
Pagi harinya Deli yang sudah bangun membantu Bunda menyiapkan sarapan. Hari ini Bunda memutuskan untuk menutup kafe selama empat hari ke depan, karena Deli akan menikah dengan Jero.
Hendri yang juga bangun cepat melihat tidak ada kesibukan seperti biasanya di dapur membuat dia menatap heran ke arah Bunda dan Deli yang hanya memasak sarapan ala kadarnya.
"Bunda, kok masak sedikit hari ini? Kenapa?" tanya Hendri kepada Bunda saat melihat tidak ada kesibukan seperti biasanya di dapur. Bahkan Ayah saja tidak bangun saat Bunda dan Deli memasak sarapan.
"Empat hari ke depan kita tidak buka kafe Hendri" ujar Bunda kepada Hendri. Sambil menaruh hasil sarapan ke atas meja makan.
Hendri ternganga mendengar apa yang dikatakan oleh Bunda nya itu. Hendri tidak menyangka Bunda akan menutup kafe selama empat hari ke depan.
"Kenapa harus di tutup Bunda? Bunda mau pergi ke luar kota? Atau Bunda sedang sakit?" tanya Hendri sambil duduk di kursi meja makan untuk menikmati segelas air putih seperti kebiasaan mereka sekeluarga.
"Tidak Sayang. Biar adik kamu saja yang menjelaskan." ujar Bunda menjawab pertanyaan Hendri.
Ayah yang juga sudah selesai bersiap siap karena akan ada urusan pagi dengan Tuan Edwardo ikut duduk di meja makan. Bunda dan Deli menghidangkan sarapan sederhana yang mereka buat.
"Jadi ada apa Deli?" tanya Hendri kepada Deli yang sudah duduk di sebelah dirinya.
"Aku mau menikah kak" ujar Deli dengan mantap mengatakan apa yang harus dikatakannya kepada Hendri.
"Hah menikah? Lelucon apa ini Deli. Nggak lucu" ujar Hendri kepada Deli sambil menatap ke arah kedua orang tuanya.
"Hendri, Deli benar akan menikah. Dia akan menikah dengan Jero" ujar Ayah membantu Deli menjelaskan kepada Hendri dengan siapa Deli akan menikah.
"Hah? Ayah serius Deli akan menikah? Dengan siapa tadi dengan Jero? Ayah yang serius ajalah Ayah, jangan bercanda" ujar Hendri yang masih mengira Ayahnya bercanda sampai saat ini.
"Ini masih pagi Ayah. Bercandanya jangan aneh kayak ginilah Ayah" ujar Hendri meminta Ayah supaya tidak aneh aneh dalam bercanda.
"Ayah serius. Deli memang akan menikah dengan Jero. Kalau kamu tidak percaya nanti Tuan besar Edwardo akan datang ke rumah untuk pergi bersama Ayah mengurus semua keperluan pernikahan Deli dengan Jero" ujar Ayah memberitahukan akan kedatangan Tuan besar Edwardo untuk mengurus surat surat pernikahan antara Jero dengan Deli.
"Ayah, kok bisa Deli menikah dengan Jero? Bukannya mereka selama ini hubungannya hanya sebatas pekerjaan?" tanya Hendri kepada Ayah dan menatap ke arah Deli.
"Jadi begini ceritanya Hendri" ujar Ayah kepada Hendri.
Ayah menceritakan bagaimana bisa Deli dengan Jero sampai memutuskan untuk menikah lusa. Ayah tidak meninggalkan satupun kalimat dan cerita yang terjadi kemaren kepada Hendri.
__ADS_1
Hendri menatap adiknya yang sekarang berada dalam posisi tidak menentu itu. Hendri tahu bagaimana rasanya menjadi Deli pada saat itu. Tetapi Hendri sama sekali tidak bisa melarang Deli lagi. Dia hanya bisa pasrah dan menerima semua yang sudah terjadi.
"Kakak hanya berharap, kamu bahagia Deli. Itu saja" ujar Hendri sambil melihat ke arah adiknya itu.
"Makasi kakak. Aku akan perjuangkan kebahagiaan aku kakak" ucap Deli kepada Hendri.
"Apa Dina dan Dian sudah tahu?" tanya Hendri kepada Deli.
"Apa yang belum kami ketahui?" tanya Dian yang sudah datang sangat pagi sekali untuk menjemput Hendri ke perusahaan.
"Bunda kok sepi? Apa Bunda sakit sehingga tidak jualan?" tanya Dian kepada Bunda.
"Nggak sayang. Bunda sehat kok" jawab Bunda kepada Dian dan Dina.
"Terus kenapa Bunda nggak jualan?" tanya Dina yang penasaran.
"Ada hubungannya dengan yang belum kami ketahui itu?" tanya Dian mengulang pertanyaannya yang tadi belum sempat dijawab oleh siapapun yang ada di meja makan.
"Duduk dulu Yan, Din" ujar Deli meminta kedua sahabatnya untuk duduk di kursi meja makan.
Dian dan Dina kemudian duduk di kursi. Mereka berdua saling menatap penasaran dengan apa yang terjadi.
"Aku mau menikah" ujar Deli dengan nada tegas kepada kedua sahabatnya itu.
"Kamu jangan ngelawak pagi pagi Deli" ujar Dina kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Deli.
"Aku nggak ngelawak, beneran. Aku akan menikah besok pagi dengan Jero" ujar Deli memberitahukan kapan dan siapa calon suaminya.
"Jero? Jero bos kamu?" tanya Dian yang akhirnya memperoleh kembali kesadarannya yang sempat hilang tadi.
"Yup. Siapa lagi. Aku cuma kenal satu Jero doang di atas dunia ya Jero bos Aku itu" ujar Deli kepada kedua sahabatnya yang masih terlihat syok mendengar bahwasanya Deli akan menikah besok.
"Kapan kamu pacaran dengan Jero Deli? Yang kami tahu malahan kamu dekat dengan Sekian. Kenapa tiba tiba mau menikah dengan Jero?" ujar Dian yang tidak mengerti kenapa Deli bisa akan menikah dengan Jero.
Deli kemudian menceritakan kenapa bisa dia akan menikah dengan Jero. Dian dan Dina langsung berdiri dan memeluk sahabat mereka itu.
__ADS_1
"Kami hanya mengharapkan kebahagiaan kamu sayang. Nggak ada yang lain. Walaupun pernikahan ini terjadi bukan karena cinta, aku berharap dia bisa menganggap kamu sebagai istrinya" ujar Dina sambil memeluk Deli.
"Makasi ya. Besok kalian datangkan ke pernikahan aku?" tanya Deli sambil menatap kedua sahabatnya itu.
"Pasti nggak mungkin nggak. Kami akan pastikan kami datang di hari kebahagiaan kamu itu" ujar Dian diangguki oleh Dina.
"Malahan sekarang kita harus mencari gaun untuk kamu pakai." ujar Dian yang sudah bisa memastikan kalau Deli tidak akan terpikirkan masalah gaun yang akan dipakai oleh dirinya di acara pernikahan itu.
"Bukannya aku nggak mau membeli gaun pernikahan. Cuma aku nggak tau apakah akan menikah di rumah sakit atau di villa milik keluarga Jero" ujar Deli yang sampai sekarang belum mendapatkan kabar akan menikah dimana.
"Yah" ujar Dian yang paling semangat ingin pergi mencarikan pakaian pengantin untuk Deli.
"Sabar Dian. Kita tunggu kedatangan Tuan Edwardo sebentar lagi, nanti kita akan tahu Nyonya Edwardo sekarang dimana" ujar Ayah yang tidak ingin Dian patah semangat dan bersedih.
"Yes. Masih ada peluang untuk beli pakaian pengantin" ujar Dian yang harapannya kembali muncul setelah tadi sempat meredup.
"Dasar loe" ujar Dina memukul Dian.
Dina bisa melihat keberatan hati dan pikiran Deli yang sedang sangat kacau sekarang ini. Dina tau kalau Deli sebenarnya enggan untuk menikah dengan Jero. Terlebih lagi posisi Jero yang masih menjalin hubungan dengan Frenya. Sehingga membuat Deli tidak akan nyaman menjadi istri seorang Jero Edwardo.
"Deli, loe udah seriuskan? Udah loe pikirkan masak masak semua keputusan yang loe ambil inikan?" tanya Dina memastikan kesiapan Deli untuk menjadi istri dari seorang Jero Edwardo.
"Udah Din. Loe tenang aja. Gue udah siap kok untuk menjadi istri dari seorang Jero Edwardo" ujar Deli meyakinkan Dina dengan jawabannya.
Deli tidak ingin Dina memikirkan keputusan yang telah diambilnya. Bagi Deli semua ini sudah akan dihadangnya, baik ataupun buruk akan dia hadapi.
Saat mereka berenam sedang berbincang bincang, terdengar bunyi pintu rumah yang diketuk dari luar.
"Pasti itu Tuan Edwardo" ujar Ayah.
Dina yang berada di tempat yang paling murah untuk menuju pintu depan rumah langsung berdiri dari kursinya. Dia berjalan menuju pintu depan. Dina kemudian membukakan pintu depan untuk calon mertuanya itu.
"Papi" ujar Dina menyapa calon mertuanya.
"Hay nak. Kamu di sini?" tanya Papi yang heran melihat Dina berada di rumah Deli pagi pagi.
__ADS_1
"Iya Pi. Aku tadi pagi dari mansion langsung ke sini" ujar Dina menjelaskan kepada Papi kenapa dia bisa berada di rumah Deli pagi pagi sekali.
"Silahkan masuk Pi" ujar Dina mempersilahkan Papinya untuk masuk ke dalam rumah.