Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
157


__ADS_3

Kirana terus terisak di kursi tunggu dekat ruang ICU itu. Rasanya masih ingin berdekatan dengan Syakir, Suaminya seolah dirinya tidak dianggap bahkan oleh kedua mertuanya yang hanya bisa diam membeku tanpa ada pembelaan sama sekali.


Fahad ikut sibuk dalam pemisahan pasien Syakir menuju rumah sakit terbaik di Mesir. Syakir sempat sadar dan kemudian tidak sadarkan diri lagi karena memaksakan diri untuk berpikir keras hingga tubuhnya lemas dan kekurangan oksigen.


Kirana hanya menatap nanar melihat ranjang itu dipindahkan oleh beberapa perawat menuju mobil khusus menuju bandara khusus dimana sudah menunggu pesawat khusus yang mengantarkan pasien dan keluarga pasien menuju Mesir.


Tubuh Kirana sudah lemas dan bergetar tidak mampu lagi mengejar Syakir dan mempertahankan semuanya hanya untuk keegoisan Kirana.


Demi kesembuhan Syakir, Kirana memang harus ikhlas memberikan jiwa dan raga Syakir kepada Fatima yang pasti akan merawatnya dengan baik


"Maafkan aku, Kirana. Harus membuka semuanya tadi," ucap Fahad pelan lalu duduk di samping Kirana.


Harapan Kirana kini telah pupus, tidak bisa bersama dengan suami tercintanya.


Suara langkah kaki mendekat ke arah tempat duduk Kirana dan Fahad.


Fatima berdiri tepat di depan Kirana lalu memberikan sebuah amplop coklat berukuran besar.


"Mbak Kirana, maafkan Fatima telah menyebutku gila, ini sebuah pilihan hidup yang tidak bisa dipilih oleh Fatima," ucap Fatima pelan.


Kirana menerima amplop coklat itu dan membuka amplop itu. Berkas surat perceraian yang harus ditandatangani oleh Kirana sebagai penggugat.


Kirana berdiri dengan murka, lalu melemparkan berkas itu tepat di wajah Fatima.


"Seharusnya aku yang melakukan ini untuk kamu, Fatima!! Aku ikhlaskan suamiku menikahinya karena nama baik keluarga?! Bukan perceraian yang aku inginkan!!" tegas Kirana dengan sangat lantang.


Kirana menghentakkan kakinya lalu berbalik arah untuk pergi meninggalkan Fatima dengan kesal.


"Apa yang kamu inginkan Mbak Kirana?!! Uang?!!" teriak Fatima keras.

__ADS_1


"Aku tidak butuh uangmu Fatima, jangan buat aku untuk tidak berlaku kasar kepadamu!! Aku tidak akan pernah menceraikan suamiku hingga suamiku sendiri yang menalakku," ucap Kirana lantang.


"Apa yang kamu harapkan dari Mas Syakir?! Sudah tidak ada lagi yang bisa kamu harapkan, setelah ini, kamu juga tidak bisa lagi bertemu dengannya," ucap Fatima mengingatkan Kirana.


"Takdir, biar takdir yang mengembalikan Mas Syakir kepadaku. Aku yakin Mas Syakir akan kembali untukku dan anakku," ucap Kirana tegas dan pergi meninggalkan Fahad dan Fatima.


"Kirana!!" panggil Fahad dengan berteriak keras.


Kirana sudah tidak peduli lagi dengan semua panggilan orang lain terhadapnya. Kini tujuannya adalah satu mendoakan kesembuhan suaminya dan berjuang melahirkan bayi mereka lalu membesarkan anak mereka berdua. Lalu, Kirana harus sanggup membangun usaha dan menyelesaikan kuliah kedokterannya.


Hidupnya sudah hampa, melihat Syakir sudah lemah tak berdaya, tapi Kirana berharap yang terbaik untuk Syakir, suaminya.


Fatima pun pergi, meninggalkan Amerika dengan sejuta kenangan pahit dan membuka lembaran baru di negeri yang baru bersama dengan Syakir dan berharap Syakir bisa melupakan semua kenangannya bersama Kirana.


Fahad mengejar Kirana dengan cepat dan menggandeng tangan Kirana seolah menguatkan wanita hamil itu.


Kirana berhenti menatap tajam ke arah Fahad.


"Jahat kamu, Fahad!! Seharusnya kamu memberikan dukungan dan doa terbaik, bukan malah melemahkan semua harapanku?!!!" ucap Kirana dengan keras.


Kirana pun langsung berlari kencang, kesal dengan semua yang ada di dunia. Kepalsuan dan kepura-puraan selalu ada dan ditamengi pada kebaikan.


"Kirana maafkan aku?!" teriak Fahad lalu mengejar Kirana dan menarik tangan Kirana hingga tubuh Kirana berbalik dan memeluk Fahad.


Kirana langsung mendorong keras tubuh Fahad hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Fahad terdiam, perlakuan ini memang pantas didapatkan oleh Fahad. Kirana buka perempuan sembarang, tapi perempuan tegar dan setia pada komitmen.


Malam itu, Kirana berusaha memejamkan kedua matanya, namun terasa sangat sulit sekali, pikirannya selalu melayang dan terbayang sosok Syakir yang lemah dan masih tidak berdaya.


'Apa kamu sudah sampai Mas? Semoga kamu mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi,' gumam Kirana dalam hatinya.

__ADS_1


Kirana bertekad untuk sukses dan berusaha untuk menjadi wanita mandiri yang menjadi impiannya selama ini. Jika memang Syakir masih ditakdirkan untuk bersamanya, maka Syakir akan kembali menemuinya.


Tapi, jika memang takdir menginginkan perpisahan maka semua akan berakhir.


Tidak ada yang sulit bagi Allah memberikan suatu cobaan tentu dengan jawabannya. Asal kita mau berusaha dan berserah diri, itu suatu modal dengan iman yang kuat.


"Mbak Kirana?" panggil Maya pelan sambil mengetuk pintu kamar itu.


"Masuk Maya," teriak Kirana menyuruh Maya segera masuk ke dalam kamarnya.


Maya pun segera masuk ke dalam dan duduk ditepi ranjang dekat Kirana.


"Ada apa Maya, maaf belum sempat mencari kios, Mbak masih sibuk dengan urusan Mbak," ucap Kirana pelan menatap Maya.


"Tidak apa-apa Mbak. Ini malah Maya mau bilang, kalau Maya sudah sewa tempat dekat kampus Mbak Kirana, dan semua uang yang Mbak Kirana titipkan serta hasil penjualan kue selama ini, Maya gunakan untuk sewa tempat dan membeli peralatan serta bahan-bahan makanan yang dibutuhkan. Besok datang Mbak, kita potong pita pembukaan Kedai Hapsa," ucap Maya pelan penuh kebahagiaan.


"Kamu serius Maya?" ucap Kirana tidak percaya.


Kirana langsung memeluk Maya dengan penuh kasih sayang, tidak tahu harus mengucapkan rasa terima kasihnya seperti apa.


Maya pun bahagia bisa saling membantu untuk tujuan kesuksesan bersama. Berkat Aki Uban dan Kirana, hidupnya juga menjadi berubah semakin baik, apalagi, kedua orang tuanya juga sudah ditemukan, itu semua adalah suatu kebahagiaan yang sangat luar biasa patut disyukuri.


Malam ini ada dua kejadian, kejadian pahit berujung duka dan kejadian manis berujung kebahagiaan.


Kirana berusaha melupakan kesedihannya dan tetap fokus pada perjalan hidupnya yang masih sangat panjang. Anak yang ada di kandungannya pun membutuhkan kasih sayang Kirana, belum lagi kuliahnya yang juga akan menyita waktu Kirana dan usaha yang mungkin masih bisa dibantu oleh Maya.


Perjalanan hidup Kirana tidak berhenti sampai disini, tidak perlu lagi ada tangisan. Lebih baik mengikhlaskan dari pada mempertahankan dan menangisi sesuatu hal yang bukan menjadi takdir dan miliknya. Syakir, Suaminya hanyalah status di atas kertas yang SAH di dalam buku nikah mereka. Tapi, secara realnya SUAMIKU BUKAN MILIKKU, masih ada perempuan lain yang ikut memiliki jiwa dan raganya tapi tidak dengan cinta dan kasih sayangnya.


Mimpi indah berusaha hadir dalam lelapnya tidur Kirana. Mimpi indah yang suatu saat nanti akan menjadi kenyataan. Semua itu berawal dari mimpi dan berakhir pada usaha yang nyata.

__ADS_1


__ADS_2