Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 56


__ADS_3

Dina sebenarnya penasaran, kenapa Bunda sampai tahu akan masalahnya. Tapi karena hari sudah mau siang, Dina takut terkena macet. Dia mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Bunda.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil masing masing. Dua mobik mewah bergerak meninggalkan kafe yang sudah lumayan ramai itu. Pengunjung datang untuk sarapan dan membaca buku yang disediakan di kafe.


"Makasi Kak, sukses ya untuk meeting cuplenya hari ini" ujar Deli kepada Dian dan Hendri sebelum dia turun di depan lobby perusahaan.


Saat Deli belum berbalik arah sebuah mobil hitam mengkilat berhenti tepat di depan pintu masuk perusahaan. Jero dan Felix turun. Seorang vallet langsung memarkirkan mobil yang dikemudikan oleh Felix ke parkiran perusahaan.


"Saya kira masih jetlag Del" ujar Felix menyapa Deli.


"Alhamdulillah tidak Tuan. Dari kemaren sehat sehat aja, malahan kemaren sore sampai malam masih sempat membantu Bunda di kafe" ujar Deli menjawab pertanyaan Felix.


"Dia sebenarnya bukan menyapa kamu Deli. Dia mau bertanya Dina, tapi malu. Menurut kamu Dina dalam keadaan sehat dan nyaman sekarang atau tidak?" ujar Jero yang akhirnya menyuarakan apa yang sebenarnya akan ditanyakan oleh Felix kepada Deli.


"Oh Dina sudah dalam kondisi seperti biasa Tuan. Malahan dia menunggu kedatangan Tuan, untuk menjelaskan semuanya" kepada Felix.


"Deli, kamu naik lift dengan kami saja" ujar Jero setelah Deli mengambil kehadirannya di chek lock.


Deli mengangguk, mereka bertiga kemudian masuk ke dalam lift yang dikhususkan untuk petinggi perusahaan dan tamu yang sudah janjian dengan Jero di ruangannya.


Lift mengantarkan ketiga orang itu ke lantai ruangan Jero berada. Pintu lift terbuka, Jero, Felix dan Deli keluar dari dalam lift. Mereka menuju ruangan masing masing.


Deli melihat agenda Jero hari ini. Tidak ada agenda meeting di luar. Deli setelah memastikan sekali lagi jadwalnya, dia tidak mau salah melakukan pekerjaannya.


Tok tok tok.


"Masuk" ujar Jero.


"Tuan, untuk agenda hari ini tidak ada meeting dengan perusahaan manapun." ujar Deli.


"Makasi Deli" Jawab Jero yang baru saja melepas jas kerjanya.


Deli meletakan dokumen yang harus dibaca oleh Jero di atas meja kerja Jero.


"Tuan, ini dokumen yang harus Tuan baca, Dua yang di atas itu untuk meeting besok Tuan" ujar Deli menerangkan dokumen yang diletakkannya di atas meja kerja Jero.

__ADS_1


"Makasi Del" ujar Jero sambil sedikit tersenyum kepada Deli.


Felix masuk ke dalam ruangan Jero. Dia tadi mencari keberadaan Deli di depan tetapi tidak ada sama sekali.


"Ternyata kamu di sini Del. Saya cari di luar tadi." ujar Felix sambil duduk di kursi depan meja kerja Jero.


"Ngapain loe cari Deli?" tanya Jero penasaran , kenapa juga Felix harus mencari sekretarisnya itu.


"Deli, kalau Dina ngambek biasanya dia dibujuk dengan barang seperti apa?" tanya Felix yang ngawur susunan kata katanya.


"Aku sama Dian nggak pernah mengumbuk Dina kalau ngambek Tuan. Karena Dina tidak pernah ngambek sama kami." jawab Deli dengan polosnya.


"Hahahahahahahaha" Jero langsung tertawa mendengar jawaban dari Deli.


Felix membesarkan matanya kepada Jero.


"Pertanyaan loe aneh. Iya kali Deli sama Dian akan membujuk Dina saat ngambek. Loe aneh" ujar Jero sambil berusaha menahan tawanya, akibatnya wajah Jero memerah seperti kepiting rebus.


"Pertanyaannya loe ganti aja. Deli, biasanya saat Dina sedang seperti itu, barang apa yang seharusnya diberikan kepada Dina agar dia kembali tersenyum." ujar Jero mengubah pertanyaan Felix.


"Kalau ini baru pas pertanyaannya Tuan Felix. Maka jawabannya jam tangan limited edition sama tas merk H" ujar Deli menyebutkan barang barang kesukaan Dina kepada Felix.


"Woi kutu kupret. Elo capek jadi adik gue aja Felix. Masalah beginian loe mendadak menjadi oon. Loe mau ke perusahaan Dina? Emang loe tau Dina ada atau tidak meeting di luar hari ini?" tanya Jero kepada Felix.


"Bener juga. Huft" ujar Felix kembali melemah.


"Gue telpon nanti dia nggak angkat. Gimana bagusnya ya?" ujar Felix yang bingung gimana cara memastikan Dina ada di perusahaan atau tidak.


Felix terlihat berpikir sendiri, dia benar benar nggak tau lagi harus berbuat apa. Dia ingin sekali bertemu dengan Dina, tetapi apa daya dia tidak tau bagaimana cara untuk bertemu dengan Dina saat ini. Kalau hubungan mereka sedang baik, tentu Felix bisa langsung mendatangi Dina. Ini mereka sedang luar biasa renggang, bagaimana cara Felix untuk menghubungi Dina.


Jero tersenyum jahil melihat saudaranya yang sedang galau karena cinta itu. Deli menatap Jero. Jero menggeleng melarang Deli untuk melakukan sesuatu. Deli kemudian mengangguk menyetujui bahasa isyarat dari Deli.


"Tuan, saya permisi keluar" ujar Deli yang sudah tidak tahan melihat wajah panik Felix.


Baru saja sampai depan pintu ruangan, Deli langsung tertawa ngakak saking nggak tahannya melihat wajah panik Felix.

__ADS_1


Jero yang mendengar tawa Deli, akhirnya juga ikut tertawa. Mereka dalam mode satu frekuensi. Felix menatap tajam ke arah Jero.


"Ayolah Kak, aku harus bagaimana?" ujar Felix yang kalau sedang panik memanggil Jero dengan panggilan kakak.


"Nah lo, kalau ada maunya manggil kakak, kalau ndak loe gue aja dari maren maren" jawab Jero nggak menggubris permintaan Felix.


"Aku harus bagaimana, Deli di harepin ngasih jalan, malah ketawa ngakak dia. Kakak gue harepin juga, malah tertawa ngakak. Haduh, Tuhan tolonglah hamba mu yang sedang menderita ini Tuhan" ujar Felix berdoa kepada Tuhan untuk membantu dia memberikan jalan bisa bertemu dengan Dina.


"Dina sayang, tolong tunjukkan bagaimana cara aku bisa menemui kamu, dan mengatakan semua semuanya" ujar Felix seperti manusia separuh agak aneh itu.


Semua tingkah Felix diamati oleh Jero dan Deli dari layar komputer yang menampilkan hasil CCTV. Jero dan Deli sama sama tersenyum melihat tingkah Felix yang absurd itu.


"Woi, elo punya pikiran kan ya? Tadi udah dibilang sama Deli kalau Dina suka jam. Loe beli sana jam sama tas keluaran Produk H yang terbaru. Untuk jam loe beli produk R. Susah bener" ujar Jero mulai kesal melihat Felix yang masih juga meratapi nasibnya itu.


"Beli mah gampang, untuk ketemunya ini yang gue pikirin abang gue sayang. Nggak mungkinkan gue main nyelongong boy aja ke perusahaan dia. Mending kalau dia ada, kalau nggak gimana?" tanya Felix kepada Jero.


"Loe error atau emang nggak peka ya Felix. Makanya dari kemaren kemaren pacaran, ini nggak. Pusing gue Felix nengok elo kayak gini." ujar Jero sambil geleng geleng kepala dengan tingkah Felix.


"Gue nggak ngerti soal beginian Jero. Makanya gue mintak tolong elo. Eeeee elonya malah seneng banget ngetawain gue." ujar Felix lagi dengan kesal.


"Huft bikin ribet aja loe" ujar Jero setengah kesal.


Jero akhirnya berdiri dari kursi kerjanya. Dia meninggalkan dokumen yang besok akan dijadikan sebagai bahan meeting. Tetapi kalau besok. meeting, Felix masih dalam mode seperti ini, meeting akan kacau. Jadi mau tidak mau Jero terpaksa turun tangan memberikan ide kepada Felix.


...****************...


**Apakah ide yang diberikan oleh Jero????


Nantikan episode berikutnya kakak.


singgah di


My Affair


It's My Dream

__ADS_1


Kepahitan Sebuah Cinta


Kesetiaan Seorang Istri**


__ADS_2