
Kirana tersenyum lebar, dia sangat paham dengan semua ucapan Fahad yang terus memaksanya untuk menerima lamarannya dengan cara apapun termasuk dengan cara dan alibi bila itu semua permintaan Anna.
"Aku akan memberikan pengertian kepada Anna, bagaimana aku akan bilang kepada Anna, bahwa dedek bayi ini sudah memiliki Papa, dan itu bukan kamu Fahad," ucap Kirana tegas.
Fahad menyimak dan nampak sedikit berpikir. Dahinya dikerutkan seolah memikirkan sesuatu hal yang sedikit berat.
"Jika Anna memaksa, sifat anak-anak itu kan pemaksaan dan harus dituruti," ucap Fahad pelan masih fokus menyetir. Dalam hatinya ingin tertawa mencecar berbagai pertanyaan kepada Kirana hingga ibu hamil tersudut dan tidak bisa menjawab lagi.
Kirana memutar kedua bola matanya dengan malas. Dirinya seolah memang sedang di kerjain oleh Fahad Dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan hingga Kirana merasa dilema dan tidak punya pilihan lain untuk mengambil keputusan.
"Ini sebenarnya pertanyaan Anna atau pertanyaan kamu, Fahad?" tanya Kirana pelan. Kirana sudah kesal, selama seminggu ini, memang Fahad selalu saja memberikan pertanyaan yang sama dan tidak pernah bosan mempertanyakan itu semua walaupun selalu dijawab dengan jawaban yang sama.
Fahad menoleh sekilas ke arah Kiran dan tersenyum lebar.
"Aku suka bila melihatmu jengkel seperti itu. Kecantikanmu makin terpancar, Kirana," ucap Fahad tertawa pelan.
Mobil Fahad sudah masuk ke salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar di kota itu. Hari ini memang Fahad ingin mengajak Anna untuk menikmati masa liburannya bersama Fahad, tentunya mengajak Kirana atas permintaan Anna.
"Kita jalan-jalan dulu, baru makan ya?" ucap Fahad pelan kepada Kirana.
Kirana mengangguk pelan dan membuka pintu untuk turun. Fahad sudah membangunkan gadis kecilnya untuk segera turun dan bermain di tempat yang diinginkan.
"Sudah sampai Pah?" tanya Anna pelan sambil mengucek kedua matanya.
"Sudah, yuk, itu Mama Kirana sudah menunggu di depan," ucap Fahad menjelaskan.
Anna menengok ke arah samping, memang Kirana sudah menunggu di luar mobil. Anna membuka pintu mobil itu dengan pelan dan menampilkan senyuman terlucunya khas anak-anak yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Mama Kiran!!" panggil Anna dengan suara agak keras sambil mengangkat tangannya untuk meminta di pegang.
__ADS_1
Kirana tersenyum lebar lalu meraih tangan Anna dan menggandeng gadis kecil dengan penuh kasih sayang.
"Kita mau kemana dulu?" tanya Kirana kepada Anna yang sudah bergandengan tangan menuju pusat perbelanjaan itu. Fahad hanya berjalan di belakang kedua perempuan berbeda usia yang sangat disayanginya itu.
"Cari mainan? Atau mau main di tempat bermain ya?" tanya Anna kepada dirinya sendiri.
Kirana menatap Anna dan tersenyum manis.
"Bingung ya, kita masuk dulu aja. Nanti mau apa, itu yang kita pilih," ucap Kirana menyarankan.
Anna mengangguk pelan menyetujui saran Kirana sambil tersenyum lebar yang tiada henti dari wajahnya. Perasaan anak kecil itu begitu bahagia, hatinya sangat bahagia berada diantara kedua orang tua yang diinginkan bersatu itu.
Kirana diam-diam memperhatikan gerak gerik Kirana sambil tersenyum manis. Ada perasaan puas melihat gadis kecil itu begitu meluapkan perasaan emosi bahagianya.
"Kamu senang Anna?" tanya Kirana lembut saat kedua mata Anna begitu takjub masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang sangat besar itu lengkap dengan semua yang ada.
Anna menatap Kirana dengan senyuman yang tidak pudar dan menganggukkan kepalanya tangannya bahagia sekali.
Kirana menatap sendu pada wajah Anna. Kirana lalu berjongkok di depan Anna.
"Anna berdoa saja, semoga Anna cepat mendapatkan Mama yang baik buat Anna," ucap Kirana lembut dan mengusap pipi gembil gadis kecil itu penuh kasih sayang.
Fahad hanya menatap komunikasi keduanya tanpa mengganggu apa yang sedang mereka bicarakan dari hati ke hati. Secara jujur, ada perasaan senang dari Fahad dengan mengajak Kirana, hidupnya pun kini terasa lengkap. Apa yang ada di diri Kirana semua yang diinginkan Fahad dari sosok perempuan yang ingin di jadikan istri olehnya.
Pertanyaan Anna mewakili perasaannya dan pertanyaannya juga. Selama ini, Fahad sudah berusaha maksimal untuk menaklukan cinta Kirana Dengan bersabar. Namun, Kirana tetpalah Kirana yang masih memikirkan suaminya dan keadaan suaminya yang berada jauh disana.
"Anna ingin Mama Kiran dan hanya Mama Kiran yang boleh dekat dengan Papa, tidak ada yang lain," ucap Anna dengan suara lantang. Anna melepaskan penmgangan tangan pada Kirana dan berlari ke arah Papa Fahad yang ada di belakangnya.
"Anna!! Mama Kiran hanya ingin kamu bahagia, Nak!!" ucap Kirana seidh saat Anna melepaskan tangannya dengan sedikit melempar.
__ADS_1
Fahad menatap Kirana dan memberikan kode untuk tidak bicara lagi. Perasaan Anna itu begitu sensitif dan sangat mudah tersakiti.
Kirana beranjak berdiri dan menghampiri Anna yang sudah berada di Gendingan Fahad.
"Maafkan Mama Kiran ya?" ucap Kirana pelan kepada Anna.
Anna hanya terdiam dan tidak memperdulikan Kirana.
"Sudah yuk, kita masuk saja sekarang," ucap Fahad pelan menengahi.
Mereka berjalan beriringan dengan Anna yang masih dalam gendongan Fahad dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Papanya itu.
Langkah kaki Kirana sangat pelan. Ada perasaan bersalah pada Anna. Seorang anak kecil yang menginginkan dan berharap Kirana menjadi Mamanya pun harus ditolak dengan pasti oleh Kirana.
Kirana tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya, lebih baik sakit di awal dan akhirnya terbiasa. Dari pada sudah terbiasa yang kemudian disakiti, itu lebih menyesal, kecewa dan terasa sakit.
Kirana hanya berusaha jujur dengan apa yang dirasakannya bukan hanya sekedar meluapkan apa yang ada di hati dan pikirannya.
"Maafkan Mama Kiran, Anna," ucap Kirana pelan sambil mengusap lembut kepala anak itu di gendongan Fahad.
Fahad bisa merasakan penyesalan Kirana yang begitu egois dengan dirinya sendiri tanpa bisa menyenangkan Anna, walaupun hanya dnegan kata-kata atau janji manis yang entah kapan bisa terealisasi atau bahkan tidak akan pernah sama sekali. Semua kemungkinan pasti ada, semua harapan pasti ada dan semua kekecewaan itu juga pasti ada, karena hidup itu seimbang dan berpasangan.
Anna tidak merespon sama sekali dan pura-pura memejamkan kedua matanya sambil mengalungkan tangannya di leher Sang Papa.
"Fahad, istirahat dulu disana. Perut Kirana sangat keram," ucap Kirana pelan sambil memegang perutnya yang terasa kencang dan sakit.
Wajah Kirana memang sedikit pucat dan lemas, hingga Anna pun menegakkan tubuhnya dalam gendongan Papa Fahad.
"Ayok Kirana, maaf aku banti ya," ucap Fahad pelan sambil memegang lengan Kirana untuk menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Kirana memang lemah, saat pikiran melanda maka, keram adalah penyakit utma yang dirasakan saat kehamilannya ini.