
Langkah kaki Syakir terhenti tepat di dekat meja makan itu, dan mengambil surat itu lalu di baca. Surat yang sengaja diletakkan di meja makan oleh Fatima sebelum Fatima pergi meninggalkan apartemennya menuju bandara untuk kembali ke tanah air.
Indonesia adalah tujuannya dan kembali pada kedua orang tuanya adalah harapan terakhir Fatima. Caci maki sudah siap Fatima dengarkan dari mulut kedua orang tuanya itu.
Fatima duduk di ruang tunggu bandara, hidupnya sudah tidak ada arah dan tujuan lagi untuk seperti apa. Sesekali perutnya diusap pelan dan punggungnya bersandar pada kursi tunggu itu.
Syakir membuka surat itu, begitu singkat dan tidak terlalu panjang narasinya.
'Teruntuk Mas Syakir, suamiku, maafkan Fatima untuk kesekian kalinya. Fatima minta ridho dari Mas Syakir, semoga Mas Syakir mau memaafkan Fatima dengan sangat tulus. Maaf Fatima harus pergi, Fatima akan kembali ke tanah air keruh Aby dan Umi. Mungkin disana, Fatima akan mendapatkan ketenangan pikiran dan batin. Mas Syakir baik-baik dirumah, jika ingin menyusul Mbak Kirana, mungkin Fatima saat ini akan lebih ikhlas. Salam untuk Mbak Kirana, karena kita berdua sama-sama akan menjadi seorang ibu, hanya saja benih yang kita kandung dari lelaki yang berbeda. Fatima tahu, ini yang membuat Mas Syakir begitu kecewa. Fatima pamit pergi dulu, hati-hati ya Mas. Salam sayang Fatima,' tulisan Fatima begitu tulus dan sangat rapi tertata bahasanya.
Syakir menatap ke sekeliling apartemen itu dan menutup kembali surat itu dengan melipat kertas surat tersebut.
Langkahnya menuju rak piring dan gelas untuk mengambil gelas dan menyeduh kopi hitam panas serta membuat roti tawar yang di olesi dengan selai strawberry. Pagi ini rasanya sangat hampa sekali. Tidak ada kehadiran Fatima yang biasa ada untuk Syakir tiba-tiba membuat Syakir merasa kehilangan.
Ponsel Syakir kembali berdering dengan nyaring. Pagi-pagi sekali Anita sudah menghubunginya untuk segera penugasan pertama menuju Amerika dengan pesawat pertama yang akan berangkat.
Dengan sangat buru-buru Syakir mengambil kopernya yang sudah dipersiapkan sejak bangun shubuh tadi. Apartemen itu kembali dikosongkan karena tidak akan ada lagi yang kembali ke apartemen itu.
Syakir bergegas keluar dan berpamitan dengan pengurus apartemen lalu pergi menuju rumah Anita untuk mendapatkan tugas pertama dan terakhirnya ke Amerika untuk mengantarkan barang haram.
"Hei Syakir!!" teriak Anita dengan suara keras dari dalam mobilnya.
Syakir yang baru saja keluar dar apartemen pun langsung menoleh ke arah Anita yang berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Anita?!" jawab Syakir dengan lantang dari seberang jalan. Lalu Syakir berlari dengan cepat menyeberangi jalan yang sepi.
Syakir ikut masuk ke dalam mobil karena Anita sudah membukakan pintu mobil di bagian belakang. Setelah Syakir masuk dan duduk di jok belakang, mobil itu pun melaju dengan sangat cepat. Anita duduk disamping supir pribadinya.
"Kamu sudah siap kan? Jangan sampai mengecewakan aku dan Dani. Tugas ini sangat simpel dan mudah jika kamu bisa menuruti semua aturan yang ada," ucap Anita menegaskan.
Anita memberikan tiket dan semua administrasi yang dibutuhkan oleh Syakir. Namanya pun di palsukan agar Syakir bisa melakukan penyamaran dengan mudahnya. Anita juga memberikan segepok uang di dalam amplop cokelat besar.
"Itu bonus awal, jika barang sudah sampai dengan selamat dan aman dari petugas, maka sisa bonusmu akan di kirimkan ke rekening," tegas Anita memberikan instruksi.
Syakir menerima semuanya dengan senyuman bahagia dan mengangguk pelan tanda paham dengan semua yang diperintahkan.
"Tas ransel ini yang harus kamu bawa, dan jangan sampai ini terdeteksi. Dan ini untuk menyamar, serta ini alamat uang nantinya kamu tuju. Ini ponsel untuk menghubungi orang tersebut setelah sampai di bandara. Ingat jangan mencurigakan para petugas kemanan. Keselamatan kamu, ada di tangan kamu sendiri," ucap Anita tegas.
"Hati-hati Syakir, ingat namamu berubah menjadi Ahmad. Kabari aku secepatnya jika sudah sampai. Ini tugas pertama dan terakhirku, senang bekerja sama dengan Anda," ucap Anita tertawa sambil bersalaman dengan Syakir untuk terakhir kalinya.
"Terima kasih Anita, sudah banyak membantu Syakir hingga bisa kembali ke Amerika dengan mudah," ucap Syakir pelan dan tersenyum lebar ke arah Anita.
"Sama-sama Syakir. Sukses untuk kamu, kalau butuh uang cari aku untuk tugas selanjutnya," ucap Anita tertawa terbahak-bahak.
"Kamu juga semakin sukses, sebisa mungkin jangan terus-menerus memiliki bisnis seperti ini, suatu saat pasti ada apesnya," ucap Syakir pelan.
"Aku sedang mengumpulkan uang, dan ingin membalas dendam kepada Andrew. Lelaki itu sudah membuatku terpuruk," uacl Anita dengan sangat geram.
__ADS_1
"Lupakan dendammu Anita, semua itu tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik, cari laki-laki lain yang lebih baik dan hidup bahagia dengan segala yang kamu miliki tapi tanpa bisnis haram ini. Tinggalkan Dani," ucap Syakir menasehati.
"Terima kasih Syakir, mungkin dengan seperti ini aku tersadar, aku sudah banyak merusak banyak orang karena bisnis haram ini. Aku akan coba pelan-pelan melepaskan diri dari Dani," ucap Anita pelan sambil tersenyum kecut. Rasanya malu sekali di nasehati tentang kebaikan seperti ini.
"Jangan berterima kasih kepadaku, Anita. Bersyukur karena Allah SWT masih mau menerima pertobatan kita. Syakir masuk, sudah waktunya. Terima kasih atas perkenalan ini dan bantuanmu, Anita,"
"Selamat bertugas Syakir, hati-hati," ucap Anita pelan dan mobilnya langsung melaju dengan sangat cepat.
Syakir masuk ke dalam, dirinya juga bingung dan takut. Ini pertama kalinya membawa barang haram. Syakir duduk di ruang tunggu, dan menatap ke sekeliling ruangan itu untuk mencari celah.
Dirinya menatap wanita yang tepat duduk di depannya.
"Fatima?" panggil Syakir dengan lirih, takut bila salah orang yang hanya mirip saja.
Fatima memutar tubuhnya dan menoleh ke arah Syakir yang terkejut lalu tersenyum lebar. Dengan reflek, Syakir pun pindah duduk di sebelah Fatima. Fatima juga tak kalah kaget menatap Syakir yang juga berada di bandara, namun wajahnya seperti sedang menyamar. Kedua mata Fatima terus mengekor langkah Syakir tang kemudian duduk di sebelahnya.
"Mas Syakir? Ada apa? Kenapa kamu berpakaian seperti ini?" tanya Fatima dengan sedikit ragu dengan apa yang dilakukan oleh Syakir.
"Sutt ... Diamlah, aku sedang menyamar dan sedang berkerja sebagai kurir. Panggil saja aku, Ahmad," ucap Syukur pelan setengah berbisik.
"Pekerjaan apa itu? Sampai Mas Syakir memakia pakaian yang tidak biasa dan menyamar menggunakan janggut panjang," ucap Fatimadan mencium bau keanehan pada suaminya itu.
"Fatima? Kamu yakin ingin ke Indonesia?" tanya Syakir pelan sambil menatap lekat wajah Fatima.
__ADS_1