
Deli yang tertidur pulas dari tadi, tidak mengetahui kalau pesawat yang akan ditumpanginya akan melakukan pendaratan sebentar lagi. Deli masih terlihat nyaman dalam tidurnya, sampai tidak ada terlihat tanda tanda dia akan bangun. Pramugari telah berjalan mondar mandir dari tadi di dekat Deli, Pramugari berencana untuk membangunkan Deli dari tidurnya. Pramugari terlihat ragu untuk membangunkan Deli yang tidur sangat nyenyak itu. Mereka harus memastikan semua penumpang saat melakukan pendaratan dalam posisi nyaman.
"Bangunkan saja tidak apa apa." ujar Jero yang dapat melihat dengan nyata keragu raguan dari pramugari untuk membangunkan Deli.
"Baik Tuan." jawab Pramugari yang telah mendapatkan izin dari Jero untuk membangunkan Deli yang terlelap tidur.
Pramugari berjalan ke kursi Deli.
"Nona, Nona Deli bangun. Kita akan mendarat Nona." ujar pramugari membangunkan Deli sambil memukul sedikit pundak Deli.
Deli yang merasa pundaknya ada yang memukul, berusaha membuka mata indahnya yang masih sedikit mengantuk. Deli mengucek matanya sebentar. Deli berusaha sadar dari tidurnya. Deli menatap ke arah pramugari yang berada di sampingnya saat ini.
"Apakah anda yang menepuk pundak saya? Maaf, saya tertidur." ujar Deli.
"Benar Nona, saya yabg menepuk pundak Nona" jawab pramugari.
"Tolong perbaiki duduk Nona. Kemudian pasang seltbelt, karena sebentat lagi kita akan mendarat Nona." ujar pramugari memberitahukan kepada Deli tujuan dia membangunkan Deli dari tidurnya.
"Oh oke baik terimakasih. Maaf sudah merepotkan. Saya tertidur tadi." ujar Deli dengan segan kepada pramugari yang sudah direpotkannya itu.
"Tidak apa apa Nona. Sudah tanggung jawab kami untuk memberikan pelayanan terbaik untuk para penumpang. Saya permisi kembali ke bangku saya Nona." ujar pramugari.
"Saya permisi kembali ke kursi saya dulu Nona. Sebentar lagi pesawat akan mendarat." ujar Pramugari.
Pramugari kembali ke bangkunya. Deli membetulkan duduknya dan juga memasang seltbelt. Pramugari juga memasang seltbeltnya.
Jero menatap Deli. Dia kasihan dengan asistennya itu. Deli terlihat sangat cemas. Keringat dingin sudah membasahi wajah cantiknya. Deli berusaha menetralkan detak jantungnya agar tidak seperti saat pesawat takeoff.
__ADS_1
"Dia benar benar fhobia. Kasian. Semoga dengan sering pergi perjalanan bisnis dia bisa mengurangi rasa fhobianya naik pesawat." ujar Jero sambil menatap lama Deli yang terlihat sangat jelas sedang menata jantungnya agar tidak berteriak kencang.
Pesawat mulai turun mendekati bandara. Pilot sudah mengeluarkan soda pesawat. Pesawat mendarat dengan mulus dilandasan pacu bandara. Untung saja saat pesawat akan melakukan pendaratan, cuaca mendukung seratus persen, kalau tidak maka sudah bisa dipastikan Deli akan langsung syok melebihi saat pesawat akan take off. Deli yang memejamkan matanya dengan kuat, membuka mata dengan perlahan saat pesawat sudah berhenti.
"Alhamdulillah" ujar Deli mengucap sukur karena pesawat mendarat dengan sukses di landasan pacu.
"Apa masih takut?" tanya Jero setengah meledek setengah lagi dengan niat jujur.
"Sekarang sudah tidak Tuan. Besok pas pulang akan kembali takut lagi." jawab Deli yang bangga akan dirinya yang tidak berteriak histeris saat di atas pesawat.
"Nona semoga kedepannya anda tidak cemas lagi." ujar pramugari sambil menahan senyumnya.
"Makasi. Tapi saya akan selalu takut." ujar Deli mengakui ketakutannya naik pesawat.
Jero dan Deli turun dari pesawat. Jero melihat sebuah pesawat pribadi baru juga mendarat. Dia melihat kode di badan pesawat adalah KW Grub. Jero sudah tau siapa yang sebentar lagi akan turun dari pesawat yang berbadan lebih besar dari pada pesawat milik Jero.
"Mari kita ke ruang ruangan tunggu." ujar Jero kepada Deli.
Felix dan Dina yang bersamaan mendarat dengan Jero dan Deli, juga menuju ruang tunggu. Dina sama sekali tidak tau kalau Jero dan Deli sudah mendarat. Dina tidak tau sama sekali pesawat milik Jero. Berbeda dengan Felix yang sudah tau kalau Jero dan Deli sudah mendarat saat melihat pesawat keluarganya sudah mendarat.
Felix dan Dina berjalan masuk ke dalam ruang tunggu penumoang pesawat privet jet. Jero dan Deli juga masih di sana.
'Loe di ruang tunggu?' ujar Felix mengirim pesan kepada Jero.
'Yup. Gue tunggu sini aja. Kita sama ke hotel.' jawab Jero membalas pesan chat dari Felix.
Jero yang sibuk dengan ponselnya. Deli juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
'Gue udah sampe dengan selamat walaupun rada ngeri juga pas pesawat take off dan landing.' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Deli kepada Dian sahabatnya yang sekarang sedang berada di kafe.
Dian yang melihat langsung menuju Ayah dan Bunda yang sedang menyiapkan pesanan para tamu yang datang.
"Ayah, Bunda. Deli udah mendarat dengan selamat. Katanya dia memang sedikit takut saat take off dan landing, selebihnya biasa saja." ujar Dian menyampaikan kabar gembira itu kepada Ayah dan Bunda.
"Alhamdulillah kita sudah bisa kembali konsentrasi bekerja. Bunda dari tadi nggak tau apa yang mau Bunda kerjakan. Pikiran Bunda hanya ke Deli dari tadi." ujar Bunda sambil menelungkupkan tangannya ke wajahnya mengucapkan syukur karena anaknya sudah mendarat dalam keadaan baik baik saja.
Ayah dan Bunda serta Hendri dan Dian kembali bekerja di kafe. Dian tadi hanya ke perusahaan setengah hari. Mood Dian rusak karena memikirkan Deli yang melakukan penerbangan. Setelah yakin Deli sudah selamat barulah mood keluarga Bramantya dan Dian kembali stabil.
Felix membuka pintu ruang tunggu. Dina yang dari tadi menatap ke depan langsung saja merasa bahagia saat melihat seseorang yang telah duduk di sana.
"Deli!!!!!!!" teriak Dina dengan kencangnya.
"Dina!!!!!!" balas Deli tidak mau kalah dengan teriakannya.
Mereka berdua kemudian langsung berpelukan. Mereka sudah seminggu tidak bertemu. Mereka meluapkan rasa rindu itu dengan berpelukan lama sekali.
Untung saja orang yang ada di ruang tunggu itu hanya mereka berempat, kalau ada yang lain maka betapa malunya Jero dan Felix akibat tingkah kedua wanita itu.
Deli mengajak Dina untuk duduk. Dina langsung melupakan Felix kekasih hatinya yang juga sudah duduk dengan Jero. Felix dan Jero terlibat urusan serius.
Tak berapa lama menunggu semua barang barang milik ke empat orang itu sudah diantarkan oleh pramugari. Felix dan Jero membawa barang lebih banyak.
"Kita nginap dimana?" tanya Dina yang tidak memiliki hotel di negara ini.
"Nginao di hotel yang ada di sini aja." jawab Felix.
__ADS_1
"Masalah hotel tenang aja, udah saya booking dua kamar. Kamu bersama dengan Deli, sedangkan saya denga. Felix." ujar Jero memberitahukan pembagian kamar kepada ketiga temannya itu.
Mereka kemudian naik ke atas mobil yang dikirim oleh pihak hotel untuk menjemput Jero dan yang lainnya ke bandara. Mereka akan menuju hotel untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh.