Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
175


__ADS_3

Fahad, Kirana dan Anna sudah berada di rumah besar Fahad larut malam. Mereka bersenang-senang menikmati kota besar itu dengan senang.


"Anna ayok tidur sama Nenek," ucap Ibu Wardah kepada Anna sang cucu tersayang.


Anna menggelengkan kepalanya pelan.


"Anna mau tidur bersama Papa dan Mama Kirana," ucap Anna pelan sambil menatap sendu wajah Nenek Wardah.


"Papa tidak tidur bersama Mama Kirana, Anna. Kita berdua bukan suami istri," ucap Fahad pelan menjelaskan.


Wajah Anna langsung cemberut, dan menunduk. Anna tetaplah Anna, anak kecil yang hanya ingin seorang Mama untuk menemaninya setiap waktu.


Kirana menghampiri Anna dan tersenyum lebar lalu mengusap rambut Anna dengan lembut.


"Mama Kiran akan menemani kamu tidur, tapi Papa Fahad tidak boleh menemani kita berdua, karena Papa Fahad seorang laki-laki dan kita perempuan, itu tidak boleh tidur bersama," ucap Kirana pelan mencari alasan yang tepat dan masuk akal.


Kirana berharap Anna bisa mengerti dan memahami maksudnya. Anna mengangguk pelan dan memeluk Kirana erat.


"Tidurlah dikamarku saja biar nyaman, kasihan kandunganmu. Biar aku tidur ditempat lain," ucap Fahad pelan kepada Kirana.


Kirana mengangguk pelan dan membawa Anna menuju kamar Fahad. Ibu Wardah mengambil pakaian ganti untuk Anna dan ikut masuk ke kamar tidur Fahad.


Fahad masih duduk di sofa ruang tengah ditemani dengan segelas kopi hitam yang manis dan panas. Tubuhnya disandarkan ke sandaran sofa dengan nyaman dan sesekali mengusap wajahnya dengan kasar.


Bu Wardah menghampiri Fahad dan membawa sepiring bolu pisang dan air jahe hangat untuknya yang dibuatnya tadi siang.


"Kalau sudah mengantuk, tidurlah Fahad," ucap Bu Wardah dengan suara pelan saat ikut duduk di sofa tepat di sebelah Fahad.


Fahad membuka matanya pelan, lalu menegakkan duduknya sambil mencoba tersenyum walaupun tubuhnya sudah lelah.


"Hanya lelah Bu, belum mengantuk, ini malah minum kopi," ucap Fahad pelan.


"Makanlah ini kue bolu pisang kesukaan kamu, Fahad," ucap Bu Wardah dengan lembut. Wajah Bu Wardah memang sudah mulai menua, dan sudah ada beberapa kerutan yang tercetak jelas di antara kening dan sekitar samping kedua matanya. Walaupun sudah berusia senja, Bu Wardah masih saja terlihat segar dan cantik.

__ADS_1


Fahad menatap kue bolu pisang yang ada di piring dan mengambil satu potong lalu menyuapkan ke dalam mulutnya. Kue bolu pisang buatan Bu Wardah memang tidak ada duanya, dan selalu enak dan lembut saat masuk ke dalam mulut.


"Terima kasih sudah menjaga Anna, dan merawat Fahad hingga sebesar ini. Maafkan Fahad jika belum bisa membahagiakan Ibu dan Anna," ucap Fahad pelan sambil mengunyah kue bolu itu.


Bu Wardah tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Kebahagiaan Ibu adalah bila kamu sudah menemukan wanita yang tepat dalam hidupmu dan kami nikahi lalu kalian hidup bersama dalam kebahagiaan. Bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan atau sama lain, bisa saling mensupport satu sama lain, bisa saling memberi dan menerima dengan tulus tanpa pamrih," ucal Bu Wardah menasehati dengan suara yang begitu bijak.


Fahad mengangguk pelan dan tersenyum lebar.


"Itu yang sedang Fahad cari Bu," ucap Fahad pelan lalu menyeruput kopi hitam itu.


"Kirana?" tanya Bu Wardah pelan dengan rasa penasaran. Sebenarnya ada hubungan apa antara Fahad dan Kirana, hingga Anna begitu lengket dengan wanita hamil itu.


"Kirana? Maksud Ibu, apa?" tanya Fahad pelan sambil menatap lekat kedua mata Ibu Wardah.


"Kamu menyukai Kirana bukan, sama seperti Anna yang sudah menyukai Kirana dan menginginkan Kirana menjadi Mamanya? Apa kamu tidak ingin mencoba mendekati Kirana?" tanya Bu Wardah pelan.


Fahad sudah tahu arah pembicaraan Bu Wardah lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Tuh kan, Ibu sudah menduga hal ini, kamu pasti menyukai wanita itu, tidak mungkin hanya sekedar membantu saja," ucap Bu Wardah pelan.


"Aku sudah menyukai Kirana sejak pertama kali bertemu. Mulai sejak saat itu, aku berusaha mendekatinya namun selalu ada penolakan halus," ucap Fahad pelan.


"Mungkin karena statusnya itu? Kirana menolak kamu, Fahad?" ucap Bu Wardah pelan dan menyeruput air jahe hangat itu.


"Biarkanlah jalani saja prosesnya, mungkin ini sudah suratan takdir untuk Fahad," jawab Fahad yang begitu pasrah dengan semua ini.


"Lalu, kabar suaminya bagaimana?" tanya Bu Wardah yang semakin penasaran. Cerita kehidupan Kirana malah membuat Bu Wardah ingin semakin tahu banyak dan menarik sekali.


Fahad mengangkat bahunya pelan.


"Fahad pun tidak tahu. Kirana sendiri pun tidak tahu," ucap Fahad pelan.

__ADS_1


"Lalu, Kirana begitu setia menunggu ketidakpastian itu?" tanya Bu Wardah pelan.


Fahad hanya tersenyum dan mengangguk-angguk pelan.


"Mulia sekali ya, memiliki istri yang begitu baik seperti itu. Jika Fahad bisa memilikinya, Fahad akan menjaga Kirana dengan sangat baik," ucap Fahad pelan dengan penuh semangat.


"Berdoa saja, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini," ucap Bu Wardah pelan.


"Kalau Ibu sudah memberikan restu, maka Fahad juga akan lebih ringan mengambil langkah dan keputusan," ucap Fahad pelan.


"Ibu akan selalu ridha dan selalu mendoakan kamu dan segala terbaik untuk kamu, Fahad," ucap Bu Wardah pelan.


Anna sudah terbaring di atas kasur empuk milik Papa Fahad sambil memeluk erat tubuh Kirana seolah tidak mau kehilangan. Kirana sendiri juga membalas pelukan Anna dengan penuh kasih sayang.


Anna gadis kecil yang haus akan kasih sayang. Harapannya hanya ingin memiliki Mama yang baik, ramah dan lembut. Sosok Kirana telah merebut hati Anna untuk terus mendekati Kirana dan mau menjadi Mama bagi Anna.


Seketika bayangan Syakir pun menari indah dalam pikirannya.


'Apa kabarmu Mas Syakir? Apa kamu sudah bahagia dengan Fatima? Kalau memang itu yang terjadi, maka aku sangat ikhlas melihatmu bahagia. Aku tidak apa-apa dan tidak masalah hidup dengan anakmu berdua saja seperti ini. Aku tahu, kamu pasti ikut mendoakan aku dan anak yang ada dalam kandungan ku, semoga suatu hari nanti kita bisa bersama lagi,' batin Kirana di dalam hatinya.


Kirana dan Anna sudah terlelap, Fahad masuk ke dalam kamar untuk.melihat kedua wanita kesayangannya itu. Cara tidur mereka berdua sangatlah unik. Saling berpelukan seolah tidak mau kehilangan. Fahad mendekati ranjang dan menarik selimut tebal lalu menutup seluruh tubuh Kirana dan Anna.


"Fahad?" lirih Kirana saat membuka matanya terusik dengan aktivitas Fahad yang menyelimutinya.


Fahad pun terkejut menatap Kirana.


"Kamu belum tidur Kirana?" tanya Fahad pelan.


Kirana menggelengkan kepalanya pelan dan melepaskan pelukan Anna dari tubuhnya lalu bangkit dari tidurnya.


"Aku cemas tiba-tiba," ucap Kiran pelan mengungkapkan isi hatinya.


"Apa yang kamu cemaskan Kirana?" tabya Fahad pelan.

__ADS_1


"Cari tempat lain untuk bicara, aku takut mengganggu Anna," ucap Kirana pelan.


__ADS_2