
"Cepat katakan, Fatima!! Mas sudah tidak sabar untuk mendengarkan," ucap Syakir lembut.
Fatima melepaskan genggaman tangannya pada Syakir. Fatima berusaha menetralkan degub jantungnya dan menenangkan hatinya serta tarikan napasnya agar tidak memburu.
"Apapun resikonya Fatima terima," ucap Fatima pelan kemudian.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Mas sudah penasaran," ucap Syakir pelan.
"Fatima hamil," ucap Fatima lirih dan menundukkan kepalanya.
Suara lirih itu sangat pelan sekali, namun cukup terdengar jelas di telinga Syakir. Kedua mata Syakir menatap tajam ke arah Fatima karena bingung dan penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Fatima.
Syakir tertawa pelan, masih dengan tatapan bingung.
"Apa maksudmu Fatima, Mas Syakir benar-benar tidak mengerti dengan maksud Fatima hamil? Kamu mau hamil juga seperti Kirana? Atau kamu sedang hamil? Tapi, kalau kamu hamil, Mas itu belum pernah menyentuh kamu sedikitpun," ucap Syakir pelan.
"Bisa? Tidak usah menyebut nama Mbak Kirana? Kenapa harus ada nama Mbak Kirana setiap permasalahan kita!!" ucap Fatima dengan kesal.
"Kamu ini kenapa Fatima?! Kirana itu juga istriku, ingin setiap detik Mas menyebut namanya pun, seharusnya tidak menjadi masalah buat kamu, karena hanya Kirana yang mampu menetap di hati Mas, sampai saat ini!!" teriak Syakir malah ikut terbawa emosi.
Kecemburuan yang sangat tidak beralasan sekali bagi Fatima. Kirana sudah menjadi bagian dari hidup Syakir, tidak mungkin nama perempuan itu bisa hilang dalam sekejap. Malahan nama itu akan tetap abadi selamanya.
"Fatima hamil," lirih Fatima kemudian mengulang ucapannya tadi.
"Apa?!! Kamu sedang mengandung?!! Coba ulangi dan jelaskan, Mas tidak paham dengan ucapanmu itu," ucap Syakir pelan meminta penjelasan kepada Fatima.
__ADS_1
"Apa kurang jelas ucapanku, Mas?! Fatima hamil!" ucap Fatima lebih keras lagi berucap sambil menundukkan kepalanya karena malu.
"Apa maksud dari ucapanmu, Fatima!! Mas Syakir benar-benar tidak mengerti!!" tegas Syakir bertanya kepada Fatima.
Fatima hanya menunduk, harus bagaimana lagu ia menjelaskan kepada suaminya ini.
"Tunggu sebentar," ucap Fatima lirih mengambil sesuatu dari laci meja dapur. Sebuah kotak kecil yang kemudian dibuka dan mengambil satu plastik alat tes kehamilan yang sudah terpakai dan menunjukkan sebuah hasil.
Fatima menyodorkan alat tes kehamilan itu kepada Syakir, suaminya. Disana sudah terlihat jelas menunjukkan hasil dua garis merah yang terpampang pada alat kehamilan itu.
Syakir menerima dan melihat lalu membelalakkan kedua matanya dengan sempurna. Melihat kembali dengan jelas, bahwa apa yang dilihatnya adalah benar dan fakta bukan hanya gambar atau kepalsuan.
"Ka ... kamu ... ini benar punyamu? Ekhm maksud Mas, alat tes kehamilan ini, milikmu?!" tanya Syakir dengan tenang dan terbata-bata karena terkejut.
Syakir sempat menggelengkan kepalanya pelan. Menurut Syakir tidak mungkin, Fatima bisa melakukan hal bodoh seperti itu untuk mencari kesenangannya sendiri.
"Fatima hamil Mas, usia kandungan Fatima sudah menginjak tiga bulan," ucap Fatima lirih dan terbata-bata. Lehernya terasa tercekat dan lidahnya begitu sangat kelu, rasanya sakit dan sesak saat harus jujur tentang aib yang dimilikinya. Fatima sudah tidak bisa menangis lagi, air matanya sudah kering untuk menangisi nasibnya sendiri dan menyesali semua keberaniannya untuk menjual mahkota kegadisannya demi orang yang dicintainya.
Syakir hanya menatap tajam ke arah mata Fatima, tapi bibirnya tak mampu bicara karena sulit sekali untuk mengatakan sesuatu yang telah terangkai di pikirannya. Dua kata di dalam pikirannya yang seakan membuat Syakir tak percaya. 'Kok bisa?' batin Syakir dalam hatinya.
"Fatima siap dengan segala konsekuensinya dan apapun keputusan Mas Syakir. Satu hal yang harus Mas Syakir tahu, Fatima melakukan ini, demi membayar semua biaya rumah sakit dan pengobatan mAs Syakir hingga benar-benar pulih kembali seperti ini. Tapi, suatu aib memang harus ada tanggung jawab dan resiko tersendiri," ucap Fatima pelan masih dengan menundukkan kepalanya.
Syakir masih tidak percaya dengan semua ucapan Fatima. Kepalanya terus menggeleng pelan. Syakir tidak tahu bagaimana harus bersikap bila ini suatu kejujuran. Walaupun Syakir tidak mencintai Fatima, tetap saja Syakir menginginkan seorang istri yang sholehah dan tawaduk. Tidak ada alasan apapun yang harus disertakan untuk sebuah aib dosa besar karena zinah.
"Mas, tidak tahu harus bicara apa!! Kecewa sudah pasti, Mas merasa kamu seperti tidak memiliki iman!!" tegas Syakir berucap.
__ADS_1
Tatapan Syakir berpaling ke arah lain, terlihat garis kekecewaan di raut wajahnya yang terlihat sendu. Kedua matanya pun memerah karena kesal dan marah, namun tidak bisa terungkap dengan baik.
"Maafkan Fatima, ampuni Fatima, sedikitpun Fatima hanya ingin Mas Syakir itu sembuh dan menjadi milik Fatima seutuhnya, tidak ada harapan lain selain itu. Bahkan kecemburuan Fatima semakin menjadi tatkala mendengar Mas Syakir yang selalu mengingat Mbak Kirana selama masih tidak sadarkan diri. Fatima juga kecewa!!" teriak Fatima dengan keras dan frustasi.
"Tapi kamu itu istriku Fatima, seharusnya kamu bisa menjaga kehormatanmu sendiri, menjaga Marwah suamimu, bukan malah menukarnya dengan uang, untuk apa Mas Syakir sembuh dan bisa hidup kembali, kalau harus menanggung dosa besar istrinya yang berzina!! Itu dosa terberat bagi seorang istri, walaupun Mas belum sepenuhnya bisa mencintai kamu, Fatima!! teriak Syakir dengan penuh kecewa.
Syakir pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Hanya di tempat itu sambil menatap kaca jendela besar dan memandang ke arah luar yang bisa membuat hatinya yang kacau agak sedikit lebih tenang.
Fatima ikut berdiri dan setengah berlari mengejar Syakir dan masuk ke dalam kamar mereka. Langkah kakinya sedikit terhenti dan berjalan pelan hingga suara derap langkahnya pun tidak terdengar sama sekali. Fatima begitu miris melihat Syakir yang berkali-kali memukul kepalan tangannya ke arah tembok dengan sangat keras dan tentu sangat menyakitkan.
"Mas Syakir ...." panggil Fatima lirih melangkah maju menuju kaca jendela besar dimana Syakir berdiri.
"Berhenti, jangan mendekat Fatima. Pergilah, Mas ingin sendiri, menenangkan pikiran yang begitu kacau ini. Ini bukan masalah mudah, tapi hubungannya dengan iman, dunia dan akhirat. Pertanggungjawaban apa yang harus Mas Syakir berikan kepada Allah SWT tentang perbuatan istri Mas Syakir yang bertindak bodoh dan konyol!!" ucap Syakir dengan sangat tegas.
Hatinya hanya kecewa, kalau rasa sakit itu tidak begitu terasa, karena memang Syakir belum mencintai Fatima dengan sepenuh hati. Tapi rasa sayang itu sudah mulai timbul, sejak ketulusan dan kelembutan Fatima saat merawat dan menjaga Syakir, ditambah segala pengorbanan Fatima untuk Syakir. Tapi, ini semua cara yang salah dan bodoh.
"Maafkan Fatima, kalau Mas Syakir ingin menceraikan Fatima, maka Fatima akan menerimanya dengan lapang," ucal Fatima pelan sambil menangis.
Perlakuan Syakir yang seperti ini yang membuat hati Fatima makin berdesir tidak karuan. Rasanya benar-benar terlalu baik, mendapatkan perlakuan istimewa ini. Tidak ada kekerasan, yang ada hanyalah kelembutan dan pencarian solusi terbaik.
'Betapa mulianya lelaki yang menjadi suaminya ini. Kesalahan istrinya bukan untuk dihakimi, tapi benar-benar ditakuti. Bagaimana pertanggungjawabannya kelak kepada Allah SWT,' batin Fatima di dalam hatinya yang terselimuti rasa salah yang begitu sangat besar.
Syakir memberhentikan pukulannya di dinding dan kini Kedua tangannya mengusap wajahnya dengan kasar dan sesekali menarik napas panjang lalu dihembuskan dengan begitu sangat keras.
"Mas Syakir ...." lirih Fatima pelan.
__ADS_1
"Diam Fatima, Mas sedang berpikir, keluarlah dan tutup kbalinpintu kamar itu," titah Syakir lembut tanpa emosi.