Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
178


__ADS_3

"Aku senang melihat Ibu hamil bila sedang makan, tampak nikmat sekali," ucap Muhammad pelan sambil terkekeh pelan dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Kirana langsung mencebikkan bibirnya sambil mengunyah sisa makanan yang masih ada di dalam mulutnya.


"Sutt ... Jangan keras-keras aku malu, walaupun mereka sudah tahu, tetap saja, bila semua ketahuan oleh dosen dan pemilik kampus maka kau akan dikeluarkan," ucap Kirana dengan suara pelan.


Syakir menggelengkan kepalanya pelan.


"Rahasiamu aman bersamaku Kirana," ucap Syakir pelan sambil mengedipkan matanya.


Hari itu perkuliahan sangat paat dari pagi hari hingga siang hari. Perut Kirana terasa sangat mulas sekali di detik-detik terakhir mata kuliah dengan dosen killer.


Dosen itu merasa sejak tadi Kirana tidak memperhatikan dan malah meringis tidak jelas.


"Coba Kamu, Kirana!! Maju ke depan dan jelaskan tentang materi yang baru saja di jelaskan," ucap dosen killer itu dengan suara lantang kepada Kirana yang masih meringis dan memegang perutnya yang terasa sakit.


Syakir langsung menoleh ke arah Kirana. Biar bagaimanapun juga, Kirana adalah istrinya, Syakir harus bisa menjaga istrinya dan anaknya dengan baik. Melihat Kirana yang meringis dan merintih menahan rasa sakitnya, Syakir pun berpura-pura mengangkat tangannya untuk bertanya sesuatu hal yang berkaitan dengan materi yang diajarkan.


"Maaf Sir, mau bertanya dan tolong di jelaskan kembali, mengenai bab yang tadi dijelaskan, ada beberapa poin yang sekiranya masih belum dapat syana pahami. Terima kasih sebelumnya," ucap Syakir pelan mengakhiri pertanyaannya.


Dosen itu tersenyum lebar, beliau sangat suka kepada mahasiswa yang aktif dan banyak bertanya. Dosen itu pun tidak curiga tentang pengalihan maksud dan tujuan Syakir, malahan dosen itu memberikan apresiasi yang cukup positif dengan keberaniam Syakir yang mengatakan bahwa dia belum paham betul.


Dosen killer itu mulai menjelaskan dengan pelan dan sangat detil agar semua anak didiknya itu benar-benar paham dan bisa menjadi dokter yang benar-benar mumpuni.


Kirana menatap Syakir, ingin rasanya cepat selesai mata kuliah ini dan duduk berselonjor agar perutnya tidak terasa keram dan sakit seperti ini.


Syakir menatap Kirana yang juga sedang menatapnya sendu, seperti ingin mengucapkan terima kasih namun terasa sangat sulit sekali.


Tidak lama waktu perkuliahan hari itu pun selesai, tinggal menunggu satu jam lagi untuk masuk ke ruang praktikum dan ruang praktek. Syakir berjalan menghampiri Kirana yang sedang membereskan buku-bukunya ke dalam tasnya.


"Kita makan siang bersama, aku yang traktir," ucap Syakir dengan tulus.

__ADS_1


Kirana menatap Muhammad dan mengangguk pelan. Muhammad membantu Kirana membereskan buku-bukunya ke dalam tas dan membawa tas tersebut. Muhammad sengaja membiarkan Kirana tanpa membawa apapun juga untuk mengurangi beban.


"Kamu mau makan apa Kirana?" tanya Muhammad pelan saat sudah duduk berhadapan dengan Kirana di kantin kampusnya.


Kirana mencoba membaca buku menu dan memilih makanan dan minuman yang sedang ingin disantapnya siang ini.


"Aku ingin makaroni dan es coklat saja," ucap Kirana dengan suara pelan.


"Sebentar akan aku pesankan," ucap Syakir pelan dan beranjak menuju tempat pemesanan.


Syakir pun memesan beberapa makanan kesukaan Kirana dan makanan pesanan Kirana. Rasanya senang dan bahagia sekali bisa mengajak Kirana makan bersama. Kini untuk bisa bersama Kirana terasa ada jarak dan batas..


"Bukankah kamu sering bersama laki-laki dan seorang anak perempuan? Dia siapa?" tanya Syakir pelan sambil mencari jawaban pasti dari Kirana.


Kirana tersenyum lebar.


"Diam-diam kamu memperhatikan aku, Muhammad?" tanya Kirana pelan yang membuat Syakiralah menjadi kekuatan sendiri. Jujur saja Syakir begitu cemburu melihat kebersamaan yang disengaja itu.


"Aku hanya bertanya bukan mencari tahu tentang kamu, Kirana?" ucap Syakir beralasan.


Senyum Kirana malah seakan terus menggoda Syakir yang sudah kelewat malu bukan kepalang.


"Yakin? Kamu hanya sekedar bertanya? Bukan tidak sedang memata-matai aku?" ucap Kirana pelan sambil tersenyum.


Syakir pun mengangguk pasrah. Harga dirinya lebih penting, dari pada harus mengakui sesuatu hal yang memang sesungguhnya sedang dicarinya. Informasi kedekatan Kirana dengan Fahad adalah sesuatu yang penting bagi Muhammad.


"Aku hanya ingin tahu, tidak lebih," ucap Syakir menjawab dengan tenang tanpa ada keraguan hingga tidak menimbulkan kecurigaan pada Kirana.


Pesanan makanan dan minuman sudah datang. Betapa terkejutnya Kirana melihat banyak makanan yang tersaji diatas meja, dan semuanya itu adalah makanan kesukaannya.


"Kenapa? Makanlah sepuasmu, ini sehat juga untuk bayi dalam kandungan kamu, Kirana," ucap Syakir pelan sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ini banyak sekali, Muhammad dan bagaimana kamu bisa tahu, kalau semua makanan ini adalah makanan kesukaanku?" tanya Kiran dengan suara pelan dan menatap lekat kedua mata Syakir yang terlihat panik.


Syakir menarik napas panjang dan menghembuskan dengan pelan. Syakir mencoba menata hatinya untuk lebih tenang dan tidak terlihat gugup di depan Kirana.


"Benarkah ini semua makanan kesukaan kamu, Kirana? Aku hanya memesan tanpa memilih, bahkan aku tidak tahu kalau makanan yang aku pesan adalah makanan kesukaanmu. Kalau begitu habiskan semuanya agar tidak terbuang dan tidak mubazir," ucap Syakir dengan suara pelan menitah Kirana.


Senyum Kirana mengembang dan mengangguk-angguk pasrah.


"Tapi ini banyak sekali," ucap Kirana pelan.


"Waktu praktek kita masih lama, satu jam lagi, bahkan dua jam lagi, karena dosen pertama akan berhalangan hadir," ucap Syakir memberi tahu.


Kirana sudah memulai memakan beberapa makanan yang ada di depannya itu. Nafsu makannya tiba-tiba meningkat dan bingung mencicipi makanan itu semuanya.


"Ini habis tidak apa-apa? Kamu sendiri tidak makan?" tanya kirana dengan suara pelan.


Syakir hanya menatap Kirana dengan senyuman. Kirana tampak lucu, dengan mulut yang sangat penuh mengunyah makanan dan berbicara dalam keadaan mulut itu masih terus melembutkan makanannya di dalam mulut. Syakir mengambil tissue dan mengusap sisa makanan yang mengenai dagu Kirana.


Sangat pelan dan begitu terasa sangat perhatian sekali. Ketulusan dan rasa kasih sayangnya begitu sangat terasa.


Kirana menatap lekat kedua mata Syakir yang teduh itu. Tatapan mata itu mengingatkan pada kedua mata Syakir, suaminya yang selama ini selalu dirindukannya.


"Apa ada yang salah dariku? Kenapa kamu menatapku seperti itu Kirana?" tanya Syakir dengan suara pelan.


Kirana menutup matanya seolah tidak ingin mengingat kenangan itu yang malah membuat Kirana semakin sakit dan terpuruk.


"Tidak ada apa-apa Muhammad," ucap Kirana pelan dan melanjutkan menyantap makanan itu dengan sangat nikmat sekali.


Kebahagiaan Syakir saat itu betul-betul tak terkira. Pertama, Kirana dengan sangat mudah diajak makan bersama lalu yang kedua, Kirana tidak pilih-pilih dalam memilih makanann, semua makanan itu dimakan hingga habis tak bersisa.


"Enak?" tanya skir pelan saat melihat Kirana terlihat sangat menikmati semua makanan itu tanpa ada rasa yang aneh.

__ADS_1


Kirana hanya meneruskan makannya dan mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Syakir yang baru asaj dilontarkan.


__ADS_2