Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
182


__ADS_3

Fatima, Umi Amira dan Aby Fatih sudah terbang ke Amerika dengan pesawat khusus.


Sesampai di sana, Aby Fatih akan mendapatkan perawatn intensif dan di temani oleh Fatima seeta Umi Amira, istrinya.


Dalam doa Fatima selalu menginginkan yang terbaik untuk dirinya, Syakir dan Kirana.


"Kamu melamun? Sudah makan belum? Aby sudah di pindahkan ke ruang khusus dan sekarang beliau harus istirahat tital dan tidak boleh di tunggu. Lebih baik kita cari makan dan tempat tinggal sederhana untuk tidur di dekat sini. Semoga saja, uang kita cukup?" ucap Umi Amira yang merasa ragu.


Umi Amira menarik napas dalam dan oerlahan di hembuskan. Hatinya terasa sesak. Beban hidupnya juga begitu berat sekali.


Fatima memegang tangan Umi Amira dan menciumi tangan ibunya itu penuh hormat.


"Maafin Fatima, Umi. Ini semua karena dosa Fatima. Keluarga kita jadi begini. Andai saja Fatima menolak perjodohan itu dan berkata jujur kalau Mas Syakir sudah memiliki istri tentu semua tidak akan berakhir seperti ini. Fatima egois," ucap Fatima pelan.


Umi Amira memeluk Fatima erat dan mengusap punggung Fatima. Ia tahu bagaimana Fatima menyesali semua perbuatannya, perzinahannya dan semua disa besarnya.


"Fatima anakku ...." hanya kata itu yang mampu terucap pada bibir Umi Amira. Entah bagaimana rasanya saat ini semua terasa campur aduk.


Di tambah lagi, dokter bilang Aby Fatih tidak akan bertahan lama lagi hidupnya. Seolah hidup Umi Amira ingin berhenti sampai di sini saja. Rasanya kaki ini tak lagi mampu melangkah untuk melanjutkan hidup penuh drama kesedihan.


Air mata Fatima terus mengalir dengan deras. Terbayang jelas semua dosa yang ia perbuat. Jelas sekali dan itu sangat menyakitkan.


Hari ini, Fatima dan Umi Amira mencari tempat tinggal sederhana dan murah untuk di tinggali. Setidaknya hanya nyaman untuk tidur secara bergantian antara Umi Amira dan Fatima nanti karena harus bergantian berjaga Aby Fatih.


Beberapa minggu kemudian ...

__ADS_1


Tanpa sengaja Fatima bertemu Kirana di suatu tempat yang tak pernah di sangkanya.


Ya, Rumah sakit yang merawat Aby Fatih adalah rumah sakit dimana Fahad bekerja.


Kirana sudah berjanji untuk datang menemui Anna yang sudah satu bulan di rawat di rumah sakit ini.


"Mbak Kirana?" teriak Fatima saat melihat sosok Kirana berjalan dengan sangat anggun memasuki rumah sakut menuju salah satu koridor menuju ruang perawatan anak.


Kirana menoleh ke arah Fatima yang memanggilnya dan tersenyum lebar.


"Fatima?" jawab Kiran pelan sambil menatap ke aeah perut Fatima yang besar juga seperti dirinya.


Seketika Kirana teringat ucapan Syakir yang mengakui bahwa tak pernah sedikit pun menyentuh Fatima. Lalu? Fatima mengandung anak siapa?


Rasanya lega sekali bisa memeluk Kirana kembali setelah sekian lama mereka memiliki hubungan yang kurang harmonis.


Perlahan Kirana mengendurkan pelukannya dari tubuh Fatima dan mengusap lembut air mata Fatima yabgvterus mengucur di sana.


Tatapan kedua mata dua wanita yang saling menatap lekat. Fatima yang ingin meminta maaf atas semua sikapnya selama ini pada Kirana.


"Mbak ... Maafin Fatima ya? Fatima banyak salah sama Mbak Kirana," ucap Fatima pelan dengan suara bergetar. Ia gugup sekali berada di depan Kirana. Fatima takut, Kirana tidak mau memaafkannya. Fatima takut, Kirana akan membencinya.


Kirana kembali memeluk Fatima. Kini, giliran Kirana yang menangis terisak. Tadi ia berusaha tenang dan kuat. Tapi, hatinya yabg lembut tetap tak mampu menahan gejolak di dadanya.


"Kamu tenang ya. Jangan begini. Mbak Kirana sudah memaafkan kamu sejak lama. Kamu gak salah Fatima. Keadaan yang salah. Bukan takdir yang salah datang menghampiri kita, hanya saja kita yang egois. Kita hanya gak siap menerima hal terburuk terjadi pada kita. Kita terbiasa dengan kehidupan yang manis. Kita terbiasa alur hidup yang normal dan tenang. Saat guncangan itu menerpa kehidupan kita dan kita tidak siap tentu kita menolak mentah mentah. Tapi ... semua ada hikmahnya. Satu hal lagi, aku sudah pasrah dan ikhlas. Aku tahu semua ini hanya titipan termasuk anak dalam kandunganku dan Mas Syakir, suamiku," ucap Kiran pelan.

__ADS_1


Fatima makin erat memeluk tubuh Kirana dan menangis di bahu wanuta kuat itu. Fatima belum tentu bisa sesabar dab seikhlas Kirana. Nyatanya, ujian hidupnya kali ini sempat ingin bunuh diri.


"Fatima sudah gak mau lagi mengganggu kebahagiaan Mbak Kirana dan Mas Syakir. Fatima mau pergi dari kehidupan kalian. Fatima ingin meminta cerai. Maafkan Fatima," ucap Fatima pelan masih dengan air mata berderai dengan derasnya.


"Hei ... Mana bisa begitu. Lihat perutmu sudah besar. Anak ini butuh Ayahnya," ucap Kirana pelan. Ia juga tidak mau egois jika Fatima sudah mengandung. Anaknya tentu butuh sosok Syakir, ayahnya.


Fatima menggelengkan kepalanya pelan, senyum Fatima kecut. Ia tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Harus mengandung benih lelaki lain yang bukan suaminya.


"Dia bukan anak Mas Syakir. Aku hami dengan lelaki lain. Ceritanya panjang mbak Kirana. Tapi ... sudahlah anggap saja, apa yang terjadi padaku memang karma yang harus aku terima dengan ikhlas. Bukankah baru saj mbak Kirana bilang. Semua di dunia ini hanya titipan. Bukankah kita terbiasa dengan yang manis hingga lupa merasakan yang pahit dan bahkan takut untuk menerima kenyataan pahit itu padahal semua itu obat terindah menuju kesembuhan karena sabar menelan kepahitan? Fatima harus mencoba itu semua. Sama seperti apa yang di lakukan mbak Kirana selama ini. Fatima harus banyak belajar," ucap Fatima pelan. Air matanya masih turun dari kelopak matanya yang indah. Kedua matanya tak habya basah dan merah. Di kedua kelopak mata itu mulai membengkak dan sembab karena terlalu banyak memangis.


Ibu jari Kirana mengusap pelan air matan di pipi Fatima.


"Karena kamu, aku kuat Fatima. Karena kamu, aku belajar ikhlas san pasrah. Karena kamu, aku bisa semandiri ini. Aku mau berterima kasih banyak atas semua lelajaran dan pengalaman ini. Aku hanya bisa menjalani semua sebaik -baiknya," ucap Kirana lirih.


Sedih rasanya ...


"Mbak Kirana ....." isak Fatima berulang kali sambil memeluk tubuh yang sudah terasa lemas.


Syakir benar, suaminya jujur. Anak itu bukan anaknya. Syakir benar - benar tak menyentuhnya. Lalu? Untuk apa aku ragu pada cinta lelaki tampan itu. Lalu? Selama ini ia kemana? Sering pulang malam dan bahkan tak pulang.


"Mas Syakir kemana? Fatima ingin minta di talak," ucap Fatima pelan.


Kirana menggelengkan kepalanya pelan. Air mata Kirana luruh begitu saja. Ia teringat akan bungkusan hitam yang ada di tas Syakir malam sebelum ia meminta ijin untuk pergi. Setelah itu Syakir tak lagi ada kabar.


Kirana terlalu santai. Ia tak berpikir jauh pada keadaan Syakir karena terlalu seringbya ia di tinggal sendiri dan Syakir terlalu sering datang dan pergi sesuka hatinya pada kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2