Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 101


__ADS_3

Sudah seminggu lamanya, Mami menyusun rencana ini dengan sangat matang. Mami tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membicarakn dengan Jero dan melakukan eksekusinya. Mami membutuhkan banyak orang untuk menyelesaikan misinya kali ini. Misi yang amat sangat sulit yang harus dilakukan oleh Mami.


Mami yang sudah menyusun rencana itu dengan matang akhirnya memutuskan untuk pergi mendatangi perusahaan Jero. Mami mau membicarakan ide yang sudah dengan susah dipikirkan oleh Mami selama seminggu ini.


"Aku harus ke tempat Jero sekarang, untuk membahas rencana ini. Aku nggak mau Jero beranggapan kalau aku dengan Papinya tidak memikirkan apa yang dia inginkan" ujar Mami sambil mengambil kunci mobil miliknya.


Mani turun dengan sangat cepat ke lantai satu mansion. Dia melihat seorang maid sedang membersihkan meja makan.


"Maid, nanti kalau Tuan besar datang, tolong katakan saya pergi ke perusahaan Jero" uajr Mami meninggalkan pesan kepada salah satu maid nya itu.


"siap Nyonya besar" jawab Maid.


Mami kemudian masuk ke dalam mobil miliknya. Mami mulai mengemudikan mobil dalam kecepatan biasa menuju perusahaan Edwardo. Mami sudah tidak sabar lagi akan membahas masalah ini dengan Jero.


Mami yang telah memarkir mobilnya di parkiran biasa, langsung masuk ke dalam lift yang dikhususkan untuk keluarga pemilik perusahaan dan petinggi perusahaan.


Deli yang melihat lampu lift khusus itu hidup berpikir siapa yang datang.


"Siapa yang datang ya?" ujar Deli bertanya sendirian kepada dirinya sendiri.


Tinggal. Pintu lift terbuka. Terlihat Nyonya Edwardo berjalan ke luar dari dalam lift. Deli yang sedang berada di meja kerjanya langsung berdiri saat melihat Nyonya Edwardo datang.


Tiba tiba. Brugh. Mami jatuh pingsan di depan Deli. Deli yang melihat Nyonya besar pingsan langsung berteriak dan menendang pintu ruangan Jero.


"Tuan Jero, Nyonya besar pingsan" teriak Deli dengan begitu kuatnya.


Jero yang sedang duduk memainkan ponselnya, langsung berlari ke arah Deli saat mendengar suara teriakan dari Deli yang menggema dengan sangat kerasnya.


"Mami, Mami kenapa Mami" teriak Jero saat menyaksikan Mami yang terkapar di lantai.


"Deli kamu bisa bawa mobilkan?" tanya Jero menatap Deli.


Deli menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Kamu ambil kunci mobil milik saya di atas meja kerja sekarang" ujar Jero meminta Deli untuk mengambil kunci mobilnya di atas meja.


Deli berlari masuk ke dalam ruangan Jero. Dia mengambil kunci mobil milik Jero yang ada di atas meja.


"Ini Tuan" ujar Deli memberikan kepada Jero.


"Kamu yang bawa mobil. Biar aku yang gendong Mami ke lobby" ujar Jero dengan sangat panik.


'Maafkan Mami sayang. Mami terpaksa melakukan ini untuk bisa menikahkan kamu dengan Deli, segera' ujar Mami yang sangat merasa bersalah saat mendengar suara Jero yang sangat panik saat mengetahui Mami nya pingsan.


Jero dengan susah payah menggendong Mami yang berat itu ke lobby. Sedangkan Deli hanya bisa menatap tanpa bisa berbuat apa apa. Deli kemudian masuk ke dalam lift yang satu lagi. Dia akan menuju bestman untuk mengambil mobil.


Deli yang telah sampai di bestman, langsung saja mengambil mobil Jero. Dia mengemudikan mobil dengan langsung mengebut saja saat keluar dari bestman. Jero kemudian masuk ke dalam mobil dengan Nyonya besar.


"Rumah sakit harapan kita" ujar Jero menyebutkan rumah sakit milik keluarganya itu.


Deli kemudian langsung menginjak pedal gas agak dalam. Dia tidak mau terlambat mengantarkan Nyonya besar ke rumah sakit. Deli melihat Nyonya besar sama sekali belum sadar dari pingsannya.


"Mami baik baik saja. Kamu konsentrasi saja ke jalan. Jangan perdulikan keadaan Mami" ujar Jero meminta Deli untuk berkonsentrasi ke jalanan yang sedang ramai itu.


Deli memfokuskan dirinya ke jalan. Dia tidak mau kena hardik Jero sekali lagi.


Jero terlihat mengeluarkan ponsel miliknya. Dia harus menghubungi Papi memberitahukan kalau Mami akan dibawa ke rumah sakit.


"Hallo Pi" ujar Jero saat Papi mengangkat panggilan dari dirinya.


"Pi, Mami, aku bawa ke rumah sakit Pi. Mami tadi pingsan saat datang ke perusahaan" ujar Jero memberitahukan kepada Papi bagaimana keadaan Mami saat ini.


"Apa? Mami pingsan? Kenapa?" tanya Papi beneran kaget mendengar perkataan dari Jero.


"Nggak tau Pi. Sekarang aku dan Deli sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Harapan kita" ujar Jero memberitahukan kepada Papi kemana mereka akan membawa Mami.


"Oke sayang. Kamu tunggu Papi di sana saja. Papi akan langsung ke sana sekarang" ujar Papi.

__ADS_1


"Baik Pi" jawab Jero.


Jero kemudian memutuskan panggilannya dengan Papi. Jero memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya kembali.


"Mami, kenapa Mami sakit nggak ngomong sama Papi. Kata Mami, Mami baru akan pura pura sakit saat sudah memberitahukan kepada Jero. Kenapa jadinya Mami beneran sakit" ujar Papi yang sangat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Jero tentang keadaan Mami.


Papi menyambar kunci mobilnya. Papi berlari turun dari ruang kerja menuju mob yang diparkir di samping mansion.


Papi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Papi benar benar tidak tahu kalau Mami sedang dalam keadaan sakit.


"Ini pasti karena memikirkan permintaan dari Jero, makanya Mami jadi sakit kayak gini" ujar Papi yang kaget mendengar kondisi Mami.


Mobil yang dikendarai oleh Deli akhirnya sudah berbelok masuk ke dalam perkarangan rumah sakit harapan kita. Deli memberhentikan mobil di depan ruangan ICU.


"Tolong Nyonya besar Edwardo, pingsan" teriak Deli kepada semua orang yang berada di dalam ruangan ICU.


Perawat dan dokter langsung mendorong brangkar mereka saat mendengar ada yang sakit. Deli membukakan pintu belakang. Suster membantu mengeluarkan Nyonya besar Edwardo dari dalam mobil.


Mereka dengan cekatan mengantarkan Nyonya besar itu ke dalam ruangan ICU untuk diberikan tindakan.


"Tuan dan Nona silahkan tunggu di luar" ujar dokter yang memang sudah biasa menangani Mami kalau Mami sakit.


Dokter mulai memeriksa kondisi Mami di dalam ruangan. Dokter merasa sangat heran karena Mami dalam kondisi baik baik saja.


Mami memberikan kode kepada dokter yang memerikaa dirinya. Mami meminta dokter untuk mengusir suster keluar dari dalam ruangan itu. Dokter yang mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Mami, mengusir semua suster yang ada di sana.


"Ada apa Nyonya, kelihatannya penting" ujar Dokter sambil mendekat ke arah Mami.


"Bisa tolong saya? ini penting" ujar Mami sambil menatap ke arah dokter.


Dokter terlihat menimbang nimbang, apakah dia akan menolong Nyonya besar itu atau tidak. Tapi kalau tidak maka pekerjaan dia akan menjadi taruhannya. Dokter telihat sangat bimbang. Dia benar benar berada di pilihan yang sangat sulit kali ini.


Dokter cukup lama terdiam setelah mendengar apa yang diminta oleh Nyonya besar Edwardo kepada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2