Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
188


__ADS_3

Satu tahun berlalu ...


Kirana sama sekali menghilang dari kehidupan Fahad. Ia hanya fokus pada kedai Hapsa, kuliahnya dan dua anak yang di asuhnya Ibra dan Syifa.


Sampai saat ini pun, Kirana tidak pernah rahu lagi kabar Syakir. Terakhir, satu tahun yang lalu Kirana mencari tahu tentang Syakir dan keberadaan suaminya itu yang sudah lama menghilang tanpa jejak.


Kirana ke kantor polisi dan melaporkan bahwa suaminya hilang. Suaminya pergi dan tak pernah kembali lagi.


Tapi ... Apa yang di dapat Kirana. Polisi mengatakan, Syakir sudah meninggal. Pernah ada betita tentang itu. Tapi buktinya sama sekali tidak kuat. Kirana mencari tempat penembakan Syakir dan mencari alamat rumah sakit di mana Syakir saat itu di rawat. Tapi semua itu hasilnya nihil. Tidak ada satu pun berita yang membahagiakan. Semuanya terkesan menyembunyikan sesuatu dan melempar jawaban dan pada akhirnya di katakan sudah meninggal. Pusaranya pun tak pernah ada. Lalu? Apa masih bisa di percaya berita omong kosong ini?


Kirana percaya dengan kata hatinya. Naluri sebagai istri mengatakan bahwa Syakir masih hidup. Syakir ada dekat dengan Kirana.


"Kalau pun aku masih berjodoh dengan Mas Syakir. Tentu ... Allah akan memberikan jalannya untuk aku. Tapi kalau memang takdir jodoh kita harus berhenti sampai di sini, Allah juga akan berikan melalui jalan yang begitu indah."

__ADS_1


Kirana duduk di ruang televisi sambil bermain dengan kedua anaknya yang berusia sama.


Keduanya sedang berlatih jalan. Ibra memang sudah lebih dulu bisa berjalan tegap di usia sebelas bulan. Sedangkan masih harus berpegangan dan merambat jika berjalan. Belum berani lepas tangan. Masih ada rasa takut dan trauma saat jatuh.


"Mbak ... Jadi ke taman gak? Promo kue tradisionalnya hari ini aja," tanya Maya pelan saat membawakan minuman jus dingin untuk Kirana.


"Jadi ... Kita bawa mereka sekalian biar bisa jalan - jalan terus makan malam di luar ya," ucap Kirana sambil.mengulum senyum.


"Siap bos cantik," jawab Maya pelan sambil Ibra dan Syifa bercanda.


Sore itu langit masih cerah sekali. Kirana dan Maya sudah berada di area taman bermain yang letaknya tak jauh dari apartemen tempat tinggal mereka.


Keduanya membawa stroller masing -masing dan mendorong balita yang ada di dalamnya.

__ADS_1


Syifa sangat manja dengan Kirana, bahkan ia tidak mau jika di gendong oleh orang lain termasuk Maya. Syifa hanya mai bersama Kirana saja. Maya yang sudah di kenal dan tinggal bersama saja suka tidak mau.


"May ... Kamu aja yang ke sana. Mbak Kiran tunggu di sana ya ...." ucap Kirana lebih memilih tempat yang sepi, adem dengan banyak tanaman dan air mancur karena konsepnya memang ingin mengajak kedua anaknya berjalan jalan menikmati udara sore hari dengan angin sepoi sepoi.


"Iya Mbak. Biar Maya antar dulu kesana. Kasihan Mbak Kiran harus bawa dua stoller," ucap Maya pelan.


"Boleh," jawab Kirana pelan.


Kirana dan Maya menuju tempat dekat aie mancur. Di sana ada beberapa kursi taman yang bisa di tempati sambil menikmati indahnya suasana taman.


Maya sudah kembali lagi menuju promosi kue tradisional kota itu. Maya ikut mengantri untuk membeli kue tradisional itu yang hanya ada satu tahun sekali. Mirip seperti moon cake.


Kirana menggendong Syifa dan menggandeng Ibra menuju kolam air mancur untuk memegang air jernih yang sangat dingin itu.

__ADS_1


Tatapannya beralih pada seorang laki -laki yang duduk dinsalah satu bangku taman memnadang ke arah jalan raya. Perawakannya mirip dengan lelaki yang selama ini ia rindukan.


Kirana berusaha melupakan hal iru dan fokus pada kedua anaknya. Mereka ceria dan tertawa khas balita yang senang dengan suasana di taman itu.


__ADS_2