya. Oke Din?" ujar Bunda memberikan instruksi kepada kedua anak gadisnya itu.
"Oke Bunda, masalah gampang itu." ujar Dina menyetujui apa yang diperintahkan oleh Bunda kepada dirinya.
Kalau di perusahaan memang Dina bosnya. Sedangkan kalau di kafe, maka Bunda lah bosnya.
Deli dan Dina sibuk bekerja. Kafe malam ini benar benar ramai. Para pengunjung putus nyambung datang ke kafe mereka. Semua ini berkat promosi yang gencar dilakukan oleh Deli, Dina dan Dian melalui sosial media milik mereka yang sudah centang biru itu.
Tepat pukul setengah sebelas malam, mobil Dian memasuki kafe yang sudah tutup itu. Hendri dan Dian turun dari atas mobil, mereka berdua berjalan menuju tempat Ayah dan yang lainnya duduk. Hendri dan Dian juga duduk di sana.
"Dari mana aja Yan? Kok bisa pulang malam kali? Jadi Papi dan Mami pulang?" tanya. Dina yang memang mulutnya lebih ringan untuk bertanya dibandingkan dengan Deli.
"Kantor, Dina sayang, siap dari kantor, kemudian nganterin barang barang yang sudah di preloved itu ke rumah pembelinya." ujar Dian menjelaskan kepada Dina kemana saja Dian tadi.
Dina bukannya iri Dian bisa pulang malam. Selama ini apa yang dilakukan oleh Dina memang murni tulus karena sayang dengan sahabat.
"Papi Mami gimana?" tanya Dina yang sudah lama tidak bertemu dengan Papi dan Mami. Rencana nya besok Dina akan datang ke mansion Dian. Dina akan melepaskan rindunya kepada Papi dan Mami.
"Papi dan Mami tidak jadi datang. Kata Papi tadi besok baru bisa datang. Ada kegiatan yang nggak bisa ditinggal oleh Papi." ujar Dian memberitahukan kepada kedua sahabatnya itu.
"Oooo, gue kira Papi dan Mami udah ada di sini lagi." kata Dina sambil menatap sekilas ke arah Dian.
"Sudah malam ayo kita tidur. Besok masih ada kegiatan yang membutuhkan konsentrasi dan tenaga kalian" ujar Ayah yang menghentikan obrolan di meja kafe saat melihat hari sudah pukul sebelas malam.
Mereka semua masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat. Deli, Dina bergantian memakai kamar mandi. Setelah mereka berdua selesai membasuh wajah masing masing, barulah Dian memakai kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya yang sudah terlalu lelah seharian bekerja di perusahaan.
Dian keluar dari dalam kamar mandi, dia berharap kedua sahabatnya sudah tidur dan tidak bertanya macam macam kepada dirinya. Dian sudah tau kebiasaan kedua sahabatnya itu, yang akan bertanya apabila mereka memiliki pemikiran masing masing di dalam otaknya itu.
Dian kemudian duduk di ranjang miliknya. Dia menatap kedua sahabatnya itu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Dian sambil melihat ke arah Deli dan Dina bergantian.
"Ada yang mau kami tanyakan ke kamu Yan" kali ini giliran Deli yang akan bertanya kepada Dian.
"Ada apa, tanya ajalah pake izin segala" ujar Dian melihat ke arah dua sahabatnya itu.
"Kamu beranikan jawab jujur ke kami berdua?" kata Deli selanjutnya, sambil melirik ke arah Dina yang berada di sebelah Deli.
"Mana pernah gue boong ke kalian berdua. Ada ada aja pertanyaannya. Tanya aja gue akan jawab. Tapi kalau lama awas pada tidur ya" ujar Dian memberikan syarat kepada kedua sahabatnya itu.
"Nggak bakalan tidur" jawab Deli dan Dina kompak.
"Jadi gini" ujar Dian memulai ceritanya kepada kedua sahabatnya yang tidak akan pernah bisa membuat masing masing mereka lolos saat ada sesuatu yang mereka anggap penting.
FLASH BACK
__ADS_1
"Sayang, dokumen dokumennya sudah datang" ujar Dian yang memanggil Hendri melalui sambungan telpon.
Dian malas berjalan menuju ruang istirahat. Makanya dia memanfaatkan teknologi yang ada untuk memanggil Hendri kembali ke ruangan.
"Oke sayang. Aku basuh wajah dulu bentar ya" ujar Hendri yang masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh wajahnya yang sempat tertidur sebentar tadi.
Setelah yakin muka bantalnya tidak ada lagi, barulah Hendri keluar dari dalam ruangan istirahat. Dian menatap lama Hendri.
"Kamu sempat tertidur tadi sayang?" tanya Dian saat melihat mata Hendri yang masih ada sisa sisa tidurnya yang singkat.
"Sempat kayaknya. Aku juga nggak sadar kalau tertidur" jawab Hendri sambil mengambil ponsel miliknya untuk berkaca.
"Emang kelihatan banget ya sayang, kalau aku sempat tertidur?" tanya Hendri kepada Dian.
"Nggak sih. Lagian hanya kita berdua aja di sini. Nggak akan ada tamu, jadi walaupun wajah kamu wajah bantal sekalipun nggak masalah. Lagian aku tetap cinta" ujar Dian berkata sambil menatap lama Hendrii.
"Mulai" ujar Hendri sambil tersenyum bahagia mendengar ungkapan cinta yang diucapkan oleh Dian kepada dirinya tadi.
Mereka berdua saling menatap satu dengan yang lainnya. Tatapan memuja, yang harus segera dihentikan oleh seseorang sebelum sesuatu yang diinginkan terjadi tapi belum saatnya untuk terjadi.
"Mana dokumennya? Sini aku baca, bulan pertama kamu memimpin ya. Terus sama yang bulan terakhir saat kamu serah Terima dengan Papi" ucap Hendri meminta dua dokumen kepada Dian.
Dian mengambilkan dua dokumen yang diminta oleh Hendri. Dian menyusul Hendri yang sudah duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya. Dian kemudian duduk di sebelah Hendri duduk.
"Ini sayang dokumennya. Yang ini dokumen waktu serah Terima dengan Papi, di sana sudah lengkap semua semuanya. Sedangkan yang ini bulan pertama aku menjabat" ujar Dian sambil meletakkan di atas meja kedua dokumen yang sudah dijelaskan oleh Dian kepada Hendri.
Hendri melihat laporan saat serah Terima antara Papi dan Dian. Laporan itu tidak akan memiliki kesalahan atau penggelembungan dana.
Hendri kemudian melihat laporan saat Dina sudah sebulan memimpin perusahaan. Dana dana yang keluar masih sama atau hanya beda tipis dengan saat kepemimpinan Papi.
"Bulan pertama masih aman sayang. Coba ambil bulan ketiga sayang" ujar Hendri meminta Dian untuk mengambilkan laporan keuangan bulan ketiga.
Hendri mulai membaca laporan bulan ketiga itu. Dia membaca sampai tiga kali laporan keuangan yang sudah mulai tidak masuk di akal itu.
"Sayang, lihat ini." ujar Hendri menunjuk salah satu aitem yang ada di dalam laporan.
Dian menunjuk aitem tersebut.
"Sejak kapan para dewa direksi diberikan tunjangan yang berbeda beda?" ujar Hendri bertanya kepada Dian.
"Nggak pernah sayang. Semua dewan direksi mendapatkan tunjangan yang sama. Malahan tidak pernah naik. Karena menurut Papi gaji dan tunjangan yang mereka Terima sudah lebih dari cukup untuk hidup dan biaya pendidikan anak anak para dewan direkai." ujar Dian menjelaskan kepada Hendri kalau tunjangan dewan direksi itu sama semuanya.
"Coba tengok yang lainnya juga sayang. Angkanya sama atau berbeda beda" ujar Hendri meminta laporan keuangan yang lain.
Hendri melihat ketiga tiga anggota dewan direksi itu memiliki perbedaan tunjangan.
"Kok tanya ke Papi sayang?" ujar Dian yang memang tidak paham dengan maksud dari pernyataan Hendri.
"Sayang, maksud aku bertanha kepada Papi, apakah setiap dewan direksi itu memiliki beban tugas yang tidak sama, sehingga mengakibatkan adanya perbedaan tunjangan." Hendri memaparkan kepada Dian.
"Terus, untuk saat ini aku kan belum menjadi siapa siapa di sini. Ada baiknya sebelum aku masuk ke sini Papi dan kamu sudah menindak mereka." lanjut Hendri berkata kepada Dian.
"Kenapa sayang?" tanya Dian yang semakin tertarik dengan pembahasan tentang masalah ini.
Dian menjadi sangat tertarik, karena dia bisa sekaligus belajar dengan semua kejadian yang terjadi saat ini.
"Ya nggak mungkinlah sayang, aku baru masuk ke wilayah ini langsung main pecat dewan direksi saja. Mereka bisa saja berbalik menyerang aku. Bisa saja mereka menuduh aku melakukan pencurian data data perusahaan" ujar Hendri menjelaskan kepada Dian.
"Bener juga sayang. Oke kita besok akan rapatkan dengan Papi tentang temuan kali ini. Setelah itu kami akan rapat dengan dewan direksi untuk ya gitulah tergantung keputusan Papi." kata Dian yang sudah paham dengan semua semuanya.
"Satu lagi sayang. Sebaiknya besok ini sebelum memanggil dewan direksi untuk rapat. Papi dan kamu juga harus memanggil manager pengaadan dan juga manager keuangan. Sepertinya mereka ada main di belakang" ujar Hendri membuka permasalahan kedua perusahaan Sanjaya grub.
"Hah serius sayang?" tanya Dian kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Hendri. Begitu banyak ternyata masalah di dalam perusahaan keluarganya itu.
"Serius sayang. Sejak bulan ke tiga sampai bulan kemaren, mereka terlihat menaikkan setiap harga barang yang mereka beli dan mereka jual. Sedangkan uang yang masuk ke dalam kas hasil dari penjualan masih harga yang lama. Sedangkan untuk pengeluarannya memakai harga baru" lanjut Hendri membongkar kedok dari manager keuangan dan juga pengadaan dan pengeluaran barang.
"Kamu punya kan password untuk melihat data data perusahaan?" tanya Hendri kepada Dian.
"Punya sayang. Tapi apa tidak sebaiknya kita panggil orang yang telah sejak lama dipercaya oleh Papi untuk mengimput semua arus barang masuk dan keluar, serta pendapatan dari perusahaan." ujar Dian memberikan usulnya kepada Hendri.
"Oke sip. Aku setuju sayang. Kita akan dengarkan penjelasan dari dia terlebih dahulu" ujar Hendri yang kali ini setuju dengan usulan yang diberikan oleh Dian.
Dian mengambil telpon perusahaan, dia menekan angka lima untuk menghubungi bagian IT yang berada tepat satu lantai di bawah lantai ruangan Presiden direktur dan CEO.
"Hallo Pak Hans tolong keruangan saya sekarang ya. Bawa semua laporan yang diserahkan oleh para manager kepada Pak Hans." ujar Dian memberikan instruksi kepada Pak Hans.
"Siap Nona. Saya akan menyiapkan semua laporan yang Nona minta" ujar Pak Hans.
Dian memutuskan panggilan telponnya. Setelah itu dia kembali menuju sofa dimana Hendri masih terlihat serius membaca semua dokumen dokumen perusahaan.
"Sayang, kamu kalau udah kerja memang nggak tau waktu dan nggak ingat makan ya" ujar Dian sambil duduk di sebelah Hendri.
"Aku pesan makan ya sayang. Mau restoran mana?" tanya Dian kepada Hendri.
"Sini ada kantin kan sayang?" tanya Hendri kepada Dian.
"Ada sayang. Tapi aku belum pernah makan disitu" ujar Dian berkata jujur kepada Hendri, dia memang belum pernah sama sekali makan di kantin itu.
__ADS_1
"Sayang ini maaf ya sekali lagi maaf. Kita bisa membeli sesuatu dimanapun. Tetapi kalau ada di dekat kita kenapa kita harus beli di tempat lain. Jadi saran aku lebih baik untuk membeli makanan di kantin saja ya" ujar Hendri memberikan masukannya kepada Deli.
"Kamu yakin sayang mau makan di kantin?" tanya Dian yang terlihat ragu untuk makan di kantin perusahaan.
"Yakinlah sayang. Kita harus yakin kalau setiap orang pasti akan menjaga kebersihan mereka. Nggak mungkin mereka akan merusak nama baik mereka dengan tidak menjaga kebersihan" ujar Hendri menjelaskan kepada Dian.
"Oke sayang. Aku telpon office boy dulu ya untuk memesan makanan ke kantin" ujar Dian yang kemudian langsung menghubungi office boy.
Dian memesan tiga porsi nasi dengan sambal ayam bakar dan dua dendeng, serta tiga gelas es teh. Setelah itu Dian kembali duduk di dekat Hendri. Mereka berdua menunggu kedatangan Pak Hans yang tadi dihubungi oleh Hendri.
Pak Hans mengetuk pintu ruangan Dian. Dian meminta Pak Hans untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Pak Hans, kenalkan ini Hendri. Dia adalah calon suami saya" ujar Dian memperkenalkan Hendri kepada Pak Hans.
"Pak Hans Tuan" kata Pak Hans menyebutkan namanya.
"Hendri" jawab Hendri dengan santai.
"Baiklah Pak Hans, saya memanggil Bapak ke sini untuk meminta Bapak membuka database perusahaan. Saya mau melihat uang masuk dan uang keluar perusahaan." ujar Dian mengatakan apa tujuannya memanggil Pak Hans ke dekat mereka.
"Nona Dian, maaf sebelumnya. Bukannya saya mau melangkahi Nona. Tapi, sekali lagi maafkan saya Nona." ujar Pak Hans kembali meminta maaf kepada Dian.
"Ada apa Pak Hans? Kenapa Bapak berkali kali meminta maaf kepada Saya?" tanya Dian menatap Pak Hans dengan tatapan menyelidik.
Pak Hans terdiam kembali. Dia menatap lama ke arah Dian.
"Boleh saya menceritakan semuanya kepada Nona Dian?" tanya Pak Hans yang ingin mengatakan semuanya kepada Dian.
"Boleh Pak Hans. Silahkan. Papi dan aku sangat percaya dengan Pak Hans. Kami sangat yakin Pak Hans tidak akan mengecewakan kami" ujar Dian meminta Pak Hans untuk bercerita apa yang diketahui oleh dirinya.
"Sekali lagi Nona, saya benar benar minta maaf sama Nona. Saya tau saat Nona mendengar semuanya Nona akan marah sama saya" ujar Pak Hans yang tau bagaimana keadaan setelah dia mengakui semuanya kepada Dian.
"Pak Hans katakan saja. Marah atau tidak saya nantinya, nanti saja kita pikirkan." ujar Dian meminta Pak Hans untuk menceritakan semua yang terjadi.
"Jadi begini Nona. Bulan kedua sejak Nona menjadi pimpinan di perusahaan ini dua orang manager dan tiga dewan direksi, masuk ke dalam ruangan saya." Pak Hans mulai bercerita.
Dian dan Hendri terlihat menyimak dengan serius.
Tok tok tok, terdengar bunyi ketukan pintu ruangan Dian.
"Masuk" ujar Dian.
Office boy masuk mengantarkan pesanan Dian.
"Taruh sini aja" ujar Dian menunjuk meja untuk menaruh makanan yang dibawa oleh office boy itu.
KAMAR DELI
"Kayaknya masih panjang ne cerita. Kalau kita lanjutkan besok gimana?" tanya Deli yang memang sudah mengantuk.
"Gue juga setuju. Capek gue. Mana tadi otak gue terkuras lagi sama berbagai kejadian yang harus gue pikirin. Tambah ini cerita lagi" ujar Dian yang ternyata juga sudah sangat lelah.
"Gini aja. Besok jam berapa jemput Papi dan Mami?" tanya Dina yang sangat penasaran dengan semua kejadian di perusahaan Dian.
"Besok agak siangan. Emang kenapa?" ujar Dian menatap Dina.
"Nah, kan besok loe cerita tuh dengan Papi dan Mami. Kami ikut aja. Jadi, kan loe nggak cerita berkali kali" ujar Dina mengutarakan maksudnya bertanya jam berapa jemput Papi dan Mami.
"Oke sip. Berarti kita berdua tidur di rumah Dian" jawab Deli menyambar jawaban yang seharusnya diberikan oleh Dina.
"Yupi. Besok tidur di rumah gue aja." Dian sangat senang kedua sahabatnya akan tidur di rumahnya malam besok.
"Tapi kalau loe cerita dari awal, pas bagian Pak Hans udah minta maaf, loe harus berhenti bercerita. Nggak boleh lanjut" ujar Dina memberikan peraturan kepada Dian.
"Oke oke. Nanti saat aku cerita pas udah sampai disitu, gue bilang ke Papi. Papi, cerita di pause dulu sampai Deli dan Dina datang" ujar Dian kepada Dina dan Deli.
"Suai. Memang harus gitu" ujar Dina.
"Maunya." ujar Dian.
"Udah tidur. Besok gue harus bertemu pria resek sedunia" ujar Deli tanpa sengaja membuka cerita baru untuk kedua sahabatnya.
"Bentar, pria gesrek? Nah gue jadi curiga ini" ujar Dina memandang Deli.
"Besok gue cerita. Capek gue kalau sekarang" ujar Deli.
"Yah nggak asik" jawab Dian dan Dina kompak.
"Bodo amat" jawab Deli.
Mereka kemudian memejamkan mata untuk menuju alam mimpi. Hari yang berat dilalui oleh Dian. Hari penuh drama dilalui oleh Deli.
****************
Nantikan kelanjutannya kakak.
Stay cun kakak
__ADS_1