Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 94


__ADS_3

"Tuan Jero, Tuan Felix, saya permisi masuk ke dalam kamar dulu ya. Saya mau mandi sebentar. Badan saya sepertinya sudah lengket lengket karena sudah seharian tidak mandi" ujar Dina kepada Jero dan Felix.


"Silahkan Nona Dina" jawab Jero yang tidak mungkin melarang Dina untuk mandi.


"Terimakasih Tuan Jero" jawab Dina.


"Oh ya silahkan duduk dulu" ujar Dina saat mereka telah sampai di ruang tamu kembali.


Dina kemudian berjalan menuju kamarnya. Mulut Dina tidak berhenti menyunggingkan senyum devil nya saat meninggalkan Jero dan Felix di ruang tamu. Dina akan pergi ke kamar untuk membersihkan badannya terlebih dahulu.


Dina berencana untuk meninggalkan mereka dalam waktu yang cukup lama di sana. Dina ingin melihat seteguh apa Jero dan Felix menunggu dirinya di ruang tamu.


"Rasain gue kerjain. Makanya ngomong mikir. Ini nggak ngasal aja. Gue sih udah maafin tapi ya masih tetap kesallah" ujar Dina sambil berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai tiga mansion mewah milik keluarga Kusuma Wijaya.


Dina sengaja tidak menggunakan lift yang ada di mansion nya itu. Dia sengaja berjalan kaki agar menghabiskan waktu yang lama. Jadi, Jer dan Felix akan kesal menunggu dirinya selesai membersihkan badan.


Jero duduk dengan tenang sambil menata kata kata dan kalimat kalimat yang akan dikatakannya kepada Dina. Jero memilih kosa kata yang akan digunakan oleh dirinya. Dia nggak mau salah ngomong lagi. Salah ngomong yang bisa berakibat fatal terhadap kelangsungan perusahaannya.


Sedangkan Felix berdiri dari duduknya, dia kemudian melihat foto foto yang ditempel di dinding mansion. Semua fhoto di sana adalah fhoto Dina dengan Juan saat sudah besar. Tidak ada satupun fhoto orang tua ataupun fhoto masa kecil Dina dan Juan terpajang di sana.


"Keluarga ini benar benar menyembunyikan siapa mereka." ujar Felix dengan pelan.


"Tak satupun foto dan nyonya besar mereka pajang di ruang tamu. Hanya ada fhoto Dina dan Juan saja" lanjut Felix sambil tetap melihat fhoto fhoto yang dipajang di dinding mansion.


Dina yang telah selesai membersihkan badannya dan juga sudah memakai pakaian, berjalan menuju ruang tamu. Dina sengaja berjalan dengan sangat pelan. Fokus mata Dina kepada Felix yang sedang berdiri dan melihat lihat fhoto dirinya dengan Juan.


"Ehm" ujar Dina berpura pura batuk dan memberikan kode kepada Jero dan Felix.


Felix yang sedang fokus melihat fhoto Dina dan Juan kembali duduk ke sofa sebelah Jero. Dina duduk di sofa tunggal yang ada di paling ujung. Dina melihat ke arah Jero dan Felix.


"Ada apa ya kedua Tuan Muda Edwardo sampai harus datang ke mansion sederhana saya ini" ujar Dina dengan nada formal menyapa Jero dan Felix.

__ADS_1


Dina sudah melupakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Jero tadi pagi. Tetapi, Dina hanya ingin memberi efek jera saja kepada kedua Tuan Muda keluarga Edwardo itu agar mereka sadar kalau yang mereka lakukan itu sangat tidak beretika.


Jero dan Felix saling memandang. Mereka tidak menyangka aura Dina akan membuat mereka menjadi ragu untuk mengutarakan apa yang mereka rasakan.


"Kok jadi pada diam semua?" tanya Dina menatap kepada Jero dan Felix bergantian.


"Dina, sebelumnya saya minta maaf kepada kamu tentang masalah ucapan saya kepada Deli." ujar Jero yang pada akhirnya membuka mulutnya untuk meminta maaf kepada Dina.


"Saya tidak ingin permasalahan ini merembet kemana mana. Makanya saya minta maaf kepada kamu" lanjut Jero kepada Dina.


Dina diam mendengar semua perkataan Jero yang setiap kata kata yang disampaikan oleh Jero terkesan dipilih pilih dan sangat dipertimbangkan.


"Jadi sebenarnya begitu Tuan Jero. Saya minta Tuan Jero tidak meminta maaf kepada saya, melainkan kepada sahabat saya Tuan Jero. Sahabat saya yang telah Tuan Jero kecewakan perasaannya" ujar Dina menjawab permintaan maaf dari Jero.


"Saya secara pribadi tidak ada masalah dengan Tuan Jero" lanjut Dina


"Secara perusahaan juga tidak ada. Saya sudah kembali melakukan kerjasama dengan perusahaan Tuan" ujar Dina.


"Tuan Jero, anda harus meminta maaf dan mengucapkan terimakasih kepada sahabat saya itu. Dialah yang membuat saya mau kembali melakukan kerjasama dengan perusahaan Anda" lanjut Dina mengutarakan kepada Danu siapa yang telah membuat dia mau mengubah pikirannya.


"Jadi, saya harap kamu bisa memperlakukan semua karyawan kamu dengan hormat. Jangan pernah memandang mereka dengan pandangan sebelah mata. Kalau tidak ada mereka, kita juga tidak akan bisa seperti ini. Mereka yang membuat kita bisa menjadi seperti ini. Tanpa mereka kita tidak akan menjadi apa apa" ujar Dina kepada Jero dan Felix.


"Tidak selamanya orang di bawah kita kedudukannya tidak berguna bagi kita" lanjut Dina.


Dina kemudian memilih untuk diam. Dina melihat reaksi dari Jero dan Felix. Dina tidak mau mereka berdua salah sangka dengan apa yang dikatakan oleh dirinya tadi.


"Maaf ya Tuan Jero, Tuan Felix kalau saya sudah mengajari Tuan." ujar Dina.


"Tidak apa apa Nona Dina. Kami tidak marah sama sekali, malahan kami cukup senang dengan ucapan dari Nona Dina." jawab Jero dengan ramah.


"Kekurangan kami memang itu, kami jarang menghargai karyawan kami" lanjut Jero.

__ADS_1


"Baiklah Dina, rasanya semua permasalahan kita sudah selesai. Kalau begitu kami izin pulang dulu" ujar Jero sambil berdiri dari duduknya.


"Baiklah Tuan Jero. Tolong kirimkan kembali ke perusahaan saya salinan kontrak kerjasama kita" kata Dina meminta kembali salinan kerjasama kedua perusahaan mereka.


"Akan saya kirimkan kembali Nona Dina" jawab Jero.


"Terimakasih Tuan Jero. Senang bekerja sama dengan Anda" ujar Dina sambil menjabat tangan Jero dengan kuat dan erat.


"Sama sama Nona Dina." jawab Jero.


Jero kemudian berjalan keluar dari mansion Dina. Felix menatap Dina lama. Dina membalas tatapan yang diberikan oleh Felix.


"Apa kita bisa berbicara berdua?" tanya Felix kepada Dina.


"Boleh" jawab Dina sambil mengangguk setuju untuk berbicara dengan Felix.


"Bentar" ujar Felix yang langsung berlari keluar mengejar Jero dan mengatakan kalau Jero lebih baik pulang duluan.


Setelah mengatakan hal itu. Felix kembali masuk ke dalam mansion. Dia melihat Dina sudah duduk di sofa ruang tamu.


Dina yang melihat Felix sudah kembali ke dalam mansion, langsung berdiri dari duduknya.


"Kita bicara di ruang keluarga saja" ujar Dina mengajak Felix untuk masuk ke dalam area ruang keluarga. Suatu area yang tidak pernah bisa siapapun untuk masuk ke dalam sana tanpa persetujuan dari Dina maupun Juan.


Dina dan Felix berjalan menuju ruang keluarga. Felix menatap beberapa fhoto yang terpasang di dinding mansion, serta lukisan lukisan indah dari beberapa pelukis terkenal.


'Rumah yang indah' ujar Felix dengan nada kagum saat melihat semua yang disajikan di rumah itu.


"Silahkan duduk" ujar Dina kepada Felix.


Dina duduk di sofa yang muat hanya untuk satu orang. Felix kemudian duduk di sofa sebelah Dina duduk.

__ADS_1


__ADS_2