
Pagi harinya Deli seperti biasa sudah menyiapkan hidangan sarapan untuk Jero. Kali ini sesuai pesanan Jero, Deli membawakan Jero nasi kuning lengkap dengan lauk serta gorengan. Deli juga sudah membuatkan Jero teh hangat dengan gula batu.
"Deli, besok kita akan melakukan perjalanan bisnis. Kamu siap siap. Kita akan pergi selama tiga hari." ujar Jero memberitahukan kepada Deli rencana perjalanan bisnis mereka ke negara J.
Seharusnya Jero melakukan perjalanan bisnisnya dengan Felix. Tetapi ternyata Felix memperlama perjalanan bisnisnya dengan Dina. Sehingga mau tidak mau Jero harus melakukan perjalanan bisnis dengan Deli sekretarisnya. Terlebih lagi, kemaren Deli sukses membuat CEO yang terkenal susah melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan Edwardo hanya dalam sekali presentasi. Sebuah pencapaian yang luar biasa diperoleh oleh perusahaan Edwardo untuk saat ini.
"Saya minta kamu mempelajari bahan bahan untuk meeting besok. Semua file sudah saya kirim melalui email. Silahkan kamu baca dan pelajari." ujar Jero memberikan perintah selanjutnya kepada Deli untuk membaca dan mempelajari materi meeting.
"Siap Tuan. Saya akan pelajari." ujar Deli.
"Silahkan sarapan Tuan." kata Deli mempersilahkan Jero untuk sarapan.
Jero memakan sarapannya. Dia makan dengan sangat lahap menu nasi kuning yang dipesannya kepada Deli. Tak lama setelahnya dia telah selesai menyantap semua hidangan yang ada. Kemudian Jero memanggil Deli untuk membereskan semuanya kembali.
Deli masuk kedalam ruangan Jero. Deli membersihkan perlengkapan perlengkapan makan yang dipakai oleh Jero. Deli kemudian keluar dari ruangan Jero sambil membawa piring kotor habis dipakai Jero sarapan pagi.
Deli kembali duduk di kursinya. Deli mengunduh materi meeting dan juga presentasi yang dikirim oleh Jero kepada dirinya. Deli membaca dan mempelajari semua isi dari meeting besok. Deli sangat suka dengan meeting, apalagi dia bisa menampilkan kelihaiannya dalam melobby orang. Tetapi sayangnya meeting Deli yang pertama dia sama sekali tidak ada kesempatan untuk melobby. Semua dihajar oleh Jero. Deli larut dalam kerjanya hari itu. Sampai sampai Deli tidak menyadari kalau Nyonya Besar Edwardo sudah berdiri di samping dirinya yang sedang sibuk membaca itu.
"Hay Deli, kerja jangan terlalu serius sampai sampai tidak tau ada yang datang." ujar Mami sambil berdiri di depan meja kerja Deli.
"Maaf Nyonya besar. Saya tidak tau kalau Nyonya yang datang. Saya kira tadi siapa Nyonya." jawab Deli sambil berdiri dari kursinya.
"Mau dibuatkan minum apa Nyonya?" tanya Deli kepada Mami.
"Es teh aja Del. Saya masuk keruangan Tuan Jero dulu ya." ujar Mami.
Mami kemudian berjalan masuk ke ruangan Jero. Mami sengaja tidak memberitahukan kepada Jero, kalau Mami akan datang ke perusahaan.
"Mami?" tanya Jero kaget saat melihat Mami sudah berada di dalam ruangannya saat ini sambil tersenyum.
"Kenapa kaget?" ujar Mami menatap Jero.
"Nggak ada. Cuma kaget aja Mi. Tadi nggak ada ngomong mau datang. Ee ternyata udah di sini aja. Ada perlu apa Mi?" ujar Jero sambil duduk di sofa dekat Mami.
"Nggak ada cuma mau nengok nengok aja. Apa kamu sudah makan siang?" tanya Mami kepada Jero.
"Belum Mi. Mami mau makan apa?" tanya Jero sambil mengambil ponsel miliknya. Jero berencana untuk meminta tolong kepada Deli membelikan makan siang untuk Jero dan Mami.
"Nasi Padang aja Jer." jawab Mami sambil melihat ponsel miliknya.
Jero menghubungi Deli untuk meminta tolong Deli membeli nasi padang ke restoran Padang yang sedang naik daun itu.
Sambil menunggu kedatangan Deli, Mami mengeluarkan ponsel miliknya. Mami berencana untuk menghubungi Felix anak bungsunya yang sudah pergi selama dua hari.
"Mami mau video call dengan siapa?" tanya Jero yang melihat Mami mencari nomor di ponsel miliknya.
"Felix." jawab Mami enteng.
"Mami mau buat Felix pulang saat ini juga?" ujar Jero kaget mendengar siapa yang akan dihubungi Mami.
"Kenapa? Tanya Mami tidak paham dengan maksud Jero.
"Mami, di sana sedang tengah malam. Mami nelpon Felix, tentu dia jadi kaget. Masak Mami menghubungi Felix tengah malam." ujar Jero melihat ke Mami.
"Mami mau buat Felux spor jantung karena menerima panggilan video dari Mami?" lanjut Jero yang memiliki kesempatan membully Mami. Jero mengambil kesempatab emas yang tidak akan datang dua kali.
"Eh bener juga ya. Di sana tentu sudah malam." ujar Mami sambil meletakkan ponsel miliknya kembali ke dalam tas. Mami tidak ingin membuat Felix terbangun tengah malam hanya karena ingin video call dengan anaknya itu.
__ADS_1
Deli datang mengantarkan pesanan makan siang dari Nyonya dan Jero. Deli meletakkan di atas masing masing piring. Deli juga sudah membawa dua botol air mineral untuk minum Nyonya dan Jero.
"Kamu makan sekalian saja di sini Del." ujar Mami mengajak Deli untuk makan sekalian bersama mereka di ruangan Jero.
"Tidak Nyonya, saya sudah makan." ujar Deli yang memang tidak mau makan di ruangan itu. Deli sudah memiliki agenda lain untuk makan di kantin perusahaan.
"Saya permisi Nyonya, Tuan." ujar Deli pamit kepada Mami dan Jero.
Deli keluar dari ruangan Jero. Deli mengambil dompet miliknya, dia kemudian memasuki lift untuk menuju kantin yang terletak di bestman kantor. Dari lift ruangan presiden direktur bisa langsung menuju bestman.
Deli masuk ke dalam kantin. Perutnya sudah lumayan berbunyi. Sebenarnya tadi Deli juga ingin membeli nasi padang, tetapi karena segan dengan Mami dan Jero, akhirnya Deli memilih untuk makan di kantin saja.
Tiba tiba saat dia sedang menikmati nasi kuning yang dibelinya di kantin, ponsel milik Deli berdering. Deli.melihat siapa yang menghubunginya, ternyata Dian.
"Hallo yan, ada apa?" tanya Deli sambil menyuap nasi kuningnya.
"Besok kita ke mall yuk. Gue gabut." ujar Dian yang sedang memiliki banyak beban pekerjaan sehingga membuat dirinya pusing tujuh keliling Semua rekanan kerja saat tau Dian sahabat Dina, banyak perusahaan perusahaan itu mau menjalin kerjasama dengan Dian. Bagi Dian dan Dina selagi tidak merugikan mereka berdua, maka mereka akan hajar saja. Prinsip mereka beedua di umur empat puluh tinggal duduk manis aja. Tidak memikirkan perusahaan lagi.
"Yah, maaf Yan, besok gue nggak bisa nemanin elo pergi. Gue besok sampai tiga hari ke depan pergi perjalanan bisnis dengan Tuan Jero menggantikan Tuan Felix." ujar Deli memberitahukan agenda kegiatannya kepada Dian. Sebenarnya Deli pengen sekali ikut, tetapi apalah daya Deli perintah sudah turun dan tinggal dilaksanakan oleh Deli.
"Yah, padahal gue ingin kita pergi healing berdua aja." kata Dian dengan nada sedih. Dia benae benar berharap Deli bisa menemani.
"Usah jangan sedih. Dina kan balik saat gue pergi. Loe minta temanin dia aja." jawab Deli yang ingat kalau Tuan Felix dua hari lagi akan kembali dari negara A.
"Atau mintak temanin dengan Kak Hendri aja gimana?" tanya balik Deli yang ingat dengan kakak laki lakinya itu.
"Kamu kayak nggak tau Kakak kamu aja Del. Mana ada dia mau ninggalin kafe kalau nggak ke paksa. Apalagi ini hanya untuk main main. Nggak akan bisa Deli. Kecuali malam minggu." ujar Dian dengan nada kecut.
"Hahahaha. Demi kamu dan penerus hidup kalian." ujar Deli menghibur Dian yang sedang bersedih karena tidak bisa pergi healing.
"Loe bawa mobil Del?" tanya Dian yang masih kekeh untuk pergi main. Dia mencoba dengan cara lain untuk mengajak Deli keluar.
"Gue jemput pas pulang kantor. Kita pulang sama sama. Gue akan nginap di rumah. Tidak ada penolakan." ujar Dian memberikan penguatan kepada Deli. Dian terlihat benar benae gabut sehingga tidak tau apa yang harus dilakukannya lagi.
"Iya iya. Gue pulang sama loe. Tenang aja." ujar Deli.
Dian memutuskan panggilan dengan Deli. Deli melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi. Setelah selesai makan, Deli kembali menuju ruangannya.
Deli melihat Jero yang sudah berada di luar ruangan dengan Mami. Mereka beddua terlihat seperti akan pergi dari kantor.
"Deli besok langsung ke bandara. Kita akan terbang jam sembilan pagi." ujar Jero memberitahukan jam keberangkatan.
"Baik Tuan." jawab Deli.
"Deli. Kami pulang dulu ya. Hati hati besok perginya. Saya titip putra saya yang bandel di luar ini ya." ujar Mami sambil menyenggol pinggang Jero.
Deli menyiapkan semua bahan bahan untuk dibawanya besok. Dia besok tidak perlu ke kantor terlebih dahulu. Tetapi langsung ke bandara saja. Deli merapikan semuanya, dia tidak mau meninggalkan mejanya dalam keadaan kotor.
Setelah yakin dengan kerapian meja kerjanya. Deli masuk ke dalam ruangan Jero. Deli melihat ruangan kerja yang lumayan berantakan, terlebih lagi sampah setelah makan siang Jero dan Nyonya besar belum dibersihkan. Deli membersihkan semuanya. Dia juga merapikan meja kerja Jero. Deli mengelap semuanyasemuanya, dia membersihkan meja kerja Jero.
Tepat pukul empat semua pekerjaan Deli sudah selesai. Deli kembali memeriksa berkas berkas yang akan dibawanya. Dia tidak mau meninggalkan satu berkaspun. Setelah yakin semua berkas sudah dibawa dan juga laptopnya, Deli kemudian turun ke lonby kantor, Dia akan menunggu Dian di sana. Tadi Dian mengatakan kalau dia sudah dalam perjalanan menuju kantor Deli.
Tidak menunggu lama Dian datang juga. Deli langsung masuk ke mobil Dian.
"Jadi juga besok perjalanan bisnis?" tanya Dian saat melihat bawaan barang barang Deli yang banyak itu.
"Jadi. Besok langsung ke Bandara. Loe anter gue ya." ujar Deli meminta tolong kepada Dian sambil memonyong monyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Oke sip. Gue anter." jawab Dian yang tidak akan mungkin menolak permintaan Deli kepada dirinya.
Mereka mengobrol ringan. Saat itulah ponsel milik Dian yang diletakkannya di dasbord mobil berdering. Sebuah panggilan video call dilakukan oleh Dina.
"Panjang umur tu anak." ujar Dian.
Deli mengangkat panggilan videocall tersebut.
"Hallo Yan. Loe dimana?" tanya Dina.
"Mobil. Loe dimana? Sepertinya sedang jalan kaki." ujar Dian yang melihat benda benda bergerak di sekitar Dina.
"Yup. Gue sedang jalan kaki. Di sini lebih enak jalan kaki untuk berkeliling dari pada naik mobil." ujar Dina menjawab pertanyaan Deli.
"Loe sedang sama Deli?" tanya Dina kemudian.
"Yup. Tu anak sedang menghayal pergi ke negara J. Dia takut naik pesawat." ujar Dian mengolok olok Deli.
"Hahahahaha. Loe ada ada aja. Mana ada gue takut naik pesawat. Yang ada pesawat takut ditumpangi gue." jawab Deli sambil mencubit pinggang Dian.
"Udah nggak usah ribut." ujar Dina melerai keributan antara Deli dengan Dian.
"Del, besok loe jadi perjalanan bisnis dengan Jero?" tanya Dina yang ingat dengan perkataan Felix tadi pagi saat mereka sedang sarapan.
"Jadi. Ini gara gara kekasih loe itu. Jadinya gue yang nemani bos perjalanan bisnis. Padahal gue males sebenarnya. Gue nggak suka keluar negeri." ujar Deli yang memang sangat malas melakukan perjalanan jauh.
"Belum lagi gue harimus presentasi. Gue gagok Din." ujar Deli yang tidak bisa membayangkan harus presentasi di depan semua orang asing itu.
"Gue yakin loe bisa." ujar Dina memberi semangat Deli.
Felix meraih ponsel Dina.
"Deli. Saya yakin kamu bisa. Kemaren saja bisa. Untuk besok mereka tidak sebawel yang kemaren. Mereka akan angguk angguk saja saat mereka menganggap semua itu sudah betul." ujar Felix meyakinkan Deli.
"Tuh bos kedua loe aja yakin." ujar Dina.
"Selamat melakukan perjalanan bisnis sobat. Selamat menikmati." ujar Dina memberikan semangat kepada Deli untuk melakukan perjalanan bisnisnya.
"Puas ye kamu." ujar Deli kemudian.
Dina memutuskan panggilan videonya dengan Dian.
"Kita langsung pulang ya Yan. Gue udah mules." ujar Deli yang sama sekali tidak bisa naik pesawat. Deli juga tidak mungkin menolak permintaan presiden direkturnya. Bisa bisa dia kena pecat kalau menolak.
Sedangkan di negara A. Felix dan Dina sedang menikmati berjalan kaki di pagi hari sepanjang pertokoan barang barang breanded. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Cuaca di negara A juga sedang sangat bersahabat dengan para pejalan kaki.
"Sayang, kita ke toko itu ya." ujar Dina menunjuk sebuah toko barang breanded yang sangat terkenal.
Mereka berdua masuk ke toko tersebut. Dina melihat lihat pakaian yang akan dibelinya. Akhirnya setelah melihat lihat, pilihan Dina jatuh kepada kemeja putih sederhana yang harganya uwow itu.
Setelah mendapatkan pakaian untuk dirinya, Dina melihat lihat tas untuk hadiah Deli dan Dian. Dina membeli tiga buah tas dengan model yang sama tetapi warna berbeda. Dina juga tidak lupa membeli tas untuk calon ibu mertuanya.
Setelah Dina selesai membeli apa yang dimaunya. Felix dan Dina keluar dari toko tersebut. Mereka berdua menuju toko jam terkenal. Felix akan membeli jam untuk Papi, Jero, dia dan juga Dina.
Felix memilih jam untuk Papi dan Jero. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Felix menuju Dina.
"Sayang kita pilih jam couple yuk." ujar Felix.
__ADS_1
Dina kemudian memilih jam untuk dirinya dan juga Felix. Dina memutuskan membeli sebuah jam rantai mewah warna silver dengan berlian kecil kecil di sekelilingnya. Felix kagum dengan pilihan Dina.
Setelah puas berbelanja. Mereka berdua kemudian keluar dari dalam toko. Felix dan Dina akan melanjutkan acara jalan jalan mereka. Mereka berdua tidak ada niat untuk berbelanja lagi.