Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 44


__ADS_3

Keesokan harinya, cuaca di negara J kurang bersahabat. Angin berhembus dengan kencang dan hujan turun dengan derasnya. Deli dan Dina yang telah selesai bersiap siap tinggal menunggu panggilan dari Jero dan Felix untuk pergi sarapan ke restoran.


"Apa mereka masih tidur kali ya Del, udah jam segini mereka masih juga belum datang" ujar Dine melihat jam mahalnya.


"Bisa jadi. Kamu tengok sendiri cuacanya sangat tidak bersahabat. Gue yakin kita nggak akan diizinkan untuk terbang" ujar Deli menatap keluar kaca jendela hotel.


Dina kemudian berdiri dan berjalan ke dekat kaca jendela. Dia melihat hujan yang mengguyur dengan begitu derasnya ibu kota negara J. Belum lagi petir yang menyambar nyambar dan berbunyi luar biasa kerasnya memekakan telinga.


"Kalau kayak gini cuaca bener kata loe Del. Nggak akan mungkin pihak bandara mengizinkan pesawat terbang. Untuk mendarat aja susah apalagi untuk terbang" ujar Dina setuju dengan apa yang dikatakan oleh Deli tadi saat melihat sendiri bagaimana cuaca yang ekstrim sedang terjadi di negara J.


"Gue makin yakin mereka tidur" ujar Dina.


Dina kemudian menuju telpon kamar. Dia menghubungi resepsionist untuk meminta layanan kamar mengantarkan sarapan untuk mereka.


Deli dan Dina kemudian menyalakan televisi. Mereka bersantai di sofa kamar sambil menonton televisi.


Saat mereka serius menatap ke layar televisi, pintu kamar hotel mereka di ketuk dari luar. Deli yang paling dekat dengan pintu kamar berdiri dan membukakan pintu kamar. Deli melihat pelayan dari restoran hotel datang membawakan mereka sarapan.


"Permisi Nona, ini sarapannya" ujar Pelayan membawa sarapan dari restoran hotel.


"Tolong tarok di atas meja saja" ujar Deli.


Pelayan hotel kemudian masuk ke dalam kamar. Dia kemudian menghidangkan sarapan di atas meja tepat di dekat televisi yang sedang menyala. Setelah memastikan semuanya telah terhidang dengan sempurna, pelayan hotel kemudian pamit keluar kamar.


"Deli, sini makan" ujar Dina yang memang sudah merasakan lapar di perutnya.


Deli mendekat ke arah meja. Dia mengambil nasi goreng lengkap dengan ayam dan juga mie goreng. Mereka kemudian makan sarapan yang sudah terlambat itu.


Tiba tiba ponsel milik Dina berdering. Dina meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Siapa Din?" tanya Deli.

__ADS_1


"Juan." ujar Dina.


"Hallo Juan, ada apa?" tanya Dina saat dia mengangkat panggilan telpon dari Juan.


"Nona masih di negara U?" tanya Juan yang tadi mendengar kalau pesawat tidak bisa terbang ataupun mendarat di bandara ibu kota negara U dari berita yang disiarkan oleh televisi.


"Masih ini sedang sarapan di hotel. Ada apa Juan?" tanya Dina kepada asistennya itu.


"Tidak ada Nona. Saya kira Nona sudah terbang ke negara Nona kembali. Saya cemas karena mendengar di berita cuaca negara J sedang tidak bersahabat untuk melakukan penerbangan. " ujar Juan mengatakan apa maksudnya dia menghubungi Dina.


"Belum Juan. Saya belum terbang. Untuk ke bandara saja susah, bagaimana mau terbang. Rencananya kami akan terbang tunda saja." ujar Dina memberitahukan rencananya kepada Juan.


"Siap Nona." jawab Juan yang lega ternyata Nona mudanya itu tidak dalam kondisi terbang saat dia menelpon.


"Bagaimana dengan perusahaan pusat Juan? Apa baik baik saja?" tanya Dina yang memang sudah lama tidak memangau perusahaan pusat yang dibebankan tanggung jawabnya kepada Juan tetapi keputusan penting tetap diambil oleh Dina.


"Aman terkendali Nona. Tidak ada permasalahan berat yang mengharuskan Nona untuk turun tangan. Semuanya masih bisa saya kendalikan" ujar Juan.


"Jangan memuji saya seperti itu Nona. Oh ya Nona sudah dulu, saya ada meeting di luar. Stay Safe Nona." ujar Juan.


"Sama sama Juan. Nanti kalau saya terbang, saya pasti akan beritahu kamu. Minimal rawat boong itu akan memberitahukan kepada kamu kalau dia telah meninggalkan bandara negara J" ujar Dina yang tau Juan memantau semua kendaraan yang dimiliki Dina.


Dina kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Juan. Saat itulah Dina melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Felix. Dina kemudian menghubungi kekasihnya itu.


"Hallo sayang, ada apa?" ujar Dina saat Felix mengangkat panggilan dari dirinya.


"Kalian udah sarapan?" tanya Felix dengan nada dingin.


Dina yang mendengar nada berbicara Felix sudah berubah tau kalau Felix sedang marah karena Dina tidak mengangkat telpon darinya.


"Tadi, Juan yang menghubungi. Ada sedikit masalah di perusahaan, makanya aku tidak mengangkat panggilan telpon." ujar Dina menerangkan kepada Felix kenapa dia tidak mengangkat panggilan telpon dari Felix.

__ADS_1


"Apa kata Juan?" ujar Felix yang sudah mengembalikan nadanya seperti semula.


"Juan mengatakan kalau ada satu proyek yang bermasalah. Sekarang dia sedang meeting dengan perusahaan tersebut." ujar Dina memberitahukan kepada Felix apa isi telpon dari Juan tadi.


"Terus, apa kamu perlu kembali ke perusahaan utama?" tanya Felix.


"Tidak sayang. Semua sudah bisa dikendalikan oleh Juan. Juan ahli dibidangnya. Jadi aku percaya dia bisa menyelesaikan permasalahan itu." ujar Dina menjelaskan kepada Felix.


"Aku percaya dia bisa menyelesaikan sayang. Siapa yang nggak kenal Juan Wijaya Kusuma" ujar Fekix menyebutkan nama lengkap Juan.


"Hahahahaha. Kenapa kamu menyebutkan nama lengkapnya sayang?" tanya Dina mulai menggoda Felix.


"Sayang, aku bersyukur banget nama belakangnya sama dengan nama kamu. Jadi, aku tidak perlu cemburu saat kamu bekerja dengan dia berdua saja" ujar Felix mengakui kenapa dia menyebut nama panjang Juan dengan lengkap.


"Hahahaha. Jadi, saat kamu belum tau nama lengkap Juan, kamu cemburu?" tanya Dina sambil menahan senyumnya.


"Iya sayang sangat cemburu. Kamu dengan dia terlihat sangat asik dan nyambung kalau telah ngobrol. Tidak seperti rekan kerja" ujar Felix baru mengakui semuanya sekarang. Setelah satu bulan mereka menjalin hubungan serius.


"Tidak apa apa sayang. Aku juga salah tidak menceritakan kepada kamu apa hubungan aku dengan Juan" ujar Dina mengakui kesalahannya. Dina berpikir selama ini kalau Felix tidak bakalan cemburu kepada Juan.


"Gimana ceritanya sayang?" tanya Felix yang ingin tahu bagaimana Juan bisa memakai nama Wijaya Kusuma di belakang namanya.


"Kamu bisa ke kamar aja nggak sayang. Capek cerita lewat ponsel ni" ujar Dina yang sebenarnya kangen ingin melihat wajah Felix kekasihnya itu.


"Oke aku ke sana sekarang" ujar Felix.


Felix memutuskan panggilan telponnya dengan Dina.


"Jero, gue ke kamar Dina bentar. Loe mau ikut atau tidak?" tanya Felix kepada Jero yang sibuk membaca dokumen dokumen penting perusahaannya yang ternyata ada seekor tikus kecil ingin bermain main dengan dirinya.


"Nggak. Loe aja. Gue lagi baca dokumen perusahaan" ujar Jero menolak ajakan Felix untuk ke kamar Dina dan Deli.

__ADS_1


Fix kemudian menuju kamar Dina. Dina akan bercerita tentang Juan dan keluarganya yang lain. Termasuk penyebab kecelakaan keluarga besarnya itu.


__ADS_2