
Ayuk istirahat lagi. Besok tapi meeting jam sembilan. Nanti, kamu nggak fit saat meeting. Meeting memerlukan konsentrasi penuh supaya memperoleh hasil yang maksimal." ujar Felix meminta Dina untuk beristirahat.
Felix tau kalau Dina sudah sangat letih dan harus beristirahat. Siang tadi Dina tidak puas untuk beristirahat, Dina tadi siang memang beristirahat tetapi tidak maksimal, Dina tetap membaca dan mempelajari semua materi meeting untuk esok hari.
Felix mengecup puncak kepala Dina. Felix membawa Dina kedalam pelukannya. Dina menghirup aroma wangi yang paling disukainya dari tubuh Felix. Felix mengusap lembut punggung Dina. Felix memberikan ketenangan kedalam diri Dina.
"Sudah sana istirahat. Aku juga akan istirahat lagi." ujar Felix mengantarkan Dina sampai ke depan pintu kamarnya.
Dina masuk ke dalam kamarnya. Felix menutup pintu kamar Dina. Setelah memastikan Dina sudah tertidur, Felix mematikan semua lampu, setelah itu dia mengambil air minum segelas. Felix membawa air minum itu ke dalam kamarnya. Felix memiliki kebiasaan meminum air putih segelas sebelum dia tidur untuk beristirahat.
KAFE DELI
"Deli, Deli, Deli" panggil Bunda dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamar Deli yang masih tertutup rapat.
Bunda melihat jam dinding kamar sudah menunjukkan pukul enam pagi hari. Tapi yang namanya Deli masih juga belum bangun dari tidurnya.
"Deli, Deli" panggil Bunda sekali lagi mencoba peruntungannya.
Deli yang baru keluar dari kamar mandi langsung berjalan membuka pintu kamar. Deli melihat Bunda yang sedang berdiri di depan pintu sambil memegang sapu.
"Ada apa Bun?" tanya Deli yang terlihat baru selesai mandi.
"Ooh kamu udah mandi?" tanya Bunda yang melihat Deli memakai jubah mandinya.
"Udah Bun, makanya Deli tidak mendengar Bunda manggil Deli tadi. Deli baru keluar kamar mandi." ujar Deli sambil menatap Bundanya dengan heran.
"Ada apa ya Bun?" tanya Deli.
"Bos kamu ada mesan sarapan? Kalau ada biar Bunda bungkuskan." ujar Bunda.
Bunda mengetahui kalau setiap hari pasti kedua bos Deli akan meminta Deli untuk membawakan bekal sarapan mereka berdua.
"Ada Bunda. Katupek gulai toco satu dan gorengan." jawab Deli mengatakan pesanan katupek yang dipesan oleh Tuan Jero kemaren.
"Cuma satu kan ya?" tanya Bunda memastikan kembali pesanan yang dikatakan oleh Deli.
"Yup hanya satu. Tuan Felix tapi sedang nemanin Dina ke negara A." jawab Deli.
"Ya udah sana siap siap." kata Bunda kepada Deli.
Bunda menutup pintu kamar Deli. Deli kemudian bersiap siap memakai pakaian kerjanya. Dia juga tidak lupa memakai make up yang cukup tipis untuk mempercantik wajahnya yang memang sudah cantik itu.
Setengah jam waktu yanh dibutuhkan oleh Deli untuk bersiap siap. Setelah yakin dengan tampilan dirinya, Deli meraih tas kerja dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas itu.
Deli kemudian keluar kamar. Dia menuju meja sarapan untuk meminum susu yang telah disediakan oleh Bunda.
"Kamu langsung berangkat Del?" tanya Kak Hendri yang sedang sibuk mengepak kue kotak pesanan kantor pemerintahan.
"Iya Bang. Ada apa?" tanya Deli kepada Hendri.
"Nggak ada apa apa. Hati hati di jalan aja." ujar Hendri sambil tersenyum kepada Deli.
"Kira ada apa coba."
Deli mencomot satu risoles yang akan dimasukkan Hendri ke dalam kotak. Hendri memukul tangan Deli.
"Yang di sana." ujar Hendri menunjuk sebuab nampah yang di atasnya ada beberapa risoles yang gagal saat digoreng.
Deli mengambil satu risoles.
"Pamit dulu kak." ujar Deli sambil mencium tangan Hendri.
Deli keluar dari dalam rumah. Dia menuju Bunda yang ternyata sedang menyiapkan pesanan pengunjung kafe.
"Bunda mana punya Deli?" tanya Deli sambil melihat isi sebuah paperbag kecil yang biasa dipakai Deli untuk membawa bekal.
"Ada di dekat meja kecil itu." jawab Bunda.
Deli mengangkat paperbag yang dilihatnya tadi.
"Ini Bun?" tanya Deli kepada Bunda.
"Iya." jawab Bunda.
Deli kemudian bersalaman dengan Ayah yang baru siap mengantarkan pesanan. Setelah bersamalam dengan Ayah, Deli bersalaman dengan Bunda.
"Deli pamit dulu Bun." ujar Deli.
Deli kemudian masuk ke dalam mobil. Dia menghidupkan mobil yang telah dipanaskan oleh Ayah. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal Deli melajukan mobilnya menuju kantor tempat dia bekerja.
__ADS_1
Setengah jam waktu yang diperlukan oleh Deli untuk sampai di kantor. Deli memarkir mobilnya di tempat parkir khusus karyawan. Setelah itu Deli masuk ke dalam lobby kantor dan mengambil kehadiran dirinya.
Ternyata hari itu Deli bersamaan datang dengan Bos besarnya. Jero ntah kenapa bisa sangat pagi datang ke kantor.
"Deli, sama aja kita ke atas." ujar Jero yang melihat Deli akan menutup pintu lift.
Deli sama sekali tidak melihat Jero saat dia masuk ke dalam lift khusus ruangan CEO itu.
Jero kemudian masuk ke dalam lift. Dia menscan kartu miliknya.
"Ada kamu bawakan pesanan saya?" tanya Jero saat mereka berdua di dalam lift.
"Ada Tuan, ini." ujar Deli sambil mengangkat paperbag yang berisi katupek dan gorengan pesanan Jero.
"Pakai teh hangat kali ini. Jangan kopi lagi. Lama lama minum kopi bisa hitam kulit saya nanti." ujar Jero berusaha berkelakar dengan Deli.
Tapi kelakaran Jero terasa garing dan tidak asik di telinga Deli.
Ting, bunyi lift sampai di lantai yang mereka tuju. Pintu lift kemudian terbuka lebar. Jero dan Deli keluar bersamaan. Deli meletakkan paperbag yang dibawanha tadi ke atas meka kerjanya.
Deli lalu menuju pantry untuk membuat dua gelas teh hangat. Serta mengambil piring untuk sarapan miliknya dan milik Jero tak lupa pula Deli membawa tempat untuk gorengan dan kuah cabai gorengan.
Setelah membuat dua gelas teh hangat, Deli membawa perlengkapan sarapan ke atas mejanya. Deli mengeluarkan pesanan sarapan Jero. Deli menuang katupek pesanan Jero dan meletakkan gorengan serta kuah cabainya.
Setelah selesai Deli membawa semua sarapan ke dalam ruangan Jero.
"Taruh di situ Del." ujar Jero.
Deli menaruh semuanya di atas meja yang ada di ruangan Jero. Setelah itu Deli kembali keluar, dia akan makan sarapannya sendiri.
Dering telepon berbunyi nyaring di telinga Deli. Deli mengangkat panggilan telpon itu.
"Deli keruangan saya." ujar Jero.
Deli mengambil agenda kegiatan Jero hari ini. Deli kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan Jero. Dia mengetuk pintu ruangan Jero.
"Masuk Del." ujar Jero dari dalam ruangan.
Deli membuka pintu ruangan. Dia berjalan ke arah Jero.
"Permisi Tuan. Agenda kegiatan Tuan sudah saya letakkan di atas meja." ujar Deli yang menyangka Jero tidak menemukan agenda kegiatannya hari ini.
Deli kemudian menatap Jero.
'Udah dibaca kenapa harua manggil saya lagi ke sini' ujar Deli dalam hatinya ngomel sendiri.
"Kamu temani saya meeting dengan perusahaan A." ujar Jero memberi perintah kepada Deli untuk menemaninya meeting keluar kantor.
"Baik Tuan." jawab Deli yang tidak akan membantah apapun yang disuruh oleh bosnya itu.
"Jam berapa Tuan?" tanya Deli.
"Jam sepuluh." jawab Jero memberitahukan jam berapa mereka akan meeting.
"Baik Tuan. Saya akan mempersiapkan semua bahan meeting." ujar Deli.
Deli kemudian keluar dari ruangan kerja Jero. Dia menuju meja kerjanya. Deli menyiapkan semua bahan meeting ke dalam satu map. Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel milik Deli.
"Silahkan pelajari bahan tayang ini. Kamu saya minta untuk mempresentasikannya nanti saat meeting." bunyi pesan chat Jero.
Deli menganga tidak percaya. Dia diminta Jero untuk melakukan meeting. Deli menatap lama pesan chat itu.
"Serius?" tanya Deli ke dirinya sendiri.
Deli mengunduh bahan tayang meeting. Dia mempelajari dengan kilat bahan bahan itu. Untung saja otak Deli termasuk otak jenius. Kalau tidak maka bahan meeting yang serumit itu tidak akan bisa dikuasainya dalam waktu yang singkat seperti sekarang ini.
"Jalan Del." ujar Jero yang ternyata telah berdiri di samping meja kerja Deli.
"Oke Tuan." ujar Deli.
Deli merapikan semua bahan bahan yang akan dibawanya untuk meeting. Ini adalah meeting pertama yang akan dilakukan Deli semenjak ia menjadi sekretaris Jero. Selama ini Jero berangkat meeting selalu dengan Felix.
Mereka turun bersamaan. Saat sampai di lobby kantor Deli terlihat ragu mau duduk dimana. Jero masuk ke bangku pengemudi, Deli terlihat masih bingung mau duduk dimana.
"Masuk sini" ujar Jero yang telah membuka pintu penumpang sebelah sopir.
Deli kemudian masuk dan duduk di kursi itu. Dia terlihat gugup hanya berdua saja di dalam mobil bersama Jero. Jero bisa membaca kegugupan Deli.
"Udah santai aja. Jangan pikirkan hal lain, tapi pikirkan saja bagaimana meeting kali ini harus sukses." ujasr Jero berkata sambil tetap melihat lurus jalanan.
__ADS_1
Jero sama sekali tidak melirik ke arah Deli selama mereka dalam perjalanan menuju tempat meeting.
Mereka akhirnya sudah sampai di restoran yang sudah direservasi oleh sekretaris dari perusahaan yang mau bekerja sama dengan perusahaan Jero.
Jero memarkir mobilnya di parkiran biasa. Dia tidak ingin terlihat terlalu mencolok dengan meminta valet restoran untuk memarkir mobilnya di parkiran khusus.
Jero san Deli kemudian turun dari dalam mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam restoran. Seorang supervisor berdiri di depan pintu masuk restoran.
Pelayan membukakan pintu restoran saat melihat ada tamu yang datang.
"Dengan Tuan Jero Edwardo?" tanya supervisor.
Jero mengangguk.
"Mari masuk Tuan, kami akan antarkan Tuan ke ruangan meeting." ujar supervisor.
Supervisor berjalan paling depan. Belakangnya diikuti oleh Jero Dan Deli. Mereka berjalan menuju tempat pertemuan meeting.
"Silahkan masuk Tuan dan Nona." ujar Supervisor.
Ternyata di dalam ruangan sudah ada CEO dari perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan milik Jero.
"Maaf terlambat" ujar Jero.
"Tidak apa apa Tuan Jero. Silahkan duduk." ujar CEO.
Jero kemudian bersalaman dengan CEO. Deli mengikuti hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Jero tadi.
"Bagaimana Tuan Jero, apa bisa kita langsung mulai meetingnya?" tanya CEO.
"Bisa Tuan. Presentasi kali ini akan disampaikan oleh sekretaris saya yaitu Deli." ujar Jero memperkenalkan Deli kepada CEO tersebut.
"Oh oke." jawab CEO.
Deli kemudian membuka laptop miliknya. Dia menyambungkan dengan infocus yang ada di sana. Layar menampilkan proyek yang akan mereka lakukan bersama sama.
Deli menjelaskan dengan bahasa yang sangag mudah dipahami. CEO terlihat mengangguk anggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Deli.
Jero menatap Deli dengan tatapan tidak percaya. Presentasi Deli hampir menyerupai cara Felix melakukan presentasi. Mereka memiliki ciri yang sama yaitu bahasa yang komunikatif.
"Tuan Jero, saya sangat suka dengan apa yang ditampilkan oleh sekretaris Anda. Saya rasa saya akan langsung menandatangani proyek kerjasama kita ini." ujar CEO yang akan langsung menandatangani surat kontrak kerjasama mereka.
"Apa tidak terburu buru Tuan?" ujar Jero berbasa basi.
"Tentu tidak." jawab CEO.
"Deli mana lembaran kerjasama kita." ujar Jero kepada Deli yang telah berhasil melakukan presentasi dan membuat kerjasama dengan perusahaan A yang biasanya sulit di dapatkan, sekarang dengan mudah di dapat oleh Jero berkat presentasi yang dilakukan oleh Deli.
Deli mengambilkan kertas kontrak kerjasama yang diminta oleh Jero. Jero memberikan kertas kontrak tersebut kepada CEO Perusahaan A.
CEO langsung menandatangani kontrak kerjasama itu. Setelahnya barulah Jero menandatangani surat kontrak kerjasama mereka.
Jero memberikan satu kepada CEO Perusahaan A. Sedangkan yang satu lagi akan disimpan oleh Jero.
"Tuan Jero, hari sudah siang, mari kita lanjutkan dengan makan siang bersama. Semoga Tuan Jero tidak menolak ajakan saya." ujar CEO menawarkan makan siang bersama dengan Jero dan Deli.
"Baik Tuan. Saya tidak mungkin menolak ajakan makan siang bersama dengan Tuan." ujar Jero.
Tuan CEO memanggil supervisor.
"Hidangkan." ujar CEO.
Pelayan kemudian menghidangkan semua menu yang sudah dipesan oleh CEO. Jero melihat semua hidangan tersebut. Hidangan yang terlihat lezat.
"Mari Tuan Jero, Nona Deli." ujar CEO.
CEO, Jero dan Deli menikmati makan siang mereka setelah meeting itu. Obrolan ringan mengiringi acara makan siang antara dua orang CEO. Deli hanya menjadi pendengar saja.
Setelah selesai makan siang bersama. Mereka kembali keperusahaan masing masing. Jero dan Deli masuk kembali ke mobil mereka. Mereka akan kembali keperusahaan.
"Wah Deli selamat. Kamu berhasil hanya dalam sekali presentasi mendapatkan hasil yang sempurna." ujar Jero memuji Deli sekretarisnya yang ternyata mempunyai kemampuan dalam bidang presentasi.
"Biasa saja Tuan. Saya harus melakukan pekerjaan Saya dengan baik. Saya tidak boleh menyianyiakan kesempatan yang diberikan. Terlebih lagi saya tidak boleh membuat perusahaan rugi." jawab Deli sambil melihat sebentar ke arah Jero.
'Tampannya' ujar Deli dalam hatinya.
"Tapi saya jujur mengucapkan terimakasih banyak kepada kamu." ujar Jero dengan tulus.
"Sama sama Tuan." jawab Deli.
__ADS_1
Perjalanan menuju perusahaan kembali hanya terdengar suara musik dari tip mobil. Antara Jero dan Deli tidak ada lagi percakapan apapun. Mereka larut dalam pikiran mereka masing masing.