Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 62


__ADS_3

'Aku adalah wanita paling bahagia di atas dunia ini untuk hari ini dan selanjutnya' ujar Dina dalam hatinya. Dina benar benar dan sangat sangat bahagia hari ini. Cinta yang hampir kandas sudah kembali bersemi. Dina tidak jadi kehilangan cinta sejatinya itu Hal yang paling ditakutkan Dina semenjak dari negara J. Untung saja semua itu tidak terjadi.


'Saatnya aku menggenggam kebahagiaan itu lagi. Sudah cukup derita selama ini. Semoga Felix bisa membuat aku bahagia. Aamiin' ujar Dina berdoa dalam hatinya. Dina akan menggaoai kebahagiaannya itu. Dina akan mengusahakan semua cara untuk bisa bahagia.


'Aku laki laki yang paling beruntung di dunia, bisa mendapatkan seorang wanita yang telah menyelesaikan salah satu ujiannya. Ujian terberat yang belum tentu bisa dilalui oleh semua orang. Aku bangga dengan dia' ujar Felix dalam hatinya dan melirik wajah Dina sekilas. Wajah wanita yang untuk pertama dan untuk terkahir membuat dia jatuh cinta dan ingin memiliki serta menjaga dengan jiwa dan raganya. Wanita kedua dalam hidup Felix paling berharga setelah Mami.


Mobil terus bergerak menuju kafe Bunda. Felix mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang. Dia tidak ingin berpisah cepat dengan kekasih nya itu. Felix ingin berlama lama dengan Dina. Berlama lama dengan pujaan hati yang kembali didapatkannya.


Dina merasakan kalau Felix tidak ingin cepat sampai ke kafe Bunda. Dia juga tidak ingin berpisah cepat dengan Felix.


"Kita ke mall dulu yok sayang. Aku mau beli sesuatu untuk Deli dan Dian" ujar Dina kepada Felix yang berusaha mengulur waktu mereka berpisah.


"Mau beli apa sayang?" tanya Felix kepada Dina. Felix melihat Dina hanya alasannya saja meminta untuk ke mall.


"Kami udah lama banget nggak beli baju dengan model dan warna yang sama. Kebetulan hari ini aku sedang bahagia, jadi aku akan memberikan hadiah untuk kedua sahabat aku itu, bolehkan sayang?" tanya Dina kepada Felix. Dina tidak tau lagi harus memberikan alasan apa kepada Felix. Akhirnya Dina memakai alasan klise itu kepada Felix.


"Boleh sayang, mari kita pergi membelinya. Kapan lagi kan ya, kamu pergi membelikan pakaian untuk sahabat kamu dengan pria setampan dan sekeren aku" ujar Felix sambil tersenyum kepada Dina. Felix sangat suka menggoda dan menjahilu Dina, apalagi Felix sangat tau kalau Dina tidak suka Felix berbicara dan bersikap sombong.


"Mulai sombong" ujar Dina berbicara ketus dan memperingatkan Felix untuk tidak sombong.


"Dikit boleh sayang, banyak jangan" ujar Felix menjawab perkataan Dina.


"Sama aja. Sama sama sombong juga kok ya" lanjut Dina yang nggak mau kalah dari Felix.


"Hahahahahaha. Sabar sayang. Dina jangan marah marah, nanti Dina cepat tua. Felix setia orangnya, yang penting Dina pacarnya" Felix mengcover asal asalan lagu yang sedang viral itu.


"Sayang, lagu nggak boleh ngasal. Marah nanti orang yang punya lagu" ujar Dina menegur Felix. Felix seenak hatinya saja mengubah lirik lagu yang sudah ditulis pengarangnya dengan mengerahkan semua kosa katanya itu.


"Dia nggak denger sayang" jawab Felix kepada Dina


"Tapi dia baca" lanjut Dina, yang tidak mau Felix bersikap sesuka hatinya saat menyanyikan lagu. Felix harus bisa menghargai karya orang lain. Bukan malah seenak hatinya saja menukar nukar lirik lagu orang dengan lirik yang disukainya.


"Penulis lagu, maafkan saya karena mengubah liriknya. Saya tidak ingat lirik yang Anda tulis. Jadi, tolong maafkan saya ya penulis lagu." ujar Felix sambil menatap Dina. Felix kembali menggoda Dina, kekasihnya itu yang selalu memiliki niat baik kepada setiap orang.


Dina hanya bisa geleng geleng kepala saja mendengar apa yang dikatakan oleh Felix kepada penulis lirik lagu yang ntah dimana berada sekarang.


"Kamu aneh sayang" ujar Dina menyuarakan apa yang dipikirkannya tentang Felix.


"Biarin aja aneh. Asalkan kamu tetap cinta ke aku sayang" ujar Felix menjawab perkataan Dina tadi.


"Cintalah masak ndak" jawab Dina sambil menowel pipi Felix.


"Mulai ya pegang pegang. Genit" ujar Felix sambil menatap Dina dengan tatapan aneh.

__ADS_1


Dina mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Dia tidak mau Felix berpikiran aneh aneh. Felix melihat semua itu.


"Tenang sayang, sebelum nikah nggak akan aku apa apain" ujar Felix sembari memegang tangan Dina kembali.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan mall terbesar di ibu kota. Felix membelokkan mobilnya masuk ke parkiran mall.


"Kita lama atau gimana sayang?" tanya Felix kepada Dina.


"Bentar sayang" jawab Dina.


"Oke"


Felix kemudian memarkir mobilnya di parkiran atas bukan di basement mall. Felix dan Dina kemudian turun dari dalam mobil. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam mall tersebut.


"Kemana sayang?" tanya Felix kepada Dina.


"Ke toko G aja sayang. Kami biasanya kalau memakai pakaian kembar tiga ya beli di sana" jawab Dina yang memang selalu membelikan kedua sahabatnya pakaian merk itu.


Felix dan Dina menuju toko G yang berada di lantai dua mall. Mall begitu ramai sore ini. Beberapa pengunjung terlihat melirik ke arah Felix untuk pengunjung mall yang berjenis kelamin wanita. Sedangkan yang berjenis kelamin pria, mereka memandang Dina tanpa berkedip.


"Ini malesnya ke mall. Mereka tidak membiarkan kita lewat dengan nyaman. Ntah kenapa mereka harus memperhatikan kita terus. Padahal wajah kita nggak berubah dari kemaren kemaren." ujar Dina yang kesal karena dijadikan pusat perhatian oleh para pengunjung mall.


Hal ini merupakan hal paling mendasar yang membuat Dina malas masuk mall di negara ini. Kalau di negara luar, mau secantik apapun, pengunjung mall tidak ambil pusing. Kecuali yang cantik itu adalah selebritis di negara mereka. Barulah menjadi pusat perhatian para pengunjung mall.


Dina terdiam, dia mencerna setiap perkataan dari Felix tadi. Perkataan yang bisa diartikan kakau Felix hanya untuk dia seorang. Baik perhatian maupun hal lainnya. Dina sangat senang dengan ucapan Felix itu. Dia menjadi wanita satu satunya setelah Mami yang akan diprioritaskan oleh Felix.


"Bener juga ya sayang, aku capek ngomel, yang mereka akan tetap memperhatikan kita. Jadi ya aku akan menikmatinya saja sayang. Itung itung terkenal walaupun tidak jadi artis." ujar Dina berkata sambil tersenyum kepada Felix.


"Nah itu tau, jadi cuekin aja. Karena cuek lebih indah dari pada ngomel" ujar Felix menyambung perkataan Dina tadi.


Mereka berdua akhirnya sampai di toko G. Felix dan Dina masuk ke dalam toko tersebut. Para pelayan yang tau siapa yang datang ke toko mereka langsung menyambut kedatangan Felix dan Dina dengan sangat sangat ramah. Dlam pikiran mereka, manusia ratusan juta datang, harus dilayani dengan sangat sangat ekstra.


"Selamat sore Tuan Felix dan Nona Dina. Selamat datang di toko kami. Ada yang bisa kami bantu?" ujar salah satu supervisor yang sudah sering melayani Felix dan Dina saat berbelanja di sini.


"Aku mau lihat pakaian untuk wanita keluaran terbaru, tapi untuk tiga orang. Ukuran medium" ujar Dina menyebutkan apa yang sedang dicarinya di toko barang barang branded tersebut.


"Mari ikut saya Nona, akan saya tunjukkan dimana tempatnya. Nona akan sangat puas memilih pakaian yang mana yang mau Nona beli" ujar supervisor mengajak Dina menuju tempat pakaian pakaian di gantung.


"Sayang, kamu ikut atau gimana?" tanya Dina kepada Felix.


"Kamu aja sayang. Aku mau lihat lihat yang lain dulu" ujar Felix yang memberikan kebebasan kepada Dina untuk memilih pakaian yang disukainya.


"Tapi" ujar Dina yang ragu dengan keinginan Felix.

__ADS_1


"Sayang, kalau pakaian itu untuk kamu pakai sendiri, maka aku akan memilihkan untuk kamu. Tapi ini akan kamu pakai bareng kedua sahabat kamu. Maka lebih baik kamu aja yang memilihnya" uajr Felix yang paham dengan maksud keberatan Dina.


"Oh oke sayang. Aku Terima alasannya kalau itu. Tapi kalau pakaian itu untuk aku, kamu harus memilihkannya untuk aku. " ujar Dina berkata kepada Felix.


"Asiap. Kalau kamu yang make, pasti aku yang akan pilihkan" ujar Felix yang tau keinginan dari Dina.


Dina kemudian mengikuti supervisor yang akan melayani dia hari ini. Dina kemudian melihat lihat pakaian yang ada di sana. Dina melihat semuanya dengan seksama, Dina tidak mau asal memilih pakaian saja. Dia harus yakin kalau Deli dan Dian juga menyukai pakaian piliha dirinya.


Setelah memilih beberapa lama, akhirnya Dina menjatuhkan pilihan kepada dress di atas lutut berwarna biru muda. Warna yang sangat cantik dipakai mereka bertiga.


"Sayang udah" ujar Dina saat dia sudah bersama Felix lagi.


"Ayuk ke kasir" ujar Felix mengajak Dina untuk membayar semua yang telah dipilih oleh Dina. Felix melihat jam sudah lewat dari jam pulang kantor. Felix teringat Jero yang tidak membawa mobil tadi saat pergi dari mansion. Felix harus menjemput kakak nya itu kembali ke kantor setelah mengantarkan Dina ke kafe Bunda.


Kasir kemudian menghitung belanjaan Dina. Setelah selesai menghitung, kasir memutar layar monitor menghadap ke arah Dina. Belanja yang lumayan mahal dikeluarkan Dina hari ini untuk membeli pakaian bagi dirinya dan kedua sahabatnya.


Felix mengeluarkan black card miliknya.


"Sayang, kamu hanya boleh membelikan aku. Bukan sahabat sahabatku" ujar Dina kepada Felix.


Dina mengambil black card milik Felix. Kemudian Dina mengeluarkan miliknya sendiri. Kasir menscan kartu Dina untuk menyelesaikan pembayaran tiga potong pakaian wanita itu.


"akhirnya selesai. Mari kita pulang sayang" ujar Dina sambil membawa dua paper bagian. Sedangkan yang satu lagi dibawa oleh Felix.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil. Felix melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju kafe Bunda. Berhubung bertepatan dengan jam kantor, maka jalanan sudah ramai dan membuat sedikit kemacetan di jalan utama. Hal ini membuat Felix tidak bisa lagi melaju lebih kencang.


Tak terasa mereka telah sampai di kafe Bunda. Felix memberhentikan mobil tepat di pintu masuk kafe.


"Sayang aku nggak singgah ya. Aku harus menjemput Jero lagi ke perusahaan. Nggak apa apakan?" tanya Felix kepada Dina.


"Nggak apa apa sayang. Dari pada tu Tuan Muda jalan kaki pulang" ujar Dina sambil tersenyum kepada Felix.


Dina mengambil semua barang barang miliknya. Felix mengecup puncak kepala Dina. Dina kemudian turun dari mobil. Setelah memastikan Dina sudah berdiri di depan Kafe, barulah Felix pergi meninggalkan kafe untuk kembali menuju perusahaan menjemput Jero.


Dina kemudian masuk ke dalam kafe. Dia ternyata sudah ditunggu oleh Deli dan Dian serta Bunda yang juga kepo.


"Dina sini" ujar Deli memanggil Dina dengan nada penuh ketidaksabaran mendengarkan cerita Dina.


"Sabar buk" ujar Bunda menegur Deli yang terlihat sangat ingin Dina cepat sampai ke tempat mereka.


Deli tersenyum saat ditegur oleh Bunda. Dia ternyata memang sudah terlalu semangat untuk mendengar apa yang diceritakan oleh Dina nantinya. Seharusnya dia bersabar dan tidak menyuruh Dina bergegas gegas. Apalagi barang yang dibawa Dina cukup banyak ditangannya.


Dina berjalan kesana menuju kursi dimana Bunda, Deli dan Dian duduk. Dina sudah yakin akan diintrograsi oleh ketiga wanita cantik itu. Dina pasti akan menjawab dan menceritakan sesuai dengan apa yang dialaminya hari ini. Hari teristimewa dalam hidupnya setelah hari kelam di negara J.

__ADS_1


__ADS_2