Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 48


__ADS_3

Jero dan Felix juga telah selesai bersiap siap. Mereka berdua kemudian membuka pintu kamar dan melihat Deli dan Dina yang sudah menunggu di depan kamar mereka. Deli dan Dina bersandar ke dinding kamar.


"Udah dari tadi kalian berdua di depan kamar?" tanya Jero kepada Deli.


"Tidak Tuan, baru sekitar sepuluh menit" jawab Deli menjawab pertanyaan Jero.


Dina menendang kaki Deli. Dia protes mendengar jawaban dari Deli. Mereka sudah lumayan lama berada di depan kamar Jero dan Felix itu.


"Sakit tau. Loe kira kaki gue kayu main tendang aja" ujar Deli protes kepada Dina yang asal main tendang kaki saja.


"Sudah nggak usah ribut lagi. Mari kita pergi ke lounge." ujar Felik yang tidak ingin mendengar keributan antara Deli dengan Dina lagi.


Mereka berempat kemudian berjalan menuju lounge tempat mereka akan makan malam. Jero sudah mereservasi meja untuk mereka berempat.


"Jero, besok kita terbang jam delapan. Apa kamu bisa untuk terbang jam delapan?" tanya Dina saat mereka berada di dalam lift menuju lounge tempat mereka makan malam.


Mereka berempat kemudian masuk ke dalam lounge. Seorang pelayan datang menghampiri Jero dan tiga rekannya yang lain. Pelayan mengantarkan mereka ke meja yang sudah di reservasi oleh Jero.


"Silahkan duduk Tuan dan Nona" ujar Pelayan mempersilahkan Jero dan yang lainnya untuk duduk.


Mereka berempat kemudian duduk di kursi masing masing. Pelayan datang menghidangkan pesanan makanan yang telah dipesan oleh Jero tadi siang.


Mereka berempat kemudian makan dengan lahap hidangan makan malam tersebut. Dina makan dengan begitu santainya. Sekali sekali dia melihat ke arah Felix. Dina ingin memastikan apakah hubungan dirinya dengan Felix dalam keadaan baik baik saja, atau berada di jurang.


Sedangkan Deli makan dalam diam. Dia tau Dina sedang memikirkan hal hal jelek di otak cantiknya itu setelah dia menceritakan tentang semua kehidupan dan kejadian setelah kematian kedua orang tuanya itu.


Deli berharap tidak terjadi sesuatu yang fatal antara Dina dengan Felix. Deli tidak ingin sahabat terbaiknya itu menjadi bersedih kembali sama saat kehilangan kedua orang tuanya.


Jero dan Felix makan dengan santai, mereka berdua tidak berpikiran yang aneh aneh. Kalau Jero jelas yang dipikirkannya sekarang adalah ingin cepat cepat Mengeksekusi para penjahat di dalam perusahaannya. Sedangkan Felix dalam pikirannya hanya satu, dia akan terus bersama dengan Dina. Felix yakin, di balik sifat keras Dina ada perasaan lembut yang tersimpan di sana. Felix akan membentuk Dina memaafkan dengan tulus keluarga orang orang yang telah membunuh Papi dan Maminya. Felix tidak ingin Dina berada dalam keinginan balas dendam yang tak berujung itu.


Setelah selesai makan makanan hidangan pembuka dan menu utama, pelayan meletakan hidangan penutup yang berupa puding yang di siram saus maple di atasnya. Puding yang luar biasa terlihat enaknya itu. Deli dan Dina langsung saja memakan puding yang disajikan. Mereka berdua tidak bisa bertemu dengan puding, se kenyang apapun perut mereka, saat mereka melihat puding akan ada selalu tempat di dalam lambung mereka berdua.


"Jadi, Jero gimana dengan pertanyaan aku tadi?" tanya Dina kepada Jero.

__ADS_1


"Maaf Dina, aku lupa pertanyaannya. Apa tadi? " tanya Jero yang memang lupa apa pertanyaan dari Dina tadi.


"Huft" Dina melepaskan helaan nafas beratnya.


"Besok kata pilot Saya, kita berangkat jam delapan pagi. Apakah Anda bisa Tuan Jero yang baik hati?" tanya Dina kepada Jero yang melupakan apa pertanyaannya tadi.


"Jam delapan, bisa. Kenapa tidak." ujar Jero menyetujui untuk terbang jam delapan pagi dari negara J.


"Sip." jawab Dina sambil mengacungkan dia jempol tangannya ke depan wajah Jero.


Felix hanya bisa tersenyum aja melihat kelakuan Dina kepada Jero.


"Jero, ada apa dengan adik kamu, sekarang terlihat diam saja. Apakah dia lupa membeli makanan kesukaannya? Atau dia kecewa karena suatu hal?" tanya Dina kepada Jero sambil melirik ke arah Felix.


Jero menatap kearah Felix. Jero memang mengetahui Felix dalam keadaan aneh. Tetapi dia ragu ntah apa keanehan yang terjadi terhadap Felix.


"Kamu aja yang kekasihnya tidak tau dia kenapa, apalagi saya Din, makin nggak tau Felix ini sedang kesambet apa." ujar Jero yang memang nggak tau Felix kenapa sehingga bersikap aneh dari tadi siang.


"Sejak kapan dia aneh begini?" tanya Dina yang masih penasaran, apakah Felix menjadi seperti ini karena cerita Dina saat siang tadi. Atau memang udah dari pagi.


"Sepertinya dari siang saat kembali dari kamar kamu Din. Paginya sebelum ke sana Felix dalam keadaan biasa biasa saja. Malahan dia sempat membaca beberapa dokumen penting perusahaan" ujar Jero menjawab dengan jujur pertanyaan Dina tadi.


"Apa kamu tidak salah menilainya? Apa benar pagi tadi, dia dalam keadaan baik baik saja, tidak baiknya saat dia sudah kembali dari kamar saya?" tanya Dina kembali.


Dina sudah tidak fokus lagi dengan pilihan katanya yang dinilai sangat amburadul itu. Tetapi Dina tidak memperdulikan tata bahasa dan piliha kata katanya. Dina hanya ingin memastikan Felix berubah setelah balik dari kamarnya atau memang dari pagi.


"Baiklah Jero terimakasih."


Ucapan terimakasih dari Dina untuk Jero, berasal dari dalam hati Dina.


"Saya permisi terlebih dahulu Jero, Felix. Saya harus merapikan pakaian saya, karena kita akan berangkat pagi hari" ujar Dina beralasan untuk pergi dari hadapan Felix.


Dina kemudian berdiri dari kursinya. Deli juga ikut berdiri saat melihat Dina yang berdiri itu.

__ADS_1


"Loe sini aja Deli. Gue nggak apa apa sendirian" ujar Dina memberikan senyumannya kepada Deli.


Deli menatap Jero, Jero menggeleng. Saat itulah Dina langsung berjalan menuju kamar mereka. Felix terlihat akan mengejar Dina.


"Anda duduk" ujar Dina meminta Felix dengan nada normal untuk duduk kembali dan tidak mengikuti dirinya.


"Deli ikuti Dina" ujar Jero meminta Deli untuk mengikuti Dina ke kamar.


Deli mengejar Dina. Dina sudah menolak keinginan Deli, tetapi yang namanya Deli kalau sudah mendapat perintah dari bos nya pasti tidak akan menolak. Dina paham akan hal itu, makanya Dina mengizinkan Deli untuk menemaninya ke kamar.


"Ada apa Felix?" tanya Jero kepada Felix.


Jero sudah yakin sekarang, kalau Felix sedang ada persinggungan dengan Dina. Jero semakin yakin hal itu menjadi penyebab Felix diam karena Dina yang main pergi saja saat mendengar jawaban dari Jero.


Deli berhasil menyamakan langkahnya dengan Dina. Deli diam saja, dia tidak ada membuka pembicaraan apapun dengan Dina. Deli akan menunggu sampai Dina berbicara dengan dirinya.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam lift, Deli dan Dina tetap sama sama diam. Tidak ada yang memulai untuk berbicara satupun.


Sampai di dalam kamar Dina langsung masuk ke kamar dan mengunci dari dalam. Deli terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Dina.


Deli teringat dengan Dian, dia harus bertanya kepada Dian tentang apa yang harus dilakukannya terhadap Dina. Deli akan pusing sendiri nanti, makanya dari pada dia pusing, dia lebih memilih untuk menghubungi Dian.


Deli mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas tangan yang tadi di bawanya pergi makan malam. Deli mencari nomor Dian.


"Tu bocah masih bisa angkat telpon nggak ya. Hari udah malam banget di sana" ujar Deli berkata sendirian sambil tetap melihat nomor Dian yang sekarang sudah terpampang di ponselnya.


"Nggak gue telpon kasihan Dina." ujar Deli berkata sendirian.


Deli akhirnya memutuskan untuk menghubungi Dian. Dia tidak mungkin membiarkan Dina dalam keadaan seperti sekarang ini.


Deli melakukan panggilan video dengan Dian. Deli dengan sabar menunggu panggilannya diangkat oleh Dian. Setelah dua kali telpon masih tidak ada juga jawaban dari Dian.


"Loe kemana Dian" ujar Deli jengkel dengan Dian.

__ADS_1


" Udah dua kali gue telpon elo, tapi nggak ada jawaban sama sekali" lanjut Deli mengomel sendirian.


__ADS_2