Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 81


__ADS_3

Felix yang sudah menemukan Deli yang sedang duduk di pojokan kantin, langsung menghenyakkan pantatnya di kursi bagian depan Deli. Dia menatap Deli dengan tatapan menahan rasa marahnya. Felix bukan marah kepada Deli. Felix marah kepada dirinya sendiri dan Jero.


"Jadi, ada apa? Kamu marah dengan Jero?" tanya Felix sambil menatap Deli dengan tatapan tajam dan rasa ingin tahu.


Deli terdiam, dia menimbang nimbang perasaannya. Deli ragu apakah dia harus jujur mengatakan apa yang dirasakan oleh Deli sesaat sesudah Jero mengatakan hal tersebut. Atau Deli berpura pura dalam keadaan baik baik saja.


"Kenapa Diam Del? Katakan saja, aku tidak akan mempermasalahkannya" ujar Felix menatap Deli.


Deli menatap Felix dengan tatapan tajam. Deli tau Felix bersikap peduli seperti ini karena ada Dina sahabat Deli.


"Aku cuma berharap kamu berkata jujur kepada aku. Apa yang kamu rasakan saat Jero mengatakan perkataan yang aku sangat yakin, itu luar biasa menyakitkannya untuk kamu dengar" ujar Felix meminta Deli untuk jujur mengatakan apa yang dirasakan oleh dirinya saat ini.


"Jujur saat itu aku sangat sangat marah. Makanya aku berjalan meninggalkan ruangan, dari pada nanti ujungnya tidak baik bagi kita semua. Aku nggak mau ribut." kata Deli menjawab pertanyaan dari Felix.


"Apalagi dia adalah bos gue. Gue masih menghargai dia sebagai bos. Tapi, kalau masih terjadi hal seperti tadi, bisa jadi gue keluar dari perusahaan." lanjut Deli sambil menatap ke arah Felix.


Felix terdiam mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Deli. Dia tidak menyangka Deli akan mengatakan hal itu. Dalam bayangan Felix, Deli akan menjawab tidak setragis seperti yang dikatakan oleh Deli sebentar ini.


"Deli, atas nama perusahaan dan Jero Edwardo, saya Felix Edwardo meminta maaf kepada kamu" ujar Felix.


Felix mengatakan hal itu sambil berdiri dan menundukkan kepalanya kepada Deli. Hal ini menjadi perhatian oleh orang orang yang ada di kantin perusahaan.


"Haha haha haha. Jangan bersikap berlebihan seperti ini Tuan. Saya tidak akan melaporkan ini kepada Dina. Tidak akan pernah." ujar Deli yang tertawa melihat kelakuan Felix yang meminta maaf dengan cara seperti itu.


"Santai saja Tuan. Hal seperti tadi udah biasa kok, dilakukan oleh seorang pemilik perusahaan kepada anak buahnya" lanjut Deli meluapkan kekesalannya.


"Saya sama sekali tidak marah. Tidak marah, saya saja tadi yang terlalu berlebihan menanggapinya" ujar Deli kepada Felix.

__ADS_1


"Jadi, saya mohon santai saja Tuan. Tidak perlu bersikap seperti ini" ujar Deli dengan kesal.


Deli sebenarnya tidak marah dengan Felix. Tetapi dengan sikap dan tindakan Felix tadi yang membuat Deli menjadi marah. Felix bersikap seperti Deli akan memperbesar masalah yang kecil itu.


"Kalau tidak ada lagi yang mau dikatakan. Saya permisi dahulu Tuan. Masih ada yang harus saya kerjakan." ujar Deli sambil berdiri dari duduknya.


"Satu lagi, tolong sampaikan kepada Tuan Jero yang terhormat itu. Jangan pernah memandang remeh seseorang. Saya tidak terobsesi dengan orang yang memiliki banyak uang." ujar Deli.


Deli melangkahkan kakinya meninggalkan Felix sendirian di kursi itu. Felix terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Deli.


"Deli benar, jangan pandang orang dengan uang" kata Felix sambil termenung.


"Jangan pandang orang dari jabatan."


"Jangan pandang orang dari kacamata hitam. Ini paling penting" ujar Felix berbicara sendirian.


Felix berdiri dari duduknya. Lawan bicaranya sudah beranjak dari tadi. Felix tidak. Mau menjadi tontonan karyawan yang sedang menikmati makanan mereka. Karyawan yang makan diluar jam istirahat, adalah karyawan yang memakai jam istirahat mereka untuk bekerja.


Felix kemudian kembali menuju perusahaan. Dia menekan tombol lift yang khusus digunakan oleh petinggi perusahaan.


Felix kemudian masuk ke dalam lift. Dia berdiri tegak tampa melakukan kegiatan apapun di dalam lift tersebut.


Ting. Bunyi lift yang telah sampai di lantai tujuan mereka. Felix berjalan ke luar dari dalam lift. Deli yang melihat ada seseorang yang menuju lantai ruangannya dengan lift khusus itu, sudah bisa menebak siapa yang akan datang.


Deli kemudian beranjak dari meja kerjanya. Dia berjalan menuju kamar mandi. Felix melihat tidak ada Deli di meja kerjanya.


"Sepertinya, gue sudah salah menemui Deli tadi. Seharusnya gue tidak menemui dirinya" ujar Felix dengan suara pelan.

__ADS_1


Felix menuju ruangannya. Dia juga malas bertemu dengan Jero. Jero sama sekali tidak akan membahas tentang masalah itu.


Tepat pukul lima saatnya jam pulang kantor. Jero dan Felix keluar dari dalam ruangan mereka masing masing.


Felix melihat tas kerja Deli masih ada di atas mejanya. Tetapi Deli tidak terlihat sama sekali di situ.


'Kemana tu anak ya? Tadi bunyi sepatunya masih kedengaran. Sekarang sama sekali tidak. Kemana dia ya?' ujar Felix dalam hatinya.


"ayuk Felix kita pulang" ujar Jero mengajak Felix untuk pulang ke mansion.


Kedua boss itu masuk ke dalam lift. Deli yang berada di ruang meeting berjalan keluar menuju meja kerjanya. Dia akan turun memakai lift yang biasa dipakai oleh karyawan.


Deli berjalan menuju mobilnya. Dia akan langsung ke rumah Dian Sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat mereka semalam. Ketiga sahabat itu sepakat untuk malam ini tidur di rumah Dian. Mereka akan melanjutkan cerita tentang perusahaan Dian yang ada seseorang berniat menghancurkan perusahaan Dian dengan cara korupsi


Deli melakukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Dia tidak mau datang terlalu cepat, tadi Deli sudah menghubungi Dina. Dina juga baru jalan dari perusahaan. Jarak antara perusahaan Dina dan perusahaan tempat Deli bekerja dari rumah Dian, yang paling dekat adalah jarak antara perusahaan tempat Deli bekerja.


Tiba tiba, ponsel milik Deli berdering. Deli melihat sebuah nomor tidak dikenalnya menghubungi Deli. Deli yang tidak suka dengan orang yang menelpon tetapi dia tidak kenal itu, sama sekali tidak menanggapi telpon yang masuk itu. Deli membiarkan saja telponnya berdering.


Ternyata seseorang yang menelpon itu, luar biasa niatnya untuk menghubungi Deli.


"Siapa coba. Udah nggak diangkat sekali, berarti orang itu nggak mau nerima telpon dari kita tandanya. Ini masih juga nelpon. Dasar soplak" ujar Deli memaki maki ponselnya sendiri.


"Gue simpen dalam tas ajalah." ujar Deli saat ponselnya kembali berdering nyaring.


Deli mematikan nada dering ponselnya itu, kemudian Deli menyimpannya ke dalam tas kerjanya. Dia sangat tau tipe orang yang menghubunginya itu.


Orang itu tidak akan berhenti menghubungi Deli, sampai Deli mengangkat panggilan telpon dari dirinya.

__ADS_1


Deli kemudian mengikuti nyanyian yang dinyanyikan oleh penyanyi favoritnya. Deli menyanyi untuk menghilangkan rasa sakit hatinya agar kedua sahabatnya termasuk Kak Hendri tidak mengetahui kalau Deli sedang dalam amarahnya yang sangat besar itu


__ADS_2