Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 92


__ADS_3

"Bunda, anak gadis Bunda sama siapa itu?" tanya Ayah sambil memberikan kode kepada Bunda.


"Bunda juga tidak tahu Ayah. Pria itu baru sekali ini ke kafe. Selama ini Bunda nggak pernah lihat dia" ujar Bunda menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Ayah tentang pria yang sedang berjalan dengan anak perempuan mereka itu.


"Hendri, sini" ujar Ayah memanggil Hendri yang barusan lewat di depan Ayah.


"Kamu tau siapa yang sedang jalan dengan Adik kamu itu?" tanya Ayah kepada Hendri.


Hendri menatap lama wajah pria yang sudah hampir dekat dengan mereka bertiga.


"Bentar lagi juga tau" jawab Hendri dengan ngasal ke Ayah.


Ayah yang mendengar jawaban dari Hendri langsung saja memukul lengan Hendri.


"Jawab ngasal aja" ujar Ayah dengan nada kesal akibat mendengar jawaban dari Hendri.


"Udah malu, mereka udah dekat" ujar Bunda yang pura pura beberes di container itu.


Ayah dan Hendri yang kepalang tanggung dan juga tidak tau mau melakukan apa, terpaksa berdiri menunggu kedatangan Deli dan pria tampan itu.


Deli dan Demian akhirnya sampai juga di dekat Ayah dan Hendri yang berdiri di dekat container yang disulap menjadi dapur itu. Deli sudah mengerti kenapa dari tadi Ayah dan Hendri berdiri di sana selama itu, sambil sekali sekali melihat ke arah Deli dan Demian.


"Ayah, Bunda, Kakak, kenalin ini Tuan Demian Perez, Presiden Direktur perusahaan Perez Grub" ujar Deli memperkenalkan Demian kepada keluarganya itu.


Demian tanpa ragu mengulurkan tangannya kepada Ayah.


"Bramantya" ujar Ayah menyebutkan namanya.


"Demian" jawab Demian.


"Panggil aja Bunda" ujar Bunda sambil tersenyum ramah.


"Demian" jawab Demian.


"Hendri" kak Hendri memperkenalkan dirinya sambil menatap tajam ke arah Demian.


"Demian" jawab Demian mengacuhkan tatapan dari Hendri.


Deli menatap ke arah Hendri. Dia tidak mau Hendri menatap seperti itu kepada Demian. Hendri yang mendapat tatapan maut dari Deli memutus tatapannya dengan Demian.


"Silahkan duduk Tuan Demian" ujar Ayah dengan sangat sopan kepada rekan kerja anaknya itu.

__ADS_1


"Panggil Demian saja Tuan. Saya lebih kecil dari pada Tuan." ujar Demian yang tidak mau Tuan Bramantya memanggil dirinya dengan sapaan Tuan.


"Baiklah, silahkan duduk Demian. Mau pesan apa?" tanya Tuan Bramantya sambil memberikan daftar menu kepada Demian.


"Kata Deli saya mau dimasukkan nasi goreng khusus Tuan" jawab Demian dengan santainya.


Deli yang mendengar jawaban yang diberikan oleh Demian langsung membuat wajahnya memerah. Deli tidak menyangka Demian akan menjawab seperti itu. Jawaban yang luar biasa polosnya diberikan oleh seorang Demian kepada Tuan Bramantya.


"Oh baiklah silahkan duduk dulu Demian. Deli akan membuatkannya" ujar Tuan Bramantya.


Demian kemudian duduk di sebuah kursi yang terletak di sudut kafe. Kursi yang di kiri kanannya terdapat buku buku yang di pajang dengan rapi di rak rak buku.


Demian mengambil salah satu buku bisnis yang menarik perhatiannya. Buku tua yang sudah lama dicari oleh Demian. Demian membaca buku tersebut sambil menunggu Deli selesai menyiapkan makanannya.


"Cie yang tumben tumben nya mau masak lagi. Ada sesuatu kah?" tanya Hendri kepada Deli yang sedang mengolah dua piring nasi goreng untuk Demian dan dia sendiri.


"Nggak ada sesuatu Kakak ku sayang. Mana ada sesuatu. Emangnya apaan sesuatu itu?" kata Deli sambil menatap ke arah Hendri sekilas.


"Mana tau ada sesuatu" lanjut Hendri sambil tersenyum penuh makna.


"Hem ye. Serah deh Kakakku sayang. Terpenting aku udah ngomong nggak ada apa apaapa. Percaya atau nggak ya terserah aja" jawab Deli berusaha meyakinkan Hendri kembali kalau memang tidak ada apa apa.


Wek, Deli menjulurkan lidahnya kepada Hendri.


"Deli sudah" ujar Bunda menegur Deli.


Kedua kakak beradik itu kemudian memilih untuk diam dari pada melanjutkan keributan yang tidak bermutu tersebut.


Hendri kembali mengantarkan pesanan dari pengunjung kafe. Sedangkan Deli melanjutkan mengolah nasi goreng miliknya yang telah hampir siap itu.


Tidak berapa lama, hasil masakan Deli sudah siap. Deli kemudian membawa dua piring nasi goreng dan dua gelas jus jeruk peras. Deli menaruh semua menu makanan di meja yang ada di depan Demian.


"Silahkan dinikmati Tuan Demian" ujar Deli sambil tersenyum kepada Demian.


"Makasi Nona Deli yang ternyata nggak pernah masak, tetapi terpaksa masak karena ingin menarik perhatian saya" ujar Demian sengaja menggoda Deli.


"Ye, mana ada" jawab Deli sambil melempar Demian dengan kerupuk.


"Adalah, masak nggak ada. Kalau nggak ada, nggak mungkin kamu mau buatin aku nasi goreng" ujar Demian nggak mau kalah dengan Deli.


"Hem kayaknya aku nggak akan menang, gimanapun caranya." kata Deli menatap Demian.

__ADS_1


"Mari makan" lanjut Deli yang yakin nggak akan menang melawan Demian


"Haha haha, dia takut kalah" ujar Demian menatap Deli dengan tatapan menggoda Deli.


Deli memutar matanya mendengar jawaban dari Demian. Demian membalas dengan cara yang sama. Deli kemudian melongos tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kamu memang ya. Ayuk makan kita lagi. Aku udah laper banget" ujar Deli memutus pertikaian antara dirinya dan Demian.


Mereka berdua kemudian menikmati makan malam yang dimasak oleh Deli. Demian saat menyuap suapan pertama nasi goreng buatan Deli, terlihat ragu untuk mengunyah nasi goreng itu.


"Santai ajalah Pak Bro" ujar Deli sambil melempar Demian kembali dengan kerupuk yang mau dimakannya tadi.


"Haha haha. Aku sangat suka melihat kamu sedang emosi" ujar Demian yang sangat puas membuat Deli menjadi sangat marah karena ulahnya itu.


"Ye" ujar Deli yang masuk ke dalam perangkap Demian.


Mereka berdua kembali menyuap makanan masing masing. Mereka makan sambil terlihat mengobrol santai.


"Ayah sini" ujar Bunda memanggil Ayah yang sedang melintas di depan Bunda.


"Apa Bun?" tanya Ayah sambil berjalan mendekat ke arah Bunda.


"Lihat mereka Ayah. Demian seperti memiliki sesuatu kepada putri kita." ujar Bunda yang dari tadi memperhatikan Demian dan Deli terus.


"Bunda, Bunda. Dari tadi kerjaannya memperhatikan orang saja terus. Nggak boleh gitu Bunda. Itu kepo namanya" ujar Ayah yang ikut ikutan melihat ke arah Deli dan Demian duduk.


"Gaya Ayah kepo. Ayah juga nengok mereka dari tadi. Ayah kira Bunda nggak tau gitu. Bunda perhatiin Ayah terus dari tadi" ujar Bunda sambil menjawil pinggang Ayah.


"Nggak ada. Bunda lebay deh" ujar Ayah yang nggak mau dikatakan memperhatikan Deli dan Demian dari tadi.


"Alah, ngaku ajalah Ayah. Kan Ayah tadi tuh, saat ngambil piring kotor di meja ujung Ayah muter kemana mana" ujar Bunda yang nggak mau kalah lawan Ayah.


"Yang mana ya Bun? Ayah kok lupa ya" ujar Ayah pura pura amnesia.


"Banyak gaya. Udah itu ada tamu yang baru datang. Ayah layani sana dulu. Hendri sedang menunggu Dian dan keluarganya di depab" ujar Bunda mengusir Ayah dengan halus.


Bunda memilih untuk cepat mengakhiri pertikaian itu. Bunda nggak mau pertikaian itu terus berlanjut dan membuatnya tidak selesai selesai.


"Oke oke. Tapi Bunda jangan kepo lagi ya" ujar Ayah.


"Ayah jangan muter muter lagi ya" balas Bunda.

__ADS_1


__ADS_2