Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
167


__ADS_3

"Maaf tuan, tadi Fatima ketiduran, keram di perut mulai terasa," ucap Fatima dengan jujur. Biar bagaimanapun juga, tuan Sulaiman mempunyai hak atas anak yang dikandungnya.


"Jika kamu membutuhkan sesuatu, hubungi aku, Fatima. Jangan pernah sungkan atau malu. Tidak perlu takut dengan Hanna, aku sudah mengancamnya, bila terjadi sesuatu padamu, maka orang pertama yang akan aku cari adalah Hanna. Tapi tetap waspada dan berhati-hati, karena selama kamu tidak disisiku, aku tidak bisa menjagamu selama dua puluh empat jam penuh, kecuali kamu memang mau hidup bersamaku, akan ku jamin semua keperluanmu termasuk kenyamanan dan penjagaan yang begitu ketat," ucap tuan Sulaiman pelan menjelaskan. Cintanya kepada Fatima benar-benar sangat tulus, bukan sekedar butuh tubuhnya tapi juga butuh segalanya.


Fatima hanya terdiam mendengar ucapan tuan Sulaiman yang begitu lembut dan baik. Kedua matanya telah basah, hatinya tersayat seolah teriris dengan pisau yang begitu tajam. Bagaimana mungkin menyakiti hati dua lelaki yang teramat baik, Syakir lelaki baik dan bertanggung jawab, walaupun belum bisa mencintai Fatima. Tuan Sulaiman lelaki lembut dan penyayang yang mau menerima Fatima apa adanya.


"Ada apa denganmu Fatima? Kenapa kamu hanya diam saja? Kamu baik-baik saja Fatima?" tanya tuan Sulaiman dengan gusar dan cemas. Di balik sambungan telepon itu, wajah panik tuan Sulaiman begitu sangat kentara. Dirinya benar-benar sangat peduli dengan Fatima dan anak yang di kandung Fatima. Beberapa anak buahnya berpencar untuk menjaga Fatima dari kejauhan.


Fatima semakin sesak dan semakin sedih dengan kecemasan tuan Sulaiman.


"Fatima baik-baik saja, tadi memang sempat keram, sekarang sudah tidak. Fatima ingin kembali ke tanah air, kumpul bersama Aby dan Umi," ucap Fatima lirih.


"Hei, ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kamu ingin kembali kesana? Ada apa dengan suamimu?" tanya tuan Sulaiman seolah sedang mencari celah.


"Tidak apa-apa, aku sudah jujur dengan keadaanku tuan Sulaiman. Beliau sangat murka dan marah. kekecewaan yang luar biasa, aku torehkan luka tersembunyi di balik kealimanku. Beliau mengenalku sebagai wanita yang baik dan alim, serta memiliki iman yang cukup bagus, tapi beliau begitu tidak percaya dengan apa yang aku lakukan, aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi," ucap Fatima lirih.


"Lalu, bagaimana dengan kamu? Apakah suamimu berlaku kasar kepadamu, Fatima?" tanya tuan Sulaiman kembali kepada Fatima.


Fatima menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, Alhamdulillah suamiku begitu sangat baik dan tidak kasar kepada Fatima, tuan Sulaiman. Tapi, malah Fatima yang merasa sangat berdosa dengan keadaan inj. Maka dari itu Fatima ingin menjauh dari Mas Syakir dan kembali ke tanah air dan mengurus anak Fatima dengan baik. Kalaupun Mas Syakir, ingin menceraikan aku karena masalah besar ini, aku pun sudah siap lahir batin, walaupun kenyataannya itu sangat berat sekali," ucap Fatima lirih.

__ADS_1


"Jika kamu bercerai, kembalilah padaku, akan aku nikahi kamu, Fatima, dan kita akan berbahagia bersama anak kita dan hidup dalam keluarga kecil yang harmonis," terang tuan Sulaiman yang tengah bermimpi hidup bersama Fatima dan anaknya.


Merindukan seorang anak sudah sejak awal pernikahannya dengan Hanna hingga usia pernikahannya pun ikut senja seperti usianya saat ini. Berita kehamilan Fatima pun membuat tuan Sulaiman merasa dirinya adalah lelaki yang beruntung dan masih gagah perkasa.


"Sudah dulu tuan Sulaiman, Fatima mau mengurus hal lain, rasanya sudah lelah," ucap Fatima pelan mengakhiri sambungan teleponnya.


"Hati-hati Fatima, beri kabar bila terjadi sesuatu kepadamu. Jangan buat aku khawatir dengan keadaanmu dan keadaan anak kita," ucap tuan Sulaiman pelan menasehati.


Sambungan telepon itu pun diakhiri oleh Fatima dan melempar ponsel itu ke atas kasur empuk di atasnya. Hatinya begitu pedih, semoga pilihannya kali ini tepat. Mungkin ada caci maki dari kedua orang tuanya dan kedua mertuanya. Siap tidak siap semua celaan dan kekecewaan sudah menjadi bagian dari resiko yang harus diterima Fatima.


Tubuh Fatima berusaha berdiri, berpegangan pada ranjang tidurnya itu dan duduk ditepi ranjang. Tagtapannya ke depan begitu nanar, matanya sudah pedih karena basah air mata.


Syakir sudah merebahkan tubuhnya, mengingat kembali ucapan Fatima yang begitu membuatnya sesak. Bukan sesak sakit hati, namun sesak karena kecewa.


Keputusan apa yang harus diambil Syakir saat ini, bukanlah hal yang mudah. Syakir mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Dani atau Anita untuk mempercepat pekerjaannya dan terbang menuju Amerika.


"Ada apa kamu meneleponku dini hari seperti ini, Syakir?" tanya Anita dengan kesal.


"Kapan aku bisa mulai bekerja, Anita?" tanya Syakir pelan tanpa rasa berdosa.


"Seantusias itu kamu mau ke Amerika, atau ada hal lain yang ingin kau temui disana?" tanya Anita yang menjadi penasaran dengan. Keinginan Syakir.

__ADS_1


"Berapa kali aku harus menjadi kurir? Aku ingin tinggal disana, menyelesaikan kuliahku," ucap Syakir dengan sangat mantap.


"Kalau kamu hanya ingin sekali bekerja tidak apa-apa, tapi jika rahasia ini terkuak, jangan salahkan kami, nasibmu akan sama dengan pengkhianat lainnya," ucap Anita menegaskan.


"Aku paham Anita, jangan kau gurui aku terus. Aku bukan anak kecil atau anak ingusan yang baru lahir kemarin. Aku paham dengan pekerjaan berbahaya ini," ketus Syakir yang sudah tidak perduli dengan pekerjaan itu.


"Ha-ha-ha, kalau kamu tahu berapa gajinya, kamu akan menyayangkan bila harus meninggalkan pekerjaan ini?!" ucap Anita sedikit mengejek.


"Tidak akan pernah. Aku hanya perlu pekerjaan itu sekali saja dan membawaku ke Amerika lalu aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik dan halal. Tolong mengerti Anita," ucap Syakir lirih.


"Hemm ... baiklah, aku mengerti Syakir. Besok pagi aku kabari, jika memang sudah ada kiriman untuk rute kesana, silahkan berangkat dan aku akan urus semua administrasimu dengan sangat cepat," ucap Anita lantang.


"Terima kasih atas bantuannya Anita," ucap Syakir pelan lalu menutup sambungan teleponnya.


Syakir sudah mengambil keputusan untuk tidak menceritakan Fatima hingga anak itu lahir dan tetap berkomunikasi baik dengan Fatima. Tentu saja, semua harus dijalankan Dengan menggunakan ilmu agama yang sesuai.


Jika ada rejeki lebih, tentu saja Syakir akan menafkahi Fatima.


Pagi-pagi setelah subuh, Syakir keluar dari kamarnya dan berniat membuat sarapan pagi untuk dirinya sendiri dan Fatima yang sedang mengandung. Walaupun bukan anaknya tetap saja, Fatima dalam keadaan berbadan dua dan harus dijaga seluruh kondisinya dengan sangat baik.


Tapi, Syakir begitu terkejut, ada sebuah amplop yang tergeletak di meja makan.

__ADS_1


__ADS_2