Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 105


__ADS_3

"Papi, Tuan dan Nyonya Bramantya, saya ingin pernikahan ini secepatnya dilakukan. Saya tidak tahu hidup saya akan bertahan sampai kapan. Saya ingin melihat kedua anak ini menikah" ujar Mami dengan suara pelan.


Mami masih dalam mode dramanya. Sedangkan yang lainnya berdasarkan kenyataan.


"Hanya menikah saja Tuan dan Nyonya. Untuk acara resepsi, akan saya serahkan kepada Jero dan Deli kapan mau melaksanakan resepsi pernikahan mereka" lanjut Mami berusaha membujuk kedua keluarga besar itu agar mau segera melaksanakan pernikahan.


"Bagaimana Ayah?" tanya Bunda kepada Ayah sebagai kepala keluarga Bramantya.


Ayah melihat ke arah Deli. Deli mengangguk kepada Ayah. Deli benar benar memikirkan kondisi dari Nyonya Edwardo. Deli tidak ingin karena keegoisan dirinya bisa mengakibatkan Nyonya Edwardo menjadi kehilangan nyawanya. Deli sudah terbiasa mengalah demi kebaikan orang lain.


"Kalau menurut Nyonya Edwardo itu yang terbaik, maka kami akan mengikuti keputusan Nyonya." ujar Ayah menjawab pertanyaan dari Bunda sesuai dengan arahan dari Deli.


"Akhirnya. Saya cukup bahagia mendengarnya Guan dan Nyonya Bramantya. Terimakasih banyak karena sudah setuju untuk menikahkan Deli dengan Jero secepatnya" ujar Mami kepada Ayah dan Bunda.


"Besok akan Papi urus semua surat suratnya Mami. Jadi lusa Deli dan Jero bisa menikah. Untuk urusan resepsi, kita tunggu Mami sehat dulu" ujar Papi kepada Mami dan keluarga Bramantya.


"Tuan bisa saya meminta sesuatu?" tanya Deli yang memiliki permintaan kepada keluarga Edwardo dan Bramantya.


"Deli jangan panggil saya Tuan. Panggil Papi saja. Saya tidak lagi hanya sekedar pemilik perusahaan kamu bekerja. Tetapi sekarang saya adalah mertua kamu. Jadi panggik Papi. " ujar Papi kepada Deli untuk mengubah panggilannya kepada Tuan Edwardo.


"Baiklah Papi, maafkan Deli" ujar Deli menjawab perkataan Papi yang meminta Deli untuk mengubah panggilannya kepada Papi.


"Jadi, apa yang mau kamu minta kepada kami Deli?" ujar Papi bertanya kepada Deli apa yang ingin dimintanya tadi.


"Deli ingin pernikahan ini tertutup untuk kalangan keluarga saja. Saat pesta pernikahan terserah Mami dan Bunda" kata Deli mengutarakan keinginannya kepada dua keluarga yang sudah berkumpul itu.


Papi melihat kearah Mami, Ayah dan Bunda. Papi tidak bisa memutuskan sendiri apa yang diinginkan oleh Deli dikabulkan atau tidak. Papi butuh saran dan masukan dari yang lainnya.


"Setuju Papi. Aku setuju dengan Deli. Pernikahan kami dilakukan secara mendadak. Kalau orang luar tahu, mereka akan memiliki pikiran negatif ke Deli dan aku." ujar Jero menganalisa apa yang dikatakan oleh Deli dengan alasan yang ada di balik itu.


Papi dan yang lainnya saling memandang, mereka setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero.

__ADS_1


"Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero, Papi. Sebaiknya memang pernikahan ini tidak tersebar ke luar. Orang luar akan langsung memiliki pikiran negatif. Mereka tidak akan melihat dan mau mendengar bahkan mencari tau kenapa pernikahan ini bisa terjadi secara mendadak. Mereka hanya akan membenarkan kata kata dan kesimpulan mereka saja. Jadi, memang lebih baik kita simpan saja dari luar" ujar Ayah setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero tadi.


"Oke, kalau begitu, besok kita berdua akan langsung turun tangan mengurus semua surat suratnya. Lusa kita akan adakan pernikahan di sini kalau Mami belum keluar rumah sakit. Atau di rumah peristirahatan kami, kalau Mami sudah izinkan keluar rumah sakit" kata Papi mengutarakan dimana mereka akan menikahkan Jero dan Deli.


Ayah melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Tak terasa ternyata hari sudah larut malam.


"Papi, kami bertiga permisi untuk pulang dulu. Besok kita janjian bertemu dimana?" tanya Ayah yang tidak tahu akan bertemu dengan Papi dimana besok untuk mengurus surat surat pernikahan Jero dan Deli.


"Tunggu di kafe aja Ayah. Aku akan ke sana besok sambil sarapan" ujar Papi mengatakan mereka akan janjian bertemu dimana.


"Oke Papi. Aku tunggu di kafe" ujar Ayah setuju dengan tempat janjian dengan Papi.


"Mami, Deli pamit dulu ya. Cepat sembuh Mami" uajr Deli mengecup pipi calon Mami mertuanya itu.


Bunda melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Deli.


"Mami, kami permisi pulang duluan. Cepat sembuh Mami" ujar Bunda kepada Mami yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.


"Makasih Bunda. Hati hati pulang ya" ujar Mami kepada calon besannya itu.


"Sayang, apa kamu yakin akan menikah dengan Jero?" tanya Bunda kepada Deli saat mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah.


"Kenapa Bunda tanya hal itu Bunda?" ujar Deli yang tidak menyangka Bunda akan bertanya hal seperti itu kepada dirinya.


"Gimana Bunda nggak akan bertanya hal itu ke kamu sayang. Bunda tau kamu sedang dekat dengan Demian walaupun tanpa status. Bunda kira kamu akan menikah dengan dia sayang" ujar Bunda menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya dari tadi.


"Bunda Bunda. Aku memang dekat dengan Demian, tapi kami berdua dekat karena urusan pekerjaan saja Bunda." ujar Deli menjawab perkataan dari Bunda nya tadi.


"Lagian selama ini kami tidak pernah membicarakan tentang hubungan kami mau seperti apa Bunda. Jadi, saat Tuan Jero mengatakan kalau dia mau menikahi aku, makanya aku terima Bunda." lanjut Deli kepada Ayah dan Bunda nya tentang hubungan Deli dengan Demian.


"Usia aku semakin bertambah Bunda. Terlebih lagi aku tidak seperti Dina dan Dian yang bisa memikat hati pria. Aku lebih memilih dan langsung menerima pria yang datang meminta aku menjadi istrinya. Aku memang udah niat seperti itu dari dulu Bunda" lanjut Deli sambil melihat ke arah luar jendela mobil.

__ADS_1


Hari benar benar sudah gelap sekarang. Deli tidak menyangka mereka akan pulang seluruh malam ini benar ke rumah.


"Bunda apa Kak Hendri sudah tau dengan rencana pernikahan aku dengan Jero?" tanya Deli yang dari tadi tidak melihat adanya Hendri atau Hendri menelpon dirinya.


"Belum Deli. Tadi saat Papi menghubungi Ayah, Kak Hendri masih belum pulang dari perusahaan. Sehingga Ayah belum sempat memberitahukan kepada Kakak kamu itu" ujar Ayah memberitahukan kepada Deli kalau Hendri sampai sekarang belum mengetahui kalau Deli akan menikah dengan Jero.


"Sayang, lebih baik kamu sendiri yang memberitahukan kepada kakak kamu itu. Dari pada nanti saat kamu menikah dia tidak hadir karena ada meeting" ujar Bunda meminta Deli yang menyampaikan kepada Hendri kalau dia akan menikah dengan Jero lusa.


Deli terdiam cukup lama. Deli sibuk dengan pikirannya sendiri. Deli tidak tahu apakah akan mengatakan sendiri kepada Kakaknya atau akan meminta tolong supaya kedua orang tuanya saja yang memberitahukan kepada kakaknya itu.


"Hay sayang kenapa diam?" tanya Ayah saat melihat Deli yang terdiam saat mendengar apa yang diminta oleh Bunda tadi.


"Nggak ada dian Ayah. " jawab Deli sambil melihat ke Ayah dan Bunda nya yang duduk di depan.


"Biar Deli aja yang ngomong ke Kak Hendri, Dina dan Dian nanti. Lagian nggak mungkin juga Deli nggak ngomong ke mereka berdua. Bisa diamuk amuk Deli nanti" ujar Deli kepada Ayah dan Bunda nya itu.


"bener sayang, kamu harus memberitahukan kepada mereka kalau kamu akan menikah. Jangan sampai mereka tahu saat kamu akan mengadakan pesta pernikahan saja. Bagaimanapun Dina dan Dian sudah kita anggap bagian dari keluarga kita" ujar Ayah kepada Deli.


"Siap Ayah. Besok akan Deli omongin ke mereka berdua" ujar Deli saat mereka hampai sampai di kafe.


Saat mereka sampai di kafe, ternyata kafe sudah ditutup. Papi memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Dalam ga rase ternyata sudah ada mobil milik Hendri terparkir.


"Oh kak Hendri udah pulang. Berarti dia yang nutup kafe tadi" ujar Bunda kepada Deli dan Ayah.


"Bunda, aku langsung istirahat aja ya Bun. Besok pagi aku akan kasih tau ke kak Hendri. Kalau sekarang kakak pasti akan banyak tanyanya. Aku udah capek pengen isistirahat Bunda" ujar Deli kepada Ayah dan Bunda nya.


"Iya sayang besok aja. Hari juga sudah larut. Besok masih banyak pekerjaan menunggu kamu" ujar Bunda yang setuju kalau Deli memberitahukan kepada Hendri dan dua sahabatnya rencana pernikahan dia besok saja.


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat. Hari ini adalah hari terberar bagi Deli. Tiba tiba saja orang yang tidak pernah dekat dengan dirinya membawa dia untuk menikah. Satu hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Deli. Apalagi orang itu adalah Jero Edwardo yang notabene adalah bosnya di perusahaan.


Deli kemudian mengganti pakaian kantornya dengan pakaian tidur, dan membasuh wajahnya membersihkan dari make up yang telah dipakainya seharian ini. Wajah Deli terasa cukup gatal gatal karena memakai make up lebih dari dua belas jam.

__ADS_1


Setelah membersihkan wajahnya dan memenukar pakaiannya Deli naik ke atas ranjangnya. Dia akan beristirahat, Deli ingin menikmati hari hari terakhir dia berada di kamarnya ini. Kamar yang memiliki berjuta kenangan di dalamnya.


Deli mulai memejamkan matanya. Dia akan meninggalkan sejenak cerita pernikahan mendadak itu. Pernikahan yang terjadi karena keadaan Nyonya Edwardo mendadak terkena serangan jantung dan meminta Deli menjadi menantunya. Cerita yang serasa di cerita dongeng saja.


__ADS_2