
Fahad masih tertidur di sofa dengan suara dengkuran halus terdengar hingga ke telinga Kirana. Kirana membuka kedua matanya dan menatap ke arah jendela kamar rawat inap itu yang telah terang karena sinar matahari yang masuk ke dalam.
Kirana bangkit dari tidurnya dan duduk di atas ranjangnya lalu turun untuk ke kamar mandi sambil membawa infusan.
"Kirana?!" panggil Fahad dengan suara keras saat membuka matanya tidak melihat Kirana di ranjang rawat inap.
Fahad mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil nama Kirana berulang kali.
"Kirana!! Jawab atau aku dobrak pintu kamar mandi ini!!" teriak Fahad dari arah luar kamar mandi karena tidak ada jawaban dari dalam hingga Fahad terkejut saat pintu kamar mandi itu akan di dobrak, pintu kamar mandi itu sudah terbuka lebar dan Kirana keluar dari kamar mandi itu tanpa berdosa berjalan menuju ranjang rawat inap itu.
"Hei, apa kamu tidak mendengar ucapanmu sekaeras itu, Kirana?" teriak Fahad kesal karena diabaikan.
Kirana naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di atas ranjang itu dan mengambil posisi menyamping.
"Kirana, kamu kenapa sih? Suka tidak jelas?" tanya Fahad menatap lekat kedua mata Kirana.
Kirana langsung memejamkan kedua mata itu dan berpura-pura tidur.
Fahad yang kesal pun akhirnya keluar dari kamar rawat inap Kirana dan membanting pintu kamar itu dengan sangat keras.
Kirana membuka matanya saat mendengar suara keras pintu terbanting. Kedua matanya basah, meratapi semua perjalanan hidupnya yang begitu pahit.
Kirana sudah tidak sanggup lagi menahan semua kekesalan dan kekecewaan ini. Kirana pun nekat untuk menjenguk Syakir tanpa Fahad.
Jarum infusan itu secara paksa dilepas dan Kirana mengendap keluar dari kamar ruang inap itu menuju ruang ICU. Ruang itu sedikit ramai dan sepertinya Syakir sedang mendapatkan perawatan.
Melihat alat setrum jantung berada di dada Syakir membuat Kirana menganga tak percaya.
'Separah itu apa yang kamu alami Mas?' batin Kirana di dalam hatinya.
Kirana terus berjalan mendekati ruangan itu dan menatap ke arah kaca besar tembus pandang itu. Air matanya sudah tak terbendung lagi, melihat keadaan Syakir yang semakin memburuk.
Ada Fatima disana yang terus menangis dan memegang tangan Syakir.
'Kirana juga ingin ada di sampingmu Mas, Kirana ingin menguatkan kamu agar kamu bisa bertahan demi aku dan anakmu,' gumam Kirana di dalam hatinya.
__ADS_1
Kirana membuka pintu kamar ICU dan berjalan mendekati ranjang Syakir. Tubuh Syakir sudah memucat dan memutih, seperti mayat hidup. Tubuh Kirana bergetar hebat menahan dadanya yang sesak dan nyeri, menahan tangisnya agar tidak terus tumpah ruah dari kedua matanya.
Fatima menatap Kirana yang berjalan mendekati Syakir. Disana sudah ada Ayah Basith dan Bunda Ayu yang juga menatap ke arah Kirana yang berpenampilan beda dari Kirana yang dahulu.
Kebetulan Aby Fatih dan Umi Amira sedang mengurus rumah sakit baru yang akan menerima Syakir.
Syakir akan dipindahkan ke Mesir, agar tetap dekat dengan Fatima dan meneruskan kuliah kedokterannya disana.
"Mbak Kirana?" panggil Fatima pelan.
Kirana tidak menghiraukan panggilan Fatima dan tetap menatap wajah pucat Syakir. Kirana berhasil memegang tangan Syakir lalu dicium kedua punggung tangan itu dengan penuh kelembutan. Kirana mencium kening dan kedua pipi Syakir dan berbisik pelan.
"Bangunlah Mas, aku ingin melihat kedua mata indahmu," ucap Kirana pelan sambil menangis di sebelah kepala Syakir.
Kedua tangan Syakir bergerak pelan memberikan sebuah respon baik.
"Syakir masih hidup?!!" teriak dokter Richard dengan keras.
Di saat yang sama Fahad masuk ke dalam ruangan ICU itu mencari Kirana yang menghilang dari kamar rawat inapnya.
"Permisi Nona, biarkan tuan Syakir beristirahat, jangan di ganggu," ucap dokter Richard mengusir Kirana. Hanya Kirana yang di usir sedangkan Fatima tidak seolah Kirana mengganggu keadaan ini.
"Aku istrinya!? Aku mengandung anaknya?! Apa aku tidak boleh menemani suamiku sendiri?!" teriak Kirana dengan histeris.
Fahad menatap Kirana dengan iba.
"Mas Syakir bicaralah, bilang kepada mereka semua, jika aku istrimu," lirih Kirana saat dokter Richard berusaha membawa keluar Kirana dari ruangan ICU itu.
"Ayo Nona, selain keluarga tidak boleh berada di dalam," ucap dokter Richard pelan sambil memegang tangan Kiran dengan erat.
"Ayah, Bunda, biarkan Kirana berada di dekat Mas Syakir," teriak Kirana keras.
Buliran kristal pun terlihat jatuh dari kedua mata Syakir saat tangannya mulai bergerak dan bibirnya lirih menyebut nama Kirana.
Semua orang terdiam dengan mukjizat yang betul-betul karena kuasa Allah SWT. Kirana dengan sangat kuat melemparkan tangan dokter Richard dan berlari menghampiri Syakir.
__ADS_1
"Mas Syakir, bangun Sayang, Kirana disini," ucap Kirana lirih dekat telinga Syakir.
Syakir pun perlahan membuka kedua matanya lalu menatap ke arah Kirana. Tangannya berusaha menyentuh Kirana namun tenaganya begitu lemah hingga Kirana memegang tangan Syakir dan menyentuhkan tangan Syakir ke pipi Kirana.
"Kirana ...." lirih Syakir menyebut nama Kirana.
"Kirana disini Mas, bersama anak kita, lihatlah dia sehat dan baik-baik saja," ucap Kirana pelan berbisik.
Semua orang ikut haru dan menangis melihat kedua insan yang saling mendukung hingga Syakir bisa membuka matanya kembali.
"Kamu baik-baik, Kirana. Jaga anak kita," ucap Syakir lirih dengan napas tersengal-sengal.
"Kamu harus kuat Mas, harus bertahan dan sembuh, demi aku, semua anak kita," ucap Kirana lirih.
Syakir mengangguk pelan lalu napasnya begitu sesak dan kesulitan bernapas hingga dokter Richard ikut turun tangan untuk memberikan napas buatan dan memberikan oksigen.
"Pindahkan Syakir segera agar mendapatkan perawatan lebih baik," teriak Aby Fatih yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ICU dan menatap ke arah Kirana.
Semua perawat dan dokter mempersiapkan segala keperluan Syakir saat pemindahan. Fatima berada dalam pelukan Bunda Ayu, dan Kirana? Kirana hanya sendiri tanpa pembelaan.
"Siapa perempuan ini?" tanya Aby Fatih dengan rasa penasaran.
Fahad mendekati Kirana dan memeluk wanita kesayangannya itu.
"Wanita ini istri tuna Syakir," ucap Fahad membela Kirana lalu menarik tangan Kirana untuk segera keluar dari ruang ICU itu.
"Apa?!" teriak Aby Fatih tidak percaya.
"Kita pergi Kirana, Syakir kembali koma, kita hanya bisa mendoakan saja," lirih Fahad saat berjalan keluar dari ruangan ICU itu.
"Aku istrinya, jangan memberikan berita yang tidak benar!!!" teriak Fatima tidak terima.
Bukan tidak terima, tapi Fatima tidak ingin Abynya mengetahui hal besar ini.
"Fatima, apa yang sedang disembunyikan sebenarnya?" teriak Aby Fatih dengan murka.
__ADS_1
"Jangan dengarkan hal yang tidak berguna Aby, percayalah pada Fatima. Dia perempuan gila!?!" teriak Fatima dengan histeris.