Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 129


__ADS_3

Oke kakak setuju kamu memperkenalkan kakak dengan semua anggota keluarga yang ada di sini. Untuk kamu semuanya akan kakak berikan Din" ujar Juan sambil melihat ke adiknya satu satunya itu.


Seseorang yang harus di jaga dan harus di pastikan setiap sangat bahagia oleh Juan. Semenjak kedua orang tua mereka meninggal, Juan menanggung beban berat itu. Selain masalah perusahaan yang sangat itu bergoncang hebat, di tambah lagi Dina yang tidak bisa menerima kenyataan


Perjuangan Juan untuk mengembalikan rasa percaya diri Dina harus diacungi jempol. Juan sama sekali tidak pernah lelah untuk membuat Dina kembali bangkit. Semuanya dilakukan oleh Juan. Dina minta pindah ke negara ini, diizinkan Juan,Q walaupun resikonya Juan harus bolak balik negara A dan negara ini.


Dina minta Juan tidak mengenalkan dirinya kepada orang orang sebagai kakak melainkan sebagai asisten pribadi, semua itu dituruti oleh Juan. Sampai pada akhirnya Dina melihat bagaimana perjuangan Juan dalam menjaga dan membangkitkan rasa percaya diri Dina kembali, membuat. Dina percaya kalau Juan benar benar orang yang bisa dipeluknya saat ini setelah kematian kedua orang tua mereka.


Dina yang sudah mendapatkan persetujuan dari Juan untuk memperbolehkan Dina memperkenalkan Juan ke keluarga besar, membuat perasaan Dina menjadi sangat bahagia. Dina tersenyum saat Juan mengatakan kalau dia bersedia untuk diperkenalkan ke keluarga besar itu.


"Dina kasih tau Ayah dulu ya. Biar ayah mengumpulkan semua anggota keluarga kita" ujar Dina dengan senyum paling bahagia yang pernah dilihat oleh Juan dalam beberapa bulan ke belakang.


Juan mengangguk. Hanya dengan memperbolehkan Dina memberitahukan siapa dia kepada keluarga besar ini, sudah membuat Dina tersenyum seperti itu. Hal sekecil itu membuat Juan bangga terhadap dirinya. Janji saat kedua orang tuanya dikebumikan ditepati oleh Juan.


'Papi Mami. Tengokkan ya Dina tersenyum bahagia. Aku akan memastikan senyum itu selalu ada di sana' ujar Juan dalam hatinya sambil melihat ke langit yang cerah di rumah peristirahatan itu.


Ingan rasanya Juan menangis saat itu juga. Tetapi air matanya terlihat enggan untuk turun. Juan tau air mata itu tidak akan turun lagi sampai salah satu dari mereka berdua menyusul ke dua orang tua mereka. Itu adalah janji kedua yang diucapkan oleh Juan kepada kedua orang tuanya.


Juan melihat Dina yang melangkah dengan sangat ringan menuju Ayah yang sedang duduk dengan Hendri. Papi terlihat sedang berbicara dengan Felix di sudut bagian lain taman belakang itu. Mereka berdua terlihat sekaki sekali melirik ke arah Juan yang berdiri dengan santainya di depan sebuah dapur kecil yang terletak di taman belakang itu.


"Ayah, kak Juan udah bersedia untuk dikenalkan kepada keluarga besar kita." ujar Dina yang dengan semangatnya menyampaikan kabar bahagia itu kepada Ayah yang sedang berbicara dengan Hendri.


"Apa sayang?" tanya Ayah yang tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Dina tadi, karena Ayah sibuk mengobrol dengan Hendri membahas tentang pembangunan cabang kafe mereka yang sekarang sedang tahap penyelesaian. Rencananya cabang kafe itu akan dijadikan Ayah dan Bunda serta Hendri sebagai hadiah ulang tahun Deli. Tetapi rencana itu terpaksa di ubah menjadi hadiah pernikahan antara Jero dengan Deli.


"Kak Juan udah bersedia dikenalkan kepada keluarga kita Ayah." ujar Dina memberitahukan kepada Ayah apa yang tadi disampaikan oleh Dina tetapi tidak terdengar oleh Ayah.


"Oh oke Kak. Ayah akan kumpulkan semua anggota keluarga kita" ujar Ayah sambil menatap ke arah Dina dan mengangguk.


"Makasi Ayah" jawab Dina dengan tersenyum.


"Sama sama. Sana kamu panggil Juan untuk datang ke dekat Ayah. Kamu yang memperkenalkan atau Ayah?" tanya Ayah kembali kepada Dina.

__ADS_1


Dina terlihat berpikir sesaat. Dia menimbang nimbang apakah dia yang akan memperkenalkan Juan kepada semua orang atau Ayah yang akan memperkenalkan Juan kepada keluarga besarnya itu.


"Biar aku aja Ayah yang memperkenalkan Kak Juan kepada kita semua." kata Dina yang telah mengambil keputusan yang paling tepat. Memang sudah seharusnya Dina memperkenalkan sendiri Juan kepada keluarga mereka yang lain.


Ayah meminta perhatian semua anggota keluarga, Ayah mengatakan kalau ada sebuah pengumuman penting yang akan disampaikan oleh salah satu keluarga mereka.


Mereka semua kemudian mendekat menjadi satu. Dian yang tadi terlihat sibuk dengan pekerjaannya, meninggalkan pekerjaan itu terlebih dahulu. Dian dan Deli menuju ke tempat Ayah. Mereka berdua duduk di dekat Bunda dan Mami.


"Ada apa Bun?" tanya Deli kepada Bunda.


"Apa yang mau disampaikan oleh Ayah?" lanjut Deli bertanya dengan nada tidak sabar menunggu apa yang akan disampaikan oleh Ayah kepada mereka semua.


"Bunda juga nggak tau sayang. Ayah nggak ada ngomong apa apa ke Bunda dari tadi" ujar Bunda menjawab pertanyaan ke kepoan yang di tanyakan oleh Deli kepada Bunda.


"Ooo Ooo Ooo. Deli kira Bunda tau karena Ayah yang berdiri di sana" ujar Deli sambil tersenyum kepada Bunda.


Bunda tersenyum ke arah Deli dan menggeleng meyakinkan Deli kalau Bunda sama sekali tidak tahu apa yang akan disampaikan oleh Ayah saat ini.


Dina berjalan mendekat ke Ayah. Dia berdiri di sisi Ayah. Deli menatap ke arah Dian. Dian menggeleng menyatakan kalau dia sama sekali tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Dina kepada mereka semua.


"Sebelumnya Dina mengucapkan terimakasih karena semua keluarga karena sudah mau mendengar apa yang akan Dina sampaikan saat ini." ujar Dina membuka awal percakapan antara dirinya dengan keluarga besarnya.


Semua orang yang ada di sana menatap ke arah Dina. Gadis cantik yang berbadan tinggi semampai dan berwajah bule. Mereka semua tidak akan menyangka bagaimana perjuangan seorang Dina untuk bisa berdiri kembali di atas ke dua kakinya.


"Dina nggak akan berlama lama, Kak, sini" ujar Dina memanggil Juan yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


Juan kemudian berjalan menuju Dina. Dia berdiri di sebelah adik kesayangannya itu. Dina menatap ke arah Juan.


"Perkenalkan ini namanya Juan Kusuma Wijaya. Dia adalah kakak laki laki aku satu satunya. Maaf sebelumnya karena dari kemaren kemaren aku nggak memperkenalkan kak Juan kepada kita semua. Bukan kenapa kenapa, tetapi memang karena saat itu, kita semua dalam keadaan sibuk." ujar Dina mulai memperkenalkan Juan kepada keluarga besar itu.


"Kak Juan hadir di rumah peristirahatan pas pagi hari saat kita semua akan menghadiri acara pernikahan antara Jero dengan Deli. Makanya aku tidak sempat memperkenalkan Juan kepada kita semua" lanjut Dina memperkenalkan Juan kepada semua anggota keluarganya.

__ADS_1


"Aku tidak mau nanti karena tidak mengenalkan Kak Juan kepada keluarga besar, akan membuat beberapa orang dari keluarga berpikiran negatif kepada Dina dan kak Juan" lanjut Dina mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Tadi Ayah juga meminta aku untuk mengatakan semuanya kepada keluarga. Aku kemudian meminta bantuan kepada Ayah untuk mengumpulkan semua keluarga." lanjut Dina sambil menatap satu persatu keluarganya itu.


Dina menatap lama ke arah Papi dan Jero yang duduk berdekatan. Dina tau kalau Papi lah yang merasa curiga kalau Dina ada hubungan anek dengan Juan di belakang Felix.


"Ehem" ujar Juan meminta semua anggota keluarga untuk melihat kepada dirinya


Aura ruangan langsung di dominasi oleh Juan. Juan suda mengeluarkan kemampuannya untuk menyedot perhatian hanya kepada dirinya saja.


"Saya, Juan Kusuma Wijaya, mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga besar karena sudah menerima dengan baik Adik satu satunya Saya." ujar Juan membuka kalimat pertamanya secara resmi di depan semua anggota keluarga.


"Sebelumnya saya benar benar minta maaf karena terlambat berkenalan dengan semua anggota keluarga, terutama keluarga Edwardo yang tak lain akan menjadi keluarga baru adik saya Dina Kusuma Wijaya. Seharusnya saat pertama say datang saya harus memperkenalkan diri. Tetapi karena satu dan lain hal, barulah kali ini saya sempat memperkenalkan diri maaf" lanjut Juan sambil menatap satu persatu wajah keluarga Edwardo yang duduk terpisah pisah.


Juan menatap tajam ke arah Papi dan Mami yang kemaren sempat marah kepada Dina, karena Dina terlihat mengobrol dengan Juan sambil tertawa tawa. Papi dan Mami sadar Juan menatap ke arah mereka. Mereka berdua kemudian melepaskan pandangan dari menatap Juan.


"Kepada Tuan dan Nyonya Edwardo tolong Terima adik saya dengan segala kekurangannya. Saya mewakili kedua orang tua kami, sangat berharap keluarga Edwardo bisa menjaga adik saya dengan baik." lanjut Juan yang langsung saja masuk ke inti pembicaraan yang ingin disampaikannya langsung kepada keluarga Edwardo.


Dina menatap tidak percaya ke arah kakaknya itu. Dina tidak menyangka kalau Juan akan langsung mengatakan kepada keluarga Edwardo kalau dia menyerahkan Dina kepada keluarga Edwardo, dengan kata lain Juan sudah merestui Felix bersanding dengan Dina.


"Felix, saya mewakili keluarga saya, kami menyetujui hubungan kamu dengan Dina. Maaf kemaren saya sempat marah sama kamu, karena kamu tidak mengatakan langsung kepada saya kalau kamu menginginkan adik saya sebagai calon istri kamu" ujar Juan sambil melirik ke arah Felix.


"Saya akan melamar dia langsung kepada Kak Juan. Tunggu kedatangan saya di negara A, kak" ujar Felix langsung menjawab perkataan dari Juan.


"Tidak perlu Felix. Saat kamu sudah yakin akan melamar adik saya. Maka saya akan datang ke negara ini. Kita adakan saja di rumah Ayah" ujar Juan menjawab perkataan dari Felix.


Anggota keluarga kemudian riuh tertawa saat mendengar jawab jawaban antara Juan dan Felix. Dina tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Juan dan Felix. Dina bahagia sekali kakak dan calon suaminya itu bisa akur.


Deli dan Dian berjalan menuju sahabat mereka itu. Deli dan Dian memeluk Dina dengan pelukan kebahagiaan. Keluarga kemudian kembali bercakap cakap. Mereka melakukan dialog antara mereka sambil menunggu jadwal makan siang.


Para wanita sudah berada di dapur. Mereka akan membuat menu makan siang. Bunda dan Deli bertindak sebagai pemimpin untuk memasak menu makan siang.

__ADS_1


__ADS_2