
Mereka akhirnya sampai di rofttop restoran. Betapa kagetnya Dina saat melihat ada seseorang laki laki sedang bertekuk lutut di depannya, sambil memegang buka safron crocus, bunga favorit nomor dua Dina setelah Juliet Rose. Bunga yang sudah ada di kantornya. Dina menutup mulutnya kaget melihat semua ini. Belum lagi dekorasi romantis yang disiapkan semakin membuat Dina pengen menangis dan meneriakkan kata kata aku cinta kamu, kepada laki laki yang sedang bertekuk lutut dan memegang bunga itu.
Deli yang melihat kejadian itu langsung berjalan kembali ke lantai satu restoran. Dia tidak mau mengganggu keromantisan yang akan terjadi antara Dina dengan Felix. Deli memilih untuk makan siang di lantai satu restoran itu sendirian. Dia sangat bahagia bisa mengantarkan Dina bertemu dengan Felix kekasih yang sangat dicintainya itu.
"Sayang, maafkan aku atas semua kelakuan dan sikap aku sewaktu kita di negara J. Aku benar benar minta maaf atas semuanya" ujar Felix sambil bertekuk lutut dan memegang bunga safron crocus.
Dina mengambil bunga yang diberikan oleh Felix. Setelah itu, Dina membawa Felix untuk berdiri dari posisi bertekuk lututnya itu. Dia tidak ingin melihat orang yang disayangnya sedang dalam posisi seperti ini.
"Sayang, aku memaafkan kamu sayang. Aku nggak pernah marah atau membenci kamu. Aku mencintai kamu dengan sungguh sungguh." ujar Dina menjawab perkataan dari Felix tadi.
"Kalau kamu menyangka aku marah sama kamu, kamu salah. Aku nggak pernah marah sedikitpun, cuma kemaren mungkin aku kecewa dengan sikap dan cara kamu ke aku waktu kita di negara J." ujar Dina sambil tersenyum kepada Felix.
"Mari kita duduk sayang, kita akan bahas lebih lanjut di sana" ujar Felix mengajak Dina ke kursi dan meja yang sudah disiapkan oleh pihak hotel.
Felix menggandeng tangan Dina menuju kursi tempat mereka duduk. Mereka akan melanjutkan obrolan berikutnya di kursi itu.
"Sayang, boleh aku bicara tentang kejadian waktu di negara J?" ujar Felix meminta izin kepada Dina untuk menjelaskan apa yang terjadi di negara J sebenarnya.
"Boleh sayang. Aku sangat bahagia kalau kamu mau menjelaskan kepada aku, apa yang terjadi selama di negara J. " ujar Dina yang memang menunggu Felix untuk menceritakan apa yang terjadi di negara J.
"Sebenarnya sayang, saat kejadian itu aku hanya syok saja mendengar semua penjelasan dari kamu. Aku tidak menyangka ada gadis seperti kamu, mengalami masa masa sulit seperti itu. Dan yang lebih membuat aku kagum lagi, kamu bisa keluar dengan keadaan baik baik saja dalam peperangan bathin tersebut" ujar Felix memulai ceritanya.
"Saat itu aku sangat ingin rasanya menunjukkan rasa kagum aku ke kamu. Tapi ntah kenapa, aku sama sekali tidak bisa melakukannya, aku tidak tau harus bagaimana caranya" ujar Felix mengakui kesalahannya saat itu.
"Akhirnya karena aku diam saja, kamu mengambil keputusan sendiri. Keputusan yang mengatakan kalau aku marah sama kamu. Kalau aku kecewa sama kamu. Padahal sebaliknya, aku bangga memiliki kamu dengan semua kejadian yang pernah terjadi, tapi kesalahan aku ya itu tadi, aku tidak bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada kamu saat itu" lanjut Felix mengungkapkan isi hatinya kepada Dina.
"Jadi sayang, intinya aku benar benar minta maaf sama kamu. Aku benar benar salah dalam hal ini." ujar Felix.
"Jadi apakah kamu memaafkan aku dengan semua kasalahan aku selama ini ke kamu?" tanya Felix kepada Dina.
Dina terdiam, dia menatap Felix dengan cukup lama. Dina tidak menyangka Felix akan mengatakan hal itu kepada dirinya. Pengakuan yang sangat ditunggu tunggu oleh Dina.
Dina meraih tangan Felix. Dia menggenggam tangan Felix. Dina kemudian menatap mata Felix. Pria yang sangat dicintainya ini. Dina sangat lama menatap mata tajam itu. Mata yang selalu dirindui oleh Dina setiap saat. Mata yang pertama kali membuat Dina jatuh cinta kepada Felix.
"Jawaban dari aku atas semua pertanyaan kamu tadi sayang, adalah" ujar Dina sengaja menggantung penyelesaian kalimatnya. Dina ingin membuat Felix tidak sabar menunggu jawaban dari dirinya, makanya Dina sengaja menggantung kalimatnya.
"Apa sayang, jangan digantung kayak gini sayang, aku ngaku salah sama kamu atas apa yang aku lakukan?" ujar Felix yang tidak sabar lagi untuk mendengar Dina menyelesaikan kalimatnya itu.
"Aku mencintai kamu, dan akan selalu mencintai kamu. Itu jawabannya" ujar Dina sambil tersenyum kepada Felix. Dina benar benar membuat Felix ketakutan saat dia menggantung kalimatnya tadi.
Felix terdiam mendengar jawaban dari Dina. Felix tidak menyangka kalau Dina sebegitu mencintainya. Felix merasa dirinya menjadi laki laki paling beruntung di dunia, bisa dicintai oleh wanita seperti Dina.
"Sayang, terimakasih banyak. Aku juga sangat sangat mencintai kamu sayang. Cinta yang luar biasa. Cinta yang tidak pernah aku rasakan kepada siapapun. Cinta yang membuat aku menjadi sadar kalau kamu begitu berarti untuk aku" ujar Felix sambil mengecup punggung tangan Dina.
Dina meresapi ciuman Felix itu. Seorang palayan kemudian datang membawa sebuah nampan kecil dengan kotak kado yang dibungkus dengan menarik di atas nampan itu.
Pelayan memberikan nampan ke hadapan Felix. Felix mengambil kotak kado itu. Dina melihat kotak kado itu dengan wajah terkejutnya. Dina tidak menyangka kalau Felix sudah mempersiapkan semua ini.
"Sayang itu apa?" tanya Dina kepada Felix sambil menunjuk kotak kado yang sedang dipegang oleh Felix.
"Kotak kado" ujar Felix usil menjawab pertanyaan Dina.
__ADS_1
"Sayang" panggil Dina menegur Felix yang mulai usil itu.
Felix mengangguk. Felix kemudian mengangkat kotak kado itu kehadapan Dina.
"Sayang ini adalah sebuah kotak yang isinya merupakan ucapan permohonan maaf dari aku ke kamu" ujar Felix mulai menjelaskan kotak yang dipegangnya itu kotak apa.
"Aku mohon, kamu untuk menerima kotak ini, aku ingin kamu memakai benda di dalam kotak ini sayang, setelah kamu membukanya" ujar Felix kepada Dina.
"Emang apa isinya sayang?" tanya Dina kepada Felix
"Buka aja. Semoga kamu suka dengan hadiah yang aku berikan" kata Felix sambil menatap mata Dina.
Dina mengambil kotak kado yang diberikan oleh Felix kepada dirinya. Dina membuka kotak itu dengan sangat perlahan. Saat melihat warna kitak dari benda yang dibungkus rapi itu membuat Dina langsung berdiri dari kursinya.
Felix yang melihat Dina langsung berdiri saat melihat warna kotak itu menjadi takut, kalau dia sudah salah membeli apa yang diinginkan oleh Dina. Felix akhirnya juga berdiri dari kursinya.
Dina memeluk Felix dengan sangat erat. Felix yang kaget dengan respon Dina, mengangkat tangannya dan akhirnya memeluk Dina.
"Kenapa sayang?" tanya Felix sambil masih memeluk Dina.
"Aku mencintaimu" jawab Dina yang sudah tidak tau lagi akan mengucapkan kalimat apa kepada Felix.
"Sayang aku sangat tau akan hal itu. Aku sangat tau kalau kamu mencintai aku. Aku malahan sangat bersyukur menerima cinta besar dari kamu seperti ini" ujar Felix menjawab ungkapan cinta dari Dina yang entah keberapa kalinya hari ini.
"Sekarang buka kado nya sampai selesai ya. Aku udah lapar pengen makan siang. Apa kamu tidak lapar?" tanya Felix kepada Dina.
Felix sudah mengode manager akar meletakkan hadiah berikutnya ke atas mobil Felix saja. Felix sudah merasa sangat lapar. Apalagi Dina saat ini, pasti Dina juga merasakan lapar yang amat sangat.
Dina kemudian kembali menyelesaikan membuka kado pemberian Felix kepada dia. Dina membuka dengan sangat cepat. Dia memang sudah mengetahui isi dari kadonya itu, tapi Dina penasaran dengan model yang dipilihkan oleh Felix
Dina membuka kotak kado tersebut. Betapa kagetnya Dina melihat isi kotak itu. Tanpa dikomandoi air mata Dina menetes membasahi pipinya. Felix dengan sigap menghapus air mata yang jatuh itu.
"Sayang jangan nangis, aku memberikan kamu hadiah bukan untuk membuat kamu menangis, tapi untuk membuat kamu tersenyum." ujar Felix sambil menghapus air mata Dina yang jatuh membasahi pipinya.
"Ini air mata kebahagiaan sayang. Aku sangat bahagia dengan hadiah dari kamu. Kamu tau apa yang aku inginkan. Ini benda yang sangat aku inginkan." ujar Dina mengakui kalau benda itu adalah benda yang sudah diincar nya, tetapi Dina belum sempat untuk pergi membeli jam itu.
"Apa kamu bersedia memakainya sekarang sayang?" tanya Felix kepada Dina.
"Kamu pakaikan" ujar Dina dengan nada manja kepada Felix, sambil memberikan kotak jam itu kepada Felix.
Felix mengambil kotak jam itu. Dia kemudian membuka jam yang sama merknya dengan yang dibelikan oleh dia untuk Dina.
Felix kemudian memasang jam yang dibelinya untuk Dina dipergelangan tangan Dina.
"Sayang, semoga kamu setiap melihat jam ini, kamu akan mengingat aku terus di setiap detik jarum jam itu berdetak" ujar Felix kepada Dina.
Dina tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Felix. Dina kemudian mengangguk, mengiyakan permintaan Felix itu. Permintaan sederhana yang telah dilakukan selama ini oleh Dina.
"Sayang, boleh kita makan? Aku udah lapar" ujar Felix memegang perutnya.
Dina mengangguk. "Aku juga lapar" balas Dina.
__ADS_1
Felix memberikan kode kepada Manager untuk meminta manager menghidangkan makanan yang telah dipesan oleh Felix tadi.
Para pelayan kemudian menghidangkan menu makanan yang telah dipesan oleh Felix. Dua piring salmon yang dimasak dengan perasaan lemon di atasnya dan juga paprika, kentang yang di iris dan ikut dibakar. Felix dan Dina memakan makanan mereka sambil bertatapan penuh cinta.
Setelah menghabiskan menu tersebut, pelayan datang menghidangkan menu yang lainnya. Dua piring steak yang diletakkan di atas hotpans. Felix dan Dina kembali menyantap makanan yang disajikan.
"Masih mau hidangan penutup nya sayang?" tanya Felix kepada Dina.
"Mau" ujar Dina dengan semangat. Dina masih sangat lapar, perutnya yang biasa diisi nasi saat siang hari tidak akan bisa terganjal kalau hanya diisi sepotong salmon dan sepotong steak.
Pelayan datang menghidangkan menu makanan penutup yaitu puding coklat. Dina menatap dengan pandangan takjub kepada hidangan penutup itu. Puding coklat yang akan membuat setiap gigitannya menjadi terasa luar biasa nikmat.
Felix melihat tatapan itu. Dia menjadi tahu kalau puding coklat adalah makanan favorit Dina. Dia akan belajar membuatnya kepada Mommy yang jago membuat puding apapun.
Mereka berdua kemudian menikmati puding coklat itu. Bagi Dina hanya dalam hitungan detik puding coklat itu telah pindah ke dalam perutnya yang masih lapar.
Setelah selesai makan makanan penutup, Felix dan Dina mengobrol sebentar. Tiba tiba saja Dina teringat dengan Deli sahabatnya yang mengantar dirinya tadi ke restoran.
"Sayang, Deki gimana makannya ya?" tanya Dina yang ingat dengan Deli setelah sekian drama yang dilaluinua dengan Felix.
"Dia udah balik kantor sayang. Deli tadi udah makan sayang di lantai satu restoran" ujar Felix memberitahukan kepada Dina kalau Deli juga sudah makan siang.
"Oh syukurlah sayang. Aku tadi sampai lupa dengan sahabat aku itu" kata Dina dengan nada rasa bersalahnya dengan Deli.
"Pulang yuk. Kamu mau aku antar ke rumah atau ke mana?" tanya Felix kepada kekasihnya itu.
"Kafe Bunda aja" jawab Dina yang sudah tidak sabar lagi ingin menceritakan semuanya kepada Bunda.
"Oke. Mari pulang" ujar Felix.
Felix menggandeng tangan Deli, mereka berdua pergi meninggalkan restoran dengan hati bahagia.
Saat Dina membuka pintu mobil, dia melihat satu kado lagi yang terletak di atas kursi. Dina mengambil kado itu.
"Ini?" ujar Dina kepada Felix.
"Punya kamu" ujar Felix sambil tersenyum
"Boleh buka sekarang?" tanya Dina kepada Felix.
"Oh tidak sayang. Kamu boleh membukanya nanti di kafe, tidak di sini" ujar Felix kepada Dina.
"Oke baiklah" ujar Dina yang mengalah untuk membuka kado keduanya itu nanti saja saat dia sudah sampai di kafe Bunda sesuai dengan permintaan Felix.
Felix dan Dina kemudian masuk ke dalam mobil. Felix kemudian melajukan mobil menuju kafe Bunda. Felix akan mengantarkan Dina ke kafe tidak ke perusahaan lagi. Dina memilih untuk pulang saja. Dina ingin berbagi kabar gembira dengan orang orang di rumahnya.
Sepanjang perjalanan sepasang kekasih yang sudah bisa menyelesaikan masalah mereka itu mengembangkan senyum yang merekah dari bibir mereka. Berhubung mobil yang dipakai Felix kali ini salah mobil metic, Felix terus saja menggenggam tangan Dina sebelah kanan sepanjang perjalanan menuju kafe Bunda. Felix tidak melepaskan sedetikpun tangan Dina itu. Dina tersenyum melihat perlakuan Felix kepada dirinya. Dina sangat sangat bahagia.
'Aku adalah wanita paling bahagia di atas dunia ini untuk hari ini dan selanjutnya' ujar Dina dalam hatinya.
'Saatnya aku menggenggam kebahagiaan itu lagi. Sudah cukup derita selama ini. Semoga Felix bisa membuat aku bahagia. Aamiin' ujar Dina berdoa dalam hatinya.
__ADS_1
'Aku laki laki yang paling beruntung di dunia, bisa mendapatkan seorang wanita yang telah menyelesaikan salah satu ujiannya. Ujian terberat yang belum tentu bisa dilalui oleh semua orang. Aku bangga dengan dia' ujar Felix dalam hatinya dan melirik wajah Dina sekilas.