Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
160


__ADS_3

Keputusan Fatima sudah bulat, memilih mengurus Syakir, suaminya sebagai pengabdian Fatima. Keputusan Aby Fatih dan Umi Amira juga sudah tidak bisa di ganggu gugat dan tidak ada kata tega, karena hidup itu pilihan.


Hubungan anak dan kedua orang tuanya itu semakin memburuk setelah Aby Fatih dan Umi Amira benar-benar pergi meninggalkan Mesir dan melupakan semua kejadian pahit dan buruk yang mereka lewati baru saja.


Kini, Fatima harus memutar otak untuk mencari uang karena harus membiayai semua biaya rumah sakit Syakir termasuk biaya perawatan hingga Syakir benar-benar sembuh.


Sisa uang Fatima sudah tidak mencukupi lagi untuk membiayai kebutuhan hidup, hingga Fatima juga di keluarkan dari sekolah karena tidak bisa membayar uang sekolah dan uang untuk mengikuti ujian akhir.


Begitu sulitnya kehidupan yang dirasakan oleh Fatima. Sehari-hari Fatima hanya tinggal di rumah sakit menemani Syakir, suaminya dan makan dari sisa makanan yang dimakan oleh Syakir. Begitu mengenaskan sekali kehidupan Fatima saat ini.


Selama ini, Fatima tidak pernah kekurangan uang, dan selalu saja hidup enak dan berkecukupan. Tapi, kini roda kehidupan telah berputar dengan cepat, dan tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT untuk mencintai hamba-nya dan untuk mengangkat harkat dan derajat umat-nya dengan segala cara.


Fatima sudah tidak melanjutkan sekolahnya dan sudah tidak memiliki temlat tinggal, semua telah dijual habis untuk biaya pengobatan Syakir. Pengorbanan dan pengabdian yang luar biasa sekali, Fatima sebagai istri, walaupun tidak pernah dianggap oleh Syakir.


Dua bulan berlalu, Fatima sudah kehilangan arah untuk mencari pekerjaan yang layak dengan waktu jam kerja sedikit tapi menghasilkan banyak uang. Fatima berusaha untuk tidak meninggalkan Syakir dalam waktu yang lama tapi dengan hasil yang yang banyak untuk biaya pengobatan dan rumah sakit yang tidak sedikit.


Pagi itu, sebelum Fatima berpamitan kepada Syakir untuk bekerja. Fatima selalu menyempatkan untuk menyuapi dan memberikan obat untuk Syakir. Jika sudah selesai, barulah Fatima pergi untuk berkerja.


"Maafkan semua kesalahanku Fatima, masih adakah maaf untukku?" tanya Syakir dengan suara pelan saat Fatima menyuapkan satu sendok makanan ke mulut Syakir.


Fatima mendengarkan ucapan Syakir yang begitu pilu meyayat hati. Fatima hanya bisa mengangguk pelan dan pasrah lalu tersenyum ke arah Syakir.


"Sebelum meminta maaf pun semua itu sudah ku maafkan dengan tulus dan ikhlas. Fatima hanya berharap, Mas Syakir mau meminta maaf kepada Aby Fatih dan Umi Amira, biar bagaimanapun juga mereka adalah orang tua Mas Syakir juga," ucap Fatima dengan suara pelan.


Syakir mengangguk pelan lalu tersenyum lebar.


"Pasti akan Mas Syakir lakukan, karena mereka berdua Mas Syakir bisa sembuh lagi seperti sedia kala. Terima kasih Fatima, kamu sudah merawat Mas dengan baik," ucap Syakir pelan.


Fatima mengangguk pelan dan menyuapkan kembali satu sendok makanan itu kepada Syakir.


"Bukankah sudah seharusnya, semua ini dilakuakn oleh seorang istri tanda bakti dan pengabdian," ucap Fatima tulus.


Senyum Syakir begitu merekah. Istri yang selama ini disia-siakan malah menjadi malaikat penolong di saat Syakir mengalami sekarat. Tapi, semua ini tidak bisa membuka rasa cinta Syakir kepada Fatima, semua terasa biasa aja, hanya saja Syakir memiliki hutang budi kepada Fatima.


Syakir tidak pernah tahu, seberapa berat pengorbanan seorang Fatima demi kesembuhan Syakir.


"Fatima? Ada kabar tentang Kirana dan anakku?" tanya Syakir dengan begitu polosnya.


Pertanyaan yang membuat Fatima terluka kembali. Menanyakan wanita lain yang juga istrinya tanpa memperdulikan yang terjadi pada istrinya itu adalah suatu kebodohan.

__ADS_1


Fatima menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mimik wajahnya terlihat sangat berubah, yang tadinya lembut kini semakin terlihat murka dan kesal.


Suapan terakhir sudah selesai dan kini Syakir meneguk air putih dari dalam gelas yang di berikan oleh Fatima.


"Mas Syakir sekarang istirahat dulu ya, Fatima mau bekerja," ucap Fatima pelan dan begitu lembut.


Hidupnya kini benar-benar sangat miris dan menyedihkan. Fatima membereskan semua tempat makan yang sudah kosong di atas nakas yang ada dibdekat ranjang rawat inap itu.


"Fatima, maafkan Mas Syakir bila sudah banyak menyusahkan kamu, hingga kamu harus berkerja seperti ini, lalu bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Syakir lembut.


DEG!!


DEG!!


DEG!!


Fatima terdiam dan memberhentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Syakir yang menatapnya dan mencari jawaban jujur dari kedua mata Fatima.


Tidak mungkin Fatima bicar yang sejujurnya, dan itu bisa membuat hubungannya dengan Syakir menjadi tidak baik.


"Alhamdulillah sekolahku lancar Mas, tinggal menunggu ujian saja, dan Fatima bekerja ini seolah-olah untuk kemandirian Fatima. Agar Fatima tidak terus-menerus merepotkan kedua orang tua Fatima," ucap Fatima dengan pelan.


"Fatima pamit dulu, Mas Syakir, baik-baik, nanti siang makanlah dan minum obat, takutnya Fatima tidak bisa datang tepat waktu," ucap Fatima pelan lalu mencium punggung tangan Syakir dengan penuh hormat.


Fatima pergi keluar menuju jalan raya untuk menunggu seseorang yang akan menjemputnya bekerja.


Satu limosin mewah telah menepi dan berhenti tepat di depan Fatima.


"Masuk Fatima," ucap tuan Sulaiman kepada Fatima. Fatima menatap tuan Sulaiman sedang melambaikan tangannya dari arah jendela mobil, dan Fatima ikut masuk di dalam mobil itu.


Limosin mewah itu langsung melajukan kembali menuju arah tempat yang menjadi tujuan keduanya.


Sudah dua bulan ini, Fatima berkerja dengan tuan Sulaiman, awalnya Fatima bekerja di rumah mewah milik tuan Sulaiman sebagai asisten rumah tangga.


Karena kecerdasan Fatima, kini Fatima bekerja di salah satu hotel berbintang lima milik tuan Sulaiman sebagai asisten pribadinya.


Tuan Sulaiman adalah seorang yang sangat kaya dengan harta benda yang begitu banyak, namun pernikahannya bersama sang istri, Hanna tidak membuahkan keturunan setelah mengarungi dua puluh lima tahun lamanya.


Melihat Fatima yang lugu, pintar dan cantik, hati tuan Sulaiman pun menginginkan Fatima menjadi istri keduanya. Namun, Fatima menolak dengan tegas dengan alasan Fatima sudah memiliki Suami dan kini membutuhkan banyak uang untuk biaya pengobatan.

__ADS_1


Pilihan hidup dan dilema kembali merusak hati dan pikiran Fatima, hingga Fatima menyerahkan kehormatannya demi uang.


Kehormatan yang telah dijaga hingga Syakir, Suaminya pun belum pernah menjamah tubuhnya, tapi tuan Sulaiman dengan mudah melakukan itu karena uang.


"Tuan Sulaiman, Fatima ingin keluar dari pekerjaan ini, rasanya sudah cukup uang yang tuan Sulaiman berikan untuk Fatima. Biaya rumah sakit pun sudah dibayar lunas," ucap Fatima pelan saat duduk di dekat tuan Sulaiman menuju hotel.


Tuan Sulaiman memegang tangan Fatima lalu dicium tangan itu dengan sangat lembut yang sudah menjadi candu bagi tuan Sulaiman.


"Menikahlah denganku Fatima, aku tidak ingin berpisah darimu," ucap tuan Sulaiman yang begitu mendamba Fatima.


Fatima menggelengkan kepalanya pelan.


"Fatima masih memiliki Suami, dan lelaki itu amat Fatima cintai, maafkan Fatima tuan Sulaiman," ucap Fatima sendu.


Tiba-tiba perutnya terasa mual dan ingin mengeluarkan semua isi perutnya.


"Kamu kenapa Fatima?" tanya tuan Sulaiman tampak cemas.


Fatima pun lemas tak berdaya dan tidak sadarkan diri di Limosin itu.


Tuan Sulaiman tampak tenang hanya sedikit cemas dengan kesehatan wanita kesayangannya setelah istrinya itu.


"Tuan Sulaiman, gadis ini sedang mengandung. Usia kandungannya menginjak dua bulan, siapa dia? Sepertinya kamu nampak cemas tuan?" ucap dokter Shandy kepada Sulaiman setelah memeriksa Fatima.


"Anak yang dikandungnya adalah anakku, dia wanita yang selama dua bulan ini sudah menemaniku tidur dan aku membayar mahal mahkota kegadisannya," ucap tuan Sulaiman kepada dokter pribadinya itu.


"Nyonya Hanna? Bagaimana kalau sampai tahu hal ini, mungkin gadis ini bisa mati di tangan preman-preman itu," ucap dokter Shandy bergidik ngeri membayangkan.


"Bantu aku, untuk menjaganya, jaga anak yang ada di kandungannya," ucap tuan Sulaiman pelan.


Doktet Shandy adalah dokter pribadi sekaligus sahabat tuan Sulaiman. Rahasia besar ini tentu akan tetap menjadi rahasia teraman bagi kedua sahabat itu.


Tiga bulan lamanya Syakir berada di rumah sakit itu, dan hari ini Syakir sudah bisa kembali pulang.


Semua barang-barang sudah dibereskan, Fatima sudah menyewa apartemen sederhana untuk ditinggali.


Taksi online yang mereka tumpangi sudah mengarah pada satu alamat apartemen yang dituju. Walaupun sederhana, tempat itu begitu nyaman untuk dihuni.


"Masih jauh tempatnya Fatima?" tanya Syakir dengan suara pelan.

__ADS_1


Fatima tersenyum kecut dan mengangguk pelan.


__ADS_2