Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 39


__ADS_3

Pagi harinya Deli yang sudah terbiasa bangun di subuh hari karena selalu membantu Bunda untuk bersiap siap memasak semua menu yang ada di kafe, sudah terbangun. Kebetulan juga dengan perutnya yang luar biasa mules karena makan sesuatu yang tidak biasa dia makan saat mereka di negara mereka sendiri.


"Waduah ni perut pake mules segala, dasar perut ndeso, di kasih makanan modern dikit aja langsung bergejolak." ujar Deli sambil turun dari ranjang dan berjalan ke toilet.


Deli kemudian mencurahkan perasaannya di dalam kamar mandi, setelah selesai mencurahkan perasaannya Deli kemudian membersihkan dirinya. Dia tidak ingin terlambar untuk sarapan. Kemaren dengan sangat jelas Tuan Jero sang presiden direktur mengatakan kalau mereka akan sarapan jam tujuh tepat dan pukul setengah delapan sudah menuju tempat meeting yang sudah ditentukan oleh kolega bisnis perusahaan Edwardo. Deli mandi dengan cepat seperti kebiasaannya kalau mandi di pagi hari. Deli sangat berbeda dengan Dina dan Dian yang selalu mandi lama baik saat mandi pagi ataupun mandi sore.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Deli kemudian kembali ke kamar, dia masih melihat Dina yang masih setia berselimut tebal.


"Din, Dina bangun, udah jam enam, loe mau kita kena semprot Tuan Jero yang terkenal dengan disiplin itu." ujar Deli membangunkan Dina.


Dina menggosok matanya, Dia melihat Deli yang sudah selesai mandi dan sekarang sedang memasangkan lotion ke tubuhnya yang tinggi semampai.


"Loe udah mandi?" tanya Dina.


"Lah makanya sana mandi, dimana mana orang kalau udah pakai lotion pasti sudah mandi. Jangan banyak gaya Dina." ujar Deli sambil melempar handuk kepada Dina.


Dina menangkap handuk itu sebelum mendarat dengan mulus di wajah cantiknya. Dina kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dia mulai bersenandung menyanyikan lagu favoritnya saat menemani dia mandi.


"Din, jangan lama lama, loe taukan kita jam tujuh udah harus di restoran hotel. Loe mau Jero membudut sepanjang hari." ujar Deli dari dalam kamar.


Dina mengakhiri senandungnya. Dia kemudian mandi dengan sangat cepat dan ligat. Ini adalah kali pertama Dina mandi yang tidak sampai dalam hitungan lima menit. Biasanya Dina dan Dian menghabiskan waktu mandi mereka baik mandi pagi maupun mandi sore selalu di atas setengah jam. Dina kemudian keluar dari dalam kamar mandi, dia mengambil dress warna baby pink yang dibelikan oleh Felix saat mereka perjalanan bisnis kemaren.


Deli yang telah selesai merias wajahnya dengan riasan tipis dan menata rambutnya dengan bergelombang memberikan hak pakai meja rias kepada Dina. Dina dengan sekejap mengaplikasikan semua alat makeupnya ke wajahnya yang memang sudah sangat cantik itu, apalagi Dina adalah keturunan orang luar negeri.


"Selesai." ujar Dina sambil berbalik menatap ke arah Deli.


"Wow loe cantik sekali Din." ujar Deli memuji Dina yang memang terlihat sangat cantik dan fresh dengan gaun baby pink dan rambut yang dibuat bergelombang itu.


"Loe juga cantik. Apalagi dengan pakaian kantor seperti itu. Semua orang tidak akan menyangka kalau loe seorang sekretaris. Loe lebih cocok menjadi istri seorang presiden direktur." ujar Dina memuji Deli yang juga sangat cantik. Apalagi wajah Deli sangat kental kontur asianya.


"Makasi. Kita sama sama cantik." jawab Deli yang telah selesai memakai sepatunya.


Deli kemudian menuju koper untuk mengambil dompet miliknya dan akan memasukkan ke dalam tas kerja yang akan di bawanya nanti, Deli juga sudah menyiapkan laptop dan seluruh dokumen dokumen yang akan digunakan saat meeting.


"Din, nanti temani gue ke money changer ya. Gue belum nukarin duit." ujar Deli.


"Hah udah seharian loe di sini, loe masih belum nukarin duit. Aneh loe." ujar Dina yang tidak menyangka Deli akan seceroboh ini.

__ADS_1


"Lupa gue, maklum marenkan gue panik karena penerbangan. Jadi, mana ingat gue harus menukarkan uang." ujar Deli lagi.


Deli kemudian membuka dompetnya, dia berencana untuk menghitung berapa uang tunai miliknya yang ada di dalam dompet. Deli menatap heran isi dompet miliknya. Dina yang melihat Deli terdiam juga ikut ikutan melihat ke arah dompet Deli.


"Ada apa?" tanya Dina.


"Noh" ujar Deli sambil mengeluarkan uang negara J dari dompetnya.


"Hah itu udah ada. Tapi loe belum nukarin, kata loe tadi." ujar Dina yang juga heran melihat Deli sudah memiliki uang negara sini.


"Bener gue belum nukarin duit." jawab Deli sangat keukeh dengan pendapatnya.


"Coba loe pikir pikir lagi. Kalau nggak loe, siapa yang akan memasukkan uang dollar sebanyak ini." ujar Dina sambil menatap uang yang di pegang oleh Deli.


Deli mengingat kejadian yang terjadi sebelum dia berangkat.


"Gua kan malam sebelum berangkat sibuk membaca dokumen meeting, nah gue tertidur duluan dibandingkan Dian yang sedang membantu Bunda di kafe." ujar Deli mengingat kejadian malam sebelum dia berangkat ke negara J.


"Nah positif ini mah Dian yang memasukkan uang ke dalam dompet loe. Nggak mungkin juga tuyul." ujar Dina yang sangat yakin kalau yang memasukkan uang ke dalam dompet Deli adalah Dian sahabat mereka yang sangat sangat baik hati itu.


"Nanti ajalah, ini udah jam tujuh kurang lima belas." ujar Dina yang langsung membawa Deli keluar dari kamar.


"Nggak kita ketok aja pintu kamar mereka Din?" ujar Deli sambil melihat pintu kamar yang masih tertutup.


"Syukur kalau masih ada di dalam, kalau udah pergi gimana?" jawab Dina yang tetap berjalan menuju lift meninggalkan Deli yang menatap pintu kamar Jero dan Felix yang tepat di sebelah kamar mereka.


Deli mengejar Dina yang sudah memencet tombol lift. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam lift untuk menuju restoran yang berada di lantai dua. Restoran untuk sarapan berbeda dengan lounge tempat mereka makan malam.


Deli dan Dina kemudian masuk ke dalam restoran, seorang pelayan restoran menanyakan nomor kamar mereka. Deli kemudian menyebutkan nomor kamar yang mereka tempati berdua. Setelah melakukan registrasi, Deli dan Dina dipersilahkan masuk ke dalam restoran untuk mengambil menu sarapan yang dihidangkan secara prasmanan itu. Mereka berhak memilih menu yang mana yang akan mereka makan untuk sarapan.


Deli dan Dina kemudian mengambil sarapan untuk mereka yaitu nasi goreng komplit dan mie goreng komplit. Deli dan Dina memandang setiap wajah pengunjung restoran yang masih terlihat sangat sepi itu.


" Kemana mereka ya Del? Nggak ada satupun wajah mereka di sini." ujar Dina saat memastikan dia tidak ada melihat Jero dan Felix di sana.


"Iya Din, gue juga nggak ada nampak mereka. Kemana kedua makhluk itu ya?" ujar Deli yang juga telah memastikan bahwa tidak ada wajah wajah Jero dan Felix diantara orang orang yang telah duduk di bangku bangku restoran.


"Sepertinya mereka telat." ujar Deli.

__ADS_1


Mereka  kemudian memilih meja yang berada di posisi tengah restoran tersebut. Deli dan Dina meletakkan menu sarapan yang telah mereka ambil. Setelah itu Deli dan Dina kembali mengambil lemon water untuk mereka berdua.


"Orang berdua itu memanglah ya, gue udah mandi super ligat nggak sampe lima menit, eee mereka dengan santai aja datang terlambat tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Emang bener bener cari lawan." ujar Dina yang gondok melihat Jero dan Felix yang belum juga sampai ke restoran.


"Jam berapa Del?" tanya Dina.


"Tujuh lewat lima belas menit." jawab Deli sambil memperlihatkan jam tangannya kepada Dina.


"Awas aja mereka kalau datang nanti." ujar Dina dengan meletakkan sendok dengan sedikit keras.


Para pengunjung restoran yang sedang menikmati sarapan menatap kepada Dina dan Deli. Mereka menatap dengan pandangan mencemooh.


"Din" panggil Deli


"Apa?" tanya Dina sambil menatap ke arah Deli.


"Jangan marah marah, tu tengok para pengunjung restoran melihat ke arah kita." ujar Deli sambil melihat kepada semua orang yang tadi menatap mereka.


Dina mengubah sikapnya kembali, dia tidak mau menjadi tontonan orang ramai.


Tak berapa lama, aura dingin memenuhi restoran, semua pengunjung menatap penuh kekaguman kearah pintu masuk restoran. Dina dan Deli yang penasaran dengan tingkah para pengunjung ikut ikutan melihat ke arah pintu masuk restoran, mereka penasaran siapa yang membuat pusat perhatian baru.


"Oooo mereka" ujar Dina dengan santainya.


Deli menatap Dina, dari wajah Dina terlihat jelas kalau dia sedang sangat kesal. Tetapi Dina berusaha mempertahankan atitudnya. Dia tidak mau merusak mood Felix untuk melaksanakan meeting dan juga presentasi nanti.


Jero dan Felix yang telah selesai mengambil sarapan, langsung menuju meja tempat Dina dan Deli yang sedang duduk dengan piring kosong di depan mereka. Felix tersenyum kepada Dina, Dina membalas senyuman itu dengan terpaksa. Felix menyadari akan hal itu. Tetapi, dia tidak ingin menyelesaikan itu sekarang. Fokus Felix sekarang adalah meeting dan presentasi.


"Maaf lama" ujar Felix.


"Yup. Santai aja. Mari duduk" jawab Dina dengan dingin


Jero merasakan aura tidak baik dari Dina. Dia benar benar merasa bersalah karena gara gara dia video call dengan Frenya sambil mandi, makanya Jero dan Felix jadi terlambat sangat lama sekali. Jero dan Felix memakan sarapannya dengan diiringi tatapan tajam dari Dina. Dina benar benar menunjukkan rasa marah dan kecewanya kepada mereka berdua.


"Elo bisa nunjukkin kemarahan loe kepada kedua makhluk ngaret ini karena loe juga CEO, gue remahan rengginang Din" ujar Deli berkata sendiri dalam hatinya.


Jero dan Felix sarapan di bawah tatapan mengerikan yang diberikan oleh Dina. Makanan hotel yang sebenarnya lezat menjadi terasa hambar bagi kedua laki laki yang terlihat keren ini tetapi ternyata takut dengan Dina Wijaya Kusuma. Seorang pebisnis yang lebih tinggi kariernya dibandingkan Jero dan Felix Edwardo.

__ADS_1


__ADS_2