Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 8


__ADS_3

Deli hari ini bangun agak telat dari pada biasanya. Bunda menjadi heran, tidak biasanya Deli bangun telat seperti ini. Bunda sudah beberapa kali berjalan mondar mandir di depan kamarnya, tetapi sama sekali belum ada tanda tanda kehidupan dari dalam kamar Deli.


"Kak, coba tengok Deli, nggak biasanya Deli telat bangun. Ini udah jam enam loh kak." ujar Bunda kepada Hendri yang sedang sibuk menyusun gorengan ke atas nampan.


"Oke Bun" jawab Hendri.


Hendri kemudian langsung masuk ke dalam rumah dan mengetuk pintu kamar Deli.


"Del, nggak kantor?" ujar Hendri dari luar pintu kamar.


"Deli nggak ke kantor" ujar Hendri sekali lagi, karena belum mendapatkan jawaban dari dalam kamar Deli.


Deli yang setengah sadar langsung duduk saat mendengar suara Hendri dari balik pintu kamar.


"Nggak kak. Deli dikasih libur seminggu, karena kedua bos Deli lagi keluar negeri. Jadi Deli kerja dari rumah aja" kata Deli sambil mengeluarkan kepalanya dari pintu yang terbuka sedikit. Dia benar benar baru bangun.


"Ya udah. Kafe bentar lagi buka. Kamu bantu ya. Kakak mau nganterin pesanan kantor Dinas." ujar Hendri menatap adiknya yang matanya masih bengkak itu.


"Siap komandan. Mandi bentar ya" ujar Deli.


Hendri kembali ke kafe untuk menaikkan semua pesanan kantor dinas. Sedangkan Deli masuk ke kamar mandi untuk bersih bersih badannya. Dia hari ini akan membantu Bunda di kafe, biar Bunda bisa beristirahat sejenak.


Selesai mandi Deli langsung menuju kafe. Dia akan menolong bunda untuk menyiapkan makanan yang dipesan pelanggan. Tiba tiba notifikasi pesan Deli berbunyi.


✉️ Felix


Tolong sharelock tempat sarapan yang enak itu.


Deli kemudian mengirim map kafenya. Dia kemudian mengganti baju yang lebih bagus. Tidak mungkin dia bertemu dengan kedua bosnya dengan tampilan seperti itu.


"Tumben cantik" kata Bunda sambil menatap Deli yang sudah berganti pakaian, padahal tadi Deli memakai pakaian rumahannya yang biasa. Sedangkan sekarang Deli memakai dress yang biasanya di pakai untuk nongkrong dengan kedua sahabatnya itu.


"Dua bos Deli mau makan kesini Bunda, sebelum mereka berangkat keluar negeri" ujar Deli memberitahukan siapa yang akan datang ke kafe mereka.


"Oo" ujar Bunda santai.


"Eh siapa yang mau datang Del? Bos kamu?" tanya Bunda yang baru sadar kemudian.

__ADS_1


"Iya Bunda" jawab Deli


"Bunda santai aja, nggak usah grogi gitu, mereka santai kok orangnya." ujar Deli menenangkan perasaan Bundanya.


Bunda kemudian melayani permintaan pesanan para pembeli. Tidak lama kemudian terdengar kericuhan di depan pagar mau masuk kafe. Deli kemudian pergi ke depan pagar kafe dimana ibu ibu berkumpul melihat dua pria bule yang turun dari mobil mewah. Deli kemudian membubarkan para ibu ibu tersebut. Ibu ibu terpaksa mengalah karena mereka tau betapa galaknya Deli kalau sedang marah.


"Maaf Pak, memang begini kalau disini. Maaf sekali lagi." kata Deli sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak apa apa" jawab Jero.


Deli mengarahkan Jero dan Felix kebagian favorit kafe itu, yaitu bagian koleksi buku buku bisnis.


"Silahkan duduk pak, ini daftar menu silahkan pilih yang mana bapak mau"


Deli memberikan daftar menu sarapan yang ada di kafe. Jero menatap kagum ke buku buku yang bisa dia baca judulnya. Jero saja tidak memiliki buku yang ada di kafe Deli.


"Deli, semua buku ini punya siapa?" Jero menunjuk buku buku bisnis yang ada di sana.


"Punya Ayah, Pak. Ayah saya dulunya adalah pengusaha, tetapi karena kebusukan temannya, Ayah jadi bangkrut pak." ucap Deli sambil menatap nanar buku buku koleksi ayahnya. Buku buku yang begitu dijaga oleh Ayahnya. Deli juga belajar banyak dari buku itu sewaktu dia masih kuliah. Sampai sekarang Deli masih membaca buku buku tersebut saat waktu luangnya ada.


"Apakah saya boleh baca?" Jero menatap kepada salah satu buku yang dia benar benar sangat ingin membacanya.


"Oke. Saya akan bawa buku ini nanti"


Jero kemudian mengambil buku yang ingin dibacanya itu. Jero mengambil dengan sangat semangat. Sudah lama dia ingin membaca buku langka tersebut, tetapi Jero tidak pernah berhasil mendapatkannya. Ternyata dengan memilih sarapan di kafe ini, Jero bertemu dengan buku yang selama ini sudah dicari carinya.


"Loe pesan apa Jer?"


"Tanya Deli menu paling enak di sini" ucap Jero tanpa memalingkan kepalanya dari buku yang diambilnya barusan.


"Del?"


"Enak semua pak. Atau gini aja, saya hidangkan sayurnya di tempat terpisah. Jadi bapak bisa mengambil yang mana bapak suka." Deli memberikan usul


"Ide bagus."


Deli kemudian mengambilkan katupek gulai untuk kedua bosnya ini. Deli meletakkan semua gulai ke dalam mangkok mangkok terpisah. Deli juga membuatkan dua gelas coffelatte untuk bosnya.

__ADS_1


"Silahkan di nikmati bos. Semua gulai saya yakinkan pasti enak." ujar Deli sambil tersenyum meyakinkan.


Jero mengambil gulai toco, sedangkan Felix mengambil gulai rebung. Mereka makan dengan sangat lahap. Tanpa mereka sadari ternyata mereka sudah mencoba seluruh gulai yang ada di atas meja.


Tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Mereka kemudian berdiri, mereka sudah harus kebandara untuk menuju negara I. Jero membawa dua buah buku yang akan dibacanya selama di negara I.


"Del, saya pinjam dua buku ini" Jero memperlihatkan buku yang dipinjamnya.


"Oke Pak. Sip."


Deli kemudian mencatat buku yang dipinjam Jero. Bunda tiba tiba meletakkan sebungkus kotak kue.


"Sayang, kasih bos mu nih. Jajanan pasar. Mana tau mereka suka" ujar Bunda.


"Pak Jero, ini ada kue jajanan pasar bikinan Bunda. Kata bunda Bapak silahkan bawa untuk perjalanan di pesawat. Itupun kalau Bapak berkenan" kata Deli sambil menunduk.


"Terimakasih Del. Katakan sama Bunda kamu sekalian. Saya dan Felix tidak pernah makan jajanan pasar" Jero mengangkat kantong yang berisi aneka jajanan pasar. Deli dan Felix yang tau siapa Jero sebenarnya langsung melongo.


Akhirnya dua bos besar yang menggemparkan kafe Deli akhirnya pergi menuju negara I. Ibu ibu yang rempong langsung mengerubungi Deli.


"Del, itu bos kamu? Singelkan ya?" kata Ibu Mawar.


"Nggak tau bu. Saya hanya karyawan bukan asisten pribadi mereka berdua" jawab Deli. Deli kemudian meninggalkan ibu ibu kepo itu untuk membantu bunda menyiapkan pesanan pelanggan yang lain.


"Sabar Del." ujar Bunda menggoda Deli.


"Banget bun" jawab Deli sambil mengusap dadanya.


Mereka berdua lalu tertawa bersamaan.


"Bun, Ayah kapan pulang?"


"Dua hari lagi Del. Kangen Ayah?" kata bunda melihat Deli.


"Dikit. Nggak sebesar Bunda" ujar Deli menggoda Bundanya yang sedang serius membuat pesanan pelanggan yang semakin ramai berdatangan.


"Mulai jahil kamu ya"

__ADS_1


Mereka melakukan aktifitas bekerja di kafe sampai sore. Selama seminggu Deli hanya bekerja di kafe saja. Deli tipe anak gadis yang tidak suka keluar rumah kalau benar benar tidak ada kepentingan. Makanya dia hanya di kafe saja membantu Bunda atau membantu kak Hendri untuk menyiapkan pesanan yang dipesan melalui online.


Intinya bagi Deli waktu adalah kerja, waktu adalah kegiatan, waktu sangat beharga. Sangat berbeda dengan kebanyakan remaja yang menganggap waktu adalah untuk bersenang senang.


__ADS_2