Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 63


__ADS_3

"Sabar buk" ujar Bunda menegur Deli yang terlihat sangat ingin Dina cepat sampai ke tempat mereka.


Deli tersenyum saat ditegur oleh Bunda. Dia ternyata memang sudah terlalu semangat untuk mendengar apa yang diceritakan oleh Dina nantinya. Seharusnya dia bersabar dan tidak menyuruh Dina bergegas gegas. Apalagi barang yang dibawa Dina cukup banyak ditangannya.


Dina berjalan kesana menuju kursi dimana Bunda, Deli dan Dian duduk. Dina sudah yakin akan diintrograsi oleh ketiga wanita cantik itu. Dina pasti akan menjawab dan menceritakan sesuai dengan apa yang dialaminya hari ini. Hari teristimewa dalam hidupnya setelah hari kelam di negara J.


Dina kemudian duduk di kursi yang masih kosong. Deli dan Dian melihat ke arah paperbag dan sebuah kotak kado besar yang dibawa oleh Dina.


"Apaan tuh Din?" tanya Dian menunjuk barang barang yang diletakkan oleh Dina di atas kursi sebelah Dina duduk.


"Ini?" tanya Dina menunjuk kepada barang barang yang dibawanya tadi.


"Iya itu, yang mana lagi coba yang aku tanya" ujar Dian menjawab perkataan Dina.


"Ini satu untuk elo, satu untuk Deli" jawab Dina sambil memberikan kepada Deli dan Dian masing masing satu paperbag.


"Serius untuk kami ini?" tanya Deli kepada Dian saat melihat logo toko yang ada di paperbag itu.


"Serius.Kita udah lama nggak pake pakaian bareng bareng. Makanya gue tadi ke mall sama Felix dan membeli satu. Kebetulan juga Felix mau menemani, makanya gue bisa pergi." ujar Dina mengatakan kapan dia pergi membeli pakaian yang akan mereka pakai bertiga.


Deli dan Dian membuka paperbag tersebut. Mereka bersorak saat melihat barang yang ada di dalam paperbag itu. Dian mengeluarkan pakaian itu, dia mengangkat dan memperlihatkan pakaian itu kepada Deli.


"Cantik bangettt" ujar Dian memuji pakaian yang dibelikan oleh Dina.


"Yup. Mantap" ujar Deli setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dian.


"Bunda, untuk Bunda tunggu sini bentar ya. Aku ke kamar dulu" ujar Dina yang lupa memberikan oleh oleh yang telah dibelinya kepada Bunda.


Dina berjalan masuk ke dalam rumah. Dia akan mengambilkan hadiah untuk Bunda yang dibelinya di negara J. Setelah mengambil barang yang diinginkannya, Dina kembali menuju kafe.


"Bunda ini" ujar Dina memberikan oleh oleh kepada Bunda.


"Makasi sayang. Berarti Bunda dapat dua hadiah dari negara J. Wow bahagianya, ya Tuhan hendaknya tiap bulan ajalah ketiga anak ku ke luar negeri bergantian. Buatlah perusahaan perusahaan ketiga putri saya ini berjaya dan meraih kesuksesan. Aamiin" ujar Bunda mendoakan kemajuan ketiga perusahaan anak anaknya.


"Aamiin" jawab ketiga putri Bunda serempak.


"Ye yang dapat hadiah dari Negara J." ujar Dian menggoda Bunda.


"Kamu besok kalau ke luar negeri juga jangan lupa Bunda ya. Awas kalau lupa nggak Bunda akui sebagai anak kamu lagi" ujar Bunda menggoda Dian.


"Jangan nggak diakui sebagai anak Bunda. Tapi jangan diterima sebagai calon menantu" ujar Dina menggoda Dian.


"Yah jangan sampai Bun. Aku cinta mati dengan Kak Hendri, kekasih hati aku itu" ujar Dian berbicara sambil mengiba kepada Bunda.


"Kalau kamu jadi menantu Bunda, Bunda sangat bersyukur Yan. Sudahlah cantik, pinter lagi." ujar Bunda memuji Dian.


"Hem Bunda, puji puji aku banget. Nanti besar kepala aku Bunda, kalau Bunda puji kayak gitu banget" ujar Dian sambil tersenyum kepada Bunda.


"Jadi, yang itu apa Din?" tanya Deli kepada Dina sambil menunjuk kotak kado yang lumayan besar itu.


"Ini?" tunjuk Dina kepada kado kedua yang diberikan oleh Felix.


"Yup, yang mana lagi coba" ujar Deli menjawab perkataan Dina. Deli pura pura tidak mengetahui kotak apa yang dipegang oleh Dina.


"Ini hadiah kedua yang diberikan oleh Felix kepada aku" ujar Dina kepada Deli dan Dian serta Bunda yang penasaran dengan apa isi kotak kado milik Dina yang sangat besar itu.


"Kado kedua, emang ada berapa kado yang loe Terima dari Felix sehari ini?" tanya Dian yang penasaran saat mendengar berapa banyak kado yang diterima oleh Dina sehari ini dari Felix.


"Eeee banyak, banyak banget malahan. Loe mau denger?" tanya Dina kepada Dian yang sangat kepo dengan berapa banyak Dina menerima kado dari Felix.


"Maulah, makanya gue nanyak. Kalau nggak, nggak bakalan gue tanyak ke elo" ujar Dian sambil melemparkan plastik sisa pembungkus risoles.


"Hahahahahaha. Jangan emosi bro. Santai" ujar Dina yang sangat suka menggoda Dian.


Dian menjulurkan lidahnya kepada Dina. Dina menimpuk Dian dengan minuman kemasan yang tadi di minumnya.

__ADS_1


"Buka Din" ujar Deli. meminta Dina untuk membuka kado keduanya itu.


"Nanti bukaknya. Sekarang jawab dulu pertanyaan gue, apa aja hadiah yang telah loe terima sehari ini" ujar Dian yang nggak sabar mendengar apa saja hadiah yang sudah diterima oleh Dina sehari ini.


"Jadi ceritanya gini, saat aku sampai di kantor pagi tadi kan langsung masuk ruangan. Gue langsung kerja kan ya. Langsung buka laptop. Nah pukul sembilan ntah sepuluh gue juga lupa pastinya, pintu ruangan gue di ketuk dari luar. Terus gue buka kan ya, eee ternyata ada kurir yang sedang membawa seikat bunga. Loe tau apa nama bunganya?" tanya Dina kepada Dian. Dina sengaja membuat Dian penasaran dengan ucapannya.


"Nggak. Emang apa?" tanya Dian kepada Dina yang semakin penasaran.


"Juliette rose, loe tau kan berapa harganya?" ujar Dina bertanya kepada Dian. Dina juga tau kalau Dian termasuk wanita yang juga suka mengoleksi bunga bunga mahal.


"Tau lah. Gila loe juliet rose. Itu bunga termahal itu, gila banget" ujar Dian yang terlihat sangat kaget saat mendengar bunga apa yang diberikan oleh Felix kepada Dina.


"Bisa habis isi ATM gue kalau beli bunga Juliet rose itu sebuket" ujar Dian kepada Dina. Dian menghitung di otaknya berapa duit yang gm harus dikeluarkan oleh Felix untuk membeli bunga itu.


"Hahahahaha. Isi ATM loe memang nggak sanggup, isi ATM Felix luar biasa isinya. Bisa beli sepot besar juliet rose." ujar Deli menggoda Dian.


"Ya itulah, ampun gue. Ini saffron cronus kan ya?" ujar Dian yang melihat buket bunga yang ada di atas meja. Bunga yang masih tergolong bunga mahal akibat harganya yang juga wow itu.


"Yup. Itu hadiah kedua gue." ujar Dina semakin memanas manasi Dian.


"Keren loe. Kalau gue ngambek, bunga apa ya dibawain sama Kak Hendri?" ujar Dian sambil menerawang. Dian sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Hendri yang berada masih di dekat dekat mereka.


Hendri yang mendengar perkataan dari Dian langsung nyeletuk dan berjalan ke arah Dian.


"Bunga raflesia sayang" ujar Hendri menjawab perkataan Dian tadi sambil berbisik tetapi terdengar oleh semua wanita yang ada di sana, termasuk Bunda


"Hahahahahaha. Ada ada aja sayang, bunga raflesia sayang, bunga bangkai dong" ujar Dian menjawab perkataan dari Hendri. Dian tertawa mendengar keusilan kekasihnya itu.


"Lah kan masuk bunga langka itu sayangku" ujar Hendri menggoda Dian dengan akan memberikan Dian bunga raflesia.


"Aye bunga langka. Kok nggak dinosaurus aja sayang. Langka banget itu" ujar Dian menjawab perkataan Hendri.


"Sana pergi sayang, kamu ngapain duduk sama perempuan. Mau jadi perempuan juga?" ujar Dian mengusir secara halus Hendri dari dekat mereka berempat.


Hendri berlalu dari hadapan Dian dan yang lainnya. Dia menuju Ayah yang sedang sibuk di container.


"Ini" ujar Dina mengangkat pergelangan tangannya yang ada jam tangan mewah terpasang di sana.


"Tengok gue" ujar Dian penasaran dengan jam tangan Dina.


"Keren." ujar Dian memuji jam Dina yang memang sangat bagus dan merupakan keluaran terbaru dari jam dengan merk ternama tersebut.


"Jam lama loe mana?" tanya Dian kepada Dina.


"Loe mau make?" tanya Dina langsung ke intinya kepada Dian.


"Mau lah dari pada kayak tadi pagi, gue lari larian. Eeee yang gue tengok ternyata jam yang udah tewas sekian lama" ujar Dian memberengut.


"Oke oke. Nanti lah ya. Gue suruh loe milih mana yang loe mau silahkan ambil" ujar Dina kepada Dian.


"Serius?" tanya Dian yang tidak ingin Dina hanya php saja.


"Serius" jawab Dina.


"Loe juga boleh Del" lanjut Dina kepada Deli yang dari tadi hanya diam saja mendengar percakapan antara Dian dan Dina.


"Nah berhubung tiga hadiah awal sudah gue kasih tau. Sekarang mari kita buka hadiah berikutnua." ujar Dina sambil menunjuk hadiah keempat dari Felix.


"Bunda ke belakang dulu ya. Kalian lanjutin aja. Bentar lagi mau malam, jadi pengunjung akan ramai." ujar Bunda pamit meninggalkan ketiga putrinya yang sibuk bercerita tentang hadiah dan hadiah.


Ayah yang melihat Bunda pergi, berjalan menyusul Bunda ke dalam rumah. Bunda terlihat mengusal air matanya.


"Kenapa sayang?" tanya Ayah kepada Bunda.


"Dina dan Dian sudah punya kekasih, yang. Sedangkan putri kita Deli, belum. Apa karena putri kita tidak seperti Dina dan Dian?" ujar Bunda yang pikirannya ntah kemana mana perginya.

__ADS_1


"Sayang, sekarang giliran aku bertanya sama kamu. Apa kamu menyesali apa yang telah terjadi terhadap keluarga kita?" tanya Ayah yang tidak ingin Bunda menyesali keadaan yang sudah terjadi.


"Sama sekali tidak yank. Aku sama sekali tidak menyesali apa yang telah terjadi kepada keluarga kita" ujar Bunda menjawab perkataan Ayah.


"Sayang, ingat satu hal. Jodoh, maut dan rezeki di tangan sang pemberi. Bukan di tangan kita" ujar Ayah mengingatkan Bunda akan ajaran agama yang mereka anut.


"Sayang, kalau kamu begini dan terdengar oleh Deli, kamu bisa ngebayangin tidak gimana ibanya hati anak perempuan kita itu" lanjut Ayah yang tidak ingin kesedihan Bunda sampai ketahuan oleh Deli.


"Maafkan aku Yank" ujar Bunda kepada Ayah.


"Aku balik ke depan dulu. Kamu usahakan ya untuk tidak terlihat bersedih di depan mereka. Aku nggak mau karena menenggang perasaan kamu, Dina dan Dian menjarak dari Deli." ujar Ayah berpesan kepada Bunda.


Bunda mengangguk, Bunda juga tidak ingin hal jelek terjadi kepada anak gadis satu satunya itu. Ayah yang melihat Bunda sudah tenang kembali menuju kafe.


"Wow keren ini mah. Ini keluaran terbaru" ujar Dian bersorak saat melihat kado milik Dina yang ternyata adalah sebuah tas dari brand berlogo H itu.


"Kamu mau sayang?" ujar Hendri berteriak dari arah kafe.


"Nggak sayang. Tas aku udah banyak. Aku hanya kagum saja. Lagian aku nggak mau di siksa di akhirat gara gara barang barang aku yang nggak ke pake sayang" ujar Dian menjawab perkataan Hendri.


"Hahahaha. Pinter" ujar Hendri.


Deli dan Dina menatap ke arah Dian. Dian selama ini yang paling gila terhadap belanja tas dan pakaian serta aksesoris. Tetapi saat ini, Deli dan Dina mendengar sesuatu yang diucapkan oleh Dian yang menggetarkan hati mereka berdua.


"Loe belajar itu dari mana?" tanya Deli yang penasaran dengan jawaban yang diberikan oleh Dian tadi.


"Dari kekasih gue. Dia ngajarin gue untuk nggak ngebeli barang barang yang sudah banyak gue miliki. Gue takut nanti di akhirat gue terikat oleh barang barang gue ini" ujar Dian mengulang apa yang tadi telah dikatakan olehnya.


"Kita ke rumah gue yuk" ujar Dina mengajak Deli dan Dian untuk ke rumahnya sekarang juga.


"Ngapain?" tanya Deli dan Dina kompak.


"Loe berdua gue kasih tas, jam tangan dan sepatu sepatu gue. Silahkan ambil mana yang mau" ujar Dina yang juga takut di akhirat terikat dengan barang barang yang dimilikinya itu.


"Yey. Jual lagi aja." ujar Deli.


"Maksudnya?" tanya Dina dan Dian yang jiwa bisnis mereka meronta gonta saat mendengar kata jual aja. Mereka sudah bisa membayangkan cuan cuan yang akan masuk ke dalam dompet mereka nantinya.


"Iya, kita bikin satu akun di sosial media. Nah kita fhoto barang barang yang mau kita jual. Gampang kan" ujar Deli yang memang jiwa bisnis dan otak bisnisnya berjalan terus.


"Adminnya ini" ujar Dian yang teringat tidak akan bisa mengontrol toko online nya itu.


"Gampang, gue aja adminnya" ujar Deli yang menawarkan diri untuk menjadi admin.


"Oke sip. Loe adminnya. Nanti dua puluh persen dari harga yang terjual ambil sama loe" ujar Dina.


"Gimana Yan? Setuju nggak loe segitu komisinya untuk Deli?" tanya Dina kepada Dian.


"Setujulah gue. Besok kita bawa barang barang yang akan dijual itu. Harganya kita sepakati juga besok. Kayaknya keren juga bisnis ini." ujar Dian yang ternyata sangat bersemangat menjalani bisnis tersebut.


"Barang barang yang telah jarang kita pake kita jual dapet uang lagi. Wow itu mah" ujar Dian melanjutkan perkataannya.


"Otak loe duit mulu" ujar Dina sambil ngelempar Dian pakai bungkus kado yang dijadikannya bola.


"Elo kayak yang nggak aja. Padahal juaranya" ujar Dian membalas menimpuk Dina dengan kertas kado tadi.


"Stop. Jangan ribut lagi. Capek gue nengoknya" ujar Deli mendamaikan keributan antara dua sahabatnya yang nggak ada gunanya itu.


"Jadi, kita akan fhoto besok. Langsung upload dan tarok harga atau harga inbox?" tanya Deli kepada kedua sahabatnya.


"Harga inbox" ujar Dina dan Dian menjawab dengan kompak.


"oke sip. Udah ah mandi yuk Gue mau bantu Bunda ini" ujar Deli yang memang akan membantu Bunda, Ayah dan Hendri berjualan.


"Asiap. Kami juga akan bantu Bunda" jawab Dina.

__ADS_1


Mereka bertiga kemudian pergi mandi dan bersiap siap untuk membantu Bunda dan Ayah di kafe. Walaupun mereka sibuk, tetapi mereka tidak pernah melupakan tanggung jawab sebagai anak. Walaupun Dina dan Dian bukan anak kandung Bunda.


__ADS_2