Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
Bab 33


__ADS_3

Kesibukan di kafe Bunda sudah terlihat dari sebelum waktu subuh masuk. Bunda, Ayah dan Kak Hendri sudah bangun dan sudah mulai memasak semua menu untuk sarapan. Bunda selalu memastikan kalau semua menu yang di sajikan di kafe mereka adalah menu yang dimasak di pagi hari.


"Bunda, bangunkan Deli sana. Nanti dia telat ke Bandara." ujar Ayah sambil mengaduk gulai tunjang yang sedang dimasak.


Bunda meninggalkan gulai toco yang sudah hampir masak itu, Bunda digantikan oleh Hendri menangani gulai toco. Bunda berjalan menuju kamar Deli.


Tok tok tok. Bunda mengetuk pintu kamar. Dian yang menunggu giliran mandi, membuka pintu kamar.


"Bunda?" ujar Dian kaget melihat Bunda yang pagi pagi sudah berdiri di depan kamar Deli.


"Kalian sudah bangun? Bunda kira belum." ujar Bunda.


"Sudah Bun. Deli sedang mandi. Dian tinggak menunggu giliran aja lagi." ujar Dian memberitahukan kalau Deli sedang mandi. Dian tau kalau Bunda takut Deli akan terlambat bangun dan membuat dia terlambat sampai di bandara.


"Oke sip. Bunda siapkan sarapan untuk kalian dulu ya. Nanti siap mandi dan pakaian, kalian berdua langsung sarapan." ujar Bunda.


"Oke Bun." jawab Dian.


Bunda kemudian kembali ke dapur. Bunda akan menyiapkan menu sarapan untuk Deli dan Dian. Setelah Bunda pergi ke dapur, Dian kembali menutup pintu kamar. Pas dengan Delu keluar dari kamar mandi.


"Siapa yang datang Yan?" tanya Deli yang mengeringkan rambutnya memakai handuk kecil.


"Bunda. Bunda memastikan apa kamu sudah bangun atau belum." ujar Dian memberitahukan siapa yang datang tadi sehingga Dian membuka pintu kamar.


"Oh. Bunda takut kalau aku telat bangun itu. Makanya Bunda datang untuk ngecek kita berdua." ujar Deli.


"Yup betul." jawab Dian.


Dian kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Sekarang giliran dia untuk membersihkan bandannya. Dian mandi sambil bersenandung kecil. Dia menyanyikan lagu yang sedang viral. Dian bersemangat melagu di kamar mandi. Deli yang mendengar hanya bisa menikmati suara setengah fals milik Dian.


Setelah selesai mandi, Dian memakai pakaian kerjanya. Melihat Dian yang telah selesai berpakaian, Deli juga telah selesai merias wajahnya dengan riasan tipis. Deli membiarkan Dian menguasai kaca meja rias miliknya. Deli menunggu Dian selesai merias wajahnya.


"Mari kita ke meja makan." ujar Dian mengajak Deli menuju maja makan.


Ayah, Bunda dan Kak Hendri sudah menunggu Deli dan Dian di meja makan. Deli dan Dian duduk di kursi yang masih kosong. Mereka kemudian memakan sarapan yang sudah disajikan oleh Bunda. Sarapan dengan menu nasi uduk lengkap dengan ayam suwir dan juga tahu bacem beserta kerupuk.


Saat mereka sedang sarapan tiba tiba ponsel milik Deli berdering. Deli melihat nama Big boss muncuk di layar ponsel miliknya. Deli mengangkat panggilan itu.


"Hallo Tuan Jero. Ada apa?" ujar Deli menyaoa Jero.


"Tolong bungkuskan saya sarapan. Nasi kuning lengkap dengan semua lauknya." ujar Jero mengatakan apa tujuannya menghubungi Deli.


"Baik Tuan." jawab Deli.

__ADS_1


Jero memustuskan sambungan telponnya dengan Deli. Deli kembali melanjutkan sarapannya yang terhenti karena menerima panggilan telpon dari Jero.


"Ada apa Deli?" tanya Bunda.


"Tuan Jero minta dibungkuskan nasi kuning Bunda. Apa sudah masak?" ujar Deli memberitahukan Bunda apa pesanan Jero untuk sarapannya kali ini.


"Nasi kuning udah. Bentar Bunda bungkuskan." ujar Bunda yang memang telah selesai sarapan.


Deli dan Dian yang juga telah selesai sarapan berjalan masuk kembali ke dalam kamar. Mereka berdua akan pergi ke bandara.


"Sayang, aku antar Deli ke Babdara dulu. Setelah itu baru langsung ke kantor." ujar Dian memberitahukan Hendri kegiatannya hari ini.


"Hati hati sayang. Nanti kalau bisa makan siang ke sini ya." ujar Hendri yang tau Dian akan kesepian, karena Deli dan Dina sedang perjalanan bisnis.


"Siap sayang. Aku kangen makan siang dengan sayang." ujar Dian yang semangat karena diajak makan siang bersama oleh Hendri. Walaupun makan siangnya hanya di kafe Bunda tidak pergi kemana mana.


"Yuk Yan jalan. Gue udah siap." ujar Deli yang telah keluar dari rumah. Deli membawa satu koper kecil pakaian, tas laptop dan juga tas tangannya. Deli tidak membawa banyak barang untuk perjalanan bisnis pertamanya itu.


"Udah pamit dengan Bunda dan Ayah?" tanya Dian.


"Belum." jawab Deli sambil cengengesan. Dia lupa untuk pamit dengan kedua orang tuanya dan juga kepada Hendri kakaknya itu.


"Pamit dulu sana. Emang mau pergi nggak direstui orang tua?" tanya Deli lagi.


Deli menuju Bunda dan Ayah yang terlihat sedang berada di container makanan. Deli berjalan ke sana.


"Ayah, Bunda. Deli pamit ya. Doakab Deli selamat ya pulang pergi." ujar Deli pamit kepada Ayah dan Bunda.


"Iya Nak. Deli dan Hendemri selalu dalam doa Bunda dan Ayah. Kamu hati hati di jalan ya." ujar Bunda.


"Hati hati nak. Jaga diri di sana." ujar Ayah.


"Siap Ayah Bunda. Deli berangkat dulu." ujar Deli.


Deli kemudian bersalaman dengan Ayah dan Bunda. Setelah itu dia menuju Dian yang sudah berada di dekat mobil. Semua barang barang milik Deli sudah dibawakan Kak Hendri menuju mobil.


"Kak pamit ya. Jagain Dian." ujar Deli menitipkan Dian sahabatnya kepada Hendri.


"Kamu hati hati di sana. Jangan kemana mana." ujar Hendri.


"Oke sip. Kayak aku yang pelala aja." ujar Deli.


Dian melajukan mobilnya meninggalkan kafe. Dia akan mengantarkan Deli terlebih dahulu ke bandata setelah itu baru dia akan menuju perusahaannya. Perjalanan ke bandara di lalui mereka berdua dalam keadaan diam. Tidak satupun diantara mereka berdua ada yang memulai untuk mengobrol. Tak terasa perjalanan menuju bandara sudah berakhir. Dian memarkir mobilnya di parkiran bandara.

__ADS_1


Deli dan Dian turun dari mobil. Mereka menuju terminal keberangkatan luar negeri. Mereka berdiri di sana cukup lama, tetapi mereka sama sekali tidak ada melihat Jero datang ke terminal itu.


"Mana bos loe. Udah mau jam setengah sembilan ini." ujar Dian melihat jam di tangannya.


"Iya juga ya. Kemana tu bos." ujar Deli.


Deli meraih ponselnya. Dia berniat untuk menghubungi Jero. Tetapi belum sempat Deli menghubungi bosnya itu. Sebuah mobil mewah berhenti di depan dua wanita cantik itu.


Jero kemudian turun dari dalam mobil yang mengantarnya.


"Maaf telat. Macet." ujar Jero.


"Sudah siap semua?" tanya Jero selanjutnya.


Deli mengangguk. Semua barang barangnya sudah siap. Dia tinggal berangkat saja lagi.


"Oke kalau begitu. Mari kita chekin." ujar Jero.


"Gue berangkat dulu. Lie hati hati. Dina bentar lagi pulang." ujar Deli.


"Iya iya. Jangan khawatir. Sampai kasih tau." ujar Dian.


Dua sahabat itu berpelukan. Jero melihat sebuah hubungan jujur dan ikhlas ada dalam persahabatan Deli dan Dian. Deli melepas pelukannya.


Dia kemudian berjalan mengikuti Jero. Sedangkan Dian masih setia melihat kepergian Deli. Setelah Deli tidak terlihat barulah Dian berbalik dan pergi menuju kantornya sendiri.


"Kita terbang dengan pesawat milik perusahaan." ujar Jero memberitahukan kepada Deli dengan pesawat apa mereka akan terbang.


"Oke Tuan." jawab Deli.


'Semoga nggak mengerikan.' ujar Deli di dalam hatinya.


Jero dan Deli melakukan chekin. Mereka kemudian duduk di ruangan khusus pengguna pesawat pribadi.


"Ada bawa sarapan saya?" tanya Jero kepada Deli.


Deli mengangguk. "Ada Tuan." jawab Deli.


"Nanti sampai di pesawat serahkan ke pramugari untuk dihidangkan " ujar Jero menitipkan perintah kepada Deli.


"Oke Tuan." jawab Deli.


Deki sudah mulai merasakan ketakutan di dalam hatinya. Dia benar benar takut untuk terbang saat ini. Tapi dia ingat dengan pesan dari Ayahnya. Bahwasanya yang akan membunuh kita adalah ketakutan itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2