
Dina dan Felix masuk ke dalam mobil. Mobil sport berwarna merah dengan logo kuda jingkrak itu. Felix mengemudikan mobil sport itu dengan kecepatan tinggi. Jalanan kota masih lumayan padat, berhubung mansion Dina terletak di daerah elit yang jarang mobil lewat, Felix bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tetapi saat masuk keramaian kota, maka Felix harus menurunkan kecepatan mobilnya itu.
"Sayang, menurut kamu apakah Jero sudah ke rumah Deli untuk minta maaf ya?" tanya Dina yang ingat dengan permintaannya kepada Jero saat di mansion tadi.
"Udah sayang. Aku yakin itu. Jero apapun demi perusahaan pasti akan dilakukannya. Itulah kelebihan dari Jero. Tapi kekurangannya kamu tau sendiri lah ya" kata Felix tetap fokus ke jalan walaupun sedang berbicara dengan Dina.
"Semoga aja sayang. Kalau nggak akan aku buat lama saham perusahaan jatuh" ujar Dina sambil tersenyum simpul.
Dina melirik ke arah Felix. Dina ingin memastikan bagaimana reaksi Felix saat mendengar kalau Dina akan menjatuhkan harga saham dari perusahaan Edwardo.
"Sayang, sebenci apapun kamu sama Jero, aku mohon jangan ke saham Edwardo sayang. Aku berhutang banyak sama keluarga itu." ujar Felix kepada Dina.
"Kamu kan tau sendiri, kalau tidak gara gara mereka maka aku tidak akan seperti ini sayang. Jadi, aku mohon kalau kamu marah jangan ke perusahaan ya" ujar Felix sambil memberhentikan mobilnya dan menatap Dina lama.
Felix tidak ingin kemarahan Dina berakibat kepada perusahaan Edwardo. Bagaimanapun juga Felix berhutang banyak kepada perusahaan itu.
"Sayang aku mohon" ujar Felix kepada Dina sekali lagi.
Dina menatap wajah Felix. Dina juga tidak ingin Felix merasa bersalah kepada keluarga yang sudah membesarkan dan menjadikan dia seperti sekarang ini. Dina juga paham bagaimana rasanya tidak memiliki orang tua. Apalagi Felix, orang tua tidak punya, ekonomi juga susah.
"Tidak akan sayang. Aku sangat sayang sama kamu, aku tidak akan pernah mungkin menempatkan seseorang yang aku sayang di posisi sulit seperti tadi siang" jawab Dina sambil menggenggam tangan Felix.
"Aku sangat tahu bagaimana posisi kamu tadi. Aku bisa merasakan itu. Makanya sebelum Deli meminta kepada Aku, sebenarnya aku sudah ingin memulihkan kembali harga saham perusahaan Edwardo" ujar Dina kepada Felix.
"Lega aku sayany" ujar Felix lagi.
Felix kemudian melanjutkan mengemudikan mobilnya menuju perusahaan. Kali ini Felix tidak lagi memberhentikan mobilnya di tengah jalan yang membuat dua buah mobil yang agak jauh di belakang menjadi harus memotong kendaraan yang dikemudikan oleh Felix.
"Sayang pengawal kamu gerak cepat banget. Tengok aja tuh, karena kita berhenti sebentar tadi aja mereka sudah langsung memotong mobil yang aku kemudikan" ujar Felix yang melihat sebuah mobil hitam langsng berhenti di depan mobil Felix.
Untung saja saat itu obrolan antara Felix dan Dina sudah selesai. Sehingga Felix memberikan lampu besar saja mereka sudah paham kalau Nona mudanya dalam keadaan baik baik saja.
__ADS_1
"Mereka memang harus gerak cepat sayang. Itu perintah langsung Juan. Kamu tau sendirilah gimana posesif nya Juan terhadap aku dan perusahaan" ujar Dina mengatakan perihal saudaranya yang hanya satu satunya itu.
"Aku pengen ketemu dan ngobrol dengan Juan sayang" ujar Felix menyuarakan keinginan hatinya untuk lebih mengenal Juan.
Dina yang mendengar permintaan dari Felix langsung menatap ke wajah Felix.
"Sayang, apa benar kamu mau berbicara dengan Juan?" tanya Dina menatap tidak percaya ke arah Felix.
Dina sangat senang sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Felix. Dina sudah lama ingin Felix mengatakan hal itu kepada dirinya.
"Benar sayang. Kapan kamu ada waktu kita akan pergi ke sana sayang" ujar Felix dengan semangatnya ingin pergi menemui Juan. Felix sudah tidak meragukan lagi rasa yang ada di hatinya untuk Dina. Bagi Felix, Dina lah yang paling diinginkan dirinya saat ini.
Tak terasa karena mereka mengobrol sepanjang jalan, mereka telah sampai di depan kafe milik Bunda Deli.
"Sayang parkir di tepi jalan aja. Kamu kan nggak bawa mobil, jadi bawa aja mobil ini sama kamu. Besok pagi jemput aku ke sini aja ya" ujar Dina kepada Felix sambil mengambil paprbag yang berisi pakaian kantor miliknya yang akan dipakai besok pagi.
"Asiap Nona Muda" jawab Felix sambil memberikan hormat kepada Dina.
Mereka berdua kemudia turun dari dalam mobil. Felix menggandeng tangan Dina untuk masuk ke halaman rumah yang telah di sulap menjadi kafe itu.
"Hay Din. Sini" ujar Deli memanggil Dina dari tempat duduknya.
Dina dan Felix berjalan menuju tempat duduk Deli dimana di sana sudah ada Demian dan juga Dian.
"bukannya itu Demian?" tanya Felix kepada Dina.
"Yup. Sepertinya semenjak mengantarkan Deli tadi, Demian tidak kembali ke mansion miliknya" ujar Dina sambil berjalan menuju tempat Deli dan lainnya duduk.
"Bisa jadi sayang" jawab Felix.
"Tuan Felix" sapa Demian kepada Felix.
__ADS_1
"Tuan Demian" jawab Felix.
"Sayang tadi katanya lapar. Mau makan apa?" tanya Dina yang ingat tadi Felix mengatakan kalau perutnya sudah kembali lapar.
"Terserah yang ada aja sayang" jawab Felix yang memang tidak seribet Jero dalam memilih menu makanan.
Dina kemudian berjalan menuju container dimana di situ ada Bunda dan Ayah yang sedang menyiapkan pesanan tamu yang masih datang.
"Bunda, masih ada nasi goreng?" tanya Dina sambil melihat Bunda yang sedang sibuk itu.
"masih sayang. Itu di dalam mejig, baru Bunda buat" ujar Bunda menunjukkan dimana tempat nasi goreng berada.
Dina kemudian membuka tutup mejig tersebut. Dia melihat ada dua porsi nasi goreng lagi di sana. Dina kemudian mengambil dua piring dan menaruh nasi goreng serta telur dadar dan kerupuk.
"Makasi Bunda" ujar Dina kepada Bunda.
"sama sama sayang" jawab Bunda.
Dina membawa dua piring nasi goreng itu ke meja dia mereka duduk itu. Dina menghidangkan nasi goreng untuk Felix dan dirinya sendiri.
"tuan Demian ayuk makan" ujar Felix mengajak Demian untuk ikut makan nasi goreng miliknya itu.
"sudah siap Tuan Felix. Tadi Deli langsung yang memasak nasi goreng untuk saya. Rasanya luar biasa lezat" ujar Demian memuji masakan yang dibuat oleh Deli.
"Hah? Serius Deli yang masak?" tanya Dina sambil menatap ke wajah Deli sahabatnya itu.
Dian juga melakukan hal yang sama. Deli sudah lama sekali tidak memasak untuk siapapun. Mereka berdua bertanya tanya kenapa Deli bisa membuatkan nasi goreng untuk Demian.
Dina dan Dian yakin kalau ada sesuatu yang membuat Deli bisa melakukan hal itu.
Dina dan Dian kemudian menatap ke arah Deli. Deli hanya bisa pasrah saja. Malam ini dia tidak akan selamat dari brondongan pertanyaan yang diajukan Dina dan Dian bergantian.
__ADS_1
"apes gue" ujar Deli dengan suara pelan