
"Serius kamu tau di mana, Nona Dina itu sekarang berada?" tanya Demian yang terlihat sangat ragu dengan jalan jalan yang ditunjukkan oleh Deli kepada dirinya. Jalan yang seperti tidak ada orang yang lewat di daerah itu.
"Tau. Kamu yakin ajalah sama aku. Aku juga nggak mau menunjukkan jalan yang selah ke kamu" ujar Deli menjawab keraguan dari Demian.
"Kamu ragu karena jalannya kan ya?" tanya Deli kepada Demian.
Demian mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Deli barusan.
"Lagian aku juga nggak mau membuat kamu nyasar. Bisa bisa kontrak kerjasama perusahaan tempat aku bekerja bisa kamu batalkan nanti" ujar Deli menggoda Demian yang sedang serius menyetir mobil.
"Mana ada urusan jalan sama kontrak kerja. Ngasal kamu sayang" ujar Demian keceplosan memanggil Deli dengan kata sayang.
Tapi Deli tidak menghiraukan hal itu. Dia pura pura tidak mendengar panggilan dari Demian tadi. Deli kembali fokus ke jalan yang sedang mereka lalui sekarang ini. Deli sudah lama sekali tidak ke sini.
Jalan yang mereka lalui sekarang sudah mulai mengecil, kiri kanan hanya hutan jati saja yang terlihat. Demian menatap Deli sekali lagi.
"Sabar dikit lagi sampe. Malahan ya nanti kita harus jalan kaki sedikit menuju tempat itu" ujar Deli menjawab arti tatapan yang diberikan oleh Demian kepada dirinya.
"Waduh. Itu pergi kemana ni anak nenangin perasaan. Baru tau gue ada jalan se sepi ini di daerah sini" ujar Demian yang lumayan kaget dengan pilihan tempat untuk menenangkan diri oleh nona cantik yang satu itu.
"Kamu juga ke sini kalau sedang ada masalah yang berat untuk menenangkan diri?" tanya Demian melihat suasana sunyi yang mencekam itu.
"Iya" jawab Deli kepada Demian.
Demian menganga mendengar jawaban dari Deli. Dia tidak menyangka wanita secantik itu berani ke tempat seperti ini sendirian.
"Belok" ujar Deli meminta Demian mendadak untuk berbelok.
"Mendadak banget Del" ujar Demian yang tidak menyangka Deli akan secara mendadak meminta Demian untuk berbelok.
"Hehe hehe Tuan, maaf Tuan. Tuan tadi terlihat hilang konsentrasi. Makanya saya mengagetkan Tuan" ujar Deli dengan wajah polosnya dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Ye lah. Ini terus ke dalam ini?" tanya Demian yang ragu dengan tempat yang ditunjukkan oleh Deli.
"Yup. Nanti di ujung jalan kan mentok tuh. Taruh aja mobil di situ" ujar Deli memberitahukan kepada Demian, di mana Demian nanti harus meletakkan mobilnya.
Demian melajukan mobil mewah itu menuju tempat yang dikatakan oleh Deli. Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang jauh dan lumayan mengerikan itu untuk seorang wanita bukan untuk ukuran Demian.
Mereka sampai di ujung jalan, dan melihat ada sebuah mobil mewah yang sudah parkir di sana.
__ADS_1
"Benerkan Dina di sini. Tu mobilnya" ujar Deli memberitahukan kepada Demian kalau tebakan dia tidak salah dimana Dina berada sekarang.
"Kok tau?" tanya Demian penasaran kenapa Deli sangat yakin kalau itu adalah mobil Dina.
"Tengok aja logonya. KW. Siapa lagi yang punya plat mobil belakangnya KW kalau bukan dari keluarga Kusuma Wijaya" ujar Deli menyebutkan nama keluarga Dina.
"Jadi Dina dari keluarga yang sangat terkenal di negara A itu?" ujar Demian memastikan kepada Deli tentang Dina dan keluarganya itu.
"Yup" jawab Deli memastikan apa yang dikatakan oleh Demian itu adalah benar.
"Oh baiklah" jawab Demian.
"Tuan Demian mau ikut saya ke dalam atau menunggu di sini saja sebentar?" tanya Deli kepada Demian.
Deli ragu membawa Demian ke dalam. Mereka harus berjalan kaki sekitar lima belas menit lagi menuju tempat Dina berada hari ini.
"Aku ikut. Nggak mungkin aku membiarkan kamu sendirian ke sana" ujar Demian yang tidak mau membiarkan Deli masuk ke sana sendirian.
Mereka berdua kemudian berjalan masuk ke dalam tempat yang lumayan sepi itu. Belum lagi tidak ada manusia yang lewat di sana. Mereka terus berjalan ke dalam. Tak lama berjalan Demian mendengar suara air terjun.
"Bentar Deli. Gue denger suara air terjun. Apa kita akan ke sana?" tanya Demian menebak tujuan mereka kali ini.
Akhirnya setelah berjalan cukup lama terasa oleh Damian karena baru kali ini ke sini. Mereka sampai juga di tempat itu. Rasa letih yang dirasakan Demian tadi, mendadak menjadi hilang, saat menyaksikan pemandangan indah yang diberikan oleh alam.
"Wow ini keren banget" ujar Demian bersorak saat melihat keindahan yang disajikan alam di depan matanya.
"Keren lah. Kalau nggak mana mau kami ke sini susah susah jalan seperti tadi" jawab Deli sambil menuju sebuah saung yang ada di sana.
Deli yakin kalau Dina sedang duduk di situ sendirian.
"Kamu kemana Deli?" tanya Demian saat melihat Deli berjalan menjauh dari dirinya.
"Mau lihat air terjun lebih dekat" jawab Deli.
Demian kemudian mengikuti Deli menuju air terjun itu. Ternyata Deli menuju sebuah saung yang ada kaki seseorang sedang menjuntai di sana.
"Kaki siapa itu?" ujar Demian dalam hati dan pikirannya.
Deli kemudian berjalan ke saung, dia dan Demian melihat Dina sedang duduk di sana sendirian dan melihat ke air terjun.
__ADS_1
"Hay, kok nggak ngajak gue ke sini" ujar Deli sambil duduk di sebelah Dina.
Dina melihat ke ara Demian. Dia ingat kalau tadi pagi dia baru melihat pria itu di ruangan Jero.
"Bukannya kita tadi bertemu di ruangan Jero?" tanya Dina memastikan kalau dia tidak salah orang kepada Demian.
"Yup. Kamu kan yang berani nampar presiden direktur perusahaan Edwardo" ujar Demian mengulang kembali dan mengingatkan Dina atas apa yang dilakukannya terhadap Jero.
Dina terdiam, dia tidak menyangka kalau pria yang tadi menjadi saksi atas apa yang dilakukannya kepada Jero berada di sini bersama dengan Deli.
"Kok kalian berdua bisa datang bersama ke sini?" tanya Dina kepada Deli.
"Kamu kenal nggak Tuan ini siapa?" tanya Deli kepada Dina sebelum Deli menjawab pertanyaan dari Dina.
Dina menggeleng. Dia memang tidak kenal dengan pria itu. Kalau melihat dari gayanya, dia adalah seorang pebisnis muda juga.
"gue nggak kenal" jawab Dina dengan pelan sambil melihat ke arah Demian sekilas.
"Bener loe nggak kenal dia? Coba ingat ingat lagi" ujar Deli meminta Dina untuk berusaha memutar kembali memory di otaknya untuk mengingat Demian.
"Gue nggak kenal Deli. Siapa dia? kok bisa bereng elo ke sini" ujar Dina kembali bertanya dan meyakinkan Deli kalau dia tidak kenal dengan pria yang bersama Deli sekarang ini.
"Dia adalah Tuan Demian Perez, " jawab Deli menatap Dina yang tidak mengenal Demian sama sekali.
"Hah? Serius?" ujar Dina kaget mendengar nama yang disebut oleh Deli tadi.
"Jadi tadi gue ngomong langsung di depan orangnya? Mampus gue" ujar Dina yang mengingat semua yang dikatakannya tadi di ruangan Jero saat dia memarahi Jero karena sudah melakukan sesuatu yang melewati batasnya.
"Yup, Anda mengatakan semuanya di depan saya. Makanya saya tahu kenapa sahabat Anda ini tadi mengatakan kalau dia sakit kepala" ujar Demian sambil melihat ke arah Dina.
"mampus gue" ujar Dina melihat ke arah Deli.
"Haha haha haha. Makanya jangan main asal emosi aja. Jadi, keren kan" ujar Deli sambil menepuk pundak Dina.
"Udah santai aja. Kalian berdua belum kenal kan. Kenalkan ini Tuan Demian, ini sahabat saya namanya Dina Kusuma Wijaya" ujar Deli menyebutkan nama panjang Dina.
Dina dan Demian berjabat tangan. Mereka bertiga duduk di saung itu, dengan Deli di tengah tengah. Mereka menatap ke air terjun yang sangat cantik dan terletak di bawah itu. Mereka bertiga seperti berada di atas air terjun posisinya. Keindahan alam yang sangat luar biasa disajikan oleh alam dan diciptakan oleh Tuhan.
"nikmat mana lagi yang mau kalian dustakan" ijar Demian dengan nada pelan yang hanya bisa di dengar oleh Dina sendiri.
__ADS_1
Dina tersenyum kearah Demian. Demian membalas senyuman Dina.