
"Jadi yang itu aja loe ambil?" tanya Dian meyakinkan piliha yang telah ditentukan oleh Deli tadi.
"Yup. Gue ambil yang ini ajalah. Pusing gue banyak banget yang bagus bagus" jawab Deli sambil memberikan kepada Dian pakaian untuk acara akad nikahnya besok.
"Oke sip. Ini sesuai banget dengan karakter elo, sesuai dengan yang gue omongin tadi" lanjut Dian menambah keyakinan Deli untuk memakai pakaian itu saja saat acara pernikahan dia besok dengan Jero.
"Mbak tolong di bungkus seperti biasanya. Kemudian langsung tarok saja di mobil saya" uajr Dian memberikan perintah kepada manager yang mengelola butik milik Dian di cabang yang ini.
"Sambil menunggu tu baju di rapikan, kita minum dulu ya. Gue udah siapin teh hijau dan juga puding coklat untuk kita makan bertiga." ujar Dian sambil menaruh di atas meja tiga cangkir teh hijau dan tiga piring puding coklat kesukaan dari Dina.
"Wow puding coklat. Loe emang terdebes jadi sahabat Dian sayang ku" ujar Dina sengaja dengan lebaynya memuji muji Dian.
"Hem kalau ada maunya" ujar Dian sambil memicingkan matanya ke arah Dina.
"Hay sudahlah mata loe kecil, sekarang makin lie kecilin. Ya makin nggak nampak lah itu mata loe Dian sayang. Loe aneh aneh aja ding" ujar Dina yang mulai memancing keributan dengan Dian.
"Serah loe aja deh, si mata jengkol" jawab Dian tepat membalas kembali ejekan yang diberikan oleh Dina kepada Dian.
Mereka berdua memakai prinsip, mata dibalas mata, telinga dibalas telinga. Mereka tidak akan menyakiti lebih dari pada itu dan kurang dari pada itu. Sehingga rasa sakit di antara mereka berdua sebagai sahabat tidak akan pernah terjadi. Apalagi Dina dan Dian sudah saling memahami semenjak lama.
"Ya Tuhan Dina, Dian. Kapan kalian bisa damai coba. Aku lagi pusing mikirin pernikahan besok, kalain berdua masih sempat sempat nya ribut gara gara mata. Kan aneh itu" ujar Deli yang tidak terima Dina dan Dian ribut hanya gara gara mata doang.
"Siapa yang ribut. Kami nggak ribut" kata Dian menyanggah apa yang dikatakan oleh Deli tadi.
"Ya udah nggak ada yang ribut. Mari sekarang jalan. Gue udah nggak sabar untuk melakukan oerawatan. Mumpung gratis dan bisa mencoba semuanya" ujar Deli yang ketularan semangat gratisan dari Dian.
"Hem semangat banget kalian berdua kalau dapat perawatan gratisan. Tapi tak apalah demi sahabat sendiri, gratis sekali sekali juga nggak akan bikin rugi bandar" ujar Dian sambil tersenyum kecil saja kepada kedua sahabat yang berada di depannya itu.
"Nona Dian, semua pakaian tadi sudah berada di dalam mobil Nona" ujar Manager melaporkan kepada Dian kalau semua pakaian yang diinginkan oleh Dian tadi sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Nggak ada yang kececerkan?" tanya Dian memastikan kalau semuanya sudah ada di dalam mobil dan tidak ada yang jatuh atau tercecer saat manager dan anggotanya memasukkan ke dalam mobil Dian.
"Tidak ada Nona. Tadi di mobil juga sudah kami pastikan semuanya cukup" ujar manager memberitahukan kepada Dian kalau semua barang sudah cukup di atas mobil.
"Baiklah terimakasih manager." ujar Dian yang tidak ragu untuk mengucapkan terimakasih kepada semua staffnya, siapapun itu.
Hal itu juga didikan dari Ayah Bramantya, apapun status dan posisi seseorang, saat dia sudah berbuat sesuatu untuk kita. Kita harus mengucapkan terimakasih kepada dia. Begitu juga sebaliknya siapapun dia, kalau kita yang salah, maka kita wajib meminta maaf kepada dia.
"Ayuk jalan. Semua pakaian kita sudah di dalam mobil. Kita bisa pergi ngaso ngaso sambil perawatan. Kapan lagi kan ya, kita bisa pergi perawatan bertiga. Waktunya jarang pas." ujar Dian.
Mereka bertiga memang jarang bisa pergi perawatan bertiga, karena waktu pekerjaan mereka yang menuntut mereka tidak bisa untuk bertemu bertiga. Kadang saat dua orang yang bisa satu tidak bisa, malahan pernah berdua yang tidak bisa. Makanya sekarang moment yang paling tepat untuk mereka menghabiskan hari bertiga di meja perawatan salon milik Dian
Ketiga wanita cantik itu yang juga cocok untuk menjadi model berjalan keluar dari dalam buruk milik Dian. Mereka masuk ke dalam mobil. Dian yang bertindak sebagai sopir, mengemudikan mobil menuju salon miliknya yang pertama kali dia buka. Salon yang mereka kunjungi itu orang orangnya sudah berpengalaman dan juga sudah ikut beberapa kali latihan untuk perawatan tubuh.
"Jadi besok jam berapa loe menikah Deli?" tanya Dian sambil menyetir mobil.
"Gue juga belum tahu jam berapa. Kita tunggu dari Ayah aja nanti" jawab Deli dengan santainya.
"Oke. Kita tanya dengan Ayah dulu, bagaimana rencana Ayah dan Tuan Edwardo. Nanti kita ikut aja" ujar Deli yang sebenarnya malas memikirkan pernikahannya dengan Jero.
Deli masih memikirkan Demian yang hilang enta kemana sejak dua bulan yang lewat. Terakhir kali Demian berkomunikasi dengan Deli adalah meminta Deli untuk menunggu dirinya kembali dari negara A. Demian kala itu mengatakan hanya beberapa hari saja di negara A. Tapi kenyataannya sampai sekarang Demian sama sekali tidak pulang, sehingga membuat Deli kecewa dan memilih melupakan Demian dengan janji janjinya.
Dina dan Dian melihat Deli yang termenung di kursi bagian belakang sambil melihat keluar jendela. Mereka ingin bertanya, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi karena itu adalah privasi Deli sebagai seorang manusia yang berhak memiliki apa yang tidak harus di bagi kepada sahabat.
Dina dan Dian hanya bisa saling memandang.
"Demian" ujar Dina kepada Dian dengan gerakan mulut.
Dian mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dina. Memang Demian lah yang sedang dipikirkan oleh sahabat mereka itu.
__ADS_1
Dian menambah kecepatan mobilnya. Dian tidak mau Deli terlalu larut dalam pikirannya sendiri. Dian dan Dina ingin Deli melupakan Demian yang sama sekali tidak bertanggung jawab itu. Berjanji untuk pulang cepat ternyata sampe sekarang nggak pulang pulang.
Dian kemudian membelokkan mobilnya masuk ke dalam komplek salonnya yang sangat besar itu. Bangunan salon yang terdiri atas tiga lantai tersebut di bangun dengan gaya minimalis. Apapun jenjs perawatan yang diminta oleh pelanggan di sana ada semuanya.
"Ayuk turun kita udah sampe" ujar Dian mengajak Dina dan Deli turun dari dalam mobil
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam salon mewah itu. Siapa yang ke sana siap siap merogoh saku agak dalam sedikit dari pada salon biasanya.
"Selamat datang Nona Dian, Nona Dina, Nona Deli" sapa resepsionis.
Mereka bertiga mengangguk membalas sapaan dari resepsionis itu.
"Mau perawatan apa Nona?" tanya resepsionis.
"Aku dengan Dina perawatan sebatang tubuh" ujar Dian.
Resepsionis mencatat perawatan apa yang aka dilakukan oleh Dian dan Dina.
"Sedangkan Deli perawatan penganten" ujar Dian menyebutkan jenis perawatan untuk Deli.
Tiga orang yang akan melayani tiga Nona muda itu datang untuk mengarahkan mereka bertiga ke tempat melakukan perawatan. Perawatan yang kali ini akan menghabiskan hari hari mereka sampai menjelang waktu maghrib.
Mereka bertiga menikmati perawatan yang diberikan oleh karyawan salon tersebut. Hingga tak terasa semua langkah langkah perawatan telah mereka laksanakan sampai terakhir.
"Terimakasih ya" ujar Deli kepada karyawan yang memberikan terapi kepada Deli. Deli tidak lupa memberikan tips kepada karyawan.
"Jangan Nona, kami dilarang menerima ini" ujar karyawan.
"Saya tanggung jawab" ujar Deli.
__ADS_1
Karyawan kemudian mengambil tips yang diberikan oleh Deli. Setelah itu mereka bertiga kemudian masuk lagi ke dalam mobil. Kaki ini Dina yang mengemudikan mobil untuk pulang kembali ke rumah Dian. Mereka akan menginao di sana malam ini, karena besok adalah hari terpenting bagi salah satu sahabat mereka yaitu Deli.