
"Bunda, Hendri, Deli, Dina, Dian, kita duduk di ruang tamu bentar ya" ujar Ayah mengajak semua anggota keluarganya untuk duduk di ruang tamu rumah mereka.
"Ayah manggil kami bertiga kalau Ayah capek manggil satu satu panggil aja Triple D" ujar Dian yang secara tiba tiba membuat julukan baru untuk nama mereka bertiga.
"Triple D. Keren juga tu Yan. Loe baru ngasih sekarang namanya" ujar Dina yang langsung menukar nama grub mereka di ponsel dengan nama triple D.
"Yah, main tukar nama aja langsung" ujar Dian saat melihat nama grub mereka telah bertukar di nama grub serta nama sosial media mereka yang lain.
Keluarga besar Bramantya kemudian duduk di ruang keluarga, mereka akan membahas beberapa hal untuk acara pernikahan Deli besok.
"Deli, besok kamu sudah tidak tinggal di rumah ini lagi. Ayah dan Bunda berharap kamu bisa bersikap seperti wanita terhormat di rumah mertua kamu ya nak." ujar Ayah memberikan nasehat kepada Deli.
Deli, Dina dan Dian mendengar nasehat yang diberikan oleh Ayah kepada mereka bertiga, nasehat itu juga berlaku untuk Hendri.
"Wanita terhormat yang bisa menjaga nama baik keluarganya, keluarga suaminya dan nama baik suaminya. Bagaimanapun perlakuan yang kamu terima dari mereka, kamu harus tetap mensyukuri nya. Bagaimanapun semua ini adalah pilihan dari kamu." lanjut Ayah memberikan nasehatnya kepada Deli dan yang lainnya.
"Ingatlah nak sekeras kerasnya batu akan bolong juga oleh jatuhan air. Jadi, intinya sekeras apapun orang, apabila dikasih kelembutan dan kasih sayang, mereka akan berubah Nak" kata Ayah sambil menatap Deli.
Ayah kemudian terdiam, dia menatap anak gadis satu satunya itu yang akan menikah sebentar lagi. Ayah seharusnya bahagia, tetapi hati kecil Ayah ada penolakan terbersit di sana. Ayah sangt tahu kalau anak semata wayangnya ini tidak mencintai pria yang akan dinikahinya itu. Tetapi Ayah tidak bisa berbuat apa apa lagi. Deli sudah memutuskan untuk menikah dengan Jero. Jadi, Ayah hanya bisa mendukung keputusan dari Deli.
__ADS_1
"Sayang, kami di sini terbuka dan akan selalu menerima curahan hati kamu kalau kamu mendapatkan perlakuan tidak baik dari mereka. Kamu jangan takut untuk berbagi dengan kami" ujar Ayah yang tidak ingin Deli salah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ayah tadi.
"Yang Ayah katakan tadi, kalau kamu mengalami perlakuan yang tidak baik dari orang orang di sekitar kamu, jangan kamu ceritakan ke orang lain, tapi ceritakanlah ke kami. Kami akan bantu kamu untuk keluar dari permasalahan itu" ujar Ayah meyakinkan Deli kalau mereka akan selalu ada untuk Deli kapanpun.
"Sayang, Bunda dan Ayah serta Kak Hendri dan juga kedua sahabat kamu, sangat mengerti bagaimana kamu sekarang ini. Kami berlima akan selalu mendukung apapun keputusan kamu. Kami tidak akan membiarkan kamu kenapa kenapa dalam pernikahan kamu Nak" ujar Bunda sambil menatap ke arah Deli.
"Dalam suatu hubungan pernikahan tidak ada yang jalannya mulus seperti jalan tol. Ada kalanya berkerikil, kamu tetap harus lalui itu supaya kamu sampai di jalan yang mulus lagi. Bunda cuma ingin berpesan kepada kamu sayang, turuti dan patuhi segala perintah suami dan mertua kamu, yang kamu rasa itu adalah sebuah perintah dan permintaan yang masih di batas kenormalan." lanjut Bunda yang sekarang memberikan nasehat kepada Deli dan juga untuk yang lainnya.
"Satu lagi nak, keluarga Soepomo tidak akan mungkin menjerumuskan atau memberikan perintah yang tidak logis. Bunda dan Ayah sangat yakin mereka akan menyayangi kamu." lanjut Bunda memberikan semangat kepada Deli untuk menghadapi perubahan statusnya yang akan terjadi besok pagi
"Terlebih lagi sayang, besok atau ntah kapannya Dina juga akan masuk ke dalam keluarga itu. Jadi kamu akan bertemu dengan sahabat kamu. Bunda yakin kalian berdua pasti akan di sayang mertua dan suami suami kalian" kata Bunda menatap ke arah Deli dan Diba bergantian.
"Yup seperti Bunda dengan Dian. Setiap mertua akan menganggap menantu itu seperti anaknya sendiri. Mereka akan menyayangi menantunya sama persis seperti menyayangi anaknya sendiri" kata Bunda yang tidak ingin Deli merasa cemas untuk masuk ke dalam keluarga Jero.
Mereka semua terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Ayah dan Bunda. Nasehat nasehat yang sangat mereka perlukan saat masuk ke kehidupan yang baru. Kehidupan yang jauh sangat berbeda dengan kehidupan yang sekarang. Kehidupan yang penuh dengan lika liku dan juga kerikil kerikil tajam saat kita tidak bisa mengesampingkan kerikil kerikil itu. Tapi yang namanya hidup pasti dan akan selalu ada cobaan, tetapi di balik cobaan itu sudah menunggu kebahagiaan yang akan diperoleh saat kita berhasil melampaui cobaan yang diberikan.
"Makanya Deli, Dina, dan Dian, saat ada suatu cobaan yang datang dalam hidup, jangan menghindari, hadapi saja. Kenapa Ayah mengatakan hadapi saja, karena dibalik itu ada sebuah hadiah besar yang akan kita terima." ujar Ayah kepada ketiga putrinya.
"Ingatlah nak, tidak ada proses yang mengkhianati hasil dan tidak ada hasil yang mengingkari sebuah proses." lanjut Ayah berkata kepada mereka semua.
__ADS_1
"Jadi, karena kalian bertiga sudah memang dan akan melangkah ke kehidupan yang berbeda, kehidupan rumah tangga itu memang sulit kalau kita persulit. Jadi suami jangan hanya karena kita yang bekerja, jadi saat sampai di rumah kita duduk saja dan main ponsel. Jangan seperti itu, kenapa? karena istri kita harus dibantu pekerjaannya. Minimal saat dia melipat kain, suami baru pulang dari kerja, jagain lah anak sebentar." kata Ayah melihat ke arah Hendri.
"Kita sebagai suami hanya kerja dari jam setengah delapan sampai jam empat sore. Kerja para istri mulai dari subuh sampai tengah malam. Nah kalau punya bayi sampai subuh lagi. Makanya Hendri, besok kalau kamu sudah punya istri, walaupun di mansio atau rumah kamu banyak maid, bantu jugalah istri kamu. Minimal jagain anak kamu. Atau kasih dia kejutan mendadak saat kamu pulang dari perusahaan. Itu kewajiban utama suami membuat dan menjaga istri supaya tetap bahagia." kaya Ayah memberikan nasehat kepada Hendri
"Denger tu sayang apa yang dikatakan oleh Ayah. Awas kamu besok nggak kayak gitu, aku kaduin ke Ayah kamu" ujar Dian kepada Hendri saat dia mendapatkan angin segar dari kata kata yang diucapkan oleh Ayah.
"Up Dian jangan salah istri juga. Kalau nampak suami sangat lelah pulang dari kantor dan membawa pekerjaan kantor ke rumah, jangan pula langsung ngasih anak ke dia. Kalian para istri juga harus bisa melihat keadaan suami. Jangan karena Ayah ngomong kayak gini, besok pas suami kalian pulang langsung dah kasih anak untuk dijagain. Kalau nggak langsung pake acara lempar lempar piring saat nyuci piring. Itu tidak boleh ya" lanjut Ayah menasehati ketiga putrinya.
"Jadi inti dari perkataan Ayah tadi, sebagai suami dan istri kita harus saling menutupi dan saling membantu satu sama lain. Kenapa itu harus supaya ketimpangan itu tidak terjadi." ujar Bunda menyimpulkan apa yang dikatakan oleh Ayah.
"kenapa banyak antara istri dan suami ribut? Ya karena itu tadi, mereka tidak saling menutupi. Saat istri capek suami masa bodo aja. Saat suami capek, istri juga capek akhirnya marah marah. Di situ terjadi keributan. Ego bertemu Ego akhirnya bentrok. Datangnya kemana? Ke rumah orang tua. Kalau udah tidak kuat kemana? Ke pengadilan agama" lanjut Bunda memberikan nasehat dan pesan kepada semua anak anaknya.
"Kesimpulannya, hargailah istri kamu serta hargailah suami kamu. Itu yang penting. Sekecil apapun dia perbuat untuk keluarga kita, hargai. Karena kata hargai itu sangat sangat luar biasa penting dalam hidup" kata Ayah menyimpulkan semua pesan yang diberikan kepada mereka semua.
"Kamu paham kan sayang?" tanya Ayah kepada Deli.
"Paham Ayah" jawab Deli mengangguk.
Deli paham semua yang dikatakan oleh Ayah dan Bunda nya. Deli sudah mencatat poin point penting di dalam otaknya. Deli pasti akan menerapkan hal itu di kehidupan rumah tangganya dengan Jero ke depan.
__ADS_1