Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
Kedua Orang Dewan Direksi Dipecat


__ADS_3

Kedua orang dewan direksi yang telah dipecat secara tidak hormat oleh Juan pergi meninggalkan ruangan meeting tersebut. Mereka berdua keluar dalam keadaan tertunduk lesu dan dibopong oleh dua orang suster. Mereka berdua sama sama tidak bisa berjalan sendiri lagi menuju mobil. Semua yang mereka dapatkan sudah direnggut oleh yang memilikinya. Sekarang mereka berdua hanya bisa menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan. Mereka tidak bisa membayangkan akan bagaimana hidup ke depannya. Apalagi keluarga mereka yang sudah terbiasa hidup mewah, pasti akan terkejut saat mendapati semua yang mereka miliki sudah tidak ada lagi.


"Wow mereka seperti mau mati saja" ujar salah seorang kepala ruangan yang kesal dengan kelakuan dua orang dewan direksi yang ternyata telah menipu mereka mentah mentah selama ini.


"Harta dan kekuasaan telah membutakan mata hati mereka" sambut kepala ruangan yang lain.


"Mereka berdua telah membuat keluarga mereka menanggung beban yang seharusnya tidak mereka tanggung" lanjut kepala ruangan lainnya.


"Ya, apalagi ibuk itu. Saya dengar anaknya masih ada yang kecil. Sungguh kasihan dengan anaknya itu" lanjut salah satu kepala ruangan yang bertetangga dekat dengan salah seorang dewan direksi.


"Mereka menerima apa yang mereka perbuat. Jadi kita hanya bisa merelakan apa yang telah kita lakukan" lanjut yang lain.


Kedua orang dewan direksi yang sudah tidak ada muka itu lagi semakin tidak bisa berjalan, saat mendengar apa saja yang dikatakan oleh orang orang yang berada di dalam ruangan itu. Mereka semua mengatakan apa yang sebenarnya. Mereka menyesal iya, tapi apa mau dikata, penyesalan mereka sudah terlambat. Sekarang mereka hanya bisa menerima akibat dari keserakahan yang mereka lakukan selama ini.


Karena kedua dewan direksi itu sudah semakin tidak kuat berjalan lagi. Akhirnya dua orang dokter masuk membawa kursi roda untuk mereka pakai mengantarkan kedua dewan direksi yang sudah mendadak menjadi lumpuh itu.


Semua peserta meeting mendadak itu, menatap dengan tatapan beraneka tanggapan saat melihat kedua orang dewan direksi yang bersalah itu keluar dari dalam ruangan dengan cara di dorong memakai kursi roda, karena sudah tidak bisa lagi menatap hidup mereka ke depannya lagi. Suatu pertunjukan yang sangat sangat menampar semua orang yang berada di ruangan itu. Sebuah keserakahan yang pada akhirnya hanya menghancurkan tidak hanya diri sendiri saja tetapi juga keluarga yang sama sekali tidak mengetahui apa yang dikerjakan.


Juan melihat mereka semua dengan senyum sedikit saja. Hanya senyuman samar. Juan sudah berhasil membuat semua orang di dalam ruangan itu takut untuk berurusan dengan dirinya. Semua bukti nyata yang dilemparkan oleh Juan ke wajah semua orang yang ada di dalam ruangan semakin membuat mereka yakin untuk tidak melakukan hal yang sama dengan kedua dewan direksi kalau mereka tidak ingin, nama mereka hilang lenyap dari dunia kesehatan secara luas atau dunia rumah sakit harapan kita yang lebih kecil.


"Saya berharap Anda semua bisa mengambil kesimpulan dan pelajaran dari apa yang terjadi hari ini." kata Juan Kusuma Wijaya mengakhiri drama yang terjadi di meeting yang berjalan sangat lama itu.

__ADS_1


Berbagai drama ditampilkan di sini. Drama yang benar benar menguras emosi dan membuat mereka semua gregetan untuk mengakhiri semua drama itu.


" Baiklah untuk kegiatan selanjutnya, saya meminta anda semua untuk hadir besok pagi jam delapan nol nol tidak lewat di ruangan ini kembali, kita akan membahas kelanjutan dari keberadaan rumah sakit ini. Apakah rumah sakit ini akan lanjut atau akan berhenti beroperasi mulai besok pagi" kata Juan mengakhiri pertemuan mereka untuk hari ini dengan menghasilkan pemecatan dua orang dalang di balik semua permasalahan dan kecurangan yang terjadi di rumah sakit milik Dina.


"Baik Tuan Muda. Kami akan hadir tepat waktu." ujar salah seorang dewan direksi yang sama sekali tidak ada melakukan permainan kotor itu. Dia benar benar sama sekali tidak terlibat dengan hal itu.


Sebuah kecurangan yang terjadi karena minat seseorang dengan harta dan kekuasaan saja. Benar benar suatu hal yang sebenarnya sudah biasa terjadi karena keserakahan manusia terhadap kedudukan dan harta.


"Bro, loe tolong informasikan kepada bagian keuangan untuk memberikan semua laporan keuangan rumah sakit ini yang asli kepada Bram hari ini juga. Bram akan ke sana mengambil setelah rapat selesai" ujar Juan memberikan perintah tambahan kepada sahabatnya itu.


Juan Kusuma Wijaya sengaja meminta laporan keuangan, supaya dia bisa melihat dibagian mana lagi kecurangan kecurangan yang terjadi di rumah sakit ini.


Juan yang mengerti dengan nada bicara dari Bram mengangguk. Juan tau sekarang kalau Bram sudah memiliki laporan keuangan yang asli. Jadi, dia tidak perlu lagi meminta kepada sahabatnya yang bernama Andi itu untuk pergi menemani Bram ke ruangan bagian keuangan rumah sakit.


"Sekarang silahkan bubar, kita bertemu lagi besok jam delapan di ruangan ini kembali" lanjut Juan memberitahukan kepada semua orang untuk kembali berkumpul jam delapan tepat di ruangan tersebut besok harinya.


Semua orang terlihat berdiri dari bangku mereka masing masing. Mereka semua bersiap siap meninggalkan ruangan meeting yang hangat itu, bukan hangat karena cuaca (dalam ruangan meeting ada AC) . Saking hangatnya, kedua dewan direksi tersebut yang tadinya datang dalam keadaan baik baik saja, saat harus meninggalkan ruangan meeting, harus di dorong memakai kursi roda menuju mobil mereka masing masing. Seharusnya mereka mendapatkan perawatan terlebih dahulu. Tetapi Dina mengatakan kepada para dokter dan suster untuk tidak memberikan perawatan lanjutan kepada kedua makhluk itu. Makanya dokter dan suster tidak merawat mereka berdua. Dokter dan suster akan langsung mengatakan kedua dewan direksi itu ke rumah mereka masing masing.


"Bro, loe duduk di sini dulu lah sama kami bertiga. Kita ngobrol dulu" ujar Juan meminta sahabatnya itu untuk duduk dengan mereka bertiga sebelum mereka pergi ke kediaman masing masing. Untuk beristirahat setelah menjalani hari hari yang berat seperti sekarang ini.


"Loe nggak harus pulang cepat bukan?" lanjut Juan berkata kepada dokter Andi dan meyakinkan dirinya kalau dokter Andi tidak perlu pulang cepat.

__ADS_1


"Tidak bro" jawab dokter Andi yang harus berbohong karena dia tidak mau mengecewakan sahabat baiknya itu.


Dokter Andi kemudian duduk kembali di dekat Juan, Dina dan juga Bram. Dia membatalkan niatnya untuk kembali menuju rumah. Sebenarnya dokter Andi sudah berjanji kepada adiknya untuk pulang cepat. Tetapi karena yang menahannya kali ini adalah pemilik rumah sakit, membuat dokter Andi tidak bisa berbuat banyak. Dokter Andi harus duduk kembali di dekat ketiga orang yang sekarang sudah terlihat kembali tenang itu.


"Andi, gue mau minta tolong sama loe. Apa loe mau nolong sahabat loe ini?" ujar Juan Kusuma Wijaya sambil menatap ke arah sahabat baiknya itu.


Juan sangat berharap sekali dokter Andi mau menolong dirinya kali ini. Juan Kusuma Wijaya sudah tidak tau mau meminta tolong kepada siapa lagi. Satu satunya orang yang paham akan hal ini adalah sahabatnya ini. Tidak ada yang lain. Juan tidak mau kecolongan dua kali dengan memercayai orang yang salah.


dokter Andi sudah bisa menerka kemana arah pembicaraan yang akan dilakukan oleh Juan Kusuma Wijaya. dokter Andi juga sudah tau akan memberikan jawaban apa kepada Juan.


"Apapun itu Juan. Loe tau kan gue bagaimana ke elo" ujar dokter Andi kepada sahabatnya yang selalu menomor satukan persahabatan mereka di atas yang lainnya, kecuali kalau itu urusan keluarga.


" Makasih sobat, gue berhutang sama lu, kalau lu mau menolong gue kali ini" kata Juan sambil menatap ke arah sahabat terbaiknya itu


" Hai lo lupa Juan, antar sahabat itu tidak ada yang namanya utang piutang. apalagi kalau kita sama-sama bisa untuk saling membantu." Jawab Dokter Andi yang terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Juan sebentar ini


" gue akan selalu membantu lo, kalau gue rasa gue bisa. tapi kalau gue tidak bisa, gue akan bantu lo untuk mencari solusinya" lanjut dokter Andi berkata kepada Juan sambil sedikit melihat ke arah Dina yang duduk tepat di sebelah Juan kakaknya itu


Juan melihat apa yang dilakukan oleh Andi terhadap adiknya tersebut. tujuan harus melakukan sesuatu supaya sahabatnya itu tidak kecewa dengan bukti-bukti yang akan diketahuinya nanti.


" kalau gue boleh tahu, apa yang lo minta dari gue sobat?" kata dokter Andi yang akhirnya menanyakan juga kepada Juan perihal permintaan tolong yang diajukan oleh Juan kepada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2