
Keluarga besar Edwardo berkumpul malam ini dengan lengkap. Ke dua anak laki laki keluarga itu sudah kembali dari perjalanan ke negara A. Mereka sekarang akan menikmati makan malam, makan malam yang mulai hari ini akan dihadiri lengkap oleh seluruh anggota keluarga. Keputusan Papi dan Mami pindah kembali ke negara ini adalah keputusan yang paling tepat.
Makan malam kali ini menjadi makan malam spesial karena Mami sengaja memasak khusus makan malam dengan menu kesukaan masing masing anggota keluarga. Mami berkutat seharian di dapur untuk membuat menu makanan itu.
"Wow. Semua makanan favorit ada di meja makan." ujar Jero saat melihat semua menu makanan yang terhidang.
"Mami sengaja masak ini semua untuk menyambut kepulangan anak Mami dari luar negeri. Mami paham kalian capek dan lelah. Makanya Mami memasak semua makanan ini agar kalian makan dengan banyak." jawab Mami sambil tersenyum.
Papi yang baru selesai bersiap siap langsung menuju meja makan. Dia melihat semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana. Papi duduk di kursinya. Melihat Papi sudah datang, Mami mengisi piring papi dengan nasi. Mami juga mengisi piring Jero san Felix dengan nasi.
"Mau sambal apa Pi?" tanya Mami.
"Udang saus tiram sama cah kangkung Mi."
Mami mengambil sambal untuk Papi. Sedangkan Jero dan Felix mengambil sambal mereka masing masing.
Mereka makan malam dalam hening dan senyap. Nanti setelah makan malam saat mereka semua pindah ke ruang keluarga barulah mereka akan bercerita tentang perjalanan bisnis ke negara A dan tentang siapa sebenarnya kekasih Felix yang baru jadian tadi siang.
"Kalian capek?" tanya Papi.
"Nggak Pi. Kita akan tetap ke ruang keluarga. Kami berdua kangen dengan Papi dan Mami." jawab Jero yang sebenarnya kangen kepada kedua orang tuanya itu. Tetapi karena satu hal, membuat rasa kangen itu tertutupi dengan rasa kesal.
"Baiklah. Kita ke sana sekarang." ujar Papi.
Papi berjalan ke ruang keluarga diikuti oleh Jero dan Felix. Sedangkan Bunda pergi mengambilkan puding coklat yang baru dibuat sore tadi.
Mereka semua duduk dengan santai sambil menonton televisi dengan serial drama favorit Mami saat ini, yaitu olang olang putui.
"Jadi Jer, gimana dengan perjalanan bisnis kamu? Di luar perjalanan yang satu itu." ujar Papi.
"Perjalanan bisnis kemaren Jero berhasil Pi. Ditambah lagi Papi dan Mami tau siapa direktur utama perusahaan Wijaya Kusuma itu?" tanya Jero.
Papi dan Mami menggeleng.
__ADS_1
"Papi tau tapi sedikit." jawab Papi.
"Apa yang Papi tau?" tanya Jero.
"Pemilik perusahaan itu adalah sepasnag suami istri dengan memiliki satu putri yang kecil dari pada kalianlah umurnya." ujar Papi.
"Kemudian sepasang suami istri itu meninggal karena kecelakaan. Untung saja putri mereka satu satunya tidak ikut dalam kecelakaan itu. Jadi penerus mereka masih ada." lanjut Papi.
"Tapi Papi pernah nggak ketemu dengan wanita itu?" tanya Jero.
"Belum." jawab Papi.
"Kalau mau, Papi dan Mami bisa ikut kami besok. Kita akan lihat wanita itu." ujar Jero.
"Emang dia di sini? Bukannya di negara A?" tanya Papi dengan heran.
"Di sini Papi. Papi ikut aja besok." ujar Jero keras kepala.
"Oke oke. Kami berdua ikut besok." ujar Mami yang langsung menjawab Jero.
"Hah???? Masak ada syarat. Kayak mau ketemu siapa aja." ujar Mami.
"Iya Mami cantik. Kita ke sana tidak sarapan dulu. Karena kita kaan sarapan di situ. Mami dan Papi akan kaget dengan rasanya." ujar Jero.
"Lagian nanti saat Papi bertemu dengan pemilik tempat itu, Papi pasti akan ingat dan tau orangnya." ujar Jero.
"Kok Papi jadi penasaran denger cerita kamu Jer. Emang siapa pemiliknya?" tanya Papi
"Lagian apa hubungannya tempat itu dengan pemilik perusahaan yang kita bicarakan tadi." lanjut Papi yang gagal paham dengan apa yang diceritakan Jero.
"Pemilik perusahaan yang kita bicarakan itu sering tinggal di situ Pi." jawab Jero.
"Oh baiklah. Papi dan Mami ikut kalian berdua aja." jawab Papi yang akhirnya tidak mau banyak tanya lagi.
__ADS_1
"Papi, Papi kenal dengan perusahaan Bramantya?" tanya Jero yang ingat dengan nama belakang Deli asistennya.
"Bramantya?" ujar Papi berusaha mengingat nama perusahaan itu.
Lama Papi berpikir, apakah Bramntya yang dimaksud Jero adalah perusahaan yang bangkrut itu. Atau ada yang lainnya.
"Apa yang jatuh bangkrut itu yang kamu maksud Jer?" tanya Papi.
Jero mengangguk.
"Kok Papi tau mereka bangkrut?" tanya Felix.
"Jadi sebenarnya, sebelum perusahaan itu jatuh bangkrut mereka akan bekerjasama dengan perusahaan edwardo yaitu perusahaan kita ini." kata Papi memulai ceritanya.
"Jadi saat itu kita sudah hampir memenangi tender. Ternyata kita tidak jadi menang karena ada perusahaan teman dari Tuan Bramantya mengajukan kerjasama dengan alasan mereka membutuhkan kerjasama itu." lanjut Papi.
"Kemudian perusahaan kita mundur dari kerjasama itu. Bramntya akhirnya bekerjasama dengan perusahaan temannya. Tetapi ternyata perusahaan temannya itu tidak sebagus apa yang mereka presentasikan, singkat cerita Bramantya jatuh bangkrut dan dibeli murah oleh perusahaan yang mengaku sebagai sahabat itu." kata Papi.
"Itu makanya Nak, Papi berpesan kepada kalian berdua, jangan pernah percaya dengan yang namanya sahabat saat kita melakukan perjanjian bisnis. Kita harus belajar dari kisah perusahaan Bramantya." kata Papi.
"Bramantya adalah salah satu perusahaan terbesar yang berawal dari nol. Papi sangat salut dengan Bramantya. Tapi sayangnya, perusahaan itu harus jatuh kembali. Hingga tal bersisa." kata Papi dengan raut wajah sedih.
"Papi kenapa akhirnya memutuskan untuk kembali ke negara ini. Bukannya waktu itu pengen banget tinggal di negara B." kata Felix yang sangat ingin tau penyebab Papi dan Mami pindah kembali ke negara ini.
"Sebenarnya udah lama sekali ingin pindah kembali ke sini, tapi yaitu, saat itu Papi dan Mami rasanya pengen tetap tinggal berdua menikmati hidup berdua aja." kata Mami mulai bercerita.
"Nah ternyata dan ternyata, hidup berdua aja nggak asik. Terus malam kemaren, Mami ngomong ke Papi, mengajak Papi untuk kembali ke sini lagi. Saat itu Mami sangat ragu, Papi setuju dengan usul Mami. eeeee ternyata dan ternyata, Papi udah lama ngarepin Mami ngajak kembali ke sini." kata Mami.
"Akhirnya tanpa menunggu lama dan tidak menunggu ada yang berubah, Mami langsung mengepak baju dan menghubungi pilot untuk terbang ke negara B menjemput kami."
"Jadi bukan karena kangen kami berdua?" tanya Felix dengan nada sedih.
"Sebenarnya ya karena memang sangat kangen kalian. Apalagi kami berdua tau kalian belum menikah, jadi siapa yang merhatiin makan kalian. Makanya kami kembali." jawab Mami.
__ADS_1
"Oooo. jadi ada juga faktor kami." ujar Jero sambil tersenyum bahagia.
Mereka berempat melanjutkan cerita dengan topik topik ringan. Tepat pukul jam sebelas malam, mereka semua memilih untuk beristirahat. Mereka tidak ingin besok datang terlambat ke kafe sehingga makanan yang diincar Jero akan habis.